Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Malam Panjang


__ADS_3

Shasa memilih untuk menyibukkan diri agar tidak terus kepikiran tentang 'air' yang dia campurkan ke kopi yang diminum oleh si OB.


Tanpa ia sadari hari sudah larut malam. Ketika pekerjaannya selesai, ia pun menyusun barang-barangnya. Sempat ia berpikir kalau Dion masih di ruanganya. Terselip senyum di bibirnya dan ia pun mencari alasan agar bisa pulang bersama dengan Dion.


Tapi saat ia ke ruangan Dion, ternyata ruangan itu sudah dikunci dan Dion sudah pulang. Shasa mengutuk dirinya sendiri karena tidak memperhatikan Dion, sehingga ia tidak tau kapan Dion pulang.


Dengan langkah gontai ia pun berjalan melewati lorong yang sepi. Sambil menelpon aplikasi online untuk menjemputnya. Tanpa ia sadari seseorang mengikutinya dari belakang.


Lama kelamaan Shasa merasa kalau ada orang yang membuntutinya, saat berpaling kebelakang ia terkejut bukan main. Seorang pria berada di belakangnya tersenyum penuh arti. Dia adalah si OB.


Shasa mencoba tidak menghiraukannya. Dipercepatkannya langkah kakinya. Tapi ternyata si OB juga mempercepat langkah kakinya mengikuti langkah kaki Shasa. Tentu saja hal itu membuat Shasa mengernyitkan keningnya. Ia tidak bisa berpikir positif lagi.


Ia pun makin mempercepat langkahnya tanpa menoleh kebelakang dan tetap saja gerakannya di ikuti oleh si OB. Shasa mulai merasa takut, belum pernah ia merasakan hal ini. Meski dulu ada yang diam-diam menguntitnya. Tapi kali ini terasa berbeda. Seolah mereka sedang berada dalam satu adegan film horror.


Ia pun berlari, dan degup jantungnya ikut berpacu, serta keringat mengalir dari pori-porinya. Hampir saja ia tergelincir saat menuruni anak tangga. Tapi ia tidak perduli dan terus berlari.


Ketika merasa OB tersebut semakin dekat dengannya ia merogoh tasnya dan mengambil sebilah pisau. Dan berhenti berlari lalu berbalik.


"Berhenti! Jangan mendekat!" perintahnya.


Si OB berhenti mengejar dan hanya tersenyum. Shasa membenci pemandangan itu, ada rasa mual seolah melihat sesuatu yang mengaduk isi perutnya. Perlahan Shasa mundur sambil terus mengawasi OB tersebut. Setelah merasa jarahnya sudah cukup jauh, ia pun berbalik dan berlari.


Sambil berlari ia masih menyempatkan diri menoleh. Tampak olehnya OB tersebut melambaikan tangan padanya sambil tersenyum. "Gila," umpat Lina dalam hati.


Saat ia tiba di gerbang, angkutan yang ia pesan ternyata belum datang. Maka sambil terus memperhatikan ponselnya ia juga melihat ke arah gedung tempat dia bekerja. Takut kalau-kalau ia masih diikuti.

__ADS_1


Beberapa menit berlalu Shasa pun melihat si OB keluar dari gedung. Shasa kembali mengeluarkan pisaunya. Seolah memberi isyarat agar jangan mendekat Shasa mengacungkan pisau lipat tersebut dengan tangan yang gemetaran.


Si OB terus menghampirinya dengan perlahan dan tersenyum. Shasa mencoba memikirkan cara lain.


"Jangan mendekat, atau aku akan menelepon polisi?" ancam Shasa sambil mengangkat ponselnya sejajar pipi kirinya.


Bukan mundur OB malah makin mendekat. Dan ketika jarak mereka hampir beberapa langkah, ponsel Shasa berbunyi. Shasa melihat layar ponselnya lalu menerima panggilan. Dan sebuah mobil parkir di gerbang.


"Halo saya sudah sampai di alamat tujuan." kata seorang supir, yang baru saja memarkirkan mobilnya di gerbang perusaan Dion.


"Ini saya sudah di gerbang," kata Shasa mencoba berbicara setenang mungkin, lalu mematikan ponselnya.


Dengan cepat ia membuka pintu dan masuk ke dalam mobil lalu menutupnya. OB tersebut hanya tersenyum dan melambaikan tangan.


