Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
(Season 2) Dua Esperanza


__ADS_3

Dorado tersenyum mendengar hal itu.


"Kurung dia, kita akan membutuhkannya nanti!" perintah Dorado kemudian.


Anjing itu pun berlari menghindari tangkapan para pria yang diperintah. Brillo berhasil kabur dari tempat itu dan mengelilingi tempat tersebut untuk mencari jalan keluar.


Tapi kemudian ia tidak bisa berbuat banyak saat jalan yang ia lalui ditutup. Ketika ia mundur pintu yang ada di belakang juga ikut tertutup. Dan sebuah jaring besi dijatuhkan dari atap.


"Ternyata tempat ini bersekat-sekat yang mempunyai penutup otomatis." batin Brillo.


Maka anjing itu pun tertangkap, kemudian dibawa kesuatu tempat. Ia diikat ke tiang besi dan ruangan itu pun ditutup. Seseorang tampak sedang berjaga di luar.


"Hah, nasipku sial sekali!" batin Brillo.


Anjing itu tidak bisa berbuat sesuatu selain pasrah.


"Setidaknya mereka tidak melukai tubuh ini," gumamnya lalu berbaring di lantai.


Dari celah pintu anjing itu mencium aroma yang ia kenal.


"Ada seseorang di sebelah," batinnya lagi.


Lalu ia melihat dari celah pintu beberapa orang melintasi tempat ia dikurung. Dari aromanya, tergambar seorang anak perempuan di antara dua pria dewasa.


"Astaga, hidung Lillo ini sangat tajam. Aku bisa mengetahui seseorang dari bau mereka."


Brillo mendengarkan dengan seksama, langkah kaki itu terhenti. Diperkirakan jaraknya tidak jauh dari ruangan ia berada. Lalu ia mendengar suara pintu dibuka dan ditutup. Berlanjut dengan suara gadis yang menangis.


"Apa gadis yang tadi diculik?"


Anjing itu memperhatikan ruangan tersebut. Memastikan kalau di tempat itu tidak dipasang CCTV. Setelah itu ia berguling ke dinding seolah sedang menggeliat. Lalu menempelkan telinganya ke dinding.


Sayup-sayup terdengar suara gadis lain. Mendengar suara gadis itu jantung anjing tersebut berdetak dengan kencang. Ia seperti pernah mendengar suara gadis tersebut.


"Jangan menangis, simpan tenagamu," ujar gadis itu lembut.


Ia adalah Esperanza yang asli. Gadis yang menangis itu menoleh. Lalu perlahan mengusap air matanya.


"Kamu siapa dan kenapa kamu bisa ada di sini?" ujar gadis itu pada Esperanza.

__ADS_1


"Aku diculik dari toko pakaian."


Anjing itu mengernyitkan keningnya. Makin menempelkan telinganya.


"Namaku Esperanza, aku tidak berasal dari negara ini, tapi aku mendapatkan beasiswa dari sebuah sekolah di negara ini."


"Beasiswa?" tanya gadis itu.


Esperanza mengangguk lalu menceritakan kisahnya. Gadis itu terperanjat. Dan mulai menangis lagi.


"Kenapa menangis lagi?" tanya Esperanza.


"Aku juga mendapat beasiswa dari sekolah itu. Lalu seseorang mengajakku ke sebuah toko pakaian. Katanya di sana aku akan mendapatkan seragam sekolahku," kisah gadis itu.


"Tapi ternyata mereka memberiku obat tidur, saat bangun aku sudah berada di dalam mobil. Aku ketakutan dan dibawa kemari," lanjutnya.


"Dan mereka bilang kalau beasiswa itu sebenarnya bohongan. Mereka akan menjualku!" tangis gadis itu semakin menjadi-jadi.


"Jadi kita ditipu? Tapi, pihak sekolahku mengetahui hal ini. Bagaimana ini bisa terjadi?"


Esperanza menjadi pucat.


"Aku rasa mereka juga menipu pihak sekolah dan orang tua kita," ujar gadis itu sesenggukan.


"Lepaskan aku! Lepaskan aku! Siapa saja tolong aku!" teriak Esperanza kuat-kuat sambil memukul-mukul pintu.


"Aku harus memberitahu kalau Esperanza ada di sini!" batin Brillo.


"Tapi, tunggu dulu, apa ini juga tipuan. Jika ini yang asli lalu yang di sana?"


