Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Tantangan


__ADS_3

Tomi yang sadar setelah mati suri akhirnya mengetahui apa yang terjadi. Setelah mendengar cerita dari beberapa orang. Dan karena Tomi bernapas lagi, maka ingatannya saat ia mati suri terasa seperti mimpi.


Mama kandung Tomi yang kehilangan roh Tomi kembali ke rumah anaknya. Setidaknya ia masih ingin memandang putranya sebelum disemayamkan. Tidak disangka putranya hidup kembali. Tapi ia bersyukur karena akhirnya keinginan terakhirnya terkabul. Yaitu putranya mendapatkan keluarga yang menyayanginya. Dengan tercapainya keinginan terakhirnya maka secara perlahan rohnya pun menghilang.


Tomi yang berada di pelukan mama angkatnya tanpa sadar mengeluarkan air mata. Terisak-isak seperti bayi yang baru lahir. Seolah ia merasakan kepergian roh mama kandungnya untuk selamanya.


"Hei, melamun ya?" tanya Malika.


"Tidak!" jawab Tomi


"Jelas-jelas tadi kamu melamun." ujar Malika kesal karena ocehannya tidak didengar oleh Tomi sedikit pun. Karena mengingat tentang orang tuanya.


Berbicara tentang orang tua kini Ray melamun di dalam kelas. Memikirkan nasib kedua orang tuanya. Tapi kemudian ia ingat kemampuan Teresia. Selama ada Teresia di dekat mamanya. Mungkin ia bisa jadi pelindung mamanya. Tapi bagaimana dengan papanya? Ray tidak fokus saat belajar dan saat pulang tidak mendapatkan ilmu apa pun. Gurunya juga tidak ambil pusing saat melihat Ray yang tidak fokus.


Sesampainya di rumah Ray masih melihat mamanya baik-baik saja. Teresia juga kembali normal. Ia bahkan sempat tersenyum melihat Ray. Dan Lina makin sering memeluk Ray. Sebab setelah bersentuhan sekali, sudah tidak ada artinya lagi menjauh bagi Ray.


Ray akhirnya mendapat kesempatan berbicara berdua dengan Teresia. Memberitahukan tentang kemampuannya. Teresia tercengang. Dan baru menyadari sikap Ray selama ini.


"Jadi itu artinya kamu sudah normal?" tanya Teresia.


"Tidak tahu, tapi ini bagus, bukankah begitu?"


Teresia berpikir sejenak. Mereka berdua ternyata kembar dan punya kemampuan masing-masing. Tapi kenapa berbeda. Dan mereka tidak mengerti arti dari mimpi yang pernah mereka lihat.


"Menurutmu apakah kemampuan kita ada hubungannya dengan mimpi itu?" tanya Teresia.


"Aku berharap kemampuanku juga bisa hilang sepertimu." ucap Teresia.


"Tapi aku belum tahu, apakah kemampuanku benar-benar hilang atau belum. Aku hanya menduga-duga kalau kemampuanku hilang. Saat kulihat mama dan papa tetap bersikap santai setelah bersentuhan denganku." tutur Ray.

__ADS_1


"Kalau begitu coba saja!" usul Teresia bersemangat.


"Aku tidak mau, bagaimana kalau nanti ada yang celaka?" ujar Ray menolak usulan Teresia.


Saat sedang asik berbincang Nicholas datang bertamu. Ia bilang tujuannya datang untuk melihat kondisi Teresia dan kebetulan Lina juga mengundangnya. Sebab ada hal penting yang ingin dibicarakan.


"Sebenarnya aku memang belum melepas cincinku," ujar Nicholas.


"Syukurlah kalau begitu. Tapi jika seandainya Nicholas sudah punya kekasih, bolehkan tante mohon jangan langsung melepas cincinnya tiba-tiba." pinta Lina.


Ia kuatir jika salah satu dari mereka melepas cincin efeknya akan berimbas pada Teresia. Tapi kemudian mereka pun mencoba membuktikannya. Jika Nicholas melepas cincinnya apa yang akan terjadi.


Semua memandang dengan deg-degan. Sekaligus berharap kegunaan cincin itu tidak hilang jika setelah dilepas dan dipakai kembali. Tapi ternyata saat cincin itu lepas seluruhnya, tidak ada kejadian yang berarti.


"Jadi hanya Teresia yang tidak boleh melepas cincinnya?" mereka pun saling bertanya setelah melihat hal tersebut.


"Syukurlah kalau begitu. Itu artinya Teresia tidak akan jadi halangan untuk Nicholas jika suatu hari menyukai gadis lain. Ya kan pa?"


