Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Suara Sepatu


__ADS_3

Nenek kelihatan sangat sedih di sepanjang perjalanan. Te Apoyo jadi bingung dibuatnya. Ia melihat pedagang sepatu di sebuah kaki lima. Ada banyak sepatu di jejerkan di sana. Sepatu itu baru. Tapi semua sepatu tiruan.


Te Apoyo menarik tangan si nenek ke tempat tersebut. Dan tanpa disuruh ia pun memilih-milih sepatu yang ada di situ. Tapi tidak ada yang pas dengan kakinya. Si nenek yang dari tadi hanya diam saja melirik ke arah penjual tersebut.


"Ayo nek dilihat dulu. Siapa tau suka, kalau cocok nanti tinggal dibungkus." ujar penjual.


"Dibungkus apanya? Memangnya gratis?" ujar nenek. Penjual tertawa.


"Tidaklah nek. Tapikan harga bisa ditawar. Nenek pilihlah dulu. Soal harga belakangan." ujar penjual ramah.


Dari tadi banyak yang melirik sepatu-sepatunya tapi belum ada yang mampir. Ia hampir saja berniat menggulung tikarnya dan pulang kalau Te Apoyo tidak mampir.


"Yang ini berapa?" tanya nenek kemudian.


Ta Apoyo melihat sepatu yang dipilih nenek. Bentuknya mirip dengan yang di toko. Tapi harganya cukup dengan uang yang nenek bawa.


"Hey coba yang ini saja!" ucap nenek pada Te Apoyo bersemangat kembali.


Te Apoyo mencobanya dengan senang hati. Nenek menyuruhnya memakainya sepasang. Lalu membayarnya.


"Nenek mau belikan ini untukku?" tanya Te Apoyo. Nenek mengangguk dan tersenyum bangga.


"Oh makasi banyak ya nek." ucap Te Apoyo.


Ternyata nenek mengajaknya lagi ke tempat lain. Ia mengajaknya makan semangkuk bakso. Dengan sisa uangnya. Te Apoyo sebenarnya tidak enak hati. Tapi melihat nenek sangat senang, ia pun mencoba menikmati bakso tersebut.


Setelah pulang Te Apoyo memberikan uang pada si nenek sebagai ganti uang sepatu.

__ADS_1


"Eh tidak usah. Nenek iklas. Belajar yang rajin biar jadi orang kaya. Biar tidak jadi pemulung seperti nenek." ujarnya tersenyum. Tapi jelas terlihat ia sedih. Bukan karena uangnya habis tapi karena hal lain.


"Makasi ya nek, kalau begitu. Oh iya, sebagai gantinya. Maukah nenek makan malam di rumahku malam ini?" tanya Te Apoyo.


"Haduh. Nenek sudah tua, carilah gadis lain untuk kau perkenalkan pada orang tuamu. Nenek sudah menganggapmu seperti cucu nenek sendiri." ujar nenek. Te Apoyo tersenyum mendengar gurauan si nenek.


"Tapi kalau kau memaksa, nenek akan datang. Soalnya uang nenek sudah habis. Hahaha!"


Nenek tersebut memukuli pundak Te Apoyo gemas. Entah kenapa rasa sedihnya seketika hilang.


"Kalau cucu nenek ada di sini, kalian pasti jadi teman baik. Sayangnya dia belum pernah nenek lihat. Tapi kau ada di sini. Entah kenapa rasanya seperti melihat cucu sendiri. Kalau pun sampai nanti tidak bisa melihat cucuku, paling tidak mulai hari ini kau adalah cucuku." ujar si nenek tersenyum menunjukkan giginya yang sudah tanggal sebagian. Te Apoyo menatapnya geli dan ia pun tersenyum.


Malamnya si nenek makan malam bersama keluarga Te Apoyo. Saat selesai makan ia hendak berpamitan pulang. Tapi ditahan oleh kedua orang tua Te Apoyo. Akhirnya ia pun bermalam di rumah Te Apoyo.


Malam itu neneknya banyak becerita tentang anaknya. Mulai dari kecil hingga ia merantau lalu menikah di perantauan tanpa bisa dia lihat. Hanya satu kali ia berhubungan dengan putranya melalui panggilan video. Dengan menggunakan ponsel seorang tetangganya. Tapi hanya sekali itu saja.


