Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Jendela Sempit


__ADS_3

Tanpa mereka sadari beberapa orang mulai beraksi. Menyusun kotak-kotak sepatu yang akan di kirim, yang sebelumnya sudah di isi dengan bensin. Bensin di kemas dalam botol pkastik dan dibungkus kembali dengan kantung plastik. Lalu di perban dengan selotip sampai seluruhnya terbungkus.


Hal tersebut sebenarnya sudah sejak lama mereka lakukan. Sehingga kotak yang berisi bensin itu sudah di isi sejak beberapa hari yang lalu. Sehingga saat mendengar pabrik akan diliburkan mereka menjadi sangat cemas. Takut kalau rencana mereka akan gagal.


Sehingga mereka menyebarkan gosip yang akhirnya membuat buruh berpikir kalau mereka dipecat. Tapi dikatakan libur agar tidak dapat dana pesangon. Karena takut kehilangan pekerjaan, maka para pekerja sepakat datang ke esokan harinya. Tujuannya untuk bekerja, meski mereka sebenarnya telah disuruh libur kerja selama dua hari.


Setelah tugas beberapa orang tersebut selesai, masing-masing dari mereka memberi kode tentang pekerjaan mereka yang telah selesai. Dan perlahan-lahan tanpa dicurigai mereka mulai melakukan aksi selanjutnya.


Bermula dari membakar gudang. Lalu membakar kotak sepatu yang disusun di dekat pintu bagian dalam. Karena bahan yang dibakar mudah terbakar, maka dengan cepat api membesar dan menyambar apa saja yang ada di situ.


Asap hitam mengepul di udara dan memenuhi ruangan pabrik tersebut. Membuat pekerja yang sedang asik bekerja tiba-tiba menghentikan kegiatannya. Mereka memperhatikan asap hitam yang membumbung di langit-langit. Lalu mencari asalnya. Dan terdengarlah teriakan, sebelum beberapa orang mengetahui dari mana asap itu berasal.


"Api! Api!!! Kebakaran!!" ujar orang yang pertama kali melihat gudang-gudang terbakar.


Dan disambut dengan teriakan histeris oleh beberapa orang yang menyadari hal yang terjadi. Beberapa orang mendatangi asal teriakan untuk melihat. Tapi baru saja tiba mereka mundur lagi sebab api sudah menjalar ke luar gudang.


Kotak sepatu yang berisi bensin yang dikemas dalam botol plastik, yang berada di gudang ternyata telah bocor. Karena terbakar dan meleleh sehingga isinya keluar. Dan bensin mengalir ke lantai, lalu menjalar ke bagian yang lebih rendah.


Ada yang langsung lari ke pintu depan dan ada yang lari ke arah pintu belakang. Mereka mencoba menyelamatkan diri masing-masing. Tapi saat melihat api berada di pintu depan atau pun di belakang mereka berubah haluan.


Yang tadinya ke pintu depan jadi berlari ke belakang. Dan yang tadi lari ke pintu belakang jadi berlari ke pintu depan. Lalu bertemu di pertengahan.


Beberapa orang berteriak-teriak karena panik. Dan tanpa sadar mereka menghirup banyak asap pekat, akibat bahan baku sepatu yang terbuat dari karet ikut terbakar. Api semakin besar dan ruangan semakin panas.

__ADS_1


Manager dan mandor yang kebetulan berada di dalam pabrik ikut merasakan kobaran api. Manager menghubungi pemadam kebakaran. Dan mencari jalan keluar untuk menyelamatkan karyawan. Sebelum pemadam tiba agar tidak ada korban jiwa. Tapi semua jalan keluar sudah tertutup api dan pintu dalam keadaan terkunci.


"Ayo kita robohkan pintunya!" ujar salah satu dari mereka.


Lalu mendorong sebuah meja panjang yang biasa untuk membuat sepatu. Tindakannya membuat yang lain juga ikut membantu. Tapi pintu pabrik sangat kokoh karena terbuat daei besi, begitu pula dengan gembok dan rantai yang mengunci pintu tersebut dari luar.


Meski bahan yang mudah terbakar yang berada di dekat pintu sudah membakar pintu tersebut. Tapi pintu itu belum rubuh juga. Bahkan kini meja yang dipakai untuk mendobrak pintu ikut terbakar sedikit demi sedikit.


