
Cresentia juga melihat usaha Alexander yang mencoba menggantikan posisinya dengan orang lain. Dan melihat kenangan lain dari Alexander melalui percikan darah Te Espere. Di sebuah ruangan yang luas Alexander terbaring lemah.
"Cresentia membenciku dan mengutuk keturunanku, apa yang harus aku lakukan?" ujar Alexander pada seseorang di sisi tempat tidurnya.
"Apakah yang mulia masih mencintainya?"
"Aku selalu mencintainya. Meski aku sudah menikahi gadis yang mirip dengannya, aku tetap merasa kesepian,"
"Ambillah buku ini dan tulis segala kerinduan yang mulia rasakan padanya. Lalu wariskan pada keturunan yang mulia. Dan tinggalkan wasiat agar keturunan yang mulia melanjutkan kisah tersebut, pada keturunan mereka," saran orang itu.
"Sampai pada akhirnya buku ini akan sampai ke tangan keturunan yang mulia yang ke tujuh," ujar cenayang yang mengobati penyakit aneh yang diderita Alexander.
"Aku tidak yakin kalau buku ini akan sampai kepada keturunanku,"
"Percayalah padaku yang mulia, apa pun yang terjadi, buku ini akan tetap aman. Dan juga akan sampai ketangan keturunan ke tujuh yang mulia. Aku akan melindungi buku ini,"
"Tapi berjanjilah padaku, yang mulia harus bertahan. Lindungilah apa yang bisa yang mulia lindungi, agar kematian yang mulia tidak akan sia-sia,"
"Tapi Cresentia tidak akan membaca buku ini, lalu siapa yang akan menyampaikan perasaanku pada kekasih hatiku itu?"
"Darah keturunan yang mulia sendiri yang akan menyampaikannya. Percayalah pada ramalan hamba,"
"Jika benar demikian aku ingin agar keturunanku yang ke tujuh memakai nama yang aku berikan. Jika perempuan diberi nama Te Espere (Saya menunggumu) sebab aku akan tetap menunggu Cresentia bahkan sampai pada keturunan ke tujuhku."
"Tapi mungkin keturunanku akan mengalami penderitaan akibat kutukan tersebut. Jadi jika laki-laki, aku ingin ia diberi nama Te Apoyo (Saya mendukungmu) sebab aku akan selalu mendukungnya sekalipun aku telah tiada,"
"Dan seandainya bisa, aku ingin mengatakan pada Cresentia sekali lagi Te Amo (Saya mencintaimu),"
"Itu ide bagus yang mulia,"
Cresentia kembali kembali sadar saat Te Apoyo menyebut nama Te Espere. Gadis itu kehilangan banyak darahnya. Dan tidak sadarkan diri. Cresentia akhirnya melepaskan pedangnya. Dan mundur perlahan-lahan. Te Apoyo terus menyebut nama Te Espere. Lalu memandang Cresentia dengan kesedihan yang mendalam. Dan perlahan membaringkan Te Espere dilantai.
__ADS_1
"Lakukan apa saja yang kamu mau padaku. Tapi lepaskan kedua orang tuaku dan tolong ampuni dia. Biarkan ia hidup," ujar Te Apoyo memohon pada Cresentia.
"Aku tidak akan mengutuk keturunanmu, atau pun keturunan dari sukumu, agar dendam ini tidak terus berlanjut. Dan kutukan ini bisa hilang untuk selamanya," pinta Te Apoyo menangis.
Tapi Te Apoyo terkejut akan jawaban yang dilontarkan oleh Cresentia. Ia tidak menyangka kalau roh itu akan mengatakan penyesalannya. Atas segala tindakannya selama ini.
"Maafkan aku, maafkan aku, aku benar-benar minta maaf," jawab Cresentia yang kini menyesali apa yang telah ia lakukan.
"Apa maksudmu meminta maaf padaku? Jika kamu menyesal, setidaknya cabut kutukan yang kamu berikan pada kami," ujar Te Apoyo.
"Aku tidak bisa melakukannya."
"Apa maksudmu?"
"Kutukan yang aku berikan tidak bisa aku batalkan. Tapi sebagai permintaan maafku, aku akan menyerahkan kekuatanku pada kalian berdua."
"Aku tidak mau kekuatanmu! Selamatkan saja saudariku dan kembalikan orang tuaku,"
"Maafkan aku, hanya kamu yang bisa menyelamatkan mereka," ujar Cresentia lalu rohnya memudar dan berubah menjadi kepulan asap yang mengelilingi Te Apoyo dan Te Espere.
