
"Anak ini mencuri uang kopi yang saya letakkan di sebelah gelas itu. Dan juga meminum kopi saya!" ujar kepala polisi berang.
"Hei apa kau tidak tahu siapa aku, hah!" bentaknya pada orang yang mengambil uangnya.
"Cepat kembalikan, ayo mengaku sekarang atau aku bawa kau ke kantor polisi!"
Yang diancam justru tersenyum lalu tertawa. Dan tawanya membuat yang lain di kedai itu ikut tertawa satu persatu. Polisi itu heran. Dan lebih heran lagi saat melihat pengunjung kedai mengerubunginya.
"Membawa kami ke penjara?"
"Apa kau yakin pak?"
"Coba saja bawa kami ke penjara juga,"
Satu persatu dari mereka mulai terlihat seperti orang sakit. Wajah mereka memucat dan lama-lama tampilan mereka menyerupai saat mereka menjempul ajal mereka masing-masing. Mereka sebenarnya arwah penasaran yang ditangkap atas tuduhan palsu oleh polisi tersebut.
Dan gadis pemilik kedai adalah korban kejahatan para preman yang tidak pernah mendapatkan keadilan. Preman yang menculik dan yang mempermaikannya bebas. Sementara saudara laki-laki dan papanya dituduh mempermainkan tubuh gadis itu. Karena tidak mendapat keadilan gadis itu bunuh diri di kedai kopi milik orang tuanya.
Para arwah penasaran itu memperkenalkan diri dan membuat polisi tersebut msngingat kesalahannya yang berakibat fatal. Polisi tersebut menerobos kerumunan dan berlari keluar kedai dalam keadaan ketakutan.
Secepatnya ia membuka pintu mobil, dan ia masuk ke dalam. Menyalakan mesin, tapi mobilnya tidak bisa berjalan. Para arwah penasaran berdiri di depan mobilnya. Lalu ia memundurkan mobilnya dan pergi dari situ.
Setelah pergi agak jauh dari kedai tersebut ia pun mengambil sapu tangannya untuk mengelap keringatnya. Tapi bukan sapu tangan yang keluar dari sakunya melaikan rambut yang panjang. Lalu seorang wanita muncul dari balik punggungnya.
Ia berteriak ketakutan. Lalu tanpa sadar ia menabrak sebuah tiang. Mobil yang ia kendarai rusak. Dan ia terpaksa turun dari mobil. Para roh tersebut mengejarnya. Roh wanita tersebut mengeluarkan kuku yang panjang. Lalu mencakar punggungnya hingga pakaiannya robek.
__ADS_1
Saat ia berlari sebuah tangan buntung memengang kakinya hingga ia terjerembab dan tangan yang menopang tubuhnya lecet terkena aspal. Ia semakin ketakutan. Apalagi saat para arwah itu memeganginya dan menyakitinya. Seperti yang mereka alami akibat perbuatan polisi tersebut.
"Aku mohon maafkan aku, ampuni aku, aku berjanji akan menjadi polisi yang baik," pintanya sambil menangis dan mengompol di celana.
Para arwah berhenti menyakitinya, dan ia berlari ke ke ramaian. Orang-orang melihatnya dengan tatapan heran. Penampilannya acak-acakan dan penuh luka. Polisi itu segera meminta pertolongan. Baik pak kami akan segera membawa bapak ujar orang tersebut.
Mereka membawanya ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit ia bernapas dengan lega. Tapi ia merasa heran saat melihat dirinya di dorong ke sebuah ruangan yang penuh dengan mayat. Dan saat ia tiba ia juga melihat seorang gadis dibawa ke ruangan tersebut.
"Kasihan sekali dia, dia dipermainkan dan dianiaya para pria dewasa yang menculiknya. Kalau dilihat dari identitasnya ia masih pelajar kelas sembilan."
"Siapa namanya?"
Kepala polisi terkejut saat mendengar nama yang disebutkan lalu ia turun dari tempat tidurnya dan melihat kalau yang berbaring adalah putrinya. Dengan luka memar dan berlumuran darah. Ia meratapi kepergian putrinya.
"Akan aku balas mereka!" ujarnya.
