
Saat menyadari kalau Dion dan Lina masih belum ditemukan, Gina pun tidak meneruskan lagi ocehannya. Berusaha untuk menahan diri.
Dan di hari berikutnya semua memulai kegiatan mereka seperti semula. Te Espere kembali ke sekolahnya di kota kecil bersama Te Apoyo. Dan di hari sabtu dan minggu mereka akan ke rumah orang tuanya mau pun ke rumah kakek papa mereka.
Saat mereka ke rumah kakek Dion, Te Espere mencoba kemanpuan barunya. Ia menyentuh benda-benda yang ada di rumah tersebut. Dan ia berhasil melihat kedua orang tuanya melalui benda-benda tersebut. Ternyata Dion dan Lina tanpa sengaja menyentuh benda-benda itu. Keadaan mereka baik-baik saja. Namun mereka hampir putus asa karena tidak bisa keluar dari dunia ilusi kegelapan ciptaan Cresentia.
Saat sedang menyelami benda-benda yang ada di rumah tersebut, Te Espere ingat pada buku yang ada di rumah itu. Ia ingin menyentuhnya dan menyelami riwayat orang yang menyentuhnya. Lalu ia pun ke ruang rahasia. Dan mengambil buku tersebut.
Ia mencoba mencari tahu keberadaan dari keturunan asli suku Cresentia. Dan saat menyentuh buku itu, ia gagal mendapatkan informasi yang ingin ia cari. Ternyata buku tersebut tidak menampilkan apa pun saat di sentuh.
Pada saat yang sama Te Apoyo belajar tentang perusahaan pada papa Malika. Dan ia juga mengikuti sekolah khusus. Sedikit demi sedikit ia mulai memahami dunia bisnis. Kekurangan modal mereka tertutupi setelah Gina kembali menanamkan modal dan Te Apoyo menggadaikan rumah orang tuanya.
Dan setelah mereka berhasil menjalankan bisnis tersebut, pihak penanam modal yang baru berdatangan. Dan hasil keuntungan usaha tersebut bisa digunakan untuk membayar cicilan hutang. Pihak penanam modal yang baru tidak mempermasalahkan usia Te Apoyo yang masih muda. Sebab mereka melihat kemajuan usaha yang ditangani Te Apoyo bersama papa Malika.
Penanam modal yang sudah keluar ingin bergabung kembali setelah tempat mereka menanam modal yang baru bangkrut. Tapi karena harga diri yang sangat tinggi, mereka menjadi enggan untuk menanamkan modal mereka kembali pada perusahaan Dion.
Te Apoyo tidak ambil pusing dengan hal tersebut. Ia kembali menjalani hari-harinya sebagai murid biasa di kota kecil. Dan ia membantu keluarga teman pertamanya di sekolah barunya. Memberikan sumbangan berupa sembako dan juga biaya pengobatan untuk kakak laki-laki temannya tersebut. Tapi tidak menggunakan identitasnya.
__ADS_1
Te Apoyo meminta bantuan mama Malika untuk bekerjasama dengan pihak stasiun televisi yang mengadakan acara amal. Tujuannya agar memasukkan keluarga teman sebangku Te Apoyo, ke dalam daftar penerima bantuan. Yang sebenarnya dana bantuan untuk keluarga teman sebangkunya berasal dari kantung Te Apoyo sendiri.
Lalu Te Apoyo membeli tanah, di sekitar rumah nenek yang membelikannya sepatu. Dan berniat membuat pabrik sepatu di tempat itu. Untuk mengenang kebaikan hati si nenek padanya. Rumah nenek pun di renovasi, tujuannya jika keluarga nenek kembali, rumah itu masih ada untuk di kunjungi. Dan sebelum pemilik aslinya datang, rumah tersebut akan digunakan oleh pekerja di pabrik sepatu yang tempat tinggalnya jauh dari pabrik yang akan dibangun.
Di hari libur Tomi dan Malika berkunjung ke kediaman Te Apoyo. Di ruang tamu ia melihat selembar foto lama di pajang di dinding. Tomi mengingat kalau orang-orang yang ada di dalam foto itu pernah singgah di dalam mimpinya.
Lalu ia bertanya pada Te Apoyo siapa orang tersebut. Te Apoyo pun mengatakan kalau ia adalah seorang nenek kenalannya. Tomi pun meminta Te Apoyo untuk mengantarkannya ke rumah nenek tersebut. Tanpa ia sadari, air matanya mengalir, seolah merindukan sesuatu dan baru bertemu kembali.
