
Te Apoyo dan Te Espere diam saja, dan pemuda itu berpikir kalau kedua kembar tersebut merasa segan membicarakan hal tersebut. Jadi ia juga tidak memperpanjang masalah itu lagi. Lalu berpura-pura menanyakan alamat mereka.
Padahal sebenarnya ia sudah mengetahui alamat Te Espere dari para preman yang menculik teman Te Espere. Mereka yang memberikan informasi kalau ada gadis cantik di antara teman-teman gadis yang mereka culik. Lalu mereka pun mengintai Te Espere dan menguntitnya sepulang sekolah.
Dan Te Espere serta Te Apoyo juga berpura-pura tidak tahu apa-apa tentang mereka lalu menunjukkan lokasi rumah mereka. Setelah tiba mereka diturunkan di halaman rumah. Dan disambut oleh 'orang tua' mereka.
"Terima kasih sudah mengantar anak dan keponakan kami pulang." ujar orang tua Te Apoyo.
Dengan sopan pemuda itu pun permisi pulang dengan teman-temannya. Ia merasa kalau ia sudah selangkah lebih dekat dengan Te Espere, gadis pujaan hatinya. Lalu menyusun rencana baru agar bisa bertemu kembali.
Di tempat lain, kepala polisi belum menyadari kemampuan yang diberikan Te Apoyo padanya. Ia pulang di malam hari seperti biasa. Dan sebelum pulang ia menerima panggilan dari putrinya.
"Iya sayang, papa akan segera pulang," jawabnya pada panggilan tersebut.
Ia kemudian membuka sel tempat para preman yang diserahkan oleh keponakannya. Lalu berpesan pada mereka, jika mereka tidak boleh berkeliaran untuk sementara. Agar tidak ada yang curiga kalau sebenarnya mereka sudah bebas. Para preman itu pun mengangguk tersenyum mendengar perintah tersebut.
Setelah membebaskan para preman, dengan santai ia melewati lorong sepi dan sesaat ia merasa kalau ada yang mengikutinya dari belakang. Tapi saat menoleh, tidak ada siapa pun di sana. Lalu ia melangkah berjalan lagi.
"Hei kalian, aku menyuruh kalian pulang, bukan berkeliaran!" ucapnya dengan lantang.
Ia mengira kalau para preman itu sebagian masih berkeliaran di tempat itu. Tapi saat menoleh ia tidak melihat apa pun. Dengan segera ia menuju lokasi parkir. Saat mencari kunci untuk membuka mobilnya, ia sempat melirik ke suatu tempat. Dan melihat sosok mengerikan berdiri agak jauh dari tempatnya.
Ia terkejut lalu berpaling. Mencoba fokus membuka pintu mobil dan setelah pintu terbuka, ia pun menoleh ke tempat sosok mengerikan itu berdiri. Tapi sosok itu sudah tidah ada. Ia pun bernapas dengan lega. Lalu menaiki kendaraannya.
Ia merasa kalau ia hanya salah lihat. Dan dengan santai menghidupkan mobilnya. Sekilas ia menoleh ke arah kaca spion, dan melihat sosok itu dari kaca spion. Dengan cepat ia mengucek matanya. Lagi-lagi sosok itu menghilang.
"Secepatnya aku meninggalkan tempat ini sebelum imajinasiku tentang roh halus berkembang," gumamnya.
__ADS_1
Ia mengira penglihatannya diakibatkan oleh film horor yang baru saja ia saksikan di ponselnya. Ia tidak tertarik pada ceritanya. Tapi ia tertarik pada gadis-gadis yang berpakaian kurang bahan di film itu. Sambil berimajinasi bersenang-senang dengan gadis-gadis tersebut.
Kendaraannya melaju dengan kecepatan sedang dan beberapa menit kemudian, panggilan masuk terdengar dari ponselnya. Ia pun mengambil ponsel tersebut dari sakunya. Dan melihat nomor kontak yang menghubunginya.
"Ya halo sayang, papa lagi di ja," ucapnya terhenti.
Ia melihat sosok menyeramkan tadi kini duduk di kursi kosong di belakang, saat ia menatap kaca spion yang menampilkan kursi bagian belakang. Untuk memastikan penglihatannya ia pun melihat secara langsung ke belakang. Dan tampak sosok itu menyeringai. Lalu merangkak ke kursi bagian tengah. Aparat tersebut tergagap lalu memalingkan mukanya.
