Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
(Season 2) Verde


__ADS_3

"Kamu sudah bangun?" tanya sebuah suara.


Tampak dua manusia bergender sama, sadar dari tidur mereka. Kesadaran mereka belum pulih secara utuh. Lalu saat melihat ke arah suara, yang usianya lebih muda bertanya.


"Siapa kamu?" tanya anak itu.


Yang ditanya tidak paham ucapan anak itu. Tapi ia menerka kalau yang bertanya, pasti ingin tahu siapa dia.


"Perkenalkan, namaku Dorado!" ujarnya.


"Kamu? Kenapa kamu ada di sini?" tanya anak itu lagi.


Kali ini ia bertanya dalam bahasa yang sama dengan Dorado. Bahasa yang digunakan oleh Nicorazón.


"Ah tidak, maksudku bukan itu. Tapi maksudku kenapa kami bisa ada di sini?"


"Kamu tidak ingat?" tanya Dorado sambil menunjuk batang hidungnya.


"Apa kamu yang menolong kami?" kata orang yang dari tadi diam saja.


"Iya!" jawab Dorado dengan tegas.


Kedua orang yang baru sadar itu saling memandang. Lalu memandang ke arah Dorado dengan curiga. Dan hal itu membuat Dorado menyadarinya. Ia menunjukkan sesuatu. Sebuah buku.


Lalu ia memperlihatkan para roh yang terikat padanya. Mereka memiliki rantai yang membelenggu di lehar mereka. Yang terhubung dengan gelang yang ada di lengan kiri Dorado. Sama persis dengan milik anak yang termuda.


"Keturunan ketujuh?" ujar anak itu.


"Ya. Kamu benar sekali. Kita ini sesama keturunan ketujuh. Harus saling membantu."


Dorado mendekat lalu berjongkok di hadapan anak itu. Mengulurkan tangannya. Dan disambut oleh anak itu.


"Kamu belum menyebutkan namamu, siapa namamu?" tanya Dorado sambil membantu anak itu berdiri.


"Namaku Verde," ujar yang ditanya.


"Senang berkenalan denganmu Verde. Dan bagaimana dengan tawaranku?"


"Apa yang aku dapatkan jika menerima tawaranmu?" tanya Verde.


Dodaro tersenyum dan mencari kursi untuk duduk.


"Aku akan memberikanmu kekayaan!" jawab Dorado.

__ADS_1


"Tanpa menerima tawaranmu, aku juga bisa mendapatkan kekayaan. Jika hanya itu yang bisa kamu tawarkan, aku tidak menerima tawaranmu." ujar Verde.


Verde membalikkan tubuhnya, dan mengangguk ke arah pelayannya yang sudah berdiri dibelakangnya. Dan anggukan itu dimengerti oleh pelayannya. Ia mengikuti Verde dari belakang.


Tapi tiba-tiba para roh yang terikat dengan Dorado menghadang mereka. Verde pun berpaling ke belakang dan menghadap Dorado. Lalu mengeluarkan kekuatannya. Mengarahkan roh yang terikat padanya ke arah Dorado.


"Apa hanya ini kemampuanmu?" tanya Dorado sambil menyingkirkan para roh yang menyerangnya.


"Aku tidak ingin melawanmu!" ujarnya yang tiba-tiba berada di hadapan Verde.


"Jika aku mau, aku bisa saja membiarkanmu dikalahkan oleh mereka. Dan jika kamu tiada, maka para roh yang terikat padamu, bisa kumiliki," ujar Dorado lagi.


Verde mengerutkan keningnya. Menatap mata Dorado, seolah mencari jawaban.


"Kamu tidak tahu apa-apa sepertinya," cibir Dorado pada Verde.


"Kalau kamu ingin tahu rahasia keturunan ketujuh maka, berkerjasamalah denganku. Dengan begitu kita bisa menguasai dunia. Apa kamu tidak tertarik?"


"Memangnya kamu pikir aku tidak tahu, kalau kamu mengincar Nicorazón?" tanya Verde.


Ia yakin kalau Dorado tidak berasal dari negara tersebut. Tampak jelas logat bicaranya tidak sama dengan orang yang berasal dari negara Nicorazón. Dan menganggap kalau Dorado datang ke negara itu, pasti mengincar Nicorazón.


"Kamu benar, tapi kamu tidak akan berhasil mendapatkannya jika tidak bekerjasama denganku. Sebab ia memiliki orang-orang yang bersedia mati untuk melindunginya."


"Baguslah kalau kamu setuju."


