
"Apa kamu memberitahukan Alfredo kalau kamu mengetahui identitas aslinya?" tanya Nicholas.
Te Espere menggeleng. Dan saat mereka sedang membicarakan Alfredo, ternyata papa Malika dan Te Apoyo datang menjemput. Lalu membawa Te Espere tanpa mengulur waktu. Tapi Alfredo sudah menyewa mata-mata untuk mengawasi Te Espere. Ia ingin tahu kenapa Te Espere takut padanya sejak awal bertemu.
Lalu saat ia mengetahui kalau Te Espere tinggal di rumah Malika, ia pun menyusun rencana penculikan. Dengan mengajak kencan salah seorang teman sekelasnya. Lalu membuatnya pingsan dan dibawa ke sebuah tempat. Dan mengikatnya.
Alfredo mengambil gambar gadis yang ia ajak berkencan lalu mengirimkannya pada putri kepala sekolahnya yang dulu.
"Apa-apaan ini?" batin putri kepala sekolah tersebut.
Karena ia belum membalas pesan tersebut, maka pesan-pesan berikutnya pun dikirim lagi. Jika diawal tampak seorang anak perempuan diikat. Kini tampak foto anak perempuan yang sama menangis dengan tangan kanannya berdarah. Tampak jarinya sudah putus.
Putri kepala sekolah tersebut mencampakkan ponselnya dan lari keluar kamarnya. Orang tuanya merasa heran padanya. Lalu putrinya melaporkan pesan yang ia terima.
Polisi melacak asal foto-foto tersebut. Dan saat menemukan lokasinya. Ternyata lokasi tersebut sudah kosong. Dan terlihat bercak darah. Yang kemudian dilakukan tes DNA untuk mengetahui pemilik darah tersebut. Dan mencocokkan DNA-nya dengan gadis yang dinyatakan hilang beberapa hari lalu.
Ponsel yang digunakan pengirim sudah tidak bisa dilacak. Polisi kehilangan jejak. Dan Alfredo tetap ke sekolah seperti biasa. Seolah tidak terjadi hal apa pun juga. Dan seolah ia tidak takut ketahuan.
Ia pun mengajak kencan yang lainnya. Dan hal yang sama ia lakukan seperti pada korban pertama tapi di tempat yang berbeda. Kali ini ia mengirim video proses pemangkasan jari kaki murid tersebut pada putri kepala sekolahnya yang dulu.
Dengan cepat putri kepala sekolah membalasnya. Dan menanyakan maksud dan tujuan si pengirim. Di tempat itu polisi sedang berjaga dan menyadap nomor putri kepala sekolah sambil mencari lokasi pelaku.
Tapi Alfredo cukup cerdas, posisinya berbeda dengan posisi pengirim. Sebab ia mengirim video tersebut ke nomor acak. Lalu mengirim perintah pada setiap orang yang menerima kirimannya. Agar mengirim ke nomor yang sama, dan setiap mereka mengirim pesan ke nomor khusus tersebut dan mengirim buktinya, maka mereka akan mendapat pulsa.
__ADS_1
Dan benar saja, pesan berantai itu terkirim dari berbagai nomor dan operator. Sehingga polisi kesulitan untuk melacaknya. Dan setelah ditelusuri semua orang yang mengirim ke nomor putri kepala sekolah, semuanya bermula dari satu nomor. Dan lagi-lagi nomor tersebut sudah tidak aktif, serta keberadaannya tidak bisa dilacak.
Dan hari berikutnya pesan baru muncul kembali. Polisi berhasil melacaknya dan menemukan lokasi korban tapi korban sudah tiada dan dalam keadaan mengenaskan.
Lalu ada pesan tertinggal di jasad korban. Selembar foto Te Espere. Aparat keamanan kebingungan dengan motif pelaku. Dan tersiarlah berita penemuan raga yang sudah tidak bernyawa itu lagi.
Te Apoyo yang melihat berita tersebut menyadari kalau itu adalah perbuatan Alfredo dan melaporkannya pada detektif sahabat Dion. Dan dengan cepat detektif itu mencari keberadaan Alfredo. Tapi tidak ada barang bukti ditemukan di kediamannya.
