Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
(Season 2) Pribadi yang Lain


__ADS_3

"Tentu saja untuk membunuhmu," jawab Dorado singkat.


Tanpa menjawab secara lengkap ia pun menghujamkan pedang itu pada Verde dan menyerap seluruh kekuatan dan kemampuannya.


"Aku mengutukmu. Mati dengan cara mengenaskan!" teriak Verde.


Setelah berkata demikian, ia pun menghembuskan napas terakhirnya disaksikan oleh pelayannya. Mulanya pelayan itu merasa senang atas kematian tuannya. Karena mengira kalau ia akan bebas. Tapi kenyataannya, ia hanya bertukar Tuan.


Dengan kepergian Verde, wanita paruh baya itu kini terhubung dengan Dorado. Hanya dengan satu kata, pelayan itu pun bertelut.


"Mulai sekarang kamu adalah budakku!" ujar Dorado pada pelayan yang muncul akibat panggilan Dorado.


"I- iya tuanku," jawabnya gugup.


Sementara di tempat lain, Esperanza dan Nicorazón membuat semua orang menjadi pusing. Setelah bangun mereka berdua tidak mengenal siapapun.


"¿Quienes son ustedes?" ujar Esperanza membuat Estrella dan Primavera heran saat pertama kali gadis itu keluar dari kamarnya.


Mereka kini tinggal di Vila yang terletak jauh dari rumah utama. Saat itu Dion mengatakan kalau mereka harus pindah secepatnya. Mengingat para Keturunan Ketujuh bisa melakukan apa saja untuk menemukan mereka.


Sementara di kamar lain, Nicorazón juga berteriak. Ia tidak tahu cara membuka pintu kamarnya. Dan menghancurkan barang-barang yang ada di dalam kamarnya.


Dia kenapa?" tanya Brillo yang sedang berada di ruang tamu.


Te Apoyo, Dion dan suami Fika saling memandang. Heran mendengar Nicorazón berteriak-teriak lalu terdengar suara Esperanza yang memanggil seseorang.


"Nona!" teriak Nicorazón saat mendengar suara Esperanza.


Setelah mendengar suara Nicorazón, maka Esperanza berlari ke arah kamar tempat putra Te Apoyo berada.


"Pengawal apa kamu ada di dalam?" tanya Esperanza dalam bahasa asing.


Estrella yang mengikuti Esperanza tercengang. Lebih heran lagi saat Esperanza juga tidak tahu cara membuka pintu.


"Nona, apa anda selamat?" tanya Nicorazón juga dalam bahasa asing.


"Ya, aku selamat. Aku akan melepaskanmu!" teriak Esperanza di depan pintu kamar tersebut.


Karena tidak berhasil membuka pintu dengan kedua tangannya, ia akhirnya mendekati Estrella.


"Abre la puerta!" perintahnya.


Berkali-kali ia mengatakan hal yang sama, namun Estrella masih bengong. Sedangkan Primavera malah bertanya apa yang dimaksud oleh Esperanza. Hingga akhirnya Brillo membuka pintu tersebut dengan menekan sebuah tombol yang ada di dinding.

__ADS_1


"Nona!" teriak Nicorazón memeluk Esperanza begitu pintu dibuka.


Lalu keduanya berjalan menjauhi orang-orang yang ada di situ. Nicorazón memeluk Esperanza seolah gadis itu adalah kekasihnya. Lalu menggeser tubuh gadis itu kebelakang.


"Sayang, kamu baik-baik sajakan?" tanya Primavera dalam bahasanya.


"¿Qué quieres?" ucap Nicorazón menangkap tangan mamanya dengan kasar.


"Nicorazón apa yang kamu lakukan pada mamamu?" tanya Te Apoyo.


"Kurasa dia bukan putramu, Om," jawab Brillo secepatnya.


"Apa maksudmu Brillo?" tanya Te Apoyo.


"Sama seperti Te Espere dan Nicholas, sepertinya hari ini mereka bukan sebagai Nicorazón dan Esperanza. Aku tidak tahu pastinya. Tapi mereka menjadi orang lain tiap kali bangun tidur," ujar Brillo berpendapat.


Te Apoyo yang tadi hendak maju akhirnya mundur. Begitu juga yang lainya. Mereka tidak mau membuat keduanya merasa terancam.


"Nona, ayo kita pergi dari sini," ajak Nicorazón pada Esperanza kemudian.


"¡No te vayas!" kata Brillo mengunakan bahasa yang digunakan Nicorazón saat ini.


Kedua orang yang sedang menjadi orang lain tersebut berhenti. Lalu berpaling.


