Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Sang Pengantin


__ADS_3

Pintu itu pun hancur, mereka yang berada di dalam menjerit ketakutan. Para mahasiswa yang kerasukan tersebut menangkap mereka dan salah satu dari mereka mencekik seorang mahasiswi di hadapan Te Espere dan Malika.


Mau tidak mau, Malika turun tangan dan mencoba menyelamatkan mahasiswi tersebut. Tapi jumlah mereka yang kerasukan terlalu banyak. Sehingga meski berhasil menolong mahasiswi tersebut, mereka tidak bisa keluar.


"Siapa yang mengutus kalian dan untuk apa kalian diutus kemari?" tanya Te Espere kemudian.


Sebab semua orang yang masih sadar kini dalam bahaya. Hanya ia satu-satunya yang tidak disentuh sama sekali. Para mahasiswa yang kerasukan tidak berani melukainya. Karena Oscuridad meminta mereka membawa Te Espere tanpa terluka.


"Ikutlah dengan kami, maka kami akan melepaskan mereka semua," ujar para mahasiswa yang kerasukan.


Te Epere akhirnya ikut dengan mereka. Setelah Te Espere keluar dari kampus tersebut. Semua orang yang kerasukan sadar, karena telah ditinggalkan oleh roh jahat.


Te Espere dibawa ke sebuah tempat yang sepi oleh beberapa mahasiswa yang masih kerasukan. Dan tempat itu dihuni oleh banyak roh jahat. Mereka menatap Te Espere dengan penuh tanda tanya. Tubuh tersebut memikat tiap roh yang melihatnya untuk merasukinya. Tapi saat mereka hendak merasukinya, Te Espere sudah lebih dahulu menangkap mereka dan menghancurkan roh mereka.


"Bawa aku pada tuan kalian!" ujar Te Espere.


Tapi para roh tersebut menertawakannya. Te Espere kesal dan melepaskan cincinnya. Lalu menghisap mereka satu persatu. Para roh yang berhasil dihisap oleh raga Te Espere menjerit kesakitan. Membuat roh yang tadinya ingin mendekat dan merasukinya, mengurungkan niat mereka.


Tapi terlambat, Te Espere menghisap sebanyak mungkin roh yang ada di tempat itu. Bahkan ia hampir menghisap roh mahasiswa yang berada di tempat itu. Beruntung ia menghentikan tidakannya saat melihat roh para mahasiswa itu hampir keluar dari raga mereka. Jika tidak ia akan membunuh mereka tanpa sengaja.


Sekarang hanya ada dia dan beberapa mahasiswa yang pingsan di situ. Te Espere kembali memakai cincinnya. Kemudian mencoba menyadarkan para mahasiswa tersebut.


Namun sebelum para mahasiswa itu sadar ia merasakan ada seseorang yang tiba-tiba muncul di belakangnya. Saat ia berdiri dengan cepat dan berpaling, orang itu menjentikkan jarinya, hingga Te Espere pun terkulai lemah tidak berdaya.

__ADS_1


Sementara itu di waktu yang sama, Nicholas berniat menjumpai Te Apoyo. Dan saat menemui saudara kembar Te Espere tersebut, Nicholas melihatnya sedang terburu-buru.


"Te Apoyo, kamu mau kemana?" tanyanya begitu sampai.


"Maaf aku tidak bisa bicara sekarang, ada urusan penting yang harus aku selesaikan," ujar Te Apoyo dan masuk ke dalam mobilnya.


Saat hendak Te Apoyo hendak menutup pintu mobilnya, Nicholas menahan dengan tangannya. Lalu dengan cepat masuk ke dalam mobil.


"Hei, apa yang kak Nicholas lakukan! Aku sedang terburu-buru!"


"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan. Dan ini tentang Te Espere," ujar Nicholas.


Te Apoyo terdiam sejenak, lalu ia menyuruh supirnya menghidupkan mobil. Dan membiarkan Nicholas ikut ke tempat yang ia tuju.


"Te Apoyo, sebenarnya kamu mau kemana? Apa kamu bisa menghubungi Te Espere saat ini?" tanya Nicholas penuh dengan kecemasan.


