Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Anak Kecil


__ADS_3

"Ah iya...aku tidak apa-apa nyonya...tapi...apa yang ingin nyonya lakukan tadi sebenarnya? tanya Ros.


"Tadi ada anak kecil menangis," kata Lina terhenti. Sesaat ia celingukan mencari anak kecil tadi. Namun kemanapun ia cari dengan pandangannya, anak kecil yang menangis tadi tidak terlihat batang hidungnya sekali pun.


"Apa yang nyonya katakan, hanya ada nyonya seorang tadi di sini. Saya hanya merasa heran untuk apa nyonya menjulurkan tangan ke arah kolam, dan berdiri di tepi kolam seperti tadi." kata Ros.


Lina juga merasa heran, aneh juga jika anak kecil itu tiba-tiba menghilang.


"Tapi apa mungkin pengaruh sisa obat itu masih ada karena masih ada di dalam aliran darahku? pikir Lina.


"Usia kandungan nyonya masih sangat muda dan renta. Juga masih sangat mudah diganggu oleh mahluk halus." kata Ros.


"Di desa saya, setiap ada ibu-ibu hamil, mereka pasti selalu membawa gunting kecil. Lalu gunting kecil itu dikaitkan dengan peniti di baju yang mereka pakai."


Ros yang berasal dari desa masih sangat mengingat saat masih kecil ibunya selalu melakukan hal itu jika ia sedang mengandung adik-adik Ros. Ros sebagai anak yang tertua selalu menjadi baby sister untuk adik-adiknya setelah lahir.


Pantangan ibu-ibu hamil dan hal-hal yang berbau mistis dulu sangat sering ia dengar.


Lina yang tinggal di panti asuhan dan di rawat oleh seorang janda yang tidak menikah lagi tentu tidak terlalu paham akan hal itu. Dari kecil hingga dewasa ia hanya tau kalau tong sampah bisa melahirkan.


Dulu saat ia dan ibunya pergi berbelanja, alangkah terkejutnya dia melihat seorang bayi menangis di atas tumpukan sampah di dalam kardus. Entah sudah berapa lama bayi itu ditinggal di situ.


Mungkin saat pagi hari dan saat bayi itu masih tertidur. Dan karena di taruh di dalam kardus besar orang mengira isinya hanya sampah. Dan karena sudah haus dan terkena sinar matahari ia pun terbangun dan menangis.


"Kok kardus bisa punya anak bu?" tanya Lina dengan polosnya saat itu.


Itu karena ia tidak pernah berpikir akan ada bayi yang di buang oleh orang tuanya. Beruntung setelah di bawa ibu ke panti asuhan tidak lama ada yang mau mengadopsi anak tersebut.


Lina tersadar dari lamunannya saat Ros menepuk pundaknya. "Jangan melamun nyonya...pantang, jin suka orang yang pikirannya sedang kosong." Ros mengingatkan nyonyanya.


"Eh, ohh...iya Ros, maaf."

__ADS_1


Lina kemudian hendak mengambil majalah dan piring tempat cemilan yang menemaninya membaca tadi. Dengan sigap Ros mengambil piring dan gelas lebih dulu dari pada Lina.


"Biar saya saja nyonya," Ros menawarkan diri.


Mereka berdua pun masuk, saat hendak melewati pintu rumah Lina mendengar suara anak kecil lagi.


"Bibi...tolong ambilkan bolaku..."


Lina yang mendengar hal itu dengan spontan menoleh ke belakang. Ros yang tepat berada di belakangnya. "Ada apa nyonya?" tanyanya.Lina hanya menggelengkan kepalanya.


Malam harinya Dion memperhatikan hal yang terlihat mencuri perhatiannya. Sebuah gunting kecil tergantung di dadanya. Gunting itu di kaitkan dengan peniti dan disematkan ke bagian baju Lina.


"Apa itu?" tanya Dion.


"Gunting."


"Hah, buat apa gunting di taruh begitu, kalau takut hilang, ya tinggal di taruh di laci." kata Dion.


"Hah, masa setan takut gunting? Kalau benar demikian kita cukup bawa gunting ke mana pun biar tidak digoda setan." kata Dion.


"Lepasin, itu bahaya." ucap Dion dengan nada cemas.