Dorado melangkah menuju sebuah lemari. Lalu mengambil sebuah buku milik Verde. Dan memberikannya pada Verde.


"Jangan sampai kehilangannya, atau keberadaan kita akan segera diketahui oleh musuh," ujar Dorado.


"Bagaimana bisa ada di tanganmu?"


"Aku tidak perlu menjelaskannya. Yang penting buku itu sudah kembali ke tanganmu," ujar Dorado melangkah ke satu arah.


"Beristirahatlah. Tinggallah di sini bersamaku."


"Apa katamu? Jangan coba-coba mencari keuntungan," ujar Verde.


Dorado menjentikkan tangannya lalu meninggalkan tempat itu. Satu roh yang memahami arti jentikan jari Dorado mendekati Verde.


"Ikutlah denganku nona, kamar kalian sudah dipersiapkan," ujar roh itu.


Verde dan pelayannya akhirnya memutuskan ikut dengan roh itu. Mereka di bawa ke sebuah ruangan yang memiliki banyak kamar. Lalu memilih kamar untuk mereka tempati.

__ADS_1


"Hah? Pakaian wanita?" gumam Verde saat melihat isi lemari di kamar tersebut.


Pakaian itu tampak memiliki berbagai ukuran. Roh yang mengantarkannya ke ruangan itu mengatakan kalau Verde boleh menggunakan pakaian yang ia suka. Setelah itu roh tersebut pergi. Verde menghamburkan tubuhnya ke atas ranjang di kamar itu. Sedangkan pelayanya kini berada di kamar yang bersebelahan dengan kamar yang ia tempati.


Di tempat lain, di negara Esperanza. Ia dan sahabatnya masih berhubungan dengan baik. Menikmati indahnya masa berpacaran. Hingga suatu hari Esperanza mendapatkan beasiswa belajar kedokteran dari sekolahnya. Beasiswa untuk bersekolah di negara Te Apoyo.


Betapa ia sangat gembira akan kabar baik tersebut. Yang telah diatur oleh pengawal yang diutus oleh Te Apoyo untuk mengawasi Esperanza. Membuat sesuatu untuk menjauhkan Esperanza dengan kekasihnya.


"Esperanza, apa kamu akan pergi?" tanya kekasih Esperanza.


"Iya, tentu saja. Belajar kedokteran di negara maju, siapa yang tidak mau?"


"Tapi bagaimana kalau ini bohongan?" tanya kekasih Esperanza.


"Bohong apanya? Ini berasal dari sekolah. Dan kepala sekolah sendiri yang memanggilku. Mana mungkin kalau ini bohongan."


Esperanza dan kekasihnya berdebat soal itu di toko saat mereka sedang menjaga toko. Mereka berhenti berdebat saat pengunjung datang. Saat pengunjung pria itu menatap Esperanza dalam-dalam, kekasihnya berdehem lalu merangkul pinggang Esperanza.


"Jangan terlalu lama melihat kekasihku. Nanti aku jadi cemburu," ujar kekasih Esperanza.


"Oh, kalian sudah jadian? Sayang sekali," gumam pelanggan itu pergi.


"Apa anda tidak jadi beli?" tanya Esperanza.


Pelanggan itu menatap Esperanza dan kekasihnya bergantian. Lalu ia menggeleng. Kemudian berjalan gontai keluar. Ia merasa tidak ada gunanya lagi membeli di toko tersebut. Sebab gadis impiannya sebagai alasan terbesarnya belanja di sana, telah menjadi milik orang lain.


"Yah, dia pergi. Ini pelanggan yang kesekian kalinya gagal membeli karena ulahmu," gumam Esperanza.


"Memangnya aku salah jika melarang mereka menatapmu?"


Esperanza tidak menjawab tapi hanya menggelengkan kepalanya saja. Ia kesal tapi juga tidak bisa marah. Sebab kekasihnya mengatakan hal yang benar.


"Tapi setidaknya jangan menampilkan wajah yang seperti hendak menerkam pelanggan juga," tegur Esperanza.


"Ia... baiklah tuan putri," ujar kekasih Esperanza.


Setelah beberapa jam kemudian, toko pun ditutup. Mereka pulang beriringan di jalan hingga sampai di rumah Esperanza. Lalu berpisah setelah Esperanza mengecup pipi kekasihnya. Pemuda itu pun tersenyum.


Keesokan harinya Esperanza dipanggil ke kantor kepala sekolah. Ia tidak menyangka dengan apa yang ia dengar.


"Maaf Esperanza, beasiswa untuk belajar ke luar negri milikmu dicabut."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2