
Roh wanita itu berteriak dan meronta, tapi tidak ada yang mengerti ucapannya. Seseorang menyiramnya dengan bensin. Dan saat hendak di lempar ke api, seseorang menghalanginya.
"Hei hentikan," ucap orang tersebut. Ia dan beberapa temannya terpaksa turun dari mobil karena ada kemacetan. Dan mencoba mencari tau api apa yang ada di situ. Dan ternyata seorang anak ingin dibakar hidup-hidup.
Banyak yang melihat aksi tersebut namun tidak ada yang menolong. Semuanya sibuk dengan kamera yang menyala di tangan mereka masing-masing.
Orang sekitar menjadi berang karena aksinya dihalangi oleh pemuda itu. Hampir saja ia jadi bulan-bulanan juga, jika teman-temannya tidak membantunya. Dan untungnya salah satu dari temannya adalah anak dari aparat penegak hukum setempat. Dan sebagian mereka mengenalinya.
Untungnya mereka menghormati anak tersebut karena orang tuanya bertanggung jawab dalam menjalankan tugas. Dan juga dikenal masyarakat sebagai aparat yang baik dan ramah. "Lepaskan dia, biar kami yang mengurusnya." ujar teman pemuda tersebut.
"Hei nak, dia sangat kuat. Jika dilepaskan dia akan terus berbuat onar. Dia sudah mencuri." ujar warga.
"Memangnya apa yang ia curi sampai kalian hendak membakarnya?" tanya pemuda itu.
"Dia tadinya hanya mencuri makanan. Tapi saat ditegur dia menjadi bringas dan merusak barang-barang. Lihat, untuk menangkapnya saja kami sampai terluka seperti ini." adu salah satu warga yang lainnya.
"Omong kosong apa yang kalian bicarakan? Tidak mungkin ia melakukan hal itu pada kalian." bantah pemuda itu.
"Heh, kau pikir kami berbohong! Atau jangan-jangan kalian komplotannya!" tukas warga geram pada pemuda tersebut.
"Tenang, tenang, tenang, kami mohon maaf bapak-bapak sekalian. Kami akan mengusahakan mengganti kerugian kalian. Sebaiknya kita bawa dia ke kantor polisi dan jangan main hakim sendiri." ujar anak aparat keamanan tersebut dengan sabar.
Mendengar hal tersebut para warga pun menjadi tenang, dan perlahan emosi mereka pun mereda. "Ayo padamkan apinya!" ujar anak aparat tersebut. Sementara Teresia yang sedang digerakkan oleh roh wanita yang ada di tubuhnya terlihat sangat ketakutan melihat kobaran api tersebut.
__ADS_1
Rasa takut yang mengingatkannya pada masa lalunya. Pandangannya menjadi kabur dan kehilangan kendali atas tubuh Teresia. Dan akibatnya pemilik tubuh yang asli terbangun, oleh suara bising di sekitarnya.
Melihat suasana yang ramai di tempat asing dan kondisi yang terikat, ia membelalakkan matanya. Tentu saja Teresia yang asli makin ketakutan. Dengan tubuh yang tergeletak di tanah dan dilingkari oleh beberapa ban ditubuhnya. Ditambah aroma bensin yang membasahinya. Membuatnya panik. Dan bahkan saat tubuhnya dilepaskan dari ban yang melingkari tubuhnya ia masih ketakutan.
Tubuhnya tidak berhenti gemetaran dan pandangannya tidak bisa diam melihat sekelilingnya banyak orang yang tidak dia kenal. "Mama.. mama..mama...!" teriaknya histeris.
"Tenanglah, kau aman sekarang," ujar pemuda tersebut. Teresia pun merasa pusing dan kesulitan bernapas, lalu pingsan. Kemudian pemuda tersebut membawa Teresia ke dalam mobilnya. Dan menyuruh seorang gadis, teman yang tadi juga ikut bersama mereka untuk menjaga Teresia.
Dan kembali ke kerumunan saat anak aparat tersebut tampak masih membahas tentang kerugian yang disebabkan oleh Teresia. Lalu ia mendatangi temannya. Memberikan sebuah kartu ATM untuk membayar kerugian warga. "Baiklah kalau begitu biar aku pergi duluan." ucap pemuda tersebut setelah mengirim pin kartu tersebut melalui sebuah pesan.
Ia lalu membawa Teresia ke rumah sakit terdekat, bersama seorang temannya yang tadi bersamanya juga. Sesampainya di rumah sakit Teresia diperiksa. Namun tidak ditemukan luka parah di tubuhnya.
