Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
(Season 2) Museum


__ADS_3

Dengan ragu-ragu Nicorazón mengulukan tangan. Secepat kilat Estrella mengambil piring empedu tersebut.


"Ah, sudahlah. Permainan sampai di sini saja. Aku mau tidur." Secepat kilat Estrella pergi membawa empedu itu lalu membuangnya ke toilet.


"Kalau sampai Esperanza memakannya, om Te Apoyo pasti membunuhku," ujar gadis itu membayangkan wajah Te Apoyo yang sedang marah.


"Om tidak perduli kalau kami mengerjai putranya. Tapi kalau Esperanza, bahkan kakek Dion tidak akan tinggal diam. Aku tidak mau kartu kreditku melayang, karena pasti akan berhimbas ke sana!" gumamnya lagi.


Nicorazón pergi ke dapur dan berkumur-kumur. Mencoba menghilangkan rasa pahit di lidahnya. Saat itu Esperanza datang menghampirinya.


"Maaf," ujarnya.


"Untuk apa?"


"Jika aku menjewer Brillo kamu pasti tidak perlu menolongku makan empedu itu."


Nicorazón diam dan tersenyum.


"Masih pahitkah?" tanya Esperanza lagi.


"Entahlah, lidahku mati rasa. Coba kamu cium bibirku! Mungkin__" kata-kata Nicorazón terhenti saat Esperanza mendekat.


"Akkhh! Hei! Kenapa menjewerku?!" teriaknya.


"Karena kamu memang perlu dijewer!" Esperanza berbalik badan dan meninggalkan Nicorazoón yang kebingungan.


Ia tidak sadar dengan kata-katanya barusan. Sebab sesaat pribadinya yang berubah menjadi Nicholas menggoda Esperanza. Tapi saat pribadi itu muncul lagi. Ia tersenyum.


"Hehehe, sayang... kamu masih saja pemalu," gumamnya.


Nicorazón kebingungan. Kata-kata dan perbuatannya seringkali di luar dugaannya. Sesaat ia menyesalinya tapi sesaat kemudian tidak lagi. Dan ia serta Esperanza bermimpi hal yang sama setiap malam.


Ke esokan harinya. Nicorazón meminta maaf atas kata-katanya yang tidak sopan.


"Sudahlah aku tahu kamu tidak serius," ujar Esperanza.


"Sebenarnya aku sangat serius," balas Nicorazón yang langsung menutup mulutnya saat Esperanza melototinya.


Putra Te Apoyo akhirnya memilih kabur sebelum ia menjadi tidak terkendali.


"Hei, kamu! Berhenti menggunakan tubuhku!" gumamnya pada dirinya sendiri.


Ia mengira itu adalah ulah roh yang merasukinya. Sehingga ia memilih untuk mengawasi Esperanza dari jauh.


"Baiklah anak-anak kita akan melakukan kunjungan wisata ke sebuah museum. Surat ini harus di tanda tangangi oleh orang tua. Mengerti. Besok pagi harus di serahkan ke sekolah. Di sarankan semua orang untuk pergi," ujar wali kelas mereka di saat jam pelajaran terakhir.

__ADS_1


"Esperanza, kamu ikutkan?" tanya teman-teman sekelasnya.


"Aku harus minta izin dulu," jawab Esperanza ragu.


Sesampainya di rumah. Orang tua Esperanza memberi izin. Tapi ternyata Te Apoyo melarang. Karena mengingat di sanalah Nicholas dan Te Espere berakhir. Gadis itu hanya bisa pasrah.


Namun Nicorazón datang dan meyakinkan Te Apoyo kalau ia bisa menjaga Esperanza.


"Apa kamu yakin?" tanya Te Apoyo menolak permintaan putranya.


"Kali ini masa lalu tetap harus terjadi tapi bagian akhirnya, aku yang akan mengubahnya," ujar Nicorazón yang tampak seperti orang lain.


"Baiklah kalau itu keputusanmu," jawab Te Apoyo tersenyum. Maka mereka pun jadi pergi.


Di museum gadis yang memberi kartu undangan menghampiri Gris dan Esperanza. Ia melirik Gris sebelum mengajak Esperanza berkeliling bersamanya.


"Ayolah, pasti lebih seru jika kita bersama gadis-gadis lainnya. Jangan terus-terusan menempel dengan pacarmu," ujar gadis itu.


"Biarkan saja," ujar Nicorazón saat Gris dan Brillo melarang.


Maka Esperanza akhirnya diizinkan pergi dengan para gadis.