Karena Alfredo tidak bekerja sendirian. Saat di tahanan. Ia sempat berkenalan dengan beberapa penjahat kelas kakap yang tertarik pada kejeniusannya. Dan sikapnya yang selalu tenang, serta emosi yang stabil. Mereka bahkan ingin mengajaknya bergabung. Dengan begitu kegemarannya untuk menikmati rasa ketakutan seseorang bisa tersalutkan.
Dan ia sudah bekerja sama pada kelompok pelaku kejahatan lainnya dan sebagai imbalan, ia boleh memilih satu korban untuk bahan experimen-nya. Setiap ia akan bermain dengan mainan hidupnya, ia akan berbohong pada orang tuanya.
Ia sudah mengikuti terapi psikologi dan ia berhasil mengelabui dokternya. Sehingga dokternya mengira kalau Alfredo semakin baik. Tapi kenyataannya ia semakin buruk.
Kemudia setelah menculik mama Nicholas ia pun menghubungi Nicholas dengan ponsel Gina. Dan mengancamnya agar tidak melapor pada polisi. Nicholas pun mengikuti petunjuk untuk menuju lokasi mananya diculik.
Tapi ia tidak lupa meninggalkan pesan pada adik-adiknya untuk menghubungi saudara laki-laki mama mereka yang seorang aparat ke amanan. Ia juga mengaktifkan GPS ponselnya agar bisa dilacak. Dan sampailah ia di tempat tersebut.
Tampak Alfredo duduk di sebuah kursi dan dikelilingi pria-pria berseragam seolah body guardnya.
"Lepaskan mamaku! Apa sebenarnya maumu?"
"Te Espere, bawa Te Espere kemari dan mamamu akan kulepaskan."
__ADS_1
Selagi mereka berbicara, Nicholas digeledah. Mencari apakah ia membawa alat penyadap atau kamera tersembunyi di pakaianya. Dan mereka mengambil ponselnya lalu menghancurkannya. Kemudian mereka hendak membiusnya. Sempat terjadi perkelahian sampai akhirnya ia berhasil dibius.
Gina dilepaskan dan ditinggalkan di jalan. Lalu diberi pesan agar membawa Te Espere ke suatu tempat. Dan tidak ada yang boleh mengetahuinya dengan ancaman nyawa Nicholas.
Gina kebingungan, ia tidak tahu harus berbuat apa. Dan ia takut untuk menghubungi aparat keamanan setelah tahu Alfredo bisa berbuat nekat. Ia sangat gemetaran saat melihat Alfredo menyiksa seseorang perlahan-lahan hingga tewas. Dan ia takut kalau hal itu terjadi pada Nicholas mau pun Te Espere.
Gina menghubungi putranya agar menjemputnya di suatu tempat. Dan ternyata saudara laki-lakinya yang seorang aparat ikut menjemputnya. Ia tidak punya pilihan selain menceritakan hal tersebut pada saudaranya itu.
Dan akhirnya polisi menangkap kedua orang tua Alfredo dan menyiarkannya di televisi. Aparat meminta Alfredo muncul dan melepaskan sandra. Jika tidak orang tuanya akan mendapat hukuman karena bekerja sama dengan penjahat untuk melanggar hukum. Tapi Alfredo hanya tertawa melihat berita tersebut. Ia bahkan tidak perduli pada kedua orang tuanya.
"Ambil ini dan hubungi Te Espere sekarang!" perintahnya pada Nicholas.
"Bunuh saja aku!" bentak Nicholas.
Alfredo kesal dan mengepalkan tangannya dan mendaratkan mangga muda di pipi Nicholas. Nicholas pun meludahinya.
"Dasar menjijikkan. Kalau berani ayo kita bertarung satu lawan satu." tantang Nicholas.
"Hahaha kau memang luar biasa. Baiklah ayo kita bertarung!" tantang Alfredo.
Tapi ia bermain curang. Saat ia hampir kalah ia pun melawan Nicholas dengan senjata. Tapi Nicholas berhasil mengelak. Hampir saja Alfredo tewas di tangan Nicholas kalau tidak di tahan para body guard Alfredo yang menyaksikan pertarungan mereka.
"Mulai sekarang, sebelum Te Espere sampai ke hadapanku, kau akan jadi bantalan tinjuku!" ujar Alfredo kesal.
__ADS_1
Bersambung...