Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Aroma Mayat


__ADS_3

Mau tidak mau terpaksa pelayan tersebut pergi membeli daging untuk dimasak dengan uangnya sendiri. Sebab uang belanja untuk kebutuhan hari ini sudah habis dia belanjakan.


Malam pun tiba, saatnya para majikan makan bersama di meja makan namun putri tunggal di keluarga itu tidak beranjak sedikit pun dari tempat tidurnya.


"Lizie, ayo makan sayang," ujar sang mama menunda waktu makannya untuk memanggil putrinya.


"Aku tidak lapar, kalian makan duluan saja," jawab gadis itu dari balik selimutnya.


"Kamu sakitkah?" tanya wanita yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah tidak muda lagi.


Lalu ia mencoba meraba kening putrinya, tidak terasa hangat. Tapi justru terasa dingin. Ia sedikit heran.


"Kamu kedinginan? Apa perutmu sakit?" tanyanya kemudian.


"Aku cuma capek belajar, jadi sekarang mengantuk," jawab gadis itu berbohong.


Akhirnya wanita tersebut membiarkan putrinya tetap bersembunyi di balik selimut. Lalu ia dan suaminya makan malam bersama tanpa putri tunggal mereka.


Tepat pukul 12 malam Lizie membuka selimutnya. Keluar dari kamar dan menuju dapur. Lalu setibanya di dapur ia pun membuka kulkas dan mengambil daging mentah yang belum habis dimasak. Dan melahapnya dengan rakus. Membuang plastik pembungkus ke luar lewat jendela dapur.


Esok pagi pelayan yang hendak memasak terkejut karena daging yang tersisa sudah tidak ada lagi. Dia pun mendengus dengan kesal. Dan ia mencari plastik pembungkus daging tersebut. Tapi ia tidak menemukan plastik pembungkus daging tersebut. Akhirnya ia melaporkan kejadian hilangnya daging dari kulkas pada majikannya yang belum pergi untuk bekerja.


"Jangan-jangan kamu yang lupa mengembalikannya ke kulkas," jawab majikannya.


"Sudahlah, lain kali jangan lupa, ini uang belanja hari ini," ujarnya kemudian memberikan lembaran-lembaran persegi empat dari dalam dompetnya.


Setelah wanita itu pergi, putrinya Lizie keluar dari kamar. Wajahnya semakin pucat. Tampak ia bersiap hendak pergi ke suatu tempat.

__ADS_1


"Nona mau kemana?" tanya sang pelayan saat mereka berpapasan. Tapi pertanyaannya tidak digubris sama sekali oleh Lizie.


Lizie pergi ke toko daging dan membeli banyak daging. Dengan uang saku yang sengaja ditinggalkan oleh mamanya di atas meja. Setelah itu ia pergi ke toilet umum dan memakannya di sana. Ia tidak merasa mual akan bau amis dari daging mentah tersebut. Justru ia sangat menyukainya.


"Aku tidak menyangka kalau, aku jadi pemakan daging mentah. Tapi apa yang bisa aku lakukan saat hanya ini yang bisa membuatku ingin makan." gumam Klara yang ada di dalam tubuh Lizie, sambil membersihkan mulutnya dengan tisu basah.


Ia tidak merasa betah di rumah Lizie, dan ia tidak tahu harus kemana. Jadi ia hanya berjalan lurus mengikuti jalan umum. Untuk mengisi kebosanannya. Sekaligus untuk mengetahui situasi lokasi baru yang ia kunjungi.


Banyak roh halus menatapnya, tapi tidak ada yang mendekatinya. Klara tersenyum bangga. Kini ia punya tubuh dan kemampuan melihat roh halus. Setelah beberapa lama berjalan, ia melihat seseorang menjual aneka jajanan yang ia sukai semasa hidupnya. Lalu singgah dan membelinya.


Baru saja ia memakan sesuap, ia pun muntah. Ia memuntahkan daging mentah yang belum dicerna oleh lambungnya. Orang-orang yang ada di sekitarnya memandangnya dengan pandangan aneh.


Segera ia buang makanan tersebut lalu menjauh dari tempat itu. Dan mencari tempat yang jauh dari keramaian dan memuntahkan isi perutnya. Seekor anjing mencium aroma daging yang ia muntahkan. Saat anjing itu melihatnya, anjing itu pun melonglong dengan suara yang panjang.


