Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Masa Lalu


__ADS_3

Wanita itu menyadari kalau dirinya ketahuan dan beranjak pergi. Namun penghuni rumah memanggilnya. Tapi wanita itu malah mempercepat jalannya. Pria itu pun mengejarnya, dan menangkap tangannya.


"Hei wanita tua, mau lari kemana?" tanya pria bertato itu.


"Ahh kenapa kau galak sekali dan tidak sopan. Sampah itu bukankah hendak kau buang."


"Ya, mulai hari ini kau boleh mengambil sampah yang ada di sana sebanyak yang kau mau. Ini sisa makanan tadi malam. Kau ambillah karena aku juga mau membuangnya." kata pria bertato itu. Lalu pergi setelah bungkusan makanan berpindah tangan.


"Hentikan sekarang juga," kata wanita itu pada pria bertato.


"Apa saja yang hendak kau lakukan hari ini hentikanlah. Lebih baik menghindar dan diam di rumah. Tiga butir berpindah sarang. Seonggok daging tenggelam di laut." kata wanita itu lagi.


"Apa yang kau bicarakan?" tanya pria itu tanpa menoleh.


"Badai hari ini akan membawa sial." kata wanita itu.


Pria bertato diam saja, lalu berpikir kenapa wanita itu berbicara yang sangat tidak masuk akal. Lalu ia menaiki kendaraannya dan menghidupkan mesin.


"Kalau ada badai, segeralah pulang sebelum terlambat!" teriak wanita itu saat pria bertato itu melajukan kendaraan yang ia tumpangi.


"Aku tau takdir tidak bisa diubah tapi nasip bisa, jangan salahkan aku karena aku sudah memperingatkanmu." gumam wanita itu pada angin.


Ramalannya dari mimpinya terjadi. Pria bertato itu terkena tiga butir peluru dan tubuhnya dibuang ke laut. Lina dan pria bertato itu pun berada di dalam mimpi wanita paruh baya tersebut seperti sebuah film yang di putar di layar kaca.

__ADS_1


Wanita itu tersadar dari lamunannya. Lalu memperhatikan Lina yang tertidur dengan lelap. "Aku tidak bisa tidur, dan kau malah enak-enakan tidur." katanya.


Ia melihat beberapa roh halus mencari kesempatan untuk memakan janin yang ada di dalam kandungan Lina. Tapi dengan kemampuannya wanita itu menghalau mereka semua. Wanita itu membaca sebuah mantra yang diwariskan oleh kakek buyutnya turun-temurun.


Dan dengan mantra itu ia mampu melenyapkan roh halus yang berkekuatan lemah yang hendak memakan janin Lina. Sama seperti saat Lina berada di ruang isolasi saat melakukan terapi. Mereka ingin memakan janin Lina dan dihalangi oleh Lina dan akibatnya ia terluka.


"Ada sesuatu yang spesial yang dimiliki anak ini. Jika tidak ia tidak akan sanggup mengandung dan mempertahankan janinnya sekian lama ini. Dan kenapa aku bisa melihat masa lalu dan masa depannya." pikir wanita itu.


Ia mengingat-ingat masa kecilnya dulu, kalau ia hanyalah anak perempuan biasa. Dan semua berubah setelah kakeknya meninggal dunia. Dulu kakeknya sering menyuruhnya menghapal kalimat-kalimat yang sulit untuk ia lafalkan.


Berulang kali ia mengeluh, tapi kakeknya mengajarnya dengan sabar. Setelah kakeknya tiada ia sering bermimpi dan melihat hal-hal yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.


Rasa takut membuatnya berpikir untuk mengalihkan perhatiannya. Dan untuk mengalihkan perhatiannya ia pun mencoba-coba menghapal kalimat-kalimat yang sering kakeknya ajarkan. Sebagian kata-katanya ia lupa.


Namun karena berulang-ulang kali mengulangnya ia berhasil menghafal secara utuh. Dan saat itu pula roh-roh halus di dekatnya sirna. Dari situ ia menyadari fungsi dari kalimat yang selama ini dia hafalkan.