Ia tidak menyadari saat para arwah berhenti menganiayanya adalah setelah ia menghembuskan napas terakhirnya. Ia mengira kalau ia sedang berlari dan meminta pertolongan. Tapi sebenarnya orang-orang yang menemukannya jasadnya dan memanggil ambulan.
Akhirnya ia mulai menyadari kesalahan yang ia perbuat selama ini. Dengan melepaskan penjahat sama dengan membuat keluarganya berada dalam bahaya. Ia menyadari penderitaan keluarga korban yang putrinya mengalami tindak kekerasan oleh preman yang ia bebaskan. Dan ia sangat menyesali perbuatannya. Tapi kini ia sudah tidak dapat berbuat apa-apa.
Pagi bersinar berita kepergian polisi tersebut dan putrinya sampai kepada istrinya. Lalu kedua jasad tersebut disemayamkan bersebelahan. Setelah kedua jasad itu disemayamkan para pelayat pulang. Istrinya juga pulang bersama selingkuhannya. Yang tanpa ia sadari adalah salah satu pelaku yang mempermainkan tubuh putrinya.
Sementara Te Apoyo dan Te Espere pergi ke rumah kakek Dion ,setelah pulang dari sekolah. Sebab hari itu adalah hari sabtu. Pemuda yang menyukai Te Espere merasa kecewa karena ia tidak bisa bertemu Te Espere karena harus berada di acara pemakaman om dan sepupunya.
Te Apoyo dan Te Espere tiba di rumah kakek Dion saat hari sudah mulai gelap. Seperti biasa mereka akan berbelanja bahan makanan terlebih dulu untuk dua hari selama di rumah kakek.
__ADS_1
Saat tengah malam dan mereka tertidur dengan lelap, angin tiba-tiba bertiup dengan kencang. Kaca-kaca jendela bergetar akibat tiupan angin. Dahan-dahan pohon di halaman rumah kakek patah dan terdengar suara kilat bersahut-sahutan. Namun tidak ada turun hujan.
Te Espere terbangun dari tidurnya, begitu pula dengan Te Apoyo. Mereka terkejut mendengar suara ribut di luar. Dan tiba-tiba mereka juga mendengar suara ribut di ruang tamu. Lampu-lampu berkedip-kedip. Roh-roh yang ada di rumah itu ketakutan. Mereka bisa merasakan aura kemarahan dari sosok yang berdiri di tengah ruangan tersebut.
"Cresentia?!"
Ke duanya terkejut melihat sosok yang sudah lama tidak muncul. Cresentia menatap mereka satu per satu dengan tajam. Lalu melemparkan benda-benda ke arah si kembar. Secepatnya si kembar menghindar dan menyelamatkan diri. Mereka masuk kembali ke kamar masing-masing dan menguncinya.
"Apa maksudmu melakukan ini?" tanya Te Apoyo sambil berlindung di balik pintu.
"Kenapa kau melakukannya? Kau sudah membunuh dengan sengaja menggunakan kemampuan sukuku!" ucap Cresentia lalu mengangkat sebuah vas besar tanpa menyentuhnya lalu melemparkannya ke pintu kamar Te Apoyo.
"Siapa yang kamu maksud itu?!" teriak Te Apoyo dari dalam kamarnya sambil menahan pintu.
"Kau pikir aku tidak tahu apa yang kalian lakukan. Kau sengaja bersentuhan dan membuatnya tewas mengenaskan!"
"Apa kamu membicarakan tentang kepala polisi itu?!"
BBRRUUKKK
Bukan jawaban yang didapat Te Apoyo tapi sebuah benda keras menghantam pintunya hingga retak. Te Apoyo mundur lalu menjauh secepatnya dari pintu. Dan satu pukulan lagi dari benda keras menghantam pintunya lalu pintu itu rubuh.
"Hahahaha...! Kalian memang tidak bisa dikasihani. Keturunan pembunuh tetaplah akan jadi pembunuh! Kalian akan mendapat hukuman atas kejahatan yang kalian perbuat!"
Cresentia mengeluarkan tenaganya memecahkan setiap kaca jendela. Lalu dengan kekuatannya ia mengarahkan pecahan kaca ke arah Te Apoyo.
__ADS_1
Bersambung...