"Esperanza kamu pasti belum pernah ke tempat ini, kan?" tanya gadis itu.


"Tentu saja belum. Ayo kita ajak dia ke tempat yang seru."


Para gadis tersenyum. Lalu mereka berpura-pura melihat-lihat sebuah patung dan mengajak Esperanza untuk mendekat.


"Ayo coba sentuh. Katanya jika menyentuh patung ini kita akan berumur panjang," bujuk para gadis.


Saat Esperanza ingin melakukannya lagi-lagi ia merasa ada yang lain selain mereka di sana. Tapi kemudian ia mencoba menepis pikiran itu. Dan menyentuh patung tersebut.


Dingin.


Esperanza merasa seolah terhisap. Ia mencoba menarik tangannya tapi tidak bisa. Rasa dingin itu mulai menjalar ke bagian tubuhnya yang lain. Ia mulai ketakutan.


Beberapa detik kemudian, bayangan hitam mendekatinya. Lalu memeluk Esperanza. Tangan Esperanza bisa ditarik kembali. Saat ia melihat kiri dan kanan. Para gadis sudah tidak ada. Bayangan hitam itu pun menghilang. Gris dan Brillo muncul bersamaan.


"Kenapa di sini sendirian? Mana yang lainnya?" tanya Brillo.


Esperanza menggeleng. Gris melihat patung yang disentuh oleh Esperanza.


"Jangan dilihat, jangan disentuh. Patung itu aneh!" seru Esperanza.


"Benarkah?" tanya Brillo dan menyentuh patung itu tapi tidak ada reaksi apa-apa.

__ADS_1


"Kamu baik-baik saja? Sayang kamu terlihat pucat."


"A-aku baik-baik saja," jawab Esperanza dan menarik tangan Brillo dari patung tersebut.


"Mananya yang aneh? Tidak ada yang aneh. Lagi pula aku sering ke mari dan belum pernah dengar kalau patung ini aneh."


"Sudahlah. Ayo cari Nicorazón!" seru Gris.


Anak itu tiba-tiba hilang dan saat mencarinya mereka malah melihat Esperanza sendirian. Tapi saat mereka ke luar museum, Nicorazón ada di sana sedang makan cemilan.


"Dari mana saja kalian?" tanyanya santai.


"Kamu yang dari mana saja? Kami kira kamu kesasar. Lain kali beri tahu kalau pergi!" kesal Brillo.


"Aku bosan di dalam. Ponselku mati dan aku lapar. Di dalam tidak boleh makan. Esperanza kamu mau?"


"Berikan itu padaku!" seru Brillo merebut sebungkus kripik kentang dari tangan Nicorazón.


"Aku menawarkannya pada Esperanza, bukan kamu! Kembalikan!"


Brillo dan Nicorazón berebut kripik kentang seperti anak kecil. Dan para gadis yang ingin menjebak Esperanza terkejut


"Kenapa dia bisa keluar dengan selamat. Seharusnya ia terhisap dan menghilang untuk selamanya?" gumam mereka.


Gadis yang memberi kartu undangan mengepalkan tangannya dengan geram.


"Kenapa tidak berhasil? Seharusnya para roh yang bersemayam di patung itu menariknya ke alam kematian?" batinnya menatap tajam ke arah Esperanza.


"Kalau begitu, aku sendiri yang akan mencabut nyawamu di hari ulang tahunku!"


Lalu ia mendekati Esperanza seperti tidak terjadi apa-apa. Tapi kali ini Esperanza merasa ada hawa dingin saat para gadis mendekat. Dan di saat bersamaan ada hawa hangat berasal dari Nicorazón.


"Kalian sudah meminjam Esperanza seharian. Apa belum cukup?" tanya Nicorazón dengan tajam.


"Ah, tidak. Kami tadi mencarinya di dalam. Ternyata dia sudah keluar," kata para gadis.


"Kalian yakin? Kalau kalian mencarinya?" tanya Gris dengan tatapan tidak suka.


"Maafkan kami, sepertinya kami tidak memperhatikan Esperanza saat sedang asik melihat-lihat. Saat sadar Esperanza tidak ada. Jadi__" Gadis itu menghentikan ucapannya saat ketiga pengawal Esperanza terasa seperti ingin merobek wajahnya.


"Baiklah. Esperanza... jangan lupa datang ke ulang tahunku ya!" serunya.


"Kalian juga datang ya," katanya lagi pada tiga laki-laki yang ada di sisi Esperanza.


"Semakin ramai. Maka pestaku akan semakin meriah!" batinnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2