Lina cuma bisa cemberut. Perlahan ia lepaskan gunting yang ia sematkan di bajunya. Ia melakukan yang Ros katakan karena ucapan Ros membuatnya percaya. Dan sekarang ia melepaskannya karena menurutnya yang dikatakan suaminya ada benarnya.Ia bingung, namun kemudian memilih ucapan suaminya.


Malam itu Lina gelisah, ingin rasanya ia menceritakan kejadian tadi siang di tepi kolam kepada suaminya. Tapi karena iya melihat suaminya sedang sibuk, maka ia mengurungkan niatnya. Ia tidak mau menambah beban pikiran suaminya.


Tepat pukul dua belas tengah malam, Lina merasa seluruh tubuhnya gerah. Keringat bercucuran membasahi pakaian yang ia pakai. Hal itu membuatnya tidak merasa nyaman. Dan pada akhirnya dia terbangun.


"Bibi...bolaku masuk ke kolam...tolong ambilkan." kata anak kecil yang Lina lihat di tepi kolam tadi.


Betapa terkejutnya Lina, ia melihat anak itu memunggunginya dan berjongkok di bawah ranjang Lina. Lina yang tidak siap dengan keadaan itu tergagap dan tidak bisa menguasai pikirannya.

__ADS_1


Berulang kali anak itu mengatakan kalimat yang sama. Lina yang ketakutan lama kelamaan bisa menggerakkan tangannya. Dia menguncang tubuh suaminya.


"Sassayang..." katanya perlahan. Suaranya yang gemetaran lebih mirip seperti desis ular.


"Sssaayang...bbbangunnn..."


Lina tetap berusaha menguasai pikirannya, menghilangkan rasa takut yang merasakinya. Anak itu kini hanya diam saja. Tapi Lina masih terus berusaha membangunkan suaminya. Dan tiba-tiba anak kecil itu berpaling dan meloncat ke arah Lina.


AAARRRRGGGHHHH!!!


"Sayang, sayang...bangun...bangun...hei..." sebuah kalimat berulang ulang diucapkan.


Lina merasakan tubuhnya terguncang dan kepalanya sedikit pusing. Perlahan ia membuka matanya, dan melihat wajah cemas suaminya.


"Heii apa kau bermimpi buruk?" tanya suaminya.


Pertanyaan suaminya tidak ia jawab melainkan dengan liar ia mengedarkan pandangannya ke arah anak kecil yang ia lihat di mimpinya. Antara sadar dan tidak sadar, dan kebingungan membedakan yang mimpi dan yang nyata. Lina hanya bisa diam.


Tubuhnya basah mandi keringat. Dion pun mengambilkan handuk dan menyeka keringat istrinya. Lina masih gemetaran. Dion pun mengambilkan pakaian ganti untuk Lina. Dan membantunya mengganti pakaian.


"Kau mimpi apa?" tanya Dion setelah Lina selesai berganti pakaian. Tapi Lina tidak bisa menjawabnya. Seolah bibirnya dikunci Lina hanya bisa diam saja. Dion yang melihat istrinya gemetaran menariknya ke dalam dekapannya.


Hangat tubuh Dion sangan kontras dengan tubuh Lina yang dingin. Merasakan kehangatan tubuh suaminya dan aroma wangi farfum membuat Lina seperti terhipnotis. Perlahan tubuhnya yang gemetaran berhenti. Dan degup jantungnya mulai menyesuaikan irama degup jantung suaminya.


"Tenanglah aku ada di sini, jangan takut." kata Dion sambil mengusap punggung Lina.


Sulit bagi Lina kembali memejamkan matanya setelah mimpi buruk yang baru saja ia alami. Tapi berbeda dengan Dion yang belum tidur. Ia menguap berkali-kali. Rasa kantuk mulai mengusiknya. Lalu ia membaringkan tubuhnya dan juga istrinya ke ranjang.


Mulanya Dion masih menatap Lina, mengawasi bola mata Lina yang menarik hatinya. Dengan bulu mata lentik dan alis seperti semut berbaris. Tidak bosan ia memandangnya dan masih ingin menikmatinya. Tapi lama kelamaan kelopak matanya mulai mengatup.


Saat suaminya mulai memejamkan mata...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2