
Nicholas masih sangat mengantuk. Akibat dari bergadang semalaman. Sehingga ia masih enggan menjawab pertanyaan Teresia. Jadi ia kembali menempelkan kepalanya di atas tempat tidur.
Teresia diam sejenak. Menunggu Nicholas bangun. Namun lama-kelamaan dia menjadi bosan. Ia pun menuruni tempat tidurnya. Lalu berjalan menuju sebuah jendela yang sudah terbuka. Membuat sinar matahari masuk ke ruangan tersebut.
Teresia menatap keluar jendela. Melihat orang-orang yang berkeliaran. Serta roh-roh halus yang mengawasi pergerakan mahluk hidup. Ada satu pasien yang berada di atas kursi roda. Sedang bercengkrama dengan pemuda yang mendorong kursinya. Yang menarik perhatian Teresia adalah makhluk seperti kerangka manusia berjalan mengiringi mereka.
Tampak persis seperti yang ia lihat di balik punggung Emile. Teresia mengernyitkan keningnya. Lalu mata dari mahluk itu berubah menjadi merah. Dan kemudian mengayunkan sabitnya. Tampak seperti memotong tubuh kakek tua tersebut menjadi dua. Namun seolah sedang melakukan aksi sulap. Sebab tubuh kakek tua itu tetap utuh.
Teresia menghentikan tarikan napasnya dalam beberapa detik. Ini pertama kalinya ia melihat hal tersebut. Dan setelah beberapa detik mahluk berjubah hitam panjang itu menghilang. Dan Teresia kembali bernapas. Dan kakek yang ada di kursi roda tampak menganggukan kepala. Namun tidak terlihat kalau ia akan mengangkatnya lagi.
Pemuda yang mendorong kursi roda tersebut belum menyadari sesuatu. Ia tampak masih asik bercerita, sambil mendorong kursi roda tersebut dengan pandangan fokus ke jalan. Sesekali ia tersenyum disela-sela celotehnya.
Dan lama kemudian ia mulai menyadari, kalau kakek tua itu tidak memberikan reaksi apa pun padanya. Ia mengira kalau kakek tersebut sedang tidur. Jadi ia maju ke depan dan tampaknya hendak memperbaiki selimut kakek tersebut.
Pemuda itu terlihat bengong saat membetulkan selimut yang menutupi tubuh kakek itu. Lalu reaksi berikutnya ia menjerit memanggil dokter. Dan mendorong kursi roda tersebut menuju suatu tempat. Tempat yang tidak bisa Teresia lihat dari kamarnya.
Teresia kembali ke tempat tidurnya. Menarik selimut dan menutupi wajahnya. Ada rasa takut. Pemandangan barusan membuatnya menyadari kalau ia bisa melihat hari terakhir seseorang.
Saat merasakan tempat tidur Teresia bergoyang, Nicholas terbangun. Di tatapnya Teresia dengan mata setengah terbuka. Lalu ia mengucek matanya.
"Kau masih tidur?" tanyanya seraya menarik selimut Teresia.
Teresia tersentak dan segera duduk. Lalu menatap mata Nicholas yang masih merah. Ia diam dan tidak tau harus berbuat apa.
"Tunggu sebentar, aku akan mencuci muka, dan mengantarkanmu pulang."
Setelah membayar biaya rumah sakit, Nicholas menepati janjinya. Ia mengantar Teresia dengan sepeda motor milik temannya yang juga merupakan sepupunya.
"Itu di sana!" tunjuk Teresia saat ia dan Nicholas hampir tiba di depan rumahnya.
Nicholas menghentikan sepeda motornya. Lalu mengikuti Teresia yang turun. Teresia dengan cepat mengetuk pintu rumahnya.
"Ma... mama... ini Teresia ma...!" panggilnya.
Lina tersentak dari tidurnya, karena mendengar suara orang yang ia kenal. Tapi ia masih merasa sedang bermimpi. Setelah berkali-kali mendengar gedoran pintu dan panggilan dari Teresia, bangunlah dia.
Berlari secepatnya dan dengan tergesa-gesa mencari kunci. Membuka pintu dan menemukan putrinya. Air matanya berlinang. Ditariknya gadis kecil itu ke dalam pelukannya. Dicium dan dibelainya kepala botak gadis tersebut.
__ADS_1
"Kamu dari mana saja nak?" tanyanya sambil menarik Teresia masuk ke rumah.
Dan saat itu ia melihat Nicholas. Dilepaskannya tangan Teresia. Dan menyeka air matanya dengan kedua tangannya. Kemudian menghampiri Nicholas.
"Kamukah, yang telah mengantarkan putriku pulang?" tanyanya. Nicholas mengangguk.
"Makasi ya nak, ayo masuk dulu." ajak Lina.
Nicholas pun mengikuti Lina masuk. Lina mempersilahkan tamunya duduk. Dan beberapa saat mereka diam. Tampaknya sedang menyusun kata-kata masing-masing.
"Namamu siapa?"
"Nicholas tante,"
"Ketemu putriku di mana? Dan bagaimana?"
