Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
(Season) Sampai Jumpa


__ADS_3

Pangeran Kematian beranjak dari tempat duduk dan mengangkat satu tangannya. Muncullah pedang yang digunakan Gris untuk mengirim gadis itu ke dunia kematian, di tangan kirinya.


"Kamu pikir Esperanza akan selamat? Dia tidak akan selamat. Selamanya kalian tidak akan pernah bersatu," ujar Gadis itu.


Kemudian gadis itu pun berubah wujud menjadi sama dengan Pangeran Kematian. Lalu menarik pedang sabit dan melayangkannya pada Pangeran Kematian.


Sementara di tempat lain. Estrella menghajar Gris yang dia anggap telah berhianat. Sedangkan Brillo menghadapi yang lainnya.


"Berhentilah menyerangku! Saat ini bawa Esperanza pergi dari sini secepatnya. Karena gedung ini akan rubuh!" seru Gris.


"Kamu pikir aku akan percaya penghianat sepertimu?" Estrella yang tidak percaya terus saja menyerang Gris.


Sedangkan Esperanza yang telah mengingat, semua kejadian di ketujuh kehidupannya, berusaha mengeluarkan kekuatannya. Tapi percuma. Ia tidak sadar kalau Nicorazón sudah menyegel kekuatannya.


"Lillo bawa Esperanza pergi. Aku dan kakak akan menahan mereka di sini!" ujar Brillo.


"Aku tidak mau! Aku harus membangunkan Nicorazón!" ujar Esperanza menolak.


Sementara Pangeran Kematian masih bertarung dengan gadis yang telah berubah itu. Juga para roh yang bekerja sama ikut membantu gadis itu untuk mengalahkan Pangeran Kematian.


"Ayo cabut sabitmu! Tidak beranikah?!" ejeknya pada Pangeran Kematian.


"Sekarang matilah di tanganku!" teriaknya mengayunkan pedang itu pada Pangeran Kematian yang tepat di hadapannya.


Tapi ia tidak menyangka untuk kedua kalinya ia terhunus oleh pedang yang sama. Pedang sabit di tangannya menghilang. Ia kembali ke wujud seorang gadis. Lalu tubuhnya terbakar.


"Aarrggkk!" teriaknya kesakitan.


Tubuh gadis itu hangus tidak bersisa. Tinggallah jiwanya dan seketika sebuah rantai menjerat jiwa itu. Menarik ke lubang kematian yang tidak memiliki dasar.


"Selamanya kamu tidak akan bisa hidup di dunia manusia lagi. Kamu pikir tanpa mengunakan pedang sabitku aku tidak bisa mengalahkanmu? Naif sekali."


"Tuan, apa tuan tetap akan kembali ke dunia manusia?" tanya sesosok makhluk membawa kendi jiwa di tangannya.


"Ya tentu saja!" jawab Pangeran Kematian.


Saat ini Gris tidak lagi bertarung dengan Estrella setelah kata-kata Gris terbukti benar. Gedung museum mengalami retakan.


"Ayo hentikan pertikaian ini! Bawa Esperanza dan aku akan menghalangi mereka!"


Gris terus saja mendesak Estrella yang sempat bingung saat satu tiang di tengah ruang rahasia hancur. Orang-orang yang satu kubu dengan gadis yang berulang tahun berusaha menghalangi Estrella dan Brillo yang membawa Esperanza keluar.


"Kamu menghianati ratu kami!" ujar mereka pada Gris.


"Jika sang ratu tahu, ia akan mengambil kembali kekuatan itu!" Mereka memperingati Gris.


Tapi Gris tidak perduli dan terus menghalangi mereka mengejar Eatrella dan Brillo yang membawa Esperanza. Lalu para wanita yang merupakan bawahan kekasih baru Gris menyerang Gris bersama-sama.


Dengan kemampuannya yang telah kembali, semua serangan pada Gris kembali pada lawannya. Setelah semua orang lumpuh dan tidak bisa bergerak lagi, barulah Gris membawa tubuh Nicorazón keluar.

__ADS_1


Tapi baru melewati pintu, banyak roh menghadang Gris lalu mereka menyerangnya. Berbeda dengan yang tadi. Tidak ada tempat untuk memindahkan luka-lukanya. Ia tidak mampu mengalahkan ratusan roh sekaligus dan akhirnya ia terjatuh.


Tubuhnya penuh dengan luka. Dan akhirnya ia mendengar sebuah suara.


"Perlu bantuan?" tanya sebuah suara.


Pangeran Kematian datang membawa kendi jiwa. Lalu mengarahkannya pada para roh yang menyerang Gris. Seluruh roh seolah terhisap ke dalam kendi itu. Setelah semua roh yang menyerang Gris tidak ada lagi yang tersisa, barulah kendi itu ditutup.


"Kembalikan kendiku!" ujar sesosok makluk berjubah putih panjang yang ternyata mengikuti Pangeran Kematian dari belakang.


"Ini aku kembalikan," ujar Pangeran Kematian melempar kendi tersebut.


Dengan gerakan cepat kendi itu berpindag tangan. Maka sosok yang menangkap kendi itu pun menghilang. Pangeran Kematian mengubah sosoknya menjadi sama persis dengan Nicorazón lalu memasuki tubuh itu.


