
Hari ulang tahun di kartu undangan tiba. Siang itu gadis yang berulang tahun menemui Esperanza dan Gris.
"Esperanza, boleh aku pinjam Gris sebentar?" tanyanya sambil tersenyum.
"Aku tidak mau!" protes Gris.
"Hanya untuk memeriksa vidio kok. Kami butuh bantuan," ujar gadis itu.
"Aku tidak tahu apa-apa soal vidio."
"Kamu yakin?" tanya gadis itu memperlihatkan sesuatu dari ponselnya.
"Menurutmu ini asli atau palsu?" lanjutnya.
Esperanza mengernyitkan keningnya. Ia penasaran tentang vidio yang dimaksud oleh gadis itu. Tapi Gris segera menarik gadis itu lalu pamit meninggalkan Esperanza.
"Apa maumu sebenarnya?" tanya Gris saat ia dan gadis itu berada di sebuah ruangan.
"Jadilah kekasihku, akan aku kembalikan kemampuan yang pernah kamu miliki."
"Omong kosong, memangnya kamu siapa?"
*Srat!
Pipi Gris terasa di sayat oleh sesuatu. Gadis itu tersenyum. Lalu membuat gerakan lanjutan. Gris terluka meski tidak ada benda tajam mengenainya.
"Tidak perlu tahu siapa aku. Tapi yang jelas aku sudah lama menyukaimu. Untuk apa terus menempel pada gadis yang ditakdirkan mati dengan tragis?"
Gris terbelalak mendengarnya. Luka-lukanya disentuh gadis itu dan sembuh. Dan gadis itu membelai pipi Gris. Tidak ada tanda-tanda luka apapun di sana.
"Tepat di hari ulang tahunku. Aku akan memberikanmu kekuatan. Tapi sebagai gantinya, kamu harus harus membantuku menghabisi Nicorazón dan Esperanza!" serunya.
"Jika aku menolak?"
"Aku akan memberikan vidio bukti kejahatanmu pada Esperanza!"
"Lakukan saja sesukamu!"
Gris meninggalkan gadis itu.
Malam acara ulang tahun Gris melarang Esperanza pergi.
"Om Te Apoyo sudah mengizinkan, jangan melarangnya pergi," ujar Brillo.
Lalu Gris juga melarang Brillo dan Nicorazón untuk pergi. Tentu saja hal itu membuat Brillo kesal. Di tambah lagi Gris mengatakan hal yang tidak-tidak tentangnya. Brillo ingin memukul Gris tapi sudah didahului oleh Nicorazón.
"Kalau tidak mau ikut, jangan bicara yang tidak-tidak tentang Brillo!" seru Nicorazón dengan manik mata yang berwarna merah.
__ADS_1
Lalu ia merangkul Brillo masuk ke mobil.
Akhirnya Esperanza pergi juga dengan ketiga pengawalnya. Penampilan Esperanza sangat cantik. Hasil dari kreatifitas tangan Gina.
Di sepanjang perjalanan Gris dan Esperanza tidak saling bicara. Gris menoleh ke luar jendela. Ia mengernyitkan keningnya. Sebab ia melihat sosok aneh di balik jendela.
"Apa itu tadi?" batinnya.
Sesampainya di tempat acara pesta ulang tahun, Brillo tercengang. Gedung besar dan mewah itu tampak seperti kuburan di matanya. Ia melirik Gris sekilas. Lalu melihat Esperanza yang sedang berjalan masuk diikuti oleh Nicorazón.
"Ini buruk. Apa Gris sudah merasakan firasat buruk sehingga melarang kami datang? Aku harus beritahu Nicorazón. Kami harus kembali pulang."
Tapi terlambat. Nicorazón dan Esperanza sudah masuk. Gris juga masuk dan ditahan oleh Brillo.
"Kalau mau mundur sekarang, itu sudah terlambat," kata Gris melangkah masuk.
Di dalam banyak orang berpakaian pesta tapi Brillo melihat hal yang berbeda. Orang-orang dengan penampilan yang menyeramkan sedang memandang ke arah Gris dan dirinya.
"Brillo, kamu datang juga? Mau aku ambilkan minuman?" tanya seorang gadis.
Saat itu Gris berjalan mendekati Esperanza dan Nicorazón tapi dihadang gadis yang sedang berulang tahun.
"Aku senang akhirnya kamu datang. Tawaranku masih berlaku."
"Aku setuju!" seru Gris sambil menatap Esperanza yang sedang tersenyum dan Nicorazón yang ada di sampingnya.
Gadis itu menggandeng Gris menuju atap gedung. Esperanza melihat hal itu dan mencoba mengikuti mereka. Beberapa langkah berjalan ia mendapat sebuah pesan.
"Aku sudah putus dengan Esperanza, berikan apa yang kamu janjikan!" seru Gris.
"Tentu saja, tapi aku akan melakukkannya dari bibir ke bibir. Biar lebih romantis," ujar gadis itu menggoda Gris.