Tapi tidak berlangsung lama, kemampuannya menghilang dan penyakit aneh menerpanya. Hingga seluruh uang yang ia dapat dengan memanfaatkan ilmunya habis terkuras dan bahkan membuat keuangannya menjadi minus.


Beruntung ia bertemu dengan suaminya. Mereka berkenalan saat berada di sebuah balai pengobatan. Sikapnya yang hangat membuat wamita itu jatuh cinta pada saat itu. Dan cinta mereka saling bersambut.


Tapi sebulan sebelum pernikahannya wanita itu bermimpi kalau calon suaminya muntah darah. Ia sudah merasa kalau itu pirasat buruk. Dan saat menceritakan pada calon suaminya, ia malah dikira sengaja memutuskan hubungan.


Namun wanita itu menjelaskan tentang kemampuannya. Tapi di luar dugaan pria itu tidak mundur satu langkah pun. "Jika takdirku harus mati, setidaknya aku ingin mati sebagai suamimu." katanya.

__ADS_1


Tidak ada pilihan mundur, pernikahan pun dilangsungkan. Tapi tepat seperti ramalan mimpinya, kalau suaminya muntah darah di malam pengantin mereka. Seorang mantan suaminya menaruh guna-guna pada kado pernikahan mereka.


Sejak saat itu wanita tersebut dituduh sebagai pembawa sial. Ia diusir oleh anggota keluarga suaminya. Tanpa bekal apa pun ia pergi dari rumah mertuanya.


Wanita itu mengela napasnya dengan panjang dan berhenti melamun. Tidak ada gunanya juga diingat terus. Ia pernah berpikir untuk membalas perbuatan wanita yang sudah menghabisi suaminya. Tapi ia tidak tega saat melihat kondisi mantan suaminya yang sekarat.


Sepertinya ia menjadikan dirinya sendiri sebagai tumbal agar keinginannya tercapai. Berpikir betapa bodohnya mantan dari suaminya membuat wanita itu berpikir kalau membalas dendam pun percuma.


Karena ingatan tentang masa lalunya datang dan pergi, wanita itu mencoba memejamkan matanya. Semakin ia mengingat masa lalu semakin menyakitkan rasanya. Lama kelamaan ia pun terlelap. Di dalam mimpinya ia seperti melihat sebuah bayangan masa lalu.


"Terima kasih telah menolongku, kelak keturunanku akan membalas kebaikanmu pada keturunanmu." ujar pria tua yang mirip dengan kakeknya.


Saat ayam jantan berkokok terbangunlah dia. Melihat Lina yang masih terlelap. "Apakah kau orang yang dimaksud itu? Mungkinkah kakek telah melihat takdirku, sehingga menyuruhku untuk melakukan hal-hal yang tidak kuinginkan."


"Jika benar demikian aku akan melakukannya. Leluhurku tidak akan mendapat malu. Janji yang ia ucapkan akan aku genapi." batin wanita itu dengan lirih.


Ia menyadari bahwa ia tidak pernah menjadi cucu yang baik untuk kakeknya. Mungkin nasip sial yang ia alami selama ini adalah karma dari perlakuannya dulu. Dan mungkin ini adalah saatnya dia membalas budi.


Lina pun akhirnya bangun, dan ini hari kedua ia tinggal bersama wanita itu. Tidak sedikit pun terbersit di benaknya untuk menghubungi suaminya. Entah kenapa ia justru merasa lebih nyaman tinggal dengan wanita paruh baya tersebut.


Lama ia menatap wanita itu. Ingatan saat pertama kali bertemu muncul di ingatannya. Kata-kata wanita itu dulu sangat mengguncangnya hingga ia berusaha keras untuk melupakannya. Namun kini ia seolah bersyukur bisa bertemu dengan wanita ini lagi.


Ia tidak seburuk yang Lina bayangkan dulu, terkadang ia terlihat seperti anak kecil yang bertindak tanpa berpikir. Dan lagi ia bisa melihat apa yang Lina lihat. Ditambah lagi ia juga berhasil memusnahkan roh jahat tersebut.

__ADS_1


"Bibi...maukah bibi mengajarkanku ilmu untuk mengusir mereka dariku?" tanya Lina dengan penuh harap.


Bersambung...


__ADS_2