
Dengan segera wanita itu menghubungi nomor ponsel suaminya. Terdengar suara yang mengatakan kalau nomornya tidak dapat dihubungi. Jadi ia memutuskan untuk kembali ke gedung teater. Namun naas ia mengalami kecelakaan di sebuah persimpangan.
Dan semua itu ulah Putri penunggu danau. Ia mengawasi wanita itu sejak keluar dari gedung teater. Ketika melihat wanita itu hendak kembali ke gedung teater, ia menyuruh beberapa roh yang berada di persimpangan itu untuk membunuh wanita itu. Sehingga terjadilah kecelakaan. Roh-roh yang ada di situ menampakkan diri. Mengakibatkan seorang pengendara tiba-tiba kehilangan kendali setelah melihat penampakan.
Pagi hari ramai berita tentang kejadian naas tersebut. Banyak yang membicarakan tentang jalan yang menurut orang-orang sekitar adalah tempat angker. Berbagai postingan tentang jalan itu dikirim ke sosial media. Lalu dibagikan secara berulang-ulang.
Dan akhirnya sampailah ke akun Nicorazón. Ia memperhatikan jalan tersebut. Saat memperhatikan lokasi kejadian ia pun mengetahui kalau tempat itu, adalah tempat ia mengalami kecelakaan. Membuat ia mengingat sebuah komentar seseorang tentang postingannya. Yang mengatakan di tiap fotonya saat di danau, ada mahluk halus. Nicorazón bergidik ngeri.
Karena di negaranya sudah malam kembali. Ia pun terkejut saat Te Apoyo melihatnya belum tidur. Dan tengah asik menatap layar ponselnya.
"Papa! Bikin terkejut saja!"
"Ini sudah larut malam, dan kamu belum tidur? Apa yang kamu kerjakan sampai selarut ini?"
"Papa juga belum tidur."
"Hei, jangan samakan papa denganmu!"
"Aku tahu, aku juga tidak mau sama dengan papa! Tukang selingkuh!"
Te Apoyo terkejut mendengar ucapan putranya. Dia mengernyitkan matanya. Lalu menarik bahu putranya yang menarik selimut hendak tidur.
"Apa maksud perkataanmu?"
"Apanya?"
"Kenapa kamu bilang papa tukang selingkuh? Siapa yang bicara seperti itu sama kamu?" kejar Te Apoyo.
"Bukan siapa-siapa. Aku lihat sendiri papa bicara di ponsel papa tentang_ ah, sudahlah."
__ADS_1
Nicorazón tidak mau membicarakan apapun pada Te Apoyo. Dia kesal setelah melihat mata mamanya bengkak. Merasa kalau mamanya sudah tahu kalau papanya sedang selingkuh. Tapi dia punya pikiran lain. Diam-diam ia merasa kalau papanya berselingkuh karena ingin anak lagi. Mengingat mamanya sudah tidak bisa melahirkan lagi.
Nicorazón mengira papanya sudah tidak menginginkan ia dan mamanya lagi. Jadi papanya mencari istri baru dan menginginkan anak lain yang menurut papanya lebih bisa diatur, jika dibandingkan dengan Nicorazón.
Saat masih berpikir yang tidak-tidak tentang papanya. Te Apoyo menarik selimutnya dan tidak membiarkannya tidur. Memaksanya untuk bicara dan mengancam akan mengambil ponselnya.
"Kembalikan ponselku!"
"Tidak sebelum kamu menjawab pertanyaan papa!"
"Papa pikir aku tidak tahu kalau papa menyimpan foto gadis lain di ponsel papa? Papa selingkuh dibelakang mama. Dan sudah mempunyai seorang putri. Namanya Esperaza!" ujar Nicorazón mengatakan hal yang menurutnya benar.
"Esperanza itu calon istrimu!"
Nicorazón tersentak kaget. Pikirannya berubah.
Te Apoyo tertawa melihat wajah polos putranya. Dia merasa lucu setiap kali ia membandingkan Nicholas dan Nicorazón mereka sangat-sangat berbeda. Cara berpikir dan tingkah laku mereka tidak ada yang sama.
"Kenapa papa tertawa? Papa mau selingkuh. Dan hal pertama yang papa lakukan adalah menyingkirkanku. Ia, kan?"
"Tidurlah! Ini sudah malam!"
Te Apoyo menyerahkan ponsel Nicorazón dan mematikan lampu di kamar itu. Tapi Nicorazón segera memasangnya kembali. Te Apoyo memandang putranya lalu mengangkat alisnya dan berlalu pergi begitu saja.
