
Saat ini Malika dan kelompoknya sudah tidak memiliki jalan untuk keluar. Pasrah sudah menjadi jalan terakhir hingga terdengar suara pesawat tempur menuju lokasi tersebut.
Beberapa benda dijatuhkan tepat di atas mereka. Pecah dan menyebabkan kepulan asap putih yang tebal. Tomi, Malika dan kelompok khusus yang kini sedang tersudut, langsung menutup mulut dan menahan napas.
Orang-orang yang melakukan penyerangan terhadap kelompok khusus itu tidak menyadari asap yang mereka hirup. Satu persatu mereka tumbang. Dorado yang sempat sadar, berhasil melompat menjauh dari kepulan asap itu.
Dan pesawat yang melihat seseorang keluar dari kepulan asap memantau lewat alat khusus.
"Target sudah dikunci! Tembak!" ujar seseorang dalam pesawat itu.
Pesawat tersebut terus terbang berputar di atas lokasi. Dorado yang mendapat serangan mencoba mengacaukan orang-orang yang ada di dalam pesawat. Mengarahkan tangannya ke pesawat, berharap mereka termasuk keturunan yang terikat sumpah.
Tapi ternyata tidak ada satupun yang seperti dugaannya. Ia terus diserang secara bertubi-tubi. Membuatnya melarikan diri dari tempat tersebut. Dan mencari lokasi agar bisa melakukan serangan balik.
Namun pesawat itu sangat gesit saat berkilah dari serangan yang diarahkan pada benda itu. Karena putus asa Dorado memilih menjauh dan menyimpan tenaga. Ketika menemukan lokasi yang menurutnya cocok untuk menyerang. Ia pun melakukan perlawanan.
Serangga beterbangan menuju pesawat dan menutupi kaca depan pesawat tersebut. Tidak menyadari kalau Dorado melayangkan pukulan ke arah pesawat itu. Dorado mengepalkan tangannya dan mengarahkan dengan cepat ke pesawat itu. Batu-batu terlempar bersama angin yang mengarah ke pesawat.
Lalu ratusan burung-burung di udara mengganggu baling-baling tiap pesawat. Sehingga hilang kendali. Lalu para penumpang menggunakan parasut dan melompat dari pesawat yang hendak menabrak tebing.
Dorado masih ingin melakukan serangan dan melompat ke atas pohon. Menggerakkan tangannya dan mengumpulkan api dari ledakan pesawat di udara. Ia lalu mengarahkannya pada orang-orang yang sedang terjun tersebut.
Api menyambar parasut dan orang yang mengenakannya. Dengan cepat orang itu melepas jaket dan parasutnya. Beruntung orang yang berada di dekatnya tidak terkena lemparan api berhasil menangkap orang tersebut.
Ia melepas parasutnya. Dan memasang parasut cadangan setelah berhasil menangkap kawannya. Mereka berhasil mendarat darurat meski harus terkena cabang-cabang pohon tempat mereka mendarat.
Dorado masih mencoba menyerang yang lain. Dengan melompat ke pohon yang lebih dekat pada musuhnya. Tapi ia tidak menyangka Brillo dan Estrella menjadi penghalangnya. Mereka mengikuti anjing-anjing liar menuju tempat tersebut.
Melalui bantuan Lillo, dan anjing-anjing liar mereka dengan mudah mengetahui posisi Dorado dengan tepat. Serangan Dorado pada penumpang pesawat berhasil digagalkan.
__ADS_1
Lalu tiga pesawat tempur kembali melayang di lokasi tersebut. Dan pesawat itu mendarat. Malika dan yang lainnya berhasil keluar dari kepulan asap melihat beberapa orang turun dari benda besar itu.
Alangkah leganya saat melihat orang yang ia kenali berjalan ke arahnya. Luka-lukanya seolah telah sembuh. Dengan terseok-seok ia mendekati orang itu.
"Papa...!" teriak Malika.
"Maafkan kami terlambat."
Kedua orang itu pun berangkulan. Tomi merasa lega melihat Dion yang juga ada di antara penumpang yang turun. Tapi juga cemas saat Dion bertanya tentang Te Apoyo dan Nicorazón.
"Kami belum sempat bertemu dengan mereka," jawab Tomi.