Mereka kebingungan melihat rumah kakek yang seperti kapal pecah. Dan terkejut melihat putrinya terluka parah. Secepatnya mereka menghamburkan diri ke tubuh Te Espere.
"Apa yang kamu lakukan pada saudarimu?!" tanya Dion pada Te Apoyo.
"Bukan aku pelakunya, tapi Cresentia, roh yang mengutuk keluarga kita turun temurun." jawab Te Apoyo.
Dion memeriksa nadi Te Espere lalu menyuruh Te Apoyo segera menghubungi pihak rumah sakit. Te Espere masih bisa bertahan sampai tiba di rumah sakit. Meski telah kehilangan banyak darah karena dibantu oleh kekuatan Cresentia.
Dengan memberi kekutannya pada Te Apoyo dan Te Espere maka, kenangan selama ia hidup melekat pada ingatan keduanya. Kenangan yang terjadi di gerasi sebelumnya.
"Sebaiknya kau gugurkan bayimu ini," ujar wanita paruh baya pada mama Cresentia.
__ADS_1
"Tidak bisa, aku tidak akan sanggup," jawabnya pada wanita paruh baya tersebut. Wanita itu adalah kakak perempuan dari nenek Cresentia.
"Putrimu akan membawa malapetaka bagi suku kita,"
"Tapi ia tidak bersalah tante, aku tidak sanggup,"
"Jika kau memilih melahirkannya maka setelah ia lahir, ia tidak boleh bertemu laki-laki selain papa dan saudara laki-lakinya, sebab itu akan jadi awal kehancuran suku kita ini. Yang jumlahnya sudah banyak berkurang,"
Maka lahirlah anak perempuan yang diberi nama Cresentia. Sesuai janjinya mama Cresentia mengurung putrinya di sebuah kamar. Agar tidak bertemu dengan laki-laki selain papa dan saudaranya Cresen.
Namun sebuah takdir berkata lain. Sekuat apa pun ia mengurung Cresentia. Tetap saja ia tidak bisa melawan takdir Cresentia untuk bertemu pertama kalinya dengan Alexander.
Sampai pada akhirnya Alexander mengakui kalau ia menyukai Cresentia. Dan Cresentia juga menyadari kalau ia jatuh cinta pada Alexander. Tapi Cresentia mendapat tamparan di pipinya saat ia mengatakan perasaannya tentang Alexander pada mamanya.
"Lupakan! Cepat lupakan dia!"
"Kenapa? Apa karena ia seorang pangeran?"
Mama Cresentia tidak menjawab pertanyaan putrinya. Ia tidak sanggup mengatakan hal yang disampaikan oleh tantenya yang memiliki kemampuan yang sama dengan Cresentia. Bahwa setiap gadis yang memiliki kekuatan melihat hari akhir, tidak boleh jatuh cinta mau pun di cintai oleh seorang pemuda.
Sebab kemampuan mereka berasal dari perjajian dengan penguasa kegelapan. Di mana seorang ratu yang meminta kekuatan pada penguasa kegelapan agar bisa memenangkan peperangan. Dengan menumbalkan putri yang akan ia lahirkan kelak.
"Tuanku, putri pertama yang aku lahirkan akan keserahkan seutuhnya padamu, ia tidak akan melihat laki-laki selain orang tua kandungnya dan saudara kandungnya. Dan juga ia tidak akan pernah dilihat oleh laki-laki lain selain orang tua dan saudara kandungnya. Selamanya dia hanya akan menjadi milikmu."
Dan kerajaan itu pun memenangkan peperangan. Kemudian ratu itu menunaikan janjinya. Ketika ia melahirkan anak perempuan pertama, anak itu hanya akan menjadi pasangan penguasa kegelapan. Namun takdir perjanjian tidak berhenti sampai di situ.
Setiap anak perempuan pertama dari keturunan ratu itu yang memiliki kemampuan yang sama dengan sang ratu. Harus hidup sendiri seumur hidupnya. Jika ia menikah maka suaminya akan meninggal dunia dengan mengalami muntah darah. Sampai seluruh darah di tubuhnya habis dimuntahkan. Dan akhirnya meninggal dunia.
Dan akhirnya Cresentia mengetahui hal tersebut dari wanita tua yang merupakan kakak dari neneknya, maka ia pun menjauhi Alexander.
"Kenapa kamu menjauhiku?" tanya Alexander suatu hari pada Cresentia.
__ADS_1
"Karena aku mencintaimu," batin Cresentia sambil meninggalkan Alexander yang masih kebingungan.
Bersambung...