
Dengan berat hati putra Malika terpaksa bangu. Dan membuka laptopnya. Mengetik sesuatu dan meminta Nicorazón memberikan data-data yang ia butuhkan. Dengan cepat ia melakukan proses yang diminta oleh Nicorazón. Saat proses penghubungan berlangsung ia melihat jam sudah menunjukkan pukul empat pagi di negaranya.
"Selesai! Aku mau tidur lagi."
"Hey, kirimkan aku nomor rekeningmu! Aku akan kirim biayanya!"
Tapi putra Malika sudah sangat mengantuk dan lebih memilih tidur. Nicorazón dengan cepat mengembalikan ponsel papanya. Dan keluar ruangan itu sebelum Te Apoyo kembali. Akan tetapi ternyata Te Apoyo sudah berada di depan pintu saat ia membuka pintu hendak pergi.
"Nicorazón? Sedang apa kamu?" tanya Te Apoyo terkejut.
"Tidak, tidak ada apa-apa," jawab Nicorazón gugup.
Dengan cepat ia pergi dari kantor papanya, tanpa perduli kalau tingkahnya sangat mencurigakan. Setelah Nicorazón pergi, Te Apoyo segera mengganti seragamnya. Lalu mengambil ponselnya dari laci, dan tersenyum. Ia sudah bisa menebak apa yang dikerjakan putranya.
Tapi ia tidak keberatan. Karena ia memang tidak pernah berpikir untuk menyimpan rahasia dari putranya, mau pun anggota keluarga lainnya. Tanpa memikirkan apapun ia kembali fokus pada pekerjaannya.
Nicorazón langsung pergi ke rumah setelah berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan. Setibanya di rumah ia hanya menjawab teguran mamanya sekilas. Dan segera pergi ke kamar dan menghubungkan ponsel dengan laptopnya. Memindahkan data-data dari ponselnya.
Ia tidak menunggu proses pemindahan selesai. Langsung saja ia beranjak dari ranjangnya dan membuka lemari. Mengambil sebuah kotak ponsel keluaran terbaru. Dan memasukkan kartu baru ke dalamnya. Serta memindahkan nomor-nomor yang ia dapatkan dari ponsel papanya ke ponselnya yang baru. Lalu menghapus nomor itu dari ponsel lamanya.
"Hufs sudah beres. Tinggal mencari bala bantuan."
Nicorazòn menyimpan ponsel barunya di lemari lalu keluar menemui mamanya yang sedang memasak untuk makan malam. Memperhatikan wajah mamanya yang terlihat biasa saja. Tidak terlihat sedih ataupun sedang kesal. Walau kemarin wanita yang di hadapannya terlihat sangat sedih.
"Setidaknya mama baik-baik saja sampai hari ini," batin Nicorazón.
Saat ia sedang duduk di kursi sebuah nada dering pesan masuk berbunyi. Seseorang mengirim vidio gadis yang terjungkal di depan kelasnya. Nicorazón mengangkat alis kirinya. Ia tidak terlalu suka menyaksikan hal seperti itu.
Seseorang yang mengirim vidio itu segera menghubungi ketika melihat kalau Nicorazón sedang aktif.
__ADS_1
"Halo Boss, sudah melihat vidio yang aku kirim?" tanya sebuah suara dari ujung panggilan.
Nicorazón melirik mamanya. Lalu memilih pergi dari dapur sambil mencomot sebuah jeruk di meja. Kemudian memilih duduk di teras belakang.
"Memangnya kenapa?" tanya Nicorazón sambil mengupas jeruknya.
"Cewek itu suka sama kamu Boss, lucu ya. Gara-gara melihat Boss dia sampai tidak melihat langkah kakinya dan terjungkal. Dia pasti merasa sangat malu sekarang. Hahaha."
Nicorazòn memutar bola matanya. Dan membiarkan ponselnya tergeletak di meja begitu saja. Sambil asik menikmati jeruk yang ia kupas. Tanpa menyahut celoteh orang yang berbicara di ponselnya.
"Boss? Boss masih di situ, kan?" tanya orang yang ada di seberang panggilan.
Merasa tidak ada jawaban, panggilan pun di akhiri.
Nicorazòn mengambil ponselnya lalu memutar vidio itu. Tampak jelas wajah gadis sedang mencuri pandang ke kelasnya. Menurut Nicorazón wajah gadis itu cukup lumayan. Menbuat ia mendapatkan sebuah ide.