Lalu Nicholas menceritakan yang terjadi. Ia juga menceritakan apa yang Teresia ceritakan padanya. Lina membelalakkan matanya dan menutup mulutnya. Sejenak ia membayangkan apa yang baru saja Nicholas ceritakan.
Begitu juga tentang kejadian roh wanita yang bersemayam di tubuh Teresia. Lina mencoba mencerna setiap kata-kata yang dilontarkan oleh Nicholas. Dan Teresia mengingat-ingat kisah yang Nicholas ceritakan.
"Jadi itu bukan mimpi?"
"Sebaiknya tante membawa Teresia pada orang pintar. Agar mengeluarkan roh yang berada di tubuh Teresia. Aku rasa dia akan membahayakan nyawa Teresia jika terus dibiarkan."
"Sebenarnya, tante sudah membawa Teresia ke paranormal. Dan ia menyarankan tante untuk mencarikan pasangan tukar cincin dengan Teresia." ucap Lina menanggapi Nicholas.
"Lalu apa yang terjadi?"
Lina menceritakan saat Teresia yang awalnya setuju dijodohkan. Namun kemudian menangis minta pulang dan sampai akhirnya menghilang. Lagi-lagi Teresia tersadar. Kalau banyak hal yang ia sangka mimpi, ternyata adalah kenyataan.
"Maafkan Teresia ma," ujarnya kemudian sambil memeluk mamanya.
Dia menyadari telah banyak salah paham pada mamanya. Dan setelah tau tujuan mamanya. Ia menetapkan hati akan mengikuti apa pun yang mamanya telah rencanakan.
"Jadi kau setuju?" tanya Lina memastikan.
"Iya, Teresia mau sembuh dan tidak mau menyusahkan mama lagi."
__ADS_1
"Makasi ya sayang." ucap Lina seraya memeluk dan mencium putri kesayangannya.
Nicholas berdehem. Ia rasa sudah saatnya untuk undur diri. Lina mencoba menahannya dengan menawarkan makan bersama. Tapi dengan sopan Nicholas menolaknya. Dengan alasan harus secepatnya pulang. Lina menerima alasan tersebut dan mengantarkan tamunya keluar.
"Sesekali mampirlah kemari. Tante akan siapkan hidangan yang banyak untukmu." ucap Lina. Nicholas menangguk. Teresia melambaikan tangannya.
Setelah Nicholas pergi masuklah Lina dannTeresia. Dan Dion datang dari belakang. Lina menoleh kebelakang saat merasa ada orang yang membuntutinya.
"Mau apa kamu?" tanyanya seceparnya dan mundur.
Ia hendak menutup pintu, namun ditahan oleh Dion. Tenaga yang dikeluarkan Dion tidak sekuat saat ia sedang dalam kondisi baik. Tapi Lina batal menutup pintunya setelah melihat kondisi Dion yang memprihatinkan.
"Ijinkan aku berbicara, untuk terakhir kalinya." pinta Dion.
Lina tidak tega menolak dan akhirnya membiarkan Dion masuk. Dion mengambil posisi duduk yang dia rasa nyaman. Teman Dion yang menunggu di luar memilih duduk di teras.
Dion memandang putri Lina yang bersembunyi di balik punggung Lina. Takut melihat orang lain akibat kejadian tadi malam. Lina memegang tangan putrinya.
"Jangan takut, ayo duduk."
Setelah beberapa menit Dion tidak bersuara, Lina pun angkat bicara.
"Kalau tidak ada yang ingin kamu ucapkan, lebih baik pulang dan beristirahatlah!" ucapnya kesal.
Dengan sedikit menarik napas Dion mulai bicara. Menceritakan tentang tantenya yang menculik Lina. Serta tentang Shasa yang menjadi kaki-tangan tantenya. Ia juga menceritakan alasannya menikahi Kelly.
Sebenarnya ia enggan menceritakan yang ia alami di ruang operasai. Tapi melihat istrinya yang masih belum menerima ceritanya. Ia pun mencetirakan hal yang ia alami di rumah sakit.
"Mungkin kamu tidak akan percaya tapi aku bisa buktikan semua itu, aku akan memperlihatkan bekas lukaku selama di ruang operasi." tutur Dion.
"Cukup!" kata Lina singkat.
Lina menarik napas dalam-dalam. Ia ingat kondisi tubuh Dion saat pakaiannya dilepaskan. Ia mulai mempercayai kisah Dion. Rasanya sangat tidak tega membuat Dion mengingat hal buruk tersebut. Tapi ia bingung harus berbuat apa. Melihat Lina yang membisu, Dion menarik napas dalam-dalam dan meniupkannya dari bibirnya perlahan.
"Hanya itu yang ingin aku sampaikan. Semua terserah padamu, mau percaya atau tidak. Kalau begitu, aku pergi dan tidak akan memperlihatkan wajahku lagi." ucapnya lemah.
Ia pun beranjak pergi. Saat ia sudah di ambang pintu, temannya yang dari tadi duduk di luar menyambutnya. Baru satu langkah Dion melewati pintu Lina pun memanggilnya dengan suara berat.
__ADS_1
"Apa kalian sudah makan?" tanyanya.
Bersambung...