"Apa yang kamu lihat barusan. Jangan pernah memberitahukan kepada siapa pun!" perintah Nicorazón begitu dia siuman.


Lalu mereka melompat dari jendala. Dan gedung itu rubuh. Esperanza meneriaki nama Nicorazón dan Gris bergantian dari luar gerbang museum. Dan berhenti berteriak setelah Gris menyapanya.


"Kami ada di sini!" teriak Gris dan sedang menopang tubuh Nicorazón yang berpura-pura lemah.


Aparat keamanan dan mobil ambulans akhirnya datang. Mereka yang selamat dibawa ke rumah sakit. Keesokan harinya mereka dimintai keterangan oleh polisi.


Dan karena tidak ada luka serius, mereka pun pulang ke rumah dua hari kemudian.


"Bagaimana kondisi kepalamu? Apa masih sakit?" tanya Te Apoyo pagi hari sebelum berangkat kerja.


"Sudah lebih baik," ujar Nicorazón.


Luka Nicorazón sudah mengering. Jadi tidak perlu di perban lagi.


"Papa sudah mengoleskan obatnya. Tidak lama lagi, lukanya akan sembuh dan tidak akan berbekas. Esperanza ada di luar. Papa akan mempersilahkannya masuk, kalian berbicaralah."


Setelah Te Apoyo pergi Esperanza masuk ke kamar Nicorazón. Lalu sedikit basa-basi tentang kondisinya. Dan kemudian diam.


"Apa hanya itu yang ingin kamu tanyakan?"


Esperanza ragu untuk bertanya, apakah Nicorazón juga ingat kehidupan mereka di masa lalu. Jadi ia tersenyum saja lalu permisi.


"Te Espere, apa kamu tidak merindukanku?" tanya Nicorazón saat gadis itu melewati pintu kamarnya.


Esperanza segera menoleh pada Nicorazón. Ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Aku sangat merindukanmu Te Espere, Putri Mahkotaku, Ratuku. Sabat kecilku, Putri Rim__" Ucapannya terhenti saat Esperanza menghamburkan diri ke pelukan Nicorazón.


"Aku juga, aku juga. Aku juga merindukan kakak. Pengawalku dan rajaku. Sahabat kecil dan tuan pemburu," ujar Esperanza memeluk Nicorazón.


"Dari semua kehidupan, siapa yang paling kamu rindukan?" goda Nicorazón.


"Semuanya," jawab Esperanza tidak perduli Nicorazón sedang menggodanya.

__ADS_1


"Yang paling kamu cintai?"


"Semuanya."


"Yang paling kamu ingin nikahi?"


"Semuanya, semuanya, semuanya, semuanya," ujar Esperanza.


*Cup.


Satu kecupan mendarat di pipi Esperanza.


"Terima kasih," ujar Nicorazón pada Esperanza.


Dan malam itu mereka mengatakan pada semua orang kalau ingatan mereka sudah kembali. Kemudian Gris mengucapkan salam perpisahan.


"Apa kamu tidak bisa tinggal di sini saja?" tanya Estrella saat Gris mengemas pakaiannya.


"Untuk apa? Untuk jadi saksi kemesraan Esperanza dan Nicorazón?"


Estrella tercekat oleh jawaban tersebut. Ia tidak bisa berkata apa-apa tapi kemudian ia menepuk pundak Gris. Dan membiarkan Gris menyusun pakaiannya.


Ke esokan harinya, semua orang melepaskan kepergian Gris.


"Jika kamu kesepian, datanglah ke mari. Aku akan carikan gadis cantik untukmu!" seru Gina.


"Baik-baik di sana ya," kata Lina.


Dan satu per satu mereka mengucapkan kata-kata perpisahan dengan cara dan kalimat mereka masing-masing. Sementara Nicorazón tidak bilang apa-apa.


Saat giliran Esperanza memberi salam perpisahan ia hanya bisa menangis.


"Kenapa? Kamu mau ikut juga?" goda Gris pada Esperanza.


"Sudahlah, jangan menangis. Kalau dia macam-macam padamu, dan membuatmu menangis laporkan padaku. Aku pasti akan segera datang dan menghajarnya!" seru Gris.


"Itu tidak akan pernah terjadi, jadi cepat pergi sana!" ucap Nicorazón pura-pura marah.


Pesawat Gris akhirnya berangkat. Dan yang lainnya kembali ke rumah. Setibanya di rumah Brillo melihat satu bingkai foto Gris di sebuah meja.


"Sejak kapan foto ini ada di sini?" tanya Brillo pada Estrella yang lewat. Gadis itu cuma angkat bahu.


"Bukannya di sini seharusnya ada sebuah foto keluarga ya?" tanya Brillo tapi kemudian meletakkan foto Gris di antara yang lainnya.


Sementara Gris tersenyum mengingat kenangan di rumah besar itu sambil menatap foto keluarga besar yang ia ambil diam-diam setelah semua orang tidur. Lalu menukarnya dengan fotonya sendiri.


"Suatu hari nanti aku pasti kembali!" serunya sambil tersenyum.


Lalu mengembalikan bingkai foto itu ke koper kecilnya. Kemudian menikmati makanan sambil mendengarkan musik kesukaannya.

__ADS_1


Tamat


__ADS_2