Lalu menggonggongi Klara yang ada di tubuh Lizie, Klara pun berlari dari tempat itu. Setelah Klara membawa raga Lizie menjauh, anjing tersebut memakan muntahannya.


"Hay Lizie, kamu sedang apa?" tanya gadis itu.


Lizie menatapnya dengan tatapan kosong dengan kantung mata yang hitam seperti mata panda. Meski sudah di tutup dengan make up tetap saja terlihat. Gadis yang bertanya di sebelahnya sedikit bergidik menatapnya. Dan merasa merinding sesaat.


"Ayo kita ke rumahku. Rumahku sedang sepi," ujarnya.


Lalu mereka berdua pun menaiki sepeda motor gadis tersebut. Dan melaju dengan kecepatan sedang. Sepanjang jalan setiap kali ada anjing yang melihatnya, maka anjing akan melonglong tiga kali ke arah Lizie. Hal itu membuat sahabat Lizie merasa tidak nyaman.


"Kenapa ya dari tadi anjing-anjing terus melonglong ke arah kita. Seolah-olah aku membonceng mahluk halus," ujarnya dengan nada bercanda.


Tapi Lizie diam saja. Lalu sampailah mereka di rumah gadis tersebut. Segera saat ia membuka gerbang, seekor anjing menyambut mereka dengan longlongan sebanyak 3 kali. Teman Lizie heran dan menatap Lizie yang berjalan mundur saat anjing tersebut mendekat.

__ADS_1


"Black jangan begitu, itu Lizie," ujarnya pada anjingnya.


Tapi anjing tersebut terus menyalak membuat teman Lizie memilih memasukkan anjing tersebut ke dalam kandangnya.


"Maaf ya, padahal kamu sudah sering ke mari, dan biasanya ia akan datang menghampirimu sambil mengibas-ngibaskan ekornya. Tapi entah kenapa hari ini Black bersikap berbeda. Seolah ia tidak mengenalmu," ujar gadis itu sambil memegang tengkuknya yang terus merinding.


Mereka kemudian berjalan beriringan menuju ruang tamu.


"Aku mandi dulu ya, mungkin tadi secara tidak sengaja kita membawa hantu ikut bersama kita, jadi aku akan mandi dulu biar tidak ada hantu yang menempel tanpa sengaja," ujarnya lagi.


Lizie tidak menjawab. Dan gadis itu pun meninggalkannya di ruang tamu. Lizie memandang seluruh ruangan seolah ia baru pertama kalu melihatnya. Seorang pelayan datang dari arah dapur, menyambutnya dengan ramah.


"Nona Lizie ternyata yang datang, mau minum apa? Biar bibi buatkan?" tanyanya dengan sopan. Lalu ia bergidik ngeri saat melihat wajah Lizie yang pucat dan sekilas tampak menyeramkan dengan mata pandanya.


"Oh bibi buatkan yang biasa ya," ujarnya lalu dengan cepat berjalan menuju dapur sambil mengusap tengkuknya.


"Lizie, aku sudah selesai mandi. Sebaiknya kamu juga mandi. Kamu bisa pakai pakaianku nanti. Biar bersih dari aroma hantu yang mungkin menempel saat kita di luar tadi," gadis itu menyarankan pendapatnya.


Lizie berjalan ke suatu arah dan beberapa menit kemudian gadis itu memanggilnya.


"Lizie, mandi di kamarku saja, tidak usah pakai kamar mandi belakang. Aku akan mempersiapkan pakaian ganti untukmu," ujar gadis itu menarik tangan Lizie ke kamarnya.


Lizie mengikuti perkataan gadis itu lalu pergi mandi. Ia menguyur tubuhnya dengan air segar lalu mengunakan sabun cair yang wangi. Tapi anehnya, saat sabun itu menyentuh kulitnya, keluarlah aroma yang busuk dari tubuhnya.


Teman Lizie yang sedang mempersiapkan pakaian ganti untuk Lizie merasa heran. Aroma bangkai memenuhi ruangan tersebut perlahan-lahan.


"Aroma apa ini?" gumamnya sambil menutup hidung dengan sebelah tangan.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2