
"Kalau sudah waktunya, nanti Papa beritahu. Yang jelas dia bukan orang yang akan mengambil posisimu di hatiku," kata Te Apoyo.
Ia mencium pipi istrinya dengan lembut dan memeluknya. Primavera menikmatinya dan mencium aroma sabun serta shampo dari rambut suaminya. Seketika ia bergerak, dan Te Apoyo melonggarkan pelukannya.
"Aku belum mandi!" ujar Primavera mendorong Te Apoyo.
Dengan cepat ia pergi untuk membersihkan diri. Te Apoyo meniup napasnya perlahan. Sambil memikirkan bagaimana cara mengatakan pada istrinya tentang Esperanza. Yang selalu datang dalam mimpinya.
Mimpi saat Te Espere dihunus dengan pedang, tepat pada bagian jantung. Lalu berubah menjadi bola jiwa. Yang kemudian bola jiwa itu memunculkan sosok Esperanza. Mimpi itu membuat Te Apoyo sangat yakin kalau Esperanza adalah reinkarnasi saudarinya.
"Aku akan membawamu secepatnya ke dalam keluarga ini!" batin Te Apoyo.
Istrinya keluar dari kamar mandi saat Te Apoyo memeriksa catatan pasiennya. Mendengar istrinya baru keluar. Ia pun segera berpaling. Dan mencium aroma tubuh istrinya. Saat istrinya hendak berpakaian ia menahannya.
Saat ini ia ingin berbicara melalui bahasa tubuh pada istrinya. Agar Primavera menyadari kalau hanya ia satu-satunya ratu di hatinya. Dengan memberi kecupan lembut sebagai aba-aba. Membuat istrinya secara perlahan membalas bahasa tubuhnya.
Selesai berbicara dengan bahasa tubuh, keduanya basah karena berkeringat. Meski keduanya baru saja mandi. Keduanya merasa lelah namun mereka merasakan sebuah kepuasan batin yang tidak bisa diutarakan.
Primavera akhirnya tersenyum.
Mereka menetralkan pernapasan terlebih dahulu, sebelum akhirnya membersihkan hasil olah raga di ranjang. Kemudian saling membantu berpakain. Lalu berkumpul dengan yang lain di meja makan.
"Primavera, matamu kenapa?" tanya Lina.
"Ah, tidak apa-apa ma. Hanya kemasukan debu dan aku menguceknya terlalu kuat," jawab Primavera malu.
Dion menatap Te Apoyo. Te Apoyo menyadarinya, tapi ia berusaha bersikap tidak tahu. Mereka pun makan malam bersama.
Di negaranya Esperanza sedang begong ketika sahabat kecilnya mengajaknya berbicara. Mimpi yang terus berulang-ulang membuatnya susah tidur. Ia memimpikan pria yang bernama Nicholas yang tertikam pada bagian dada, tepat pada tanda lahirnya. Dan ia tidak mengenal orang itu sama sekali.
"Esperanza?"
"Hah? Iya?"
__ADS_1
"Kamu memikirkan siapa?"
Esperanza menggelengkan kepala. Ia tidak mendengar apa-apa. Jadi dia hanya tersenyum dan menampilkan deretan giginya. Merasa bersalah telah mengabaikan teman sekelas serta sahabat kecilnya itu.
"Ah, aku harus bekerja! Maaf ya. Lain kali kita sambung!" ujar Esperanza bergegas pergi ke toko.
"Apanya yang disambung? Kamu bahkan tidak mendengar apa-apa."
Sahabat Esperanza kembali ke rumah. Turun ke gudang bawah tanah di rumahnya dan mencoba mencari kekuatan baru yang ada dalam dirinya. Ratusan jiwa yang menempel di dinding gudang itu hanya menutup mata dan terlihat seperti tidur.
"Aku rasa, aku akan mencobanya."
Anak itu menyentuh sebuah kursi lalu membayangkan sebuah tempat. Ia berpindah tempat namun kursi yang disentuh tidak. Dia mendengus kesal.
"Aku bisa berpindah, tapi tidak bisa memindahkan?"
Iya kembali lagi kegudang. Kali ini ia membungkus barang-barang hasil curian, yang dia ambil dari persembunyian pencuri. Lalu meletakkannya di suatu tempat. Memilih seseorang untuk di rasuki.
Tidak lama kemudian polisi mendatangi kediaman orang yang ia rasuki. Atas tuduhan sebagai pencuri. Ia menjual barang antik yang diketahui sedang dicari pemiliknya. Pemilik toko melaporkannya ke polisi.