Tomi merasa yakin kalau mimpinya berhubungan dengan keluarganya. Lalu dengan kemampuan Te Espere melihat masa lalu akhirnya di ketahui kalau Tomi adalah cucu si nenek. Maka menangislah Tomi. Ia akhirnya bertemu keluarga kandungnya. Namun sayangnya orang tersebut telah tiada. Untuk menjalankan kewajibannya ia pun pergi berjiarah ke makam neneknya.
Tomi yang merasa tidak berbakti pada nenek justru menyerahkan rumah tersebut pada Te Apoyo. Dan mengijinkan Te Apoyo menggunakan seperti yang ia inginkan. Orang tua Tomi juga tidak keberatan. Sebab menurut mereka, Te Apoyo tidak akan menyia-nyiakan rumah tersebut.
Tapi papa Malika menyarankan agar Te Apoyo membelinya dan membayarkan sesuai dengan harga yang berlaku. Transaksi jual beli pun terjadi. Dan rencana awal Te Apoyo tetap bisa dilanjutkan. Tapi ada saja oknum yang tidak suka dengan hal tersebut. Mereka keberatan didirikannya pabrik sepatu di tempat itu dengan alasan limbah akan mencemari daerah tersebut.
Tapi kemudian papa Malika melakukan rapat dengan perangkat pemerintahan tersebut dan juga orang-orang yang berpengaruh di desa tersebut. Dan menjelaskan kalau mereka tidak akan membuang limbah sembarangan. Dan papa Malika mengatakan kalau pabrik itu akan menampung pekerja dari penduduk setempat.
Kesepakatan pun tercapai. Pengajuan ijin pembangunan berhasil didapatkan. Bahan bangunan pun di datangkan. Pekerjanya juga berasal dari masyarakat setempat. Seorang reintenir menatap hal itu dengan geram. Sebab gaji buruh yang bekerja di bangunan tersebut lebih tinggi dua kali lipat dari buruh yang ia pekerjakan.
__ADS_1
Meminjamkan uang lalu memberikan bunga yang tinggi. Dan setiap orang yang berhutang padanya akan bekerja padanya sampai hutang mereka lunas. Sulit sekali mereka melunasi hutang. Membayar bunganya tepat waktu saja mereka sudah kewalahan.
Bahkan seorang kakek mengajukan diri menjadi kuli panggul dalam proyak pembangunan pabrik tersebut, sebab hutangnya sudah membengkak. Dan ia akan kehilangan satu-satunya tempat tinggal yang ia miliki. Tapi ia ditolak oleh mandor bangunan, sebab ia sudah sangat tua. Dan berbahaya juga baginya jika bekerja di tempat tersebut.
Karena tidak berhasil mendapat pekerjaan, rumahnya akhirnya di sita. Dan ia bersama ketiga cucunya diusir oleh preman bayaran si rentenir. Mereka kebingungan mencari tempat tinggal malam itu. Dalam kebingungan si kakek mengajak cucunya untuk tidur di bangunan pabrik sepatu milik Te Apoyo yang hampir jadi.
Lalu di pagi hari dengan cepat-cepat mereka betgegas meninggalkan tempat tersebut sebelum pekerja datang dan mengusirnya. Hari sudah siang, cucu si kakek kelaparan. Kakek yang tidak punya uang untuk membeli makan mencoba meminta sebungkus roti pada pemilik kedai. Dan pemilik kedai menolak memberikannya dengan cara halus.
Kebetulan mama dari orang tua teman sebangku Te Apoyo membeli beras ke kedai tersebut. Ia pun membelikan roti untuk kakek itu. Saat memberikan roti tersebut, mama teman Te Apoyo mengenali kakek itu. Kakek tersebut menceritakan kisahnya yang sudah kehilangan rumahnya.
Mama teman Te Apoyo mengajak mereka ke rumahnya. Lalu meminta ijin suaminya agar si kakek dan cucu-cucunya boleh tinggal bersama mereka. Suaminya pun setuju. Kehidupan mereka kini cukup terbilang mapan dan putranya yang sakit keras kini mulai pulih.
Sebagai ungkapan syukur atas kebaikan yang mereka terima dari orang yang tidak mereka kenal. Mereka ingin meneruskan kebaikan tersebut pada orang lain yang membutuhkan. Dan ketulusan keluarga teman sebangku Te Apoyo berdampak baik pada Te Apoyo dan Te Espere.
Suhu tubuh mereka di malam hari berkurang lagi dan mereka mulai bisa melihat bayangan kedua orang tua mereka di rumah kakek. Meskipun mereka belum bisa menyentuhnya.
Bersambung...
__ADS_1