"Pacarnya ya bu?" tanyanya untuk sekedar bersikap ramah.


Shasa diam saja, dia memeluk dirinya sendiri dan mencoba menenangkan diri. Karena tidak mendapat jawaban si supir pun tidak melanjutkan perbincangannya. Sesampainya di lokasi tempat tinggal Shasa barulah mereka berbicara. Namun hanya sekedar untuk membayar ongkos.


Shasa tidak perduli apa yang dipikirkan si supir, ia langsung pergi ke tempat tinggalnya. Masuk ke dalam lalu mengunci pintu. Mandi dan berganti pakaian. Saat sedang menyisir rambut isi perutnya bernyanyi dengan riang.


Shasa menarik napas dalam-dalam, dan pergi ke dapur. Kulkasnya sudah kosong, karena beberapa hari tidak belanja. Akhirnya ia berpikir untuk beli makanan di luar. Segera ia mengenakan mantel hangat dan topi. Menyambar dompet dan kunci lalu keluar.


Sebelum pergi tidak lupa ia mengunci pintu. Setelah beberapa lama meninggalkan rumah seseorang datang ke rumahnya. Dia meninggalkan seikat bunga mawar di depan pintu. Dan meninggalkan kertas kecil berisikan sebuah pesan.


SAMPAI JUMPA LAGI DI KANTOR SAYANGKU

__ADS_1


Shasa yang kembali dari membeli makanan melihat seikat bunga yang diletakkan di depan pintunya. Ia melihat sekelilingnya. Dan sambil membawa bunga itu masuk, ia menyempatkan diri melihat isi catatanya.


DEG!


Jantungnya terasa berhenti berdetak, ia langsung menyadari pengirim bunga tersebut. Dengan cepat ia melemparkan bunga tersebut ke lantai dan memijaknya sampai bentuk bunga itu hancur. Lalu membuangnya ke tong sampah.


Deru napasnya berpacu, kesal, takut, dan marah menyatu dalam pikirannya. Gemetaran dan kehilangan napsu makan. Perlahan ia mencoba menenangkan diri dengan meminum segelas air putih.


Tidak lagi terpikir olehnya untuk makan, segera ia mengunci pintunya dengan engsel dan menggeser sebuah meja, untuk menahan pintu tersebut. Tidak lupa ia memeriksa seluruh kunci pintu dan jendela. Memastikan kalau semua telah terkunci rapat.


Lalu ia masuk ke kamarnya dan mengambil pisau dari tasnya dan menaruhnya di bawah bantal. Menutupi dirinya dengan selimut sambil menajamkan pendengarannya. Cukup lama ia berada di posisi yang sama.


Ketika merasa kalau tidak ada tanda-tanda seseorang menerobos masuk ia pun mencoba mengintip dari jendela. Ia mengeser tirai yang menutup kaca jendela. Bertapa terkejutnya dia.


Seseorang sedang mengintip dari kaca jendela, dia adalah si OB yang sedang mencoba melihat ke dalam. Dengan cepat Shasa mengambil ponselnya dan menghubungi polisi. Ia mengatakan kalau di rumahnya ada pencuri. Tidak lama polisi setempat datang.


Namun pencuri yang Shasa maksud tidak di temukan. Karena tidak ada barang yang dicuri dan jejak pengerusakan, kasusnya dihentikan. Pencarian tidak dilanjutkan. Polisi hanya berpesan agar Shasa mengunci pintu dan jendela. Dan mereka pun pergi.


Tinggallah Shasa seorang diri. Ia tidak bisa tidur, masih terbayang di benaknya wajah OB yang menyembul di balik jendela. Shasa pun memilih untuk terjaga sepanjang malam. Ia membuat secangkir kopi untuk menghilangkan rasa kantuknya.


Karena kelelahan berjaga, rasa kantuk pun mulai merayap di pelupuk matanya. Terasa berat dan sulit untuk tetap terbuka. Tanpa sadar Shasa pun tertidur di sofa.


Tanpa ia sadari OB masuk dari pintu belakang dengan merusak pintu. Dia mencari Shasa dan saat melihat Shasa tertidur di sofa dia menikmati sekilas pemandangan tersebut. Dengan tersenyum lebar ia lalu...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2