
Shasa menghubungi paranormalnya dan menceritakan apa yang terjadi.
"Sepertinya ada yang menjaga tubuh orang yang ingin kau jampi-jampi. Aku butuh fotonya. Datang dan berikan padaku." kata paranormal itu.
"Ok baiklah," jawab Shasa singkat.
Lalu Shasa pergi ke toilet dan hendak mengisi ulang 'air' tersebut dan tanpa sengaja dia bertubrukan dengan seorang wanita. Wanita itu cuek saja setelah melihat papan nama Shasa. Shasa menjadi jengkel dibuatnya.
Setelah kembali dari toilet dan mengisi ulang 'air' tersebut Shasa berpapasan kembali dengan wanita yang bertabrakan dengannya tadi tadi. Seperti tadi wanita itu tetap cuek dan tampaknya ia sedang kesal.
Shasa tidak perduli dan memilih pergi ke ruangannya. Sampai di ruangan ia melihat seikat mawar merah di atas mejanya.
"Menyebal...kan!" gumam Shasa geram.
Ia sudah menduga kalau itu adalah perbuatan OB. Ingin rasanya ia membuang bunga itu ke wajah si OB. Tapi ia pikir lebih baik membiarkan saja bunga itu.
Kebetulan saat itu Dion datang ke ruangannya. Adahal yang ingin ia sampaikan masalah rapat. Kalau hari ini rapat diundur. Dan saat itu ia sempat melihat bunga di atas meja Shasa.
"Ah aku membelinya, dan baru saja sampai. Sebenarnya aku ingin menjenguk seorang teman yang sedang sakit." kata Shasa menjelaskan sesuatu tanpa ditanya oleh Dion.
"Tidak usah gugup. Tidak ada larangan berpacaran di kantor ini selama bisa membagi waktu." ucap Dion.
"Tapi pak ini bukan dari pacar saya." kata Shasa.
"Oh," jawab Dion datar.
"Sebenarnya aku memesan bunga lain, tapi toko bunganya bilang tinggal bunga ini yang tersisa. Kalau bapak mau, bapak ambillah untuk istri bapak." kata Shasa.
Dion menatap Shasa, dan ketika Shasa sadar dengan ucapannya ia pun menutup mulut dengan kedua tangannya. "Oh maaf," katanya singkat.
__ADS_1
"Tidak apa," jawab Dion singkat. Lalu mengambil bunga itu. "Mungkin hari ini dia akan pulang." kata Dion seolah berbicara pada dirinya sendiri.
"Aku akan membayar bunga ini dan akan aku kirim uangnya ke rekeningmu." jawab Dion.
"Ah tidak usah pak. Buat bapak saja, semoga istri bapak baik-baik saja dan segera pulang." kata Shasa berpura-pura tulus.
Tanpa Shasa sadari si OB memperhatikan dan cemburu. Dia memukul dinding karena kesal bunga pemberiannya diambil oleh orang lain. Sementara Shasa merasa kalau dia berhasil membuat Dion mempercayainya.
Saat sedang senang terdengar bunyi panggilan di ponselnya. Dan itu berasal dari panggilan tante Dion. Dia menyuruh Shasa segera berhenti dari pekerjaannya. Karena Dion diam-diam masih menyelidiki orang-orang yang ia curigai. Dan orang yang paling ia curigai adalah tantenya. Namun karena tidak ada bukti ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Shasa merasa kesal dengan panggilan tersebut. Setelah berada di posisi yang bagus, tentu sayang sekali jika harus berhenti. Apalagi kini Shasa punya rencana sendiri.
Setelah pulang kerja Shasa memilih segera pulang. Ia tidak mau melakukan lembur. Lebih baik rasanya pekerjaannya dia bawa pulang. Dan saat pulang lagi-lagi ia melihat si OB memperhatikannya dari jauh.
Shasa tidak ambil pusing, segera ia berangkat menuju rumah paranormal kenalannya. Lalu menunjukkan foto Dion yang dia ambil secara diam-diam.
"Air apa?"
"Air yang selalu datang tiap bulannya," kata paranormal itu.