Sebab Malika melihat sendiri beberapa mahasiswa yang kerasukan membawa Te Espere pergi. Tomi dan Malika sudah menghubungi polisi setelah kejadian buruk yang terjadi di kampus Malika dan Te Espere.


Banyak mahasiswa dan mahasiswi yang dilarikan ke rumah sakit, setelah peristiwa buruk, akibat kerasukan massal di kampus. Dan mereka dengan segera mengosongkan kampus untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.


Aparat keamanan telah dihubungi untuk mencari jejak beberapa mahasiswa yang hilang yang membawa Te Espere. Namun mereka seperti hilang ditelan bumi, tidak ada jejak yang bisa digunakan untuk melacak keberadaan mereka. Bahkan anjing pelacak yang dikerahkan untuk mencari mereka pun, tidak bisa mencium aroma keberadaan mereka.


Dan kini Te Apoyo dan Nicholas berada di dalam pesawat pribadi milik Dion. Setelah mengetahui arah dan tujuan Te Apoyo, Nicholas tidak bisa dilarang untuk tidak ikut pergi.

__ADS_1


Karena ia merasa tidak tenang sejak ia memiliki firasat kalau Te Espere sedang dalam bahaya. Apa lagi saat ia mendengar kabar, bahwa ada kejadian buruk di kampus Te Espere melalui mata-matanya. Yang mengawasi Te Espere dari gedung yang bersebelahan dengan kampus Te Espere.


Sementara kini orang yang membuat Te Espere kehilangan kesadarannya itu, membawa Te Espere ke ruang khusus di sebuah museum terbesar di negara itu. Lalu membaringkannya di atas sebuah benda berbentuk persegi panjang.


"Sebenarnya aku ingin menunggu sampai seluruh kekuatanku pulih. Tapi sepertinya aku hanya akan membuang waktu," gumam orang tersebut.


Segera ia menekan sebuah batu yang membuat lantai di ruangan tersebut bergerak dan bergeser dan terlihatlah sebuah tangga yang menuju sebuah lorong gelap. Orang itu membawa tubuh Te Espere yang tidak berdaya itu menuruni tangga yang gelap. Namun ia tidak kesulitan berjalan. Sebab ia bisa melihat di dalam kegelapan dengan sangat jelas.


Lalu sampailah mereka di sebuah ruangan yang besar setelah melewati tangga dan lorong yang panjang. Ada banyak roh yang bersujud saat melihat orang yang memawa tubuh Te Espere memasuki ruangan tersebut.


"Bawa dia dan persiapkan segala kebutuhannya untuk melakukan ritual!" ujar orang tersebut.


Dan beberapa mahasiswa telah berada di tempat tersebut dalam keadaan terikat. Masing-masing dari mereka diikat di sebuah tiang di tengah-tengah ruangan tersebut. Mereka pun perlahan-lahan tersadar.


Mereka juga melihat beberapa orang memakai jubah panjang dan di wajah mereka tertato sebuah lambang mirip bentuk bintang di dalam lingkaran. Mereka mengalungkan tengkorak dan tulang-belulang manusia. Melihat pemandangan tersebut, para mahasiswa itu bergidik ngeri. Dan mencoba melepaskan ikatan mereka.


Sementara Te Espere kini berada di sebuah taman yang di sinari sinar rembulan, tanpa sehelai benang pun. Ia berada di dalam bak air yang dipenuhi dengan air dan bunga-bunga berwarna-warni.


Para wanita yang berpakaian seperti dayang kerajaan jaman kuno membersihkan tubuhnya dengan sangat hati-hati. Memperlakukannya seperti barang berharga.


Setelah membersihkan tubuh Te Espere mereka pun mengeluarkannya dari air bunga warna-warni tersebut, dan membalut tubuh Te Espere dengan sehelai kain putih. Lalu membawa Te Espere ke sebuah ruangan yang di sinari oleh obor besar.


Kemudian tubuh Te Espere dibaringkan di atas sebuah ranjang yang berada di tengah ruangan tersebut.

__ADS_1


"Kalian boleh pergi sekarang. Tinggalkan aku dengan pengantinku!" ujar orang yang membuat Te Espere pingsan.


Bersambung...


__ADS_2