
"Wow, ini luar biasa," batin Brillo.
Ia akhirnya menanyakan banyak hal pada Nicorazón. Tentang kehidupan yang ia ingat. Situasi dan lokasi. Kemudian mencari hal tersebut di internet.
"Kalau begitu, apa Tuan Pengawal tahu tentang keturunan ketujuh?"
"Keturunan ketujuh?" ulang Nicorazón.
Brillo mengangguk dan menatap dengan serius. Putra Te Apoyo tampak seperti sedang berpikir. Lalu ia pun buka suara.
"Tentu saja saya tahu, tapi untuk apa bertanya tentang hal yang diketahui oleh setiap orang?"
"Kalau kamu tahu, katakan padaku seberapa hebat kemampuan keturunan ketujuh itu?" tanya Brillo.
"Hal istimewa apa yang dimiliki keturunan ketujuh?" lanjutnya.
"Kehebatan mereka tergantung dari leluhur yang memberinya kekuatan. Bisa menjadi sangat-sangat hebat. Bahkan mampu menguasai dunia," jawab Nicorazón dengan percaya diri.
"Apakah setiap keturunan ketujuh memiliki keistimewaan?" tanya Brillo lagi.
"Seperti yang aku katakan barusan. Keistimewaan keturunan ketujuh tergantung tujuh genarasi sebelumnya."
"Apakah sumpah dari generasi terdahulu bisa dihapus?"
"Kenapa kamu bertanya seperti demikian?" Nicorazón bertanya tanpa menjawab.
"Aku pernah mendengar hal ini. Dan aku penasaran. Tuan Pengawal, jika kamu tahu sesuatu tolong beri tahu aku!"
"Bisa, tapi hanya orang yang memiliki kekuatan lebih kuat dari yang memberikan sumpah, baru bisa memutuskan sumpah itu," jawab Nicorazón.
Nicorazó merasa heran kenapa Brillo banyak bertanya tentang hal-hal yang menurutnya, bahkan anak kecil pun tahu.
"Sebenarnya berapa usiamu? Kamu tidak mendapat pendidikan dari orang tuamu?" tanya Nicorazón yang saat ini sedang dalam kepribadian orang hidup di masa lalu.
Brillo menghela napas. Nicorazón yang biasa memang sombong, tapi ternyata bisa lebih sombong setelah punya pribadi lain, menurut Brillo. Tapi ia kagum sebab pribadi putra Te Apoyo saat ini lebih tenang juga terlihat lebih pintar. Lebih berani.
"Brillo kita harus kembali!" ujar Te Apoyo tiba-tiba datang.
"Ada apa om?"
__ADS_1
"Dorado menghancurkan negaraku dan keberadaan orang tuamu tidak ditemukan. Om kehilangan seluruh kontak dengan orang-orang om juga!" ujar Te Apoyo.
"Papa ikut!" ujar Dion.
"Aku juga!" ujar papa Malika.
Nicorazón yang mendengar kata-kata tersebut terbengong. Sebab mereka berbicara dalam bahasa asing menurut anak itu. Ketika ia berada dalam pribadi lain, bahasa dari negaranya terdengar aneh.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanyanya curiga.
"Jangan coba-coba menyakiti tuan putri!" ancamnya.
"Tenanglah kami tidak berniat menyakiti tuan putrimu. Ini masalah orang tuaku. Mereka dalam bahaya," jawab Brillo dalam bahasa yang digunakan Nicorazón.
"Apa? Orang tuamu dalam bahaya? Apa keturunan ketujuh pelakunya?" tanya Nicorazón. Brillo mengangguk.
"Keturunan ketujuh! Mereka memakai kekuatan mereka untuk berbuat jahat? Tidak bisa diampuni! Saya akan membantu kalian! Izinkan saya ikut serta!" ujar Nicorazón layaknya seorang kesatria.
"Kamu masih terluka," ujar Te Apoyo.
Brillo mengernyitkan keningnya dan mengedarkan pandangan.
Ia tidak percaya kata-kata Nicorazón sebab meski saat ini ia dalam pribadi yang berani tapi ia tetaplah Nicorazón. Lemah, penakut juga cengeng.
"Kalian tidak percaya padaku? Aku sudah melewati banyak peperangan antar kerajaan, luka ini tidak masalah buatku. Aku pasti bisa membantu. Kalian sudah menyelamatkan kami. Sekarang biar kami membantu kalian!" tegas putra Te Apoyo.
"Baiklah kalau begitu," ujar Te Apoyo setelah melihat kesungguhan putranya. Meski saat ini ia sedang dalam pribadi yang lain.