Shasa melototkan matanya, ia merasa cukup jijik membayangkan 'air' yang datang tiap bulan itu akan diberikan pada Dion. Saat ini saja, jika bukan karena untuk mendapatkan hati Dion, dia tidak akan pernah memberikan 'air' yang selalu ia isi ulang di toilet.
"Aku rasa yang menjaga raga orang ini cukup kuat. Sehingga ia segaja memecahkan tiap gelas yang berisi 'air' khusus itu. Tapi aku akan memberi mantra yang lebih kuat. Agar yang menjaga raga orang ini tidak bisa berbuat apa-apa.
Shasa tersenyum puas mendengar tiap kalimat yang dilontarkan paranormal tersebut. Setelah mendapatkan mantra baru ia pulang ke rumahnya. Dan lagi-lagi seikat bunga mawar diletakkan di depan pintunya.
Shasa menelepon seseorang untuk memperbaiki pintu belakang yang rusak. Dan ia menyusun pakaiannya. Ia ingin menginap di tempat kenalannya. Pergi dengan cara mengendap-endap agar tidak ada yang melihat. Khususnya agar tidak terlihat oleh si OB.
Shasha akhirnya menginap di rumah kenalannya. Di sana ia menghitung tanggal datangnya 'tamu' bulanannya. Dan ternyata malam itu 'tamu' tersebut datang. Shasa merasa sangat senang. Diambilnya botol baru untuk menggantikan botol lama yang berisi 'air' yang selama ini ia gunakan.
__ADS_1
Ia melakukan seperti yang diajarkan oleh paranormal tersebut lalu menyimpan 'air' itu dengan sangat hati-hati.
Keesokan harinya ia gunakan 'air' baru untuk campuran kopi yang akan ia berikan pada Dion. Setelah meletakkannya secara diam-diam ia sangat terkejut melihat wanita yang pernah bertubrukan dengannya tiba-tiba ada di belakangnya.
Dengan cepat ia pergi dari ruangan Dion. Dan saat dia keluar OB yang dibakar rasa cemburu masuk ke ruangan Dion dan menggantikan kopi yang dibuatkan oleh Shasa dengan kopi buatannya. Tanpa memperdulikan wanita yang ada di dalam ruangan Dion.
Melihat gelagat Shasa dan OB yang terkesan aneh wanita itu tersenyum simpul. Seolah mengerti apa yang sedang terjadi. Tidak lama Dion datang.
"Ada apa kau datang lagi?" tanya Dion tanpa basa-basi.
"Aku sudah bilang, jadi aku rasa tidak perlu lagi aku menjelaskannya padamu." ujar wanita itu.
"Aku sudah bilang kalau aku tidak bisa menerimamu. Pergilah." kata Dion.
"Baiklah aku akan pergi," kata wanita itu. Tapi sebelum ia melewati ambang pintu ia berpesan, "Sebaiknya kau tidak meminum kopi itu." Lalu ia pergi dari ruangan Dion.
Dion menatap gelas kopi yang diam di mejanya. Tampaknya dia memikirkan ucapan wanita itu. Seketika ia ingat peristiwa kopi yang dibuat oleh Vivina, jadi ia pun membuang isi kopi tersebut.
Sementara kopi yang dibuat Shasa di minum oleh si OB. Dan si OB makin tergila-gila pada Shasa.
Saat makan siang, tidak seperti biasanya. Dion memilih memesan makanan dari kantin dan makan di kantin bersama karyawan yang lain. Tentunya semua yang ada di situ terkejut. Tapi mereka juga merasa senang.
Tapi tidak kalah terkejutnya Dion ketika melihat bayangan hitam mengikuti Shasa. Mengingat kalau setiap orang yang diikuti oleh bayangan hitam tersebut akan meninggal, Dion menjadi cemas.
Dia tidak tau apa yang harus ia lakukan untuk menolong Shasa dari kematian. Saat Dion menatap Shasa dalam-dalam tanpa sengaja pandangannya dan Shasa bertemu. Shasa tersenyum manis sekali, karena ia pikir Dion sudah meminum kopi 'baru' buatannya.
Sementara OB...
Bersambung...
__ADS_1