"Ini hanya ilusi," gumamnya.
"Halo pa? Papa kenapa?" tanya putrinya di seberang panggilan.
"Maaf sayang papa lagi menyetir," jawabnya singkat.
Ia melihat sosok menyeramkan itu sudah berada di kursi tengah melalui kaca spion. Matanya merah dan wajahya penuh belatung. Aparat tersebut mengusap matanya dan sosok itu tidak mau hilang. Dan kini jari-jari sosok mengerikan itu membelai wajahnya. Sehingga ia tersadar sepenuhnya kalau yang ia lihat bukan ilusi.
"Ada apa pak?" tanya warga.
"Ah tidak apa-apa, tadi kakiku terkilir," jawabnya gugup.
Ia menatap ke dalam mobil dan di dalam kosong. Untuk memastikan mobil itu kosong, ia pun membuka seluruh pintu mobil dan melihat setiap sudut. Sehingga orang yang berada di situ heran. Menyadari tindakannya mencuri perhatian, ia pun menghentikan kelakuannya.
"Maaf bapak-bapak sekalian. Silahkan bubar," ucapnya kemudian. Dan orang-orang pun bubar.
Lalu ia mengeluarkan sebungkus rokok dan mengeluarkannya sebatang, menyalakannya dan merokok untuk menghilangkan rasa gugupnya. Sambil kembali menutup pintu-pintu mobilnya. Saat melihat ada warung kopi di dekat tempat mobilnya parkir, ia pun berniat untuk meminum secangkir kopi di sana.
"Pesan apa pak?"
__ADS_1
"Kopi satu!" jawabnya.
Tidak lama kopinya pun datang, diantarkan seorang gadis cantik berpakaian sederhana. Polisi tersebut melihat sekilas pada lekuk tubuhnya dan memperkirakan ukurannya. Sambil membayangkannya tanpa busana.
Ia mengaduk kopinya yang masih panas, sambil melihat gadis itu bekerja. Dan menikmati imajinasi liarnya. Ia pun menyentuh gelas kopinya. Tanpa rasa curiga ia meneguk isi gelas yang ia rasa sudah dingin tersebut. Tapi kemudian ia memuntahkan isinya. Gelas kopi tersebut berubah menjadi gelas usang penuh belatung.
Betapa terkejutnya dia, matanya melotot dan tidak percaya dengan yang ia lihat. Lalu mengucek matanya. Kembali gelas itu tampak seperti gelas kopi biasa. Gadis yang mengantarkan kopi menatap wajahnya yang ketakutan.
"Apa ada masalah pak dengan kopinya?" tanya gadis itu.
"Tidak, tidak ada masalah apa-apa," jawabnya ragu-ragu.
Gadis itu berlalu dan tampak mengambil gelas-gelas kopi dari dari meja-meja yang lain. Kepala polisi merasa tidak nyaman dan ingin segera pulang. Tapi ia belum membayar kopinya. Gadis itu tampak sibuk hilir mudik. Dan entah kenapa tiba-tiba pengunjung kedai kopi tersebut mendadak ramai. Jadi ia makin kesulitan membayarkan kopinya.
Ia tidak berniat meminumnya lagi, meski kini terlihat seperti segelas kopi biasa yang masih hangat. Karena melihat gadis itu masih sibuk, ia pun meninggalkan uang kopi di dekat gelas kopinya. Saat ia beranjak dari kursinya, ia sempat melihat seseorang yang baru masuk mengambil uangnya dan mengantonginya.
"Hei kembalikan uang itu, dasar pencuri!"
"Apa maksud bapak, kenapa menuduh saya sebagai pencuri? Padahal bapak justru mau kabur tanpa membayar kopi yang bapak minum,"
"Keluarkan uang yang di sakumu, ia uangku untuk membayar kopiku! Jangan bilang kalau aku cuma minum kopi tanpa mau membayar, aku bahkan belum meminum kopiku. Lihat gelasku saja," ucapnya terputus saat menoleh ke gelas kopi yang kosong.
"Apa anak ini tadi juga meminumnya saat mengambil uangku?" batin kepala polisi tersebut.
Melihat ada keributan gadis penjual kopi datang.
"Ada apa ini ribut-ribut?"
__ADS_1
Bersambung...