
Meskipun Vivina selalu mengingatkan pada dirinya sendiri, jika yang ia lihat hanyalah ilusi. Tentu saja bukan perkara yang mudah, jika ia melihatnya secara tiba-tiba. Bahkan terkadang ilusi itu seolah nyata.
Hal itu juga berpengaruh pada pekerjaannya. Sehingga membuatnya jadi sering tidak fokus. Oleh karena itu ia pun akhirnya meminta izin untuk beristirahat.
Ros sebagai kepala pelayan pun memberikan izin. Setelah dilihatnya wajah Vivina sangat pucat. Ia pun berpikir jika Vivina benar-benar sedang sakit.
Beberapa hari kemudian setelah pemakaman Bibi Kinan, Lina terjaga di tegah malam. Ia seperti mendengar suara Bibi Kinan memanggil namanya. Tapi karena sadar Bibi Kinan telah tiada, Lina hanya berusaha bersikap seolah tidak mendengar apa pun.
Kali ini bukan akibat obat herbal palsu dari Om dan Tante Dion. Karena beberapa hari ini Vivina masih trauma akibat meminum kopi yang ia dapatkan dari majikan keduanya atau Tante Dion. Saat trauma Vivina bahkan tidak berani menyentuh baik kopi mau pun obat herbal khusus untuk majikannya. Dan juga Lina tidak minum kopi.
Dan hari-hari itu Dion kembali bekerja. Anehnya hari ini ia melihat bayangan hitam di balik punggung seorang karyawannya. Dan hanya pada orang tersebut. Karena merasa tidak nyaman ia pun pulang lebih cepat dari biasanya. Ia tidak mau menambah pikiran tentang bayangan hitam tersebut yang masih jadi misteri. Dan kepulangannya disambut gembira oleh istrinya.
Saat di rumah Dion teringat akan janjinya untuk mengunjungi panti asuhan tempat istrinya dibesarkan. Dan akhirnya mereka pergi berkunjung tanpa memberi pemberitahuan. Tujuannya untuk membuat kejutan. Dan tidak lupa mereka memesan hadiah untuk anak-anak panti asuhan yang lain atau yang masih tinggal di sana.
Kedatangan mereka disambut gembira oleh Ibu panti. Tapi sayangnya Dion bersikap tidak sopan. Saat ibu panti menyalaminya dan istrinya ia malah bersikap menghindar. Dan semua itu karena ia juga melihat bayangan hitam di balik punggung ibu panti. Tadinya rencana mereka ingin berlama-lama. Tapi karena merasa tidak nyaman ia cepat-cepat mengajak istrinya pulang.
Melihat gelagat Dion, istrinya jadi salah tingkah. Tidak biasanya dia seperti itu. Ia tidak mau menyalami tangan ibu panti tersebut juga tidak mau masuk. Seketika rasa sedih di hati Lina melihat ibu panti tiba-tiba kehilangan senyumannya. Ia jadi merasa berkecil hati.
Lina jadi merasa kalau suaminya sudah merendahkan wanita yang sudah membesarkannya. Tapi ibu panti segera mengerti perasaan Lina, ia berbicara seolah ia tidak apa-apa.
"Oalah... kalian cuma mau mampir ya. Haduh maafin ibu jadi ngerepotin kalian." katanya tersenyum lembut.
"Eh iya bu. Kami pamit dulu ya." ucap Lina mencium punggung tangan yang menyuapinya sejak kecil.
__ADS_1
Dion bahkan tidak menatap ibu itu, segera ia pergi menuju mobilnya yang di parkir di tepi jalan. Begitu Lina masuk mereka segera pergi. Lina masih menyempatkan diri untuk melambaikan tangannya pada wanita yang sudah berumur tersebut.
Di perjalanan Lina dan Dion tidak berkata apa-apa. Keduanya hanya memikirkan perasaan dan pikiran mereka masing-masing.
Saat malam tiba Lina meminta Vivina membuatkannya susu untuk ibu hamil dan itu di manfaatkan Vivina untuk mencampur obat herbal palsu ke susu majikannya. Karena sudah lama, dan efek dari kopi yang ia minum pun sudah hilang, jadi ia mulai beraksi lagi.
