
Jam menunjukkan pukul 17:00 waktu setempat. Saatnya para pekerja pulang ke kediamannya masing-masing. Ada beberapa orang yang masih memilih berhenti di taman untuk menghilangkan rasa penat, karena telah seharian bekerja.
Saat asik bercerita dan berbincang-bincang tentang hasil yang mereka dapatkan hari ini, seseorang menyapa mereka dari belakang.
"Ibu-ibu jangan pulang lama-lama, kasihan putra dan putri kalian yang masih kecil-kecil menantikan kepulangan kalian," ujar sebuah suara.
"Oh iya, ini sebentar lagi juga kami akan segera pulang," jawab wanita berambut ikal.
"Benar, hari ini meski sudah sore, matahari masih bersinar terik, jadi enggan untuk pulang. Lebih nyaman bersantai di sini dulu," kata wanita yang bertahi lalat di bawah kelopak mata kiri.
"Iya sudah kalau begitu saya pulang dulu," ujar suara tersebut.
Para wanita diam sejenak, seolah ada yang mengomandonya. Untuk menunggu seseorang yang menegur mereka lewat, melintasi tempat mereka duduk. Tapi sudah lebih 15 menit, tidak seorang juga yang melintasi mereka. Dan tanpa aba-aba mereka serentak menoleh ke belakang. Namun tiada orang lain selain mereka di sana.
Wanita berambut ikal memegang tengkuknya. Dan wanita bertahi lalat di bawah kelopak mata juga ikut melakukan hal yang sama. Keduanya saling pandang. Seakan berbicara dari hati-kehati, mereka melakukan gerakan yang sama. Berdiri perlahan-lahan dan menenteng tas bekal mereka.
Mulanya mereka berjalan perlahan-lahan dan sambil memegang erat tas bekal masing-masing. Keringat bercucuran dari pori-pori kedua wanita itu. Mata di sipitkan, takut kalau sesuatu yang tidak diinginkan muncul tiba-tiba. Rasanya sangat sulit bersikap biasa, setelah sesuatu yang ganjil mereka rasakan.
Pada langkah yang ke lima, mereka mempercepat langkah mereka. Dan saat terdengar ada suara lagi, yang menegur mereka, mereka pun berlari secepat mungkin. Tanpa menoleh lagi kebelakang, dan saling kejar-kejaran karena takut tertinggal di belakang yang lain.
"Ibu-ibu jaman sekarang, tingkahnya seperti anak kecil," ujar seorang satpam baru yang berada di posnya, saat melihat dua wanita berlari lintang-pukang melewati tempatnya.
Lalu ia ingin pergi ke pabrik untuk melihat kalau sudah tidak ada orang lagi. Saat di dia berkeliling ia melihat seorang pemuda masih asik bekerja. Niatnya mengunci pintu ia urungkan. Lalu ia pergi ke kamar kecil untuk buang air.
__ADS_1
Setelah membuang air ia tidak menyiram kamar kecil tersebut. Lalu ia mendengar suara langkah kaki. Saat menoleh tidak ada siapa pun yang menuju kamar kecil. Ia pun mengira kalau telah salah dengar.
"Ya ampun siapa buang air tapi tidak disiram?!" terdengar umpatan kesal di kamar kecil.
Satpam itu menoleh, melihat ke arah deretan kamar kecil. Tampak satu pintu bergerak tertutup. Lalu terdengar suara air disiram, setelah itu pintu terbuka. Aroma pesing hilang.
Satpam merasa tidak heran. Sudah beberapa lama sejak pintu itu terbuka lagi, tapi tidak terdengar suara langkah kaki keluar. Perlahan ia melangkah ke kamar kecil tersebut. Lalu mendorong pintu dengan tongkat pemukul. Lalu ia berpikir kalau rasanya memalukan jika ia disangka mengintip, jadi ia menarik pentungannya dan berjinjit mundur.
*Brukk!!!
Terdengar suara pintu pabrik ditutup. Ia pun menoleh ke arah suara. Begitu ia menoleh ke arah suara pintu pabrik ditutup, ia pun mendengar suara langkah kaki tepat di belakangnya. Saat menoleh ia melihat sosok menyeramkam. Kepala pecah dan berlumuran darah. Kepalanya tidak lagi tegak di lehernya. Terlihat seperti patah bagian tulang lehernya. Tapi tidak sampai putus.