"Saat itu istrinya sudah mengandung, kata mereka calon bayinya laki-laki." ujar nenek mengenang masa lalunya. Lelah bercerita nenek pun tertidur di ruang depan dengan mereka.


Nenek tertidur dengan pulas, dan tampaknya ia bermimpi sangat indah. Dan di mimpinya ia dijemput oleh anak dan menantunya.


"Kenapa hanya kita bertiga? Cucuku tidak ikut?" tanya nenek dalam mimpinya.


"Biarkan dia bermain dulu. Nanti kalau dia sudah lelah bermain, kita akan menjemputnya." ujar putranya sambil tersenyum.


"Tapi kan bahaya kalau dia ditinggalkan sendirian," ujar si nenek.


"Tidak akan ma, ia memiliki orang-orang baik di sekitarnya. Jadi kita tidak perlu kuatir," ujar menantunya.

__ADS_1


Lalu ketiganya meninggalkan bocah tersebut. Yang sedang bermain di sebuah taman. Dan saat melihat mereka pergi, ia hanya melambaikan tangannya dan tersenyum.


"Sebenarnya aku punya satu cucu lagi," ujar nenek di perjalanan.


"Namanya Te Apoyo." ujar nenek tersenyum bangga.


"Baguslah kalau begitu, nanti Tomi jadi punya teman. Ya kan sayang?" ujar menantu si nenek dan putranya pun menggangguk.


Perjalanan mereka makin jauh. Dan bayangan mereka tidak terlihat lagi. Oleh sang cucu yang diam-diam menangisi kepergian ke tiga anggota keluarganya tersebut.


Dan di dunia nyata mahluk berjubah itu tampak telah mengayunkan sabitnya lalu menghilang. Te Apoyo mengguncang tubuh si nenek. Tapi tidak ada reaksi sama sekali. Sebab ia sudah tutup usia.


Di tempat lain Tomi menangis dalam kamarnya ia bermimpi tentang sepasang suami istri dan seorang nenek mengucapkan selamat tinggal padanyanya. Meski tidak mengenal mereka dengan pasti. Ia merasa sedih saat mereka meninggalkannya.


Pukul 04:00 nenek tutup usia. Orang-orang di sekitar rumah nenek, membantu proses pemakaman nenek setelah mereka mendapat kabar dari keluarga Te Apoyo.


Tidak ada yang berprasangka buruk pada keluarga tersebut meski nenek meninggal di rumah mereka. Sebab banyak yang tahu kalau selama ini keluarga Te Apoyolah yang paling memperhatikan keadaan nenek tersebut.


Sejak hari itu tanpa mereka sadari kalau Te Espere sudah tidak lagi punya keinginan untuk melompat ke dalam api meski ia melihat api di depan matanya. Ia justru takut dan menghindarinya.


Dan sejak itu pula Te Apoyo dan Te Espere sudah mulai bisa tidur di malam hari meski pun suhu tubuh mereka masih terasa panas. Tapi suhunya sudah berkurang. Te Espere bahkan sudah bisa tidur tanpa harus berada di atas tumpunkan batu es. Ia hanya perlu mengatur suhu kamarnya ke suhu terendah


Seperti biasa, setiap hari sabtu Te Apoyo kembali ke rumah kakek Dion. Saat ia membuka pintu ia melihat ada banyak jejak sepatu di rumah tersebut. Ia pu mencari tahu siapa yang memasuki rumah kakek. Tapi tidak seorang pun di dalam rumah.


Malam hari ia pun tidur di rumah tersebut. Dan mendengar ada suara orang yang berjalan tanpa henti di rumah tersebut. Dan saat lampu dinyalakan suara langkah itu berhenti. Te Apoyo mengira ia sedang berhalusinasi jadi ia menekan tombol off lampu di ruangan tamu.


Dan saat lampu di padam, suara sepatu mulai terdengar lagi. Te Apoyo melakukan hal yang sama berulang-ulang. Dan hasilnya tetap sama. Ia tidak tahu apa yang terjadi. Tapi selama ia merasa kalau mereka tidak menyakitinya, ia memilih untuk tidak memperdulikannya.

__ADS_1


Ia menutupi telinganya dengan bantal dan mencoba untuk tidur di kamarnya dengan pendingin ruangan bersuhu paling rendah.


bersambung...


__ADS_2