Tapi kemudian ia melihat sesuatu bergerak berlari ke arah mereka. Itu adalah Lillo yang mencium keberadaan Tomi. Brillo sengaja menyuruh Lillo untuk mencari orang tuanya.
"Lillo! Bagaimana kamu bisa ada di sini?!"
Lillo menarik Malika dan menunjuk ke arah hutan yang ada di sekitar lokasi tersebut. Tempat Dorado dan Brillo bertarung.
"Beraninya kalian melawanku secara terang-terangan. Meski aku sudah banyak kehilangan energi, tapi jangan harap bisa menaklukkanku!"
Dorado mengambil racun dan menaburkan pada pedangnya. Dan kini berlari dengan cepat menuju ke arah Brillo dan Estrella lalu menyerang mereka dengan pedangnya. Keduanya pun terkena sabetan pedang itu.
Berkat kecepatan yang mereka miliki pedang itu belum sempat menghisap kekuatan keduanya. Tapi luka yang mereka alami membuat mereka kesulitan bergerak. Sebab racun di pedang itu masuk dari luka mereka.
"Bagaimana rasanya sekarang? Sudah mati rasa?! Sekarang, matilah!"
*DUAR! DUAR! DUAR!!!
Serentetan tembakan diarahkan oleh sekelompok pria bersenjata ke arah Dorado. Mereka adalah angkatan militer dari negara lain yang datang bersama Dion dan papa Malika.
__ADS_1
Lagi-lagi Dorado terpaksa mengunakan kekuatannya untuk melindungi diri. Sampai akhirnya ia berhasil berlindung di balik sebuah batu besar.
Dari sana ia mengunakan kemampuan Verde yang telah berhasil ia kuasai. Menggunakan seluruh hewan yang ada di hutan untuk balik menyerang. Dan memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri.
"Sebagian ikut aku untuk mengejarnya. Satu orang tetap di sini menunggu bantuan dan menjaga mereka berdua!" perintah ketua dari kelompok militer.
Maka satu orang yang disuruh mengangguk dan mendekati Brillo dan Estrella.
Sementara yang lain setelah berhasil menyingkirkan hewan-hewan penghalang, kembali mereka mengejar Dorado. Tanpa memberi kesempatan pada anak itu untuk kabur. Dorado sempat menoleh kebelakang melihat orang-orang yang terus menembak ke arahnya.
"Sial! Kenapa tidak ada salah satu dari mereka yang bisa aku gunakan. Kenapa tidak ada rantai yang melingkar di leher mereka?!" gumam Dorado.
Lalu ia mengepalkan tangannya seolah mengumpulkan udara di dalam genggamannya dan melemparkan ke arah orang-orang yang mengejarnya. Mereka sempat terpelanting ke belakang. Sebelum berhasil berdiri kembali.
"Gawat! Cepat sekali larinya, kita sudah kehilangan jejak."
"Kalau begitu lapor pada mereka yang berada di posisi lain. Agar bersiap, siapa tahu Dorado akan menuju lokasi mereka!"
"Siap Ketua!"
Dorado sudah banyak kehilangan energi. Ia butuh istirahat untuk memulihkan tenaganya. Namun saat melintasi pembatas hutan ia bertemu kelompok militer khusus yang masih satu kelompok dengan penyerang Dorado di hutan.
Tanpa buang waktu kembali ia mengarahkan kemampuannya. Melindungi dirinya dari serangan. Sehingga ia benar-benar kelelahan. Tapi musuh kini berada di segala arah. Kemanapun ia pergi, sudah ada yang siap untuk menyerangnya.
"Baik, aku menyerah!" teriaknya sambil mengangkat tangan.
Berharap serangan yang diarahkan padanya berhenti. Dan seperti dugaannya serangan dihentikan saat salah satu dari mereka mengangkat tangan. Sehingga yang melihat gerakan itu menghentikan tembakan.
Meski demikian satu timah panas sempat mengenai tubuh Dorado yang tanpa perlindungan. Ia pun rubuh. Orang-orang bersenjata mendatanginya dengan perlahan-lahan.
__ADS_1
Melihat musuhnya mendekat Dorado tersenyum penuh arti.
Bersambung...