"Tidak, tidak, tidak! *Aku harus memastikan satu hal dulu. Gadis itu bisa berbicara dalam bahasa negara Nicorazòn tadi. Sedangkan Esperanza yang aku tahu cuma mengerti bahasa dari negaranya."


"Jadi ini pasti jebakan*!"


Brillo berbicara pada dirinya sendiri dan kebingungan.


"Bagaimana caraku untuk membuktikannya?" tanyanya lagi pada dirinya sendiri.


Dan saat ini melalui mata dari tubuh aslinya ia bisa melihat Esperanza berada di rumah Te Apoyo.

__ADS_1


"Ah, ini sangat menguras tenagaku, dan aku sangat kelaparan!"


Karena merasa lapar anjing itu tertidur dan terbangun setelah mendengar suara jeritan Esperanza. Ternyata di depan mata Esperanza, gadis yang tadi dibawa keluar dari ruangan itu telah dibunuh. Dan tampak banyak luka ditubuhnya.


"Sekarang giliranmu!" ujar para pria itu.


Esperanza berteriak minta tolong. Membuat Brillo yang berada di dalam tubuh anjing tersebut menggonggong. Sebab meskipun jiwanya adalah jiwa manusia, tapi saat berada di dalam tubuh anjing itu, ia hanya bisa menggonggong.


Membuat keributan di ruangan tersebut. Pria yang membawa Esperanza berhenti dan membawa pemukul kayu ke ruangan itu. Ia berencana memukul anjing tersebut.


Kini tinggallah Esperanza dan seorang pria. Melihat pria yang memeganginya kurang waspada Esperanja menggigit tangan orang itu dengan cepat.


"Ah! Sial!" teriak orang itu.


Sementara di dalam ruang tempat anjing itu diikat penjaga sempat melirik sesaat ketika mendengar temannya berteriak. Tapi ia kemudian melanjutkan niatnya untuk memukul anjing yang terikat di tiang besi.


"Beraninya kamu berisik. Kamu mau kami ketahuan karena bersenang-senang, hah?!"


Penjahat itu berteriak dengan kencang. Mereka sebenarnya hanya bertugas untuk menakuti Esperanza dan membuatnya percaya kalau Te Apoyo telah menipunya. Dengan memanfaatkan gadis lain.


Gadis itu ditipu seolah mendapatkan beasiswa dan diculik kemudian diberitahukan kalau penculik itu adalah orang suruhan Te Apoyo. Dengan demikian gadis tersebut akan menceritakan hal yang sama pada Esperanza.


Dorado yang mengetahui kalau Esperanza mengerti dua bahasa meyakini rencana menipu Esperanza akan berhasil dengan memanfaatkan gadis lain. Setelah Esperanza merasa tertipu maka gadis itu dibunuh dan jasadnya diletakkan di hadapan Esperanza.


Tapi para pria itu justru menikmati tubuh gadis tersebut sebelum membunuhnya. Merasa masih kurang, sekarang mereka malah ingin menikmati tubuh Esperanza.


Brillo yang berada dalam tubuh anjing tersebut bergerak dengan lincah. Sehingga pria yang membawa pemukul itu kesulitan untuk memukulnya. Dan dengan memanfaatkan rantai yang terpasang di tubuh anjing tersebut, Brillo mencekik penjahat itu sampai pingsan.


Saat ingin keluar ruangan tempatnya dikurung, lagi-lagi Brillo mengalami kesulitan. Sebab rantai yang melingkar di lehernya cukup kuat. Sementara kini Esperanza sudah berada di tengah-tengah pria yang menikmati tubuh gadis yang telah tidak bernyawa tersebut.


Dia terkepung dan dibawa ke sebuah ruangan yang memiliki satu buah ranjang. Ia diikat di atas ranjang tersebut. Esperanza meronta dan menendang seorang pria yang mencoba mendekati dan menyentuhnya.


"Wah dia benar-benar liar. Aku makin penasaran. Untung tidak ada boss saat ini sekarang."


"Tunggu Aku mau jadi yang pertama," ujar pria yang paling besar.


"Hah? Siapa Kamu yang harus jadi yang pertama?"


"Aku yang terkuat di sini!"

__ADS_1


Mendengar hal itu yang lain mundur. Dan pria yang mendapat giliran pertama pun mendekati Esperanza. Dengan senyuman yang menjijikkan di mata Esperanza.


"Tenanglah, Aku akan melakukannya dengan lembut," ujarnya, kemudian tanpa buang waktu membuka pakaian bawahnya.


__ADS_2