Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
(Season 2) Lari


__ADS_3

Berbeda dengan semua orang yang tidur dengan nyenyak, Nicorazón justru bermimpi buruk. Kembali bermimpi tentang peristiwa saat Te Espere dihujam dengan pedang. Dan ia yang baru saja bisa memejamkan matanya, terpaksa kembali bangun dari tidurnya.


"Kenapa om Nicolas dan tante Te Espere muncul lagi dalam mimpiku setelah sekian lama?" gumamnya.


Di negara Esperanza, gadis itu baru saja mendapatkan peenyataan cinta dari sahabatnya. Ia terperangah sesaat. Bingung harus berkata apa. Sekilas bayangan muncul di benaknya. Seolah ia pernah mendapatkan pernyataan cinta dari seseorang yang ia suka. Namun ia lupa.


"Esperanza? Mau, kan jadi kekasihku?" tanya Sahabat Esperanza sekali lagi.


Esperanza tidak menjawab, ia hanya tersenyum dan mengangguk. Dan hari itu mereka resmi menjadi sepasang kekasih. Kabar itu segera disampaikan oleh pria yang bertugas melindungi Esperanza pada Te Apoyo.


"Tidak, ini tidak boleh terjadi. Kenapa kalian tidak menghalanginya? Sekarang kalian harus melalukan sesuatu agar mereka putus!" ujar Te Apoyo saat berada di ruang kerjanya.


Ia terbangun setelah mendapat pesan. Dan pergi ke ruang kerjanya untuk menerima panggilan. Nicorazón yang terbangun akibat mimpi buruk, melihat papanya pergi ke ruang kerjanya.


"Kenapa papa menutup ruang kerjanya? Apa yang ia lakukan malam-malam begini?"


Sekilas Nicorazòn teringat sesuatu. Ia pergi ke kamar dan mengambil ponselnya. Ponsel yang sudah diatur sedemikian rupa, agar apa pun aktifitas di dalam ponsel papanya masuk ke ponsel tersebut. Nicorazón mendengarkan dengan seksama pesan suara yang dikirim ke ponsel papanya yang masuk ke ponselnya juga.


"Baguslah kalau dia sudah punya pacar. Jadi aku tidak perlu repot-repot menyingkirkan gadis itu," batin Nicorazòn.


Tapi kemudian seberkas ingatan muncul dalam benaknya. Ingatan tentang ia pernah merelakan gadis yang ia cintai pada seseorang. Dan mengingat sebuah kalimat yang membuatnya terusik.


"Jika aku mencintai seorang gadis, aku tidak akan menyerahkannya pada orang lain!"


Dan kata-kata itu terus mengiang-ngiang di ingatannya. Tapi ia tidak tahu siapa yang mengatakannya. Ia kesulitan untuk mengingat wajah orang yang mengatakannya. Sampai ia melintas di depan kamar tantenya Te Espere. Ia melihat wajah yang mengucapkan hal itu. Ucapan dari adik ketika Nicholas.


"Kenapa aku merasa seperti bisa melihat masa lalu om Nicholas?"


Ia pun menggelengkan kepalanya dan menganggap ia hanya kurang tidur lalu memikirkan hal yang tidak-tidak. Kemudian menganggap kalau itu benar-benar terjadi. Maka ia pun pergi ke sekolahnya.


"Hei bangun anak anjing!" teriak wanita paruh baya pada Brillo yang ada di dalam tubuh seekor anjing.

__ADS_1


Namun tubuh anjing itu tidak bergerak. Saat dilihat mulut anjing itu mengeluarkan busa dan darah. Hal itu membuat wanita paruh baya itu penasaran. Ia menjolok tongkatnya ke arah anjing itu. Dan tidak ada reaksi.


Karena penasaran ia pun membuka kandang anjing tersebut setelah merasa yakin kalau anjing itu sudah mati. Sebab tubuhnya sudah kaku. Tapi saat ia membuka kandang dan ingin mengeluarkan anjing tersebut, ia terkejut. Anjing itu menerjangnya.


"Ah, sial!" teriak wanita itu.


Lalu aksi kejar-kejaran terjadi. Anjing itu berlari mencari jalan keluar. Ia kebingungan membuatnya berkeliling di rumah itu. Semua pintu dan jendela terkunci rapat.


"Mau lari ke mana kamu!" ujar wanita itu mengayunkan tongkatnya.