Oksigen yang semakin sedikit membuat mereka kesulitan bernapas. Dan semakin banyak mereka mengeluarkan tenaga semakin cepat mereka kelelahan. Sehingga mereka bergantian mendobrak pintu dengan meja tersebut.


Satu persatu kotak sepatu yang berisi bensin bocor dan mengakibatkan api makin besar dari sebelumnya. Dan api yang berasal dari kotak sepatu makin melebar akibat tumpahan besin ya bocor. Meja untuk mendobrak tidak cukup aman untuk digunakan. Sebab luas wilayah yang terkena api makin melebar.


"Seandainya ada air mungkin kita bisa membasahi baju kita dan menghentikan bensin yang terus menjalar," ujar salah satu dari mereka.


"Dari mana sebenarnya bensin ini?" tanya yang lain.


Manager berusaha untuk tetap tenang. Dan mencari bagian yang belum terbakar. Dan pandangannya menuju pada jendela yang masih belum tersentuh api. Tapi posisinya cukup tinggi.


"Apa ada yang bisa membuka jendela tersebut?" tanya sang manager.


Beberapa orang menyusun meja dan kursi untuk dijadikan tangga. Tapi setelah sampai di atas ia harus menghadapi jeruji besi jendela tersebut yang terdiri dari dua lapisan. Jeruji dari luar dan jeruji dari dalam.


"Tolong carikan benda pipih tapi kuat," katanya.

__ADS_1


Orang yang ada di situ mencari barang yang ia maksud. Dan ia pun mencoba benda itu untuk membuka mur jendela tersebut.


"Ayo cepat. Api mulai menjalar ke atap gedung,"


"Hei aku sudah berusaha, tapi ini bukan alat yamg pas,"


Api mulai naik ke atap dan membakar tiang langit-langit. Dan dari luar terdengar suara orang ramai yang datang membawa air, karena mendapat kabar dari keluarga mereka yang bekerja di pabrik. Tapi air yang mereka tidak cukup untuk memadamkan api.


"Di mana letak kamar kecil di pabrik ini?" tanya salah satu dari mereka pada yang lain.


Tapi yang lain sudah lebih dahulu lari ke kamar kecil untuk mengisi ember yang mereka bawa dengan air. Sebab ada juga dari mereka yang masih berhubungan dengan salah satu dari orang yang ada di dalam pabrik.


Sebagian lagi membantu membuka jendela, tapi mereka harus lebih dahulu mencari alat untuk membuka jendela tersebut. Dan juga tangga untuk mencapai jendela tersebut.


Air dalam bak sudah mulai habis namun api tidak juga padam. Dan aliran air terlalu kecil untuk memenuhi ember dengan air. Warga juga kesulitan mengambil air. Sebab pabrik tersebut jauh dari pemukiman warga.


Bagunan sudah hampir terbakar sepenuhya. Sebagian sudah mulai lemas dan bahkan ada yang pingsan akibat terlalu banyak menghirup asap.


Jendela akhirnya berhasil dibuka meski pintu tidak berhasil di dobrak. Satu persatu mereka keluar dari jendela tersebut. Yang pingsan di bopong dan dikeluarkan terlebih dahulu dengan bantuan warga yang ada di luar.


Api mulai merobohkan tiang atap dari tempat yang lebih lama terbakar. Orang-orang makin histeris dan berlomba untuk keluar. Ada yang akhirnya jatuh karena aksi dorong yang terjadi. Yang lebih kuat yang lebih dahulu keluar.


Manager dan mandor dengan sabar menunggu giliran mereka. Memastikan yang lain selamat lebih dahulu. Tapi ada seorang ibu yang memiliki tubuh yang bongsor menangis karena menyadari ia tidak bisa melewati jendela yang ada di atas. Baru beberapa yang berhasil keluar tiang bangunan menimpa orang-orang yang berdesakan keluar dari jendela.

__ADS_1


Manager dan mandor masih sempat menghindar dan berlindung di bawah kolong meja. Bersama kakek yang masih menunggu giliran keluar serta beberapa yang lainnya yang sempat menyadari ada tiang yang akan rubuh.


Bersambung...


__ADS_2