Secepatnya Gris menarik gadis itu dan menempelkan bibirnya ke bibir gadis tersebut. Pada saat itu Esperanza berhasil menemukan lokasi keberadaan mereka.
"Gris... ini tidak benarkan?" Tangisnya.
Ia mengepal ponselnya.
"Sejak kapan kalian sudah saling mengenal? Apa benar kamu dan Dorado__" ucap Esperanza terputus.
"Ya itu benar. Aku dan Dorado satu kelompok dan menghancurkan negara Nicorazón. Memangnya kenapa?"
Dengan cepat Esperanza melangkah dan menamparnya.
"Beraninya kamu menamparku!" bentak Gris kasar lalu mencekik Esperanza dan mendorongnya.
Nicorazoón berlari dan menangkapnya.
__ADS_1
"Kita putus! Aku membencimu!" teriak Esperanza.
"Itu bagus. Tadinya aku ingin melepaskanmu sebab aku masih berbaik hati. Tapi kali ini sekali pun kamu jadi tumbal, aku tidak keberatan," ujar Gris sambil menggandeng gadis yang ada di sampingnya.
Beberapa orang datang dan menangkap Esperanza dan Nicorazón. Tanpa perlawanan yang berarti mereka berdua berhasil di ikat.
"Bawa mereka ke museum!" ujar gadis itu.
Kepala Nicorazón berdarah dan sepanjang perjalanan dia pingsan. Sedangkan Esperanza tidak bisa meminta pertolongan karena mulutnya ditutup dan tangan serta kakinya diikat.
Estrella yang ada di rumah tiba-tiba ditarik oleh Lillo ke garasi. Lalu Lillo memberikan sebuah kode pada Estrella untuk masuk dan membawanya pergi.
"Kita mau ke mana? Menjemput mereka? Memangnya acara pestanya sudah selesai?"
Setiap pertanyaan Estrella dijawab dengan gonggongan oleh Lillo dan sepanjang jalan Lillo melolong. Estrella menyuruhnya diam tapi Lillo tidak mau diam. Dan terus mengarahkan Estrella ke arah gedung museum.
"Hei, bukankah kamu ingin aku menjemput Brillo? Dia ada di pesta. Bukan di sini!"
Estrella melihat sekelilingnya. Lillo segera turun.
"Untuk apa kita ke sini. Ini museum. Dan sekarang sudah malam. Gedungnya juga sudah tutup," gumam Estrella mengajak Lillo pulang.
Tapi Lillo mengeraskan tubuhnya dan menarik Estrella masuk. Melompati pagar.
"Kalau ketahuan. Habislah kartu kreditku!" gumam Estrella tidak berdaya.
Lillo mengorek tanah lalu mengambil sesuatu dari sana. Sebuah kalung yang di simpan Nicorazón di sana. Bentuk mainannya sebuah pedang. Saat Estrella menyentuhnya. Kekuatannya kembali. Bahkan lebih kuat dari sebelumnya.
Ia bisa melewati pintu yang tertutup begitu juga dengan Lillo dan melihat Brillo bertarung dengan beberapa orang di gedung itu.
"Kakak? Bagaimana bisa ada di sini?" tanya Brillo.
Tapi Estrella tidak menjawab dan membantu adiknya. Setelah mengalahkan orang-orang di sana. Lillo memandu mereka ke sebuah ruang rahasia. Tempat Esperanza dan Nicorazón berada. Esperanza tampak terikat dan menangis di sana.
"Gris... kamu penghianat!" teriak Estrella saat melihat Gris duduk di sebelah gadis yang menjadi kekasih barunya.
Gadis itu turun dari kursinya. Lalu mendekati Estrella. Saat ia hendak menjatuhkan Estrella, saudari Brillo lebih dulu menyerangnya. Brillo membantu Esperanza dan melepas ikatannya. Begitu ikatannya lepas, Esperanza memeluk Nicorazón dan mencoba membuat anak itu bangun.
Saat Estrella bertarung dengan kekasih baru Gris, ia kalah. Namun ketika kekasih baru Gris mencoba menikam Estrella, Gris malah datang di tengah-tengah mereka dan menikam kekasih barunya. Dengan sebuah pedang yang tiba-tiba muncul dari tangannya.
Pedang itu tidak hanya melukai gadis tersebut tapi juga menyerap seluruh tubuhnya dan kemudian pedang itu menghilang. Berpindah ke alam kematian.
"Tugasku sudah selesai sekarang giliranmu!" batin Gris dan hal itu tersambung pada pangeran kematian.
Dalam bentuk makhluk pencabut nyawa Nicorazón duduk di singgasananya. Menerima pesan yang disampaikan oleh Gris. Di hadapannya muncul seorang gadis dengan sebilah pedang menancap di jantungnya.
Pangeran kematian itu tersenyum.
__ADS_1
"Kalian menipuku!" seru gadis itu.
Bersambung...