Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Mama Malika


__ADS_3

Nicholas pun kalah. Dan akhirnya melepaskan cincinnya. Si bungsu menerima dengan gembira tapi saat hendak memakainya, ia merasa ragu. Ia mengingat kalau kakaknya tidak pernah kalah darinya saat bermain game tersebut. Tapi kenapa kali ini dia bisa mengalahkannya.


"Kakak mengalah ya?" tanya si bungsu.


Nicholas hanya mengangkat alisnya kirinya. Lalu si bungsu mengembalikan cincin tersebut. Entah kenapa ia jadi merasa tidak senang.


"Sebenarnya Kakak suka tidak, pada Teresia? Kenapa Kakak mengalah padaku?"


"Kamu itu saudaraku, untuk apa kita berebut satu gadis?"


"Tapi jika Aku jadi Kakak, Aku akan mempertahankan gadis yang aku cintai. Tidak akan kuserahkan meski pada Kakak sekalipun!" ucap si bungsu dengan tegas.


"Kau sudah besar ya sekarang, lalu kenapa kamu kembali menyerahkan cincin ini padaku?" ucap Nicholas sambil mengenakan cincin itu ke jari manisnya.


"Ini tidak adil untuk Teresia, karena kita seperti menjadikannya barang taruhan," ucap si Bungsu dengan raut wajah tidak senang.


"Lalu bagaimana supaya adil?" tanya Nicholas santai.


"Aku akan mendekatinya perlahan-lahan dan bersaing dengan Kakak."


"Wow aku takut sekali, kalau begitu aku lamar saja Teresia besok," jawab Nicholas.


"Kakak!" bentak adik Nicholas dan dengan kesal ia memukuli saudara tertuanya dengan bantal.


Nicholas tertawa dengan sangat keras, sampai mama mereka pulang merasa heran. Tapi kemudian cuek saja. Ia sedang pusing. Banyak pelanggan menanyakan Teresia. Tapi Teresia sudah pulang dan tidak bisa menjadi model pakaian di butiknya lagi.

__ADS_1


Ke esokan harinya kabar buruk mengejutkan keluarga Ray dan meminta keterangan. Kabarnya salah satu murid hilang. Dan ada yang melaporkan kalau Ray pelakunya. Jadi untuk membela diri Ray harus menjawab beberapa peryanyaan. Karena hal itu Ray jadi tidak bisa pergi ke sekolah.


Sementara putri kepala sekolah menangis karena temannya menghilang. Ia menyesal mengganggu Ray tapi juga marah. Sebab dalam sangkaannya Ray yang telah menculik temannya. Dan saat itu ia tidak mau pergi ke sekolah. Sampai murid itu di temukan dan Ray dijebloskan ke penjara.


Setelah tiga hari temannya belum juga ditemukan. Putri kepala sekolah pergi menemui Malika bersama dengan kelompoknya untuk membuat perhitungan.


"Lihat perbuatanmu! Sekarang sudah ada satu korban. Apa kau puas sekarang? Dasar anak aneh. Suruh temanmu Ray untuk mengembalikan temanku ! Sekarang!" bentaknya histeris di ruang kelas Malika.


"Kenapa kau tetap menuduh Ray, memangnya kau punya bukti?!" elak Malika.


"Hey lepaskan Malika!" ujar Tomi.


"Kalau sampai temanku kenapa-kenapa, aku pastikan kalian akan menanggung akibatnya!" ancam putri kepala sekolah.


Tapi sampai seminggu anak perempuan itu tidak ditemukan di mana pun. Dan Ray terpaksa harus diam di rumah sebab ia lagi-lagi dicurigai sebagai tersangka. Dion tidak mau timbul masalah yang lebih besar lagi. Dan akhirnya memutuskan Ray untuk berhenti sekolah.


Semua murid ketakutan, terutama yang sudah bersekongkol memfitnah Ray. Mereka semakin yakin kalau Ray pelakunya. Malika pun mendapat pembullyan dengan Tomi. Dan mereka melaporkan pembullyan yang mereka alami pada orang tua mereka.


Tomi mendapat dukungan dari orang tuanya. Dan menuntut setiap anak yang membully putranya. Tapi berbeda dengan orang tua Malika. Mereka menanggapi dengan dingin laporan Malika.


"Buat apa cari masalah di sekolah! Kamu itu mau belajar atau mau main-main?!" bentak mama Malika.


Dia tidak menyukai Malika sejak adiknya lahir ditengah-tengah mereka. Malika seolah tidak dianggap. Dan Papa Malika bersikap seolah tidak melihat ketidak adilan yang dialami Malika.