"Papa dan Om sebaiknya tetap tinggal. Jika kita pergi ke sana semua, besar kemungkinan kita hanya menyerahkan nyawa. Selagi kami di sana. Cobalah mencari bantuan sebanyak mungkin!" ujar Te Apoyo. Kedua sahabat itu mengangguk.
"Semuanya! Ayo kita berangkat!" ujar Te Apoyo setelah berpamitan pada semua orang secara singkat.
Pesawat pun berangkat. Nicorazó mengagumi setiap hal dan memandangnya seperti pertama kali melihat.
"Saya tidak menyangka kalau sihir yang kalian punya luar biasa! Membuat sebuah gua bisa terbang! Gua ini juga sangat nyaman!" ujarnya.
Sementara di negara Te Apoyo, orang-orang merasakan seperti berada di neraka. Kehilangan harta benda, keluarga bahkan nyawa. Yang selamat juga tidak bisa bernapas lega. Mereka ditangkap dan dibawa.
Para petinggi negara menyelamatkan diri bersembunyi di ruang rahasia yang berada di bawah tanah. Hanya cukup menampung seribuan orang dengan persedian bahan makanan yang terbatas. Sisanya hanya bisa berlari ke hutan atau menyerah.
__ADS_1
Malika dan Tomi bersembunyi di antara orang-orang yang menyerah. Dari ribuan orang yang menyerahkan diri, keberadaan mereka yang sedang menyamar tidak di ketahui oleh para penjahat. Dan Dorado mengumumkan pada dunia tentang statusnya.
"Mulai hari ini! Akulah raja dunia! Setiap orang yang melawanku akan binasa. Satu-satunya cara agar bisa hidup adalah berlutut di hadapanku!" ujarnya dengan angkuh.
Setelah itu ia menyuruh orang-orang untuk membangun kota kembali. Para penjahat dijadikan sebagai tentara. Orang-orang yang dulunya memiliki peran penting di negara itu menjadi buronan.
"Hei kalian! Bekerjalah yang cepat!" ujar para penjahat.
Orang-orang yang terlalu takut melawan dan memilih menyerah kini harus membanting tulang hanya untuk segelas air dan sesuap makanan. Setiap waktu bekerja tanpa henti. Bagi yang beruntung akan menjadi bagian dari para penjahat. Mereka dikirim untuk menyerang negara yang lain. Sebab Dorado ingin memperluar wilayah kekuasaannya.
Saat ini pesawat yang di tumpangi oleh Te Apoyo mendapat serangan ketika melintasi perbatasan. Dan akhirnya mendarat secara darurat di lautan. Orang-orang yang menembaki pesawat tersebut mengikuti arah turunnya pesawat. Mereka menemukan bangkai pesawat tapi tidak dengan penumpangnya.
"Siapa mereka?" tanya Nicorazó pada Brillo di tempat persembunyian mereka.
"Stt mereka penjahat. Berhati-hatilah dengan__" ucap Brillo terputus saat Nicorazón telah berlari.
Ia kaget sekali dan akhirnya juga memilih keluar untuk menolong Nicorazón. Tapi diluar dugaannya dengan tangan kosong Nicorazón mampu melumpuhkan para penjahat itu. Salah satunya menodongkan senjata pada Nicorazón.
*Dor!
Sebelum penjahat menembak, Te Apoyo sudah lebih dulu menembak penjahat itu dari tempat persembunyian.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Te Apoyo.
Keduanya mengangguk. Lalu mereka memanfaatkan kendaraan para penjahat sebagai transportasi mereka mencari keberadaan Malika dan Tomi.
Hari sudah larut malam. Mereka pun memilih untuk beristirahat di hutan. Membuat tenda darurat. Satu tenda untuk wanita dan satu tenda untuk pria. Makan dengan persediaan yang telah mereka persiapkan dari rumah.
"Nona, maafkan hamba membuat nona berada dalam situasi ini," ujar Nicorazón pada Esperanza.
"Pengawal tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja. Kita harus menemukan raja dan ratu untuk menegakkan keadilan," ujar Esperanza.
Semua orang yang ada di sana hanya bisa memandang dalam diam. Te Apoyo sempat betpikir kalau membawa mereka adalah sebuah kesalahan. Tapi kemudian merasa kalau mereka pasti bisa memberikan banyak bantuan.
"Sudah malam sebaiknya Nona tidur, aku akan berjaga agar semuanya aman!" ujar Nicorazón.
Brillo dan lainnya tersentak seperti disengat listrik. Mereka seperti ingat sesuatu yang tidak boleh dilupakan.
"Gawat. Besok pagi mereka berdua akan menjadi siapa lagi?" batin mereka.
__ADS_1
Bersambung...