"Awas, kalau aku bertemu dengan wanita selingkuhan papa, aku akan membuat wanita itu menyesal. Dan kau Esperanza jangan harap bisa menikah denganku!" gumam Nicorazón geram sebelum akhirnya memejamkan matanya.
Pagi ini Te Apoyo menghubungi pihak rumah sakit. Mengatakan kalau ia punya urusan keluarga. Te Apoyo ingin mengajak istrinya ke rumah kakek Dion. Di sana ia membicarakan tentang siapa Esperanza.
Mungkin istrinya tidak akan percaya begitu saja. Tapi setidaknya ia sudah mencoba untuk jujur pada istrinya. Ia juga menceritakan tentang tanda lahir putra mereka. Dan segala hal yang berkaitan tentang kejadian penculikan oleh sekte terlarang. Begitu juga tentang mimpinya yang bertemu sosok berjubah putih yang membawa kendi jiwa.
__ADS_1
"Sekarang semuanya terserah pada kamu, mau percaya atau tidak. Yang jelas Esperanza tidak akan jadi milikku. Aku ingin dia berkumpul dengan keluarga kita. Sebagai pasangan Nicorazón, karena menurutku mereka ditakdirkan untuk bersama," ujar Te Apoyo.
"Kalau mereka sudah ditakdirkan bersama bukankah seharusnya kita tidak perlu berbuat apa-apa?"
"Tapi aku belum merasa tenang, sebelum aku mengetahui keadaannya. Sebelum ia bisa berkumpul lagi dengan kita," ujar Te Apoyo.
Primavera akhirnya memilih diam, ia tidak tahu harus bicara apalagi. Setidaknya gadis itu bukan ancaman buatnya. Walau ia tidak yakin kalau pendapat suaminya tentang Esperanza benar. Tapi ia juga tidak bisa mengatakannya salah.
Dua hari kemudian Te Apoyo mendapatkan data tentang Esperanza. Dia segera memberitahukan pada istrinya tanpa menutupinya lagi. Te Apoyo menyuruh seseorang untuk melindungi Esperanza dan memastikannya hidup tanpa kekurangan apapun. Dan memberi beasiswa melalui pihak sekolah.
"Apa? Jadi aku tidak perlu bayar uang sekolah?" tanya Esperanza.
"Ya, setelah kami pertimbangkan. Kamu berhak mendapatkan beasiswa. Jadi rajin-rajinlah belajar. Sekarang kembalilah ke kelasmu," ujar Kepala Sekolah setelah memberikan surat keterangan pada Esperanza.
Setelah Esperanza keluar dari kantornya, Kepala Sekolah menghubungi orang kepercayaan Te Apoyo. Mengatakan kalau beasiswa Esperanza sudah diberikan. Dan sejak saat itu Esperanza mendapatkan banyak kemudahan yang berhubungan dengan pendidikannya.
Hal itu menjadi berita baik pula bagi keluarga Esperanza. Mereka merasa sangat senang, karena di bulan ini mendapat banyak kabar gembira. Papa Esperanza menerima dana bantuan gratis dari seseorang. Uang itu dipergunakan oleh papa Esperanza membeli keperluan untuk kebunnya.
Sebenarnya sejak Esperanza lahir, keluarganya selalu hidup dalam berkecukupan, meskipun tidak berlebihan. Sehingga orang tuanya merasa kalau putrinya pembawa keberuntungan. Dan hal itu juga dirasakan oleh pemilik toko. Sejak Esperanza bekerja di sana penjualan mereka meningkat. Meski Esperanza hanya bekerja sepulang sekolah dan di hari libur saja.
Untuk merayakan hari bahagia itu maka keluarga Esperanza membuat sebuah perjamuan makan malam bersama para tetangganya. Dan sahabat baik Esperanza turut hadir di sana. Ia tidak ikut merasa senang akan hal itu. Merasa ada sesuatu yang ganjil. Karena keluarga Esperanza mendapatkan banyak berita baik dan bantuan yang tiba-tiba.
Saat Esperanza melihatnya melamun, Esperanza mendekatinya. Lalu bertanya kenapa sahabatnya itu diam saja. Sahabatnya mencoba menutupi kegusarannya tapi Esperanza terus mendesaknya.
"Ayolah, katakan padaku. Kamu punya masalah apa?"
"Bukan aku yang punya masalah, tapi kamu. Apa kamu tidak curiga kenapa kamu tiba-tiba dapat beasiswa dan keluargamu mendapat dana gratis? Mungkin seseorang merencanakan sesuatu padamu. Mungkin seseorang ingin menjadikanmu sebagai istrinya."
Bersambung...
__ADS_1