Lalu seorang perawat menggantikan pakaian Teresia saat dokter yang memeriksa putri Lina keluar untuk menemui pemuda dan gadis yang mengantarnya.
Setelah dokter pergi, beberapa saat kemudian perawat yang menggantikan pakaian Teresia ikut keluar. Lalu pemuda dan gadis tersebut masuk ke ruangan Teresia. "Bagaimana sekarang, ini sudah malam." ujar gadis yang bersama mengantar Teresia ke rumah sakit. Pemuda itu lalu menghubungi seseorang. "Sebentar lagi akan ada yang menjemputmu." katanya kemudian.
"Lalu bagaimana denganmu?" tanya gadis itu.
"Aku akan menunggu di sini," jawab pemuda itu.
Temannya tiba lalu menyerahkan kartu ATMnya. "Bagaimana keadaannya?" tanya temannya tersebut. Ia sudah selesai membayarkan kerugian warga menggunakan isi dari kartu tersebut.
"Kita tunggu saja dia siuman, lalu antarkan pada keluarganya. Oh iya, kau bawa mobilku dan antarkan dia pulang. Aku akan menunggu di sini" ucap pemuda itu.
__ADS_1
"Kau bawa motorkan?" tanya pemuda itu. Temannya mengangguk. "Tinggalkan untukku, berikan kuncinya padaku!" ujarnya lagi. Temannya pun melempar kunci motor pada pemuda tersebut, lalu pergi dengan gadis itu.
Setelah temannya pergi, ponselnya berdering. Dengan malas ia menerima panggilan tersebut. "Nicholas kau di mana?" terdengan suara dari seberang panggilan. "Tumben mama meneleponku, apakah putra mama itu sudah tidur, sehingga mama punya waktu untuk menghawatirkanku?"
"Ini sudah malam, kenapa belum pulang?"
Pemuda tersebut mematikan panggilanya. Ia masih kesal dengan kejadian tadi siang. Melihat mamanya begitu perhatian pada anak lain, membuatnya terluka. Sebab dari dulu ia tidak pernah diperhatikan seperti itu.
Ia tau hubungan mama dan papanya tidak harmonis sejak papanya sering mencari wanita lain diluar. Dan akibatnya mamanya lebih sering keluar untuk bersenang-senang menghilangkan stresnya akibat ulah suaminya. Tapi ia lupa jika ketiga putranya butuh perhatian orang tuanya.
Saat sedang melamun tiba-tiba ia mendengar teriakan dari bibir Teresia. Teresia berteriak-teriak ketakutan. Lalu pemuda itu menggenggam tangannya dengan lembut. Teresia seolah terhipnotis oleh kehangatan tangan Nicholas. Lalu ia menjadi tenang kembali.
Nicholas heran melihat kondisi Teresia. Tubuhnya terlihat sangat menyeramkan dan tampak seperti gosong terbakar. "Apa tadi ia sempat terbakar? Ah tidak mungkin, kalau iya, dia pasti sudah tewas. Tapi?" Nicholas bertanya-tanya dan menebak-nebak sendiri.
"Sepertinya tadi dia memanggil mamanya sebelum pingsan. Itu artinya ia punya mama yang baik. Tapi kemana papanya? Apa jangan-jangan papanya yang membuatnya seperti ini?" Lagi-lagi pikiran pemuda itu dipenuhi oleh pertanyaan yang tidak dapat ia jawab sendiri.
Ia membuka sosial medianya lalu memfoto Teresia, lalu berniat mengirimkannya sebagai status baru. Dengan keterangan, BAGI YANG MENGENALNYA HARAP DATANG KE RUMAH SAKIT XXX. Tapi kemudian ia menghapusnya.
"Bagaimana kalau ternyata anak ini kabur dari rumah karena dianiaya?" batinnya. Jadi dia membatalkan postingannya.
Sementara itu Dion sudah sadar dan dilihatnya temannya tidur di kursi tunggu yang ada di ruangan tersebut. Dan Lina bersama Ros mencari putrinya. Mereka sempat melihat ada bekas api di jalan. Tapi mereka tidak berhenti dan mencari tau tentang hal itu.
"Ada-ada saja ya jaman sekarang, pasti tadi ada maling yang dibakar." ucap supir pribadi Ros. Mendengar hal tersebut Lina dan Ros saling pandang. Lalu mereka fokus memperhatikan jalan, melihat kalau-kalau Teresia ada di antara orang-orang tersebut.
__ADS_1
Bersambung...