Ia dimintai keterangan tentang barang antik yang lainnya. Tentu saja ia bingung karena tidak tahu apa-apa. Dan akhirnya masuk penjara.
"Aku tidak bersalah!" teriaknya.
Ia kebingungan. Saat ini istrinya sedang berada di rumah sakit hendak melahirkan. Ia yang baru meminta ijin pulang pada mandornya tanpa sadar diperalat oleh sahabat Esperanza. Sehingga ia tetap tidak bisa mendampingi istrinya yang sedang berjuang melahirkan putra mereka.
Ia menangis di saat putranya juga menangis untuk pertama kalinya.
"Selamat bayi nyonya laki-laki," ujar seorang dokter pada istrinya.
Istrinya melihat putranya dan melihat ke arah pintu. Suaminya belum juga tiba. Padahal sudah satu jam lalu berkata kalau ia sudah dekat. Istrinya merasa sedih tapi juga kuatir. Dan ketika mendapat laporan kalau suaminya terlibat pencurian, ia menangis. Mengira kalau suaminya mencuri untuk biaya persalinannya.
Esperanza yang tidak mengetahui tentang perbuatan sahabatnya sedang melayani pelanggan di toko. Mendapat pesan kalau sahabatnya itu membelikannya gaun. Ia tersenyum dan geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Dari pacarmu ya?"
"Paman, dia bukan pacarku," ujar Esperanza malu.
Pemilik toko cuma tersenyum lalu kembali ke kursinya setelah mengecek barang yang sudah habis atau tinggal sedikit. Sementara Esperanza membalas pesan sahabatnya. Dan mengucapkan terima kasih.
Malam tiba.
Esperanza sudah mengenakan gaun pemberian sahabatnya. Rencananya malam ini mereka akan menonton pertunjukan. Dan sesuai rencana, tibalah mereka tepat sebelum acara dimulai.
Esperanza melihat seorang wanita menatap sedih ke arah pintu gedung teater. Untuk kesekian kalinya ia kembali ke teater itu. Meski telah melaporkan ke polisi sebagai orang hilang. Putranya belum juga ditemukan.
Esperanza sedikit teralihkan melihat raut wajah wanita itu. Ia merasa ikut sedih meski ia tidak tahu kenapa wanita itu muram. Sementara sahabatnya menarik tangannya untuk masuk ke gedung teater.
Menikmati pertunjukan yang akhirnya tampil di atas panggung membuatnya lupa tentang wanita yang bermuka muram saat di luar tadi. Berkali-kali ia tertawa dan bertepuk tangan. Saat pertunjukan sulap yang ditampilkan bersamaan dengan sebuah aktraksi komedi. Sampai pada akhirnya tibalah pada bagian puncak.
Seorang penonton dipilih menjadi kurban untuk masuk kesebuah kotak. Yang akan di jatuhkan tepat di atas papan yang di beri besi runcing. Banyak orang bersedia sebagai suka relawan kali ini.
Sebab melihat semua yang menjadi sukarelawan selalu keluar dalam keadaan baik. Jadi mereka juga ingin tahu rasanya. Dan ingin membuktikan sendiri keajaiban sulap tersebut.
Putri penunggu danau melihat Esperanza. Lalu menunjuknya sebagai kurban. Pesulap itu dengan berat hati meminta Esperanza ikut berpartisipasi. Tapi Esperanza menggeleng dan memegangi tangan sahabatnya dengan erat.
Orang-orang tertawa melihat tingkahnya. Sahabatnya menatap tajam ke satu arah. Menampilkan tatapan menantang pada roh yang berusaha menyentuh Esperanza. Roh itu mundur saat merasakan aura yang kuat.
"Jangan main-main denganku, atau kalian semua akan menghilang dari muka bumi ini untuk selamanya!" ancam sahabat Esperanza.
Membuat putri penunggu danau pergi dari tempat itu. Dan akhirnya korban pun dijatuhkan pada yang lain. Seperti biasa. Pertunjukan berhasil dan satu orang penonton yang datang berdua dari kota yang jauh kembali menjadi korban.
Mereka pasangan suami istri yang sedang berbulan madu. Suaminya kini telah menjadi korban. Dan istrinya tidak menyadari kalau ia pulang sendiri. Sampai ia tiba di penginapan dan melihat wajah suaminya di galeri ponselnya.
"Suamiku!" ujarnya kaget.
Bersambung...
__ADS_1