Setelah pembuktian selesai. Mereka akhirnya makan malam bersama. Mereka meminta Nicholas menginap di kamar Ray. Tapi Ray menolak. Jadi Nicholas tidur di kamar tamu.


"Ini piyama papa Ray. Ukuran kalian sepertinya tidak jauh berbeda." ucap Lina pada Nicholas sebelum tidur.


Dan malam itu Nicholas bermimpi, seorang gadis mirip Teresia berdiri di tengah kobaran api. Nicholas terbangun dengan keringat yang membasahi tubuhnya. Nicholas tiba-tiba ingat akan cincin yang ia lepaskan dan akhirnya ia memakainya kembali.


Ia tidak tega jika terjadi sesuatu pada Teresia. Jadi ia memutuskan akan menolong Teresia sampai benar-benar bisa lepas dari cincin tersebut. Lagi pula saat ini dia sedang tidak punya pasangan. Jadi tidak perlu ada yang curiga atau pun cemburu saat melihatnya memakai cincin pasangan dengan seorang gadis.


Tapi begitu ia tiba dirumahnya adik-adiknya menatapnya penuh selidik.


"Bukankah Teresia sudah sembuh, kenapa kakak masih memakai cincinnya?" ujar anak kedua.

__ADS_1


"Ya karena Teresia belum benar-benar sembuh." jawab Nicholas.


"Wah kasihan sekali ya kak, kakak jadi kesulitan jika ingin mencari pacar nanti. Karena semua gadis akan berpikir kakak sudah bertunangan." ujar si bungsu.


"Ya memang sudah bertunangan kan? Walau tidak secara sah. Tapi bertukar cincin itu adalah bagian dari pertunangan." balas Nicholas.


"Bisa-bisa nanti kakak malah dipaksa menikahi Teresia dong kalau begitu." ujar si bungsu cemas.


"Ugh kamu benar sekali adikku. Apalah dayaku jika pada akhirnya diriku terpaksa menikahi gadis cantik untuk menyelamatkan keluargaku." ujar Nicholas sambil menempelkan punggung tangannya di keningnya bak pemeran pangeran di atas panggung.


Melihat tinggah Nicholas si bungsu kesal. Dan Nicholas cuma bisa tertawa saat sebuah bantal melayang ke arahnya. Si bungsu dengan cepat masuk ke kamarnya dan memukuli bantalnya yang tidak bersalah.


"Kemarin kakak bahkan makan malam dan menginap di rumah Teresia. Dan setelah sore hari ini baru kembali. Ugh aku benar-benar tidak punya kesempatan." rutuknya mengaruk rambutnya.


Sementara Nicholas cuma senyum-senyum melihat tingkah adiknya. Tapi kemudian ia membayangkan ucapannya dan merasa geli sendiri. Entah kenapa ia senang sekali melihat wajah adik bungsunya merah padam karena kesal. Padahal untuk saat ini dia tidak pernah berpikir seperti yang diucapkannya tadi.


Tapi saat melihat cincinya ia mengingat kembali mimpinya yang terasa nyata. Bertanya-tanya dalam hati. Sebenarnya ada apa dengan Teresia. Penyakitnya sangat tidak masuk akal dan di luar logika manusia.


"Saat melepas cincinmu, malamnya Teresia kambuh. Tapi untungnya dia kembali normal seperti sekarang." tutur Lina.


Nicholas terkenang saat Lina membeberkan sebuah kenyataan. Dan ia bahkan melihat secara langsung saat Teresia melepaskan cincinnya. Tepat seperti yang Lina katakan.


"Apakah mungkin Teresia berjodoh denganku? Aku sih tidak keberatan. Tapi apa tidak terlalu cepat menyimpulkannya sekarang? Aku sih tidak keberatan. Tapi apa memang hanya padaku? Atau mungkin dia bisa juga berjodoh dengan salah satu dari adikku?" batin Nicholas bertanya-tanya.


Dipandanginya cincin itu cukup lama. Lalu geleng-geleng kepala. Sebab tidak ada jawaban yang muncul dibenaknya. Dan si bungsu seperti terus memintanya secara tidak langsung untuk melepaskan Teresia.


"Kakak usia kalian cukup jauh, mungkin saat kakak ingin berkeluarga nanti, Teresia justru belum siap untuk menikah. Jadi sebaiknya putuskan saja sekarang. Mumpung masih ada waktu. Jangan sampai nanti tiba-tiba kakak melepaskan cincin itu hanya karena kakak mau menikah. Tapi Teresia belum mau." ujar si bungsu saat mereka sedang bermain video game.


"Kalau kau bisa mengalahkanku dalam game ini, aku akan menyerahkannya padamu," tantang Nicholas.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2