Nicorazón memicingkan matanya dan melihat seolah menyelidiki sesuatu. Brillo pun mengatakan kalau mereka orang baik dan yang merawat luka di dada Nicorazón.


"Kami hanya orang biasa," ujar Brillo di akhir penjelasannya.


"Kalau begitu, ini di mana? Dan bagaimana dengan peperangannya?" tanya putra Te Apoyo.


Brillo tampak kebingungan menjawabnya. Lalu Te Apoyo menanggapi dengan mengatakan kalau peperangan sudah usai. Ia tidak mau membuat masalah semakin rumit. Dan berharap putranya yang kini menjadi orang lain percaya.


"Iya benar. Perangnya sudah selesai dan kita menang," timpal Estrella.


"Kalian bohong. Wajah kalian mengatakan segalanya!" tegas Nicorazón.


"Tidak! Kami tidak bohong. Perangnya sudah lama berhenti. Dan lihatlah kemajuan ini," ujar Brillo mengarang cerita.


Primavera yang tidak paham hanya bisa mengernyitkan keningnya. Mendengarkan mereka bicara. Pada saat itu, suaminya dan anak-anak Malika sedang mencoba membuat sepasang kekasih beda kasta, di kehidupan lampau tersebut untuk percaya.


"Baiklah kalau begitu. Ternyata kita menang. Jadi tidak akan ada lagi yang menyakiti Nona," ujar Nicorazón menoleh pada Esperanza.


Dan Esperanza pun tersenyum terharu mendengar hal tersebut. Tapi kemudian ia bertanya tentang keluarganya. Yang membuat orang-orang di situ kembali pusing dan memakai kemampuan mengarang mereka.

__ADS_1


"Maaf, kami tidak tahu kabar mereka," jawab Brillo sedih.


"Tapi kami akan membantu mencarinya!" katanya lagi.


Te Apoyo menatap ke arah Brillo dan anak itu memberi kode. Dan berkat akting mereka yang masih di level pendaftaran, kedua orang tersebut bisa tenang.


"Kalian pasti lapar, ayo kita makan," ajak Estrella.


Kedua orang tersebut mengangguk lalu mengikuti arah yang ditunjukkan. Seperti orang zaman dulu masuk ke zaman modern, menatap seluruh benda yang ada di rumah itu.


"Izinkan saya mencobanya dahulu Nona," ujar Nicorazón saat Esperanza hendak menyantap makanannya.


Lalu Nicorazón mencobanya. Primavera yang mau bicara ditahan oleh Te Apoyo.


"Aku hanya ingin menyuruhnya duduk dan makan bersama," bisik Primavera.


"Sudah biarkan saja," kata Te Apoyo.


Setelah makanannya dicoba untuk memastikan tidak beracun, Esperanza mulai makan. Tapi ia kemudian berhenti.


"Nyonya, bolehkah pengawalku ikut makan bersama?"


"Nona, aku hanya pengawal biasa. Tidak pantas makan di waktu yang sama dengan Nona."


"Pengawal, di sini kita semua sama. Ayo duduklah. Aku akan ambilkan makanan untukmu!" ujar Estrella.


"Tidak, saya tidak boleh berbuat tidak sopan," ujar Nicorazón.


"Kita tidak sedang di istana. Jadi tidak perlu sungkan. Peraturan istana, biarlah berlaku di istana saja," ujar Esperanza.


Lalu ia sendiri yang menerima makan yang sudah di taruh ke dalam piring baru, lalu memberikannya pada Nicorazón.


"Makanlah di sampingku. Ini perintah!" tegas Esperanza.


Putra Te Apoyo akhirnya duduk dan makan bersama. Primavera dan Te Apoyo hanya bisa menghela napas dengan panjang. Sementara Brillo dan Estrella menunduk menahan tawa. Serasa sedang menonton drama kisah cinta seorang putri dan pengawalnya.


Setelah itu mereka mencoba untuk menyelaraskan jalan pikiran kedua orang tersebut. Dengan susah payah Estrella dan Brillo menjelaskan banyak hal.


"Benda sihir apa ini? Kenapa ada banyak benda di dalam?" tanya Nicorazón seperti baru pertama kali melihat komputer.


"Benda ini berfungsi untuk mencari banyak hal, tapi kalau boleh tahu, apa hubunganmu dengan gadis itu?" tanya Brillo.


"Bicaralah yang sopan! Dia adalah putri mahkota!" ujar Nicorazón tidak senang mendengar cara bicara Brillo seolah sudah akrab dengan Esperanza.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2