"Lain kali kalau buang air kecil disiram! Kasian yang lain harus ikut mencium bau pesingmu!" tegur sosok menyeramkan tersebut.
Karena ketakutan satpam lari terbirit-birit seperti maling yang dikejar anjing polisi. Ia berlari menuju pabrik, mencari seseorang. Saat tiba di pabrik dan pintu sudah terkunci. Ia pun heran. Kunci pabrik hanya ada padanya. Tanpa sadar ia meraba kunci yang ia gantungkan di tali pinggangnya. Tapi kunci itu tidak ada.
Terdengar suara kunci dimainkan tepat dibelakangnya.
"Cari ini ya pak?" tanya sosok menyeramkan tersebut.
"Ha-han han-tu...!!!" teriak satpam itu lari ke pos satpam. Bersembunyi di bawah kolong.
*Cring.
__ADS_1
Terdengar suara kunci di letakkan di atas meja. Satpam gemetaran. Tidak berani melihat kemana pun. Setelah beberapa menit tidak ada suara. Ia pun memberanikan diri melihat sekitarnya. Lalu perlahan lahan keluar dari kolong meja.
Tampak kunci-kunci diletakkan di atas meja. Dengan gemetaran ia mengambil kunci tersebut. Lalu setelah satu jam, ia kembali ke pabrik untuk memeriksa sekali lagi, apakah masih ada orang atau tidak.
Saat berada lagi di dalam pabrik ia selalu melihat ke belakang dengan cepat dan kepalanya tidak bisa diam. Karena rasa takut pada sosok menyeramkan dan rasa bertanggung jawab pada pekerjaan. Membuatnya bertindak demikian.
Ia bernapas lega setelah memastikan tidak ada lagi orang di pabrik. Lalu ia mengunci pintu dan kembali ke pos jaganya. Untuk memastikan tidak ada yang masuk ke wilayah pabrik tersebut. Jika tidak ada kepentingan. Sambil menunggu orang yang menggantikan untuk berjaga malam.
Sementara seorang pria kebingungan dengan alamatnya sendiri. Ia lupa di mana ia tinggal. Sebab ia tidak melihat rumahnya yang hampir rubuh dulu. Tapi ketika melihat mamanya keluar dari rumah tersebut, membuang sampah lalu masuk lagi. Membuat kakinya ikut bergerak masuk ke rumah itu.
Sampai di dalam ia melihat deretan barang-barang yang ia kenal. Piala juara yang selama ini dia dapatkan dari sekolah tertata di lemari kaca. Tampak mamanya meraba benda tersebut dengan lembut. Seolah takut merusaknya.
Lalu ia melihat mamanya memakai kalung kesayangannya yang ia sangka sudah hilang. Ia tersenyum lega. Saat ia menghampiri mamanya untuk meminta kalung tersebut. Seseorang memanggil dan membuat wanita itu meninggalkannya.
Wanita itu ternyata pergi ke dapur menyiapkan makan malam kesukaannya. Ia merasa sangat senang. Rasa lelah setelah seharian bekerja di pabrik akan segera terbayar saat ia makan malam nanti pikirnya.
Tidak mau mengganggu, maka ia pun berpikir untuk pergi mandi. Lalu sadarlah ia, kalau ia lupa di mana letak kamar mandi. Saat berpaling dan menanyakan letak kamar mandi, mamanya dan adiknya terlihat sangat sibuk menyiapkan makan malam.
"Baiklah akan aku cari sendiri," batinnya.
Tidak lama terdengar suara air guyuran air di kamar mandi. Mama dan adiknya menghentikan kegiatannya sejenak. Lalu saling pandang. Ketika mengira mereka salah mendengar, maka mereka melanjutkan pekerjaannya.
Tapi untuk kesekian kalinya mereka mendengar lagi suara dari arah kamar mandi. Suara siulan yang sering dilakukan putranya saat mandi, setelah pulang dari pabrik. Mereka pun kini benar-benar menghentikan kegiatan mereka.
__ADS_1
"Ma, apakah kakak yang pulang?" tanya putrinya.
Bersambung...,