Ia tersenyum membayangkan seperti apa wajah papanya jika ia mengajak gadis itu ke rumah. Dan di saat yang sama ia akan meminta kakek dan neneknya juga datang. Sebab ada kalanya kakek dan neneknya tidak tinggal di rumah. Melainkan tinggal di rumah warisan.
"Atau aku ajak papa dan mama ke rumah leluhur dan makan malam di sana? Dan mengenalkan gadis itu di sana? Papa tidak mungkin berani macam-macam di rumah kakek, kan?" gumam Nicorazón menimang-nimang pilihan yang tepat.
"Ah sudahlah, nanti saja aku pikirkan. Hal pertama yang aku lakukan adalah menjadikannya kekasihku lebih dahulu."
Setelah selesai berdiskusi dengan dirinya sendiri, maka segera ia menuju kamarnya. Namun saat melewati kamar Te Espere ia menjadi ingat akan mimpinya yang terus berulang-ulang. Ia menarik napasnya dalam-dalam lalu melangkah menuju kamarnya.
"Kenapa, tante Te Espere dan om Nicholas selalu muncul dalam mimpiku akhir-akhir ini?" gumamnya.
Sejenak ia mengingat-ingat mimpinya sambil melangkah menuju kamarnya. Tapi kemudian ia memilih untuk segera mandi, membersihkan diri. Dan mencoba melupakan mimpinya yang terasa nyata.
Mengguyur tubuhnya dengan air segar dan menyabuni tubuhnya tanpa berpikir kalau ia sedang diawasi oleh sosok yang tidak terlihat. Tanpa buru-buru dan sambil bersiul ia membersikkan tiap inci tubuhnya. Saat sedang menggosok badannya dengan sabun, tiba-tiba ia merasa ada tangan yang menyentuh punggungnya.
__ADS_1
Dia menoleh kebelakang. Ia mengernyitkan keningnya. Lalu mencoba mengabaikannya. Lalu mengosok tubuhnya yang terasa gatal. Hingga ia melihat busa di tubuhnya membentuk sepasang tangan di perutnya. Saat ia merasa seolah ada yang memeluknya dari belakang.
Nicorazòn membelalakkan matanya dan mempercepat mandinya. Segera ia keluar dari kamar mandi dan berpakaian tanpa mengeringkan tibuh. Tanpa menyisir rambut atau pun yang lainnya. Yang penting dia sudah berpakaian.
Wajahnya pucat karena takut. Ini bukan pertama kalinya. Ia merasakan hal-hal aneh saat di kamarnya. Sehingga ia tidak pernah lagi mematikan lampu saat sedang tidur. Karena takut jika saat terbangun ia melihat hal-hal yang tidak ia inginkan.
"Sayang? Kenapa tidak mengeringkan rambutmu?" tanya Primavera saat melihat putranya datang.
"Tidak apa-apa ma. Aku cuma lapar."
"Tidak baik membiarkan rambutmu basah. Sana keringkan!"
Nicorazón meninggalkan dapur. Tapi ia tidak mengeringkan rambutnya. Ia memilih duduk di ruang tamu. Mencoba menenangkan diri.
Lalu dengan iseng ia membuka ponselnya, untuk menyibukkan diri. Sehingga tanpa sadar mamanya datang dengan sehelai handuk di tangan. Saat ia menyentuh rambut putranya dengan handuk yang ada di tangannya, Nicorazón berteriak dan melompat dari kursinya.
"Hahaha, ya ampun! Ini handuk sayang."
Handuk itu lalu dilemparkan ke arah Nicorazón. Kemudian Primavera memberikan isyarat agar Nicorazón mengeringkan rambutnya dengan handuk itu. Nicorazón pun mengangguk. Dan bernapas lega saat Primavera meninggalkannya.
Ia pun mengeringkan rambutnya dengan handuk tersebut. Dan tiba-tiba merasa ada yang menyentuh handuk tersebut. Dengan cepat ia melompat lagi dari kursinya dan melempar handuk itu.
Jantungnya berdetak dengan kencang. Melihat sekelilingnya tidak ada siapa-siapa. Ia sangat terkejut saat ponselnya bergetar. Hampir saja ia melempar ponselnya jika ia tidak segera menyadarinya.
Sebuah panggilan masuk. Namun tidak ada nomor yang muncul. Ia mengernyitkan keningnya. Merasa tidak nyaman dan tidak berani mengangkat panggilan tersebut.
Lalu sebuah pesan muncul.
Bersambung...
__ADS_1