Saat Lina tidur, Dion masih di ruang kerjanya. Ia sudah mengantuk tapi pekerjaannya belum selesai. Masih banyak berkas untuk diperiksa dan ditanda tangani. Jadi ia pun meminta pelayannya, untuk membuatkannya kopi. Saat Vivina melihat seorang pelayan hendak membuatkan kopi untuk Dion, Vivina menawarkan diri untuk melakukannya.
Tok! Tok! Tok!
"Permisi," ucap Vivina.
"Ada apa?" tanya Dion.
"Aku tidak menyuruhmu." ucap Dion.
"Ah iya tuan, tadi Ros tiba-tiba sakit perut, jadi dia meminta saya yang buatkan." kata Vivina berbohong.
Vivina semakin pintar berbohong, ia bahkan tidak terlihat mencurigakan. Padahal ia sudah menukar bubuk kopinya. Vivina memang tidak menukar bubuk kopi sekaligus, tujuannya agar tidak mencurigakan bagi pelayan yang lain bagian dapur.
"Baiklah kau sudah bisa pergi sekarang." kata Dion saat melihat Vivina masih diam di tempat setelah meletakkan kopi di atas meja.
"Terimakasih tuan, permisi." pamit Vivina.
__ADS_1
Saat pamit Vivina menyempatkan diri untuk mencuri panjang pada Dion. Diam-diam ia menyimpan perasaan pada tuannya. Tapi apa daya, ia yang lebih lama mengenal Dion tapi justru Lina yang menjadi pendampingnya. Gadis yang hanya lulusan SMU dan hanyalah buruh pabrik yang dimiliki oleh Kakek Dion.
"Mujur sekali nasipnya." batin Vivina kesal.
Ia bahkan tidak berani bermimpi bersanding dengan Dion cucu seorang konglomerat di kota itu. Jadi ia cukup terkejut saat tau latar belakang istri Dion. Bukan hanya dia, bahkan semua orang yang mengenal Dion merasa heran dengan pilihannya yang jatuh pada Lina. Gadis yang biasa saja. Vivina akui kalau Lina memang cantik. Tapi gadis cantik dan terpelajar sudah dari dulu selalu mengerubungi Dion seperti lalat mengerubungi sepotong daging.
"Ah biarkan saja, jika aku tidak bisa mendapatkannya lalu apa salahnya jika dia lenyap saja." pikiran buruk pun merasuki Vivina.
Ke esokan harinya Lina kembali ketakutan. Tapi kali ini dia tidak histeris seperti biasa. Sejak kepulangan dari panti asuhan Dion dan dia tidak memiliki komunikasi yang harmonis. Lina berusaha menenangkan dirinya sendiri. Tapi hal itu tidak bisa ia sembunyikan dari suaminya.
Dion yang tau menjadi kesal. Kenapa setelah kembali dari panti asuhan istrinya jadi begitu lagi. Timbul rasa curigaya pada ibu panti asuhan. Tapi kemudian Dion berpikir "Apa untungnya jika ia melakukan ini pada Lina?" tanyanya dalam hati.
Sesaat Dion teringat jika saat ia melihat bayangan hitam di balik punggung Bibi Kinan dan tiga hari setelahnya ia meninggal.
"Apa ini maksudnya? Orang yang kucurigai justru telah tiada." Dion pun bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Ia kembali menghungi Paranormal yang waktu itu dibawa oleh temannya. Tapi kali ini ia gagal. Lina masih melihat sesosok roh halus yang tidak mau pergi. Sosok yang ia kenal. Dengan wajah dan kepala yang berlumuran darah. Jika selama ini yang ia lihat cuma diam, maka kali ini berbeda. Ia seperti berusaha mengucapkan sebuah kalimat. Tapi entah kenapa yang terdengar oleh Lina hanyalah seperti sedang memanggil dirinya.
Paranormal kebingungan, ia sendiri tidak mampu melihat sosok yang Lina lihat. Tapi ia merasakan aura yang kuat dan tidak mau pergi. Berkali-kali Paranormal itu mencoba mengusir mahluk halus tersebut dan berkali-kali juga ia gagal.
Tapi sebenarnya mahluk halus itu tidak bermaksud jahat pada Lina, ia hanya ingin menyampaikan kalau...
Bersambung..
__ADS_1