Anjing itu mengelak. Dan melihat satu roh yang ada di rumah itu menatapnya dengan tajam. Saat Anjing itu menoleh ke arahnya, roh itu menunjuk ke suatu arah. Yaitu sebuah tombol.


Melihat tombol itu membuat anjing tersebut mengingat sesuatu. Tanpa berpikir panjang ia melompat dan menekan tombol itu. Bunyi sirene terdengar kuat. Memancing perhatian orang-orang. Sehingga beberapa orang berdatangan.


Sirene itu ternyata punya masa aktif. Itu akan berhenti bersuara setelah 30 menit sejak tombolnya ditekan. Petugas kebakaran datang sebab ada beberapa orang menghubungi nomor kontak mereka.


"Adakah orang di dalam?" tanya petugas.


Wanita itu kebingungan, karena ia tidak mengerti bahasa yang diucapkan petugas. Anjing itu terus menyalak. Karena itu, pintu terus diketuk oleh petugas. Sehingga mau tidak mau wanita itu harus membuka pintu.


"Anjingku! Anjingku lepas! Tangkap dia!" teriak wanita itu.


Petugas yang tidak paham bahasa wanita itu hanya melongo. Lagi pula itu hanya seekor anjing menurut petugas tersebut. Wanita itu akhirnya memilih mengejar anjing tersebut yang sudah berlari dengan kencang.


"Gara-gara kalian anjingku lepas!" teriaknya marah-marah.


"Nyonya, anda bicara apa?" tanya satu petugas kebingungan.


"Mungkin dia marah karena anjingnya pergi," ujar petugas lain.


"Atau jangan-jangan wanita ini pencuri anjing?" tanya yang lain.

__ADS_1


Mereka jadi saling berdiskusi. Dan akhirnya memutuskan membawa wanita itu ke dalam mobil. Wanita itu meronta. Tapi petugas tidak melepaskannya begitu saja.


"Hei, kamu beritahu pada nona ada masalah di sini!" teriaknya pada roh yang ada di depan rumah majikannya.


"Dia berbicara pada siapa?" tanya petugas pada yang lain.


Petugas yang ditanya melihat ke dalam rumah namun tidak ada siapa-siapa. Ia bahkan memeriksa setiap kamar.


"Pak, tidak ada siapa pun di dalam!" lapornya.


"Jangan-jangan wanita ini pencuri. Dan komplotannya sudah melarikan diri dari belakang. Cepat lapor polisi!"


"Baik Pak!" Maka polisi dipanggil.


Wanita itu makin meronta. Dan akhirnya ia dibawa ke kantor polisi terdekat. Banyak benda-benda yang dinyatakan hilang ditemukan di dalam rumah mereka. Yang disimpan pada kamar khusus.


"Katakan dari mana kalian mengambil barang-barang tersebut! Di mana tempat persembunyian kalian!" bentak seorang polisi pada wanita itu.


Saat wanita paruh baya sedang berhadapan dengan polisi, majikannya sedang mengusik Nicorazòn. Ia merasuki gadis yang baru saja dikencani oleh Nicorazón.


"Kenapa kamu mengajakku ke mari?" tanya Nicorazón pada gadis itu.


Gadis itu hanya tersenyum. Dan di saat yang sama Brillo datang. Kemudian tiba-tiba ia memegangi tubuh Nicorazón saat gadis itu hendak menghujam pisau ke arah Nicorazón. Tapi hal itu digagalkan oleh seekor anjing yang melompat dan mengigit kaki gadis itu.


"Anjing sialan! Bagaimana kamu bisa di sini? Cepat tangkap dia!" ujar gadis itu pada Brillo.


Brillo mengejar anjing tersebut dengan sebuah tongkat. Dan anjing itu berlari lebih cepat ke keramaian. Nicorazón yang ingin pergi dari tempatnya, dihalangi oleh gadis itu.


"Mau ke mana? Urusan kita belum selesai!" teriaknya.


Lalu gadis itu mengejar Nicorazón dan hendak menikamnya. Tapi kemudian gadis itu terjerembab dengan posisi pisau yang ada ditangannya mengarah dada dan menghujam jantungnya. Nicorazón berhenti berlari saat gadis itu terbaring tidak bergerak.

__ADS_1


"Apa yang terjadi di sini?" tanya seorang gadis yang baru saja tiba.


Bersambung...


__ADS_2