Kasus mutilasi teman sekolah Ray masuk berita. Media masa tempat kerja Fika yang baru tertarik dengan hal tersebut dan mengutus Fika untuk mendapatkan informasi. Dan hal itu tidak disia-siakan oleh Fika.

__ADS_1


Ia mengunjungi rumah sekolah serta kediaman anak yang menjadi korban. Lalu ia mendapat isu kalau seorang anak dicurigai sebagai pelakunya. Anak yang dulu dicurigai sebagai pelaku kejahatan di rumah peninggalan kakek Dion. Yaitu Ray putra kandung Dion sendiri.


Setelah menyelidiki dan mengumpulkan informasi, ia memutuskan singgah ke rumah Dion. Kedatangannya disambut dengan baik oleh Lina. Dan tanpa basa-basi, Fika meminta ijin untuk berbicara empat mata dengan Ray. Lina setuju.


Pertanyaan Fika cukup sederhana. Ia menanyakan keseharian Ray di hari-hari sebelum hilangnya murid sekolah tersebut. Dan dengan gamblang Ray menjawabnya dengan santai. Sebab kegiatannya hanyalah di sekitar rumahnya. Dan hal itu bisa dibuktikan melalui CCTV yang memang sengaja dipasang di rumah itu.


Setelah itu Fika pun bermalam di rumah tersebut. Tidak ada hal janggal yang terjadi selama ia di sana. Lina juga menawarkannya untuk tinggal di sana sampai tugasnya selesai. Dan hal itu disambut dengan baik oleh Fika.


Pagi itu selesai sarapan pagi, ia mendapat laporan kalau salah satu siswi dari sekolah Ray kembali di temukan di depan gerbang sekolah Ray. Dengan kondisi yang sama dengan korban pertama.


Fika kembali memasuki kamar Ray. Memeriksa jalan keluar yang hanyalah satu pintu. Jendela Ray berjeruji besi. Tidak mungkin bisa kabur. Sementara Fika dengan bebas membongkar kamarnya Ray memilih berdiam diri di perpustakaan keluarga di rumahnya. Sekilas ia jadi teringat tentang mimpinya.


Entah kenapa dadanya terasa sesak. Jantungnya berdetak kencang dan ia merasa tidak nyaman. Dan setelah melihat Fika keluar dari kamarnya. Ia pun masuk ke kamarnya dan beristirahat. Fika sempat melihat wajah pucat Ray dan melaporkannya pada Lina. Ray menolak diperiksa oleh dokter. Dan ia minta agar tidak diganggu.


Fika pun mengunjungi tersangka berikutnya yaitu Tomi. Tapi Tomi bahkan terlihat lebih tidak masuk akal untuk dinyatakan sebagai pelaku kejahatan. Mama Tomi bersikap sangat waspada. Sehingga Fika harus menjaga kata-katanya agar tidak menyinggung Tomi dan mamanya. Sebab mamanya tidak mau meninggalkan mereka berdua saja.


Lalu Fika mendatangi rumah ketiga. Ia sangat terkejut. Ternyata itu adalah rumah mantan suaminya. Papa Malika. Ia dipisahkan dari putrinya saat usia putrinya baru satu hari. Lalu ia diceraikan oleh suaminya yang ternyata menikahinya tanpa mencintainya. Tujuan menikahi Fika hanyalah untuk menyenangkan orang tuanya. Tapi diam-diam telah menikah dengan wanita lain.


Namun pernikahan diam-diam mereka tidak mendapatkan keturunan. Sehingga papa Malika menerima Fika sebagai istrinya. Belum genap setahun pernikahan mereka, orang tua papa Malika menutup usia. Malika pun lahir beberapa bulan kemudian.


"Nyonya Fika ada titipan dari suami nyonya." ujar seorang perawat saat ia baru saja siuman.


Fika membuka sebuah amplop yang berisi surat cerai. Fika bingung dan tidak terima. Ia meminta perawat tersebut untuk memanggil suaminya. Tapi perawat itu bilang kalau suaminya sudah pergi beserta bayi mereka. Dan sudah membayar biaya bersalin.


Seperti terkena petir di siang hari. Fika merasa terkejut, sebab keluarga yang ia kira harmonis selama ini, kini sudah hancur. Berhari-hari ia mencoba menerima kenyataannya hingga ia keluar dari rumah sakit. Lalu mendatangi kediamannya bersama suaminya. Kata tetangganya rumah itu sudah di jual. Dan suaminya sudah pergi dengan wanita lain.

__ADS_1


Fika yang sudah sehat mencari pekerjaan dan dengan bantuan dari teman Dion ia mendapat pekerjaan sebagai seorang jurnalis sambil mencari keberadaan mantan suami dan putrinya yang bahkan belum sekali pun ia lihat.


Bersambung...


__ADS_2