
Jam istirahat Esperanza memutuskan mencari perpustakaan dengan Gris dan dihadang oleh beberapa orang.
"Wah, sekolah kita di datangi oleh pengemis, tidak bisa dibiarkan," ejek mereka pada Gris.
"Tapi kalau kamu, aku akan beri keringanan, asal mau jadi simpananku," ujarnya lagi pada Esperanza.
Esperanza menahan tangan Gris yang terkepal dan mengajaknya pergi.
"Hei, aku belum siap bicara! Beraninya kamu tidak sopan!" bentaknya pada Esperanza.
"Hei! Kalian, beraninya mengganggu murid baru!" ujar seorang gadis.
"Pergi dari sini, atau aku akan lapor pada guru!" ancam gadis itu.
Para murid laki-laki yang menghadang Esperanza dan Gris pun pergi dengan kesal.
"Kalian tidak apa-apa, kan?" tanya gadis itu pada dua orang yang ia selamatkan.
"Iya, terima kasih," ujar Esperanza namun diacuhkan oleh gadis itu.
Pandangannya tidak lepas dari Gris. Lalu ia tersenyum dan meninggalkan mereka.
"Berhati-hatilah! Perpustakaan ada di sana!" ujarnya lalu meninggalkan mereka.
"Aku tidak bilang mau ke perpustakaan. Dari mana dia tahu kita mencari tempat itu?" tanya Esperanza pada Gris.
"Sudahlah. Ayo kita ke sana," kata Gris.
Sambil menoleh ke belakang. Gadis itu menatap Gris dengan senyuman. Dan Gris tidak menyukainya.
Esperanza memilih buku yang ia suka saat berada di perpustakaan.
"Esperanza sejak kapan kamu mahir bahasa dari negara ini, apa kamu benar-benar membaca semuanya?" tanya Gris saat Esperanza sudah membaca buku ke dua yang ia pinjam.
Esperanza berpikir sejenak. Ia mengenal banyak bahasa padahal tidak pernah mempelajarinya. Terkadang ia sendiri pun merasa heran.
"Mungkin sejak aku sering nonton film dari negara ini," jawab Esperanza ragu-ragu.
"Ya, ya ya tidak heran sih. Kamu kan pintar," ujar Gris kemudian.
Sepanjang jam istirahat Gris menemani Esperanza membaca buku. Sedangkan Nicorazón dan Brillo menghack kamera pengaman di sekolah itu. Dan Brillo mengajaknya keliling sekolah itu.
Dulu ia juga bersekolah di sana sebelum pindah ke negara Nicorazón. Dan sekarang saat kembali, ia tidak perlu bingung untuk mencari tempat yang ingin dia tuju.
Jam istirahat hampir habis. Esperanza beranjak dari kursinya dan mengajak Gris kembali ke kelas. Tapi saat melewati toilet ia ingin mampir sebentar.
"Kamu duluan saja," kata Esperanza dan masuk.
__ADS_1
Tapi Gris memilih menunggunya. Di dalam toilet ada beberapa gadis yang sedang memperbaiki riasannya melihat Esperanza masuk. Muncul pikiran jahat di benak mereka. Satu ember mereka siramkan pada gadis tersebut.
Setelah menyiram air tersebut mereka pergi. Gris sempat melihat mereka melewatinya. Esperanza keluar dengan basah kuyup, membuat Gris sadar apa yang ditertawakan murid-murid perempuan itu.
"Esperanza kamu baik-baik saja?"
"Ia aku baik-baik saja," jawab Esperanza.
Ia harus membersihkan dirinya dari air bekas pel membuatnya lebih basah dari sebelumnya. Gris membuka pakaiannya dan memberikannya pada Esperanza.
"Tidak usah, aku baik-baik saja," tolak Esperanza.
"Kita pulang!" tegas Gris.
"Hah? Kita tidak boleh seperti itu. Tuan Te__" ujar Esperanza terputus.
Lalu menarik ponsel Gris. Tapi Gris balik mengambil ponsel itu dan menghubungi seorang supir.
"Gris mana mungkin kita kembali hanya karena masalah ini," rengek Esperanza.
Ia mengira kata pulang yang dimaksud oleh Gris adalah pulang ke negara mereka. Tapi Gris hanya ingin membawa pulang Esperanza ke rumah Te Apoyo.
Seorang supir yang menerima panggilan menjawab dan segera bergerak.
"Eh, apa anak-anak sudah pulang sekolah ya?" tanya Lina.
Saat supir berada di perjalanan. Gris mengajak Esperanza pergi. Dan bertemu Brillo dan Nicorazón. Melihat Esperanza basah kuyup mereka jadi khawatir.
"Siapa yang melakukan ini padamu? Ayo kita lapor pada guru!" tanya Brillo dan Nicorazón bersamaan.
"Bukan siapa-siapa. Ayo kita masuk ke kelas saja," jawab Esperanza enggan.
"Tidak, kita akan pulang!" tegas Gris menarik tangan Esperanza.
"Hey, tunggu! Aku akan panggilkan supir!" teriak Brillo.
"Aku sudah memanggilnya," ujar Gris terus menarik Esperanza pergi.
Gadis-gadis yang menyiram Esperanza tertawa dari atas lantai dua, saat melihat Esperanza dan Gris pergi ke arah pintu gerbang.
"Jadi kalian pelakunya?" tanya Brillo setelah melihat rekaman CCTV orang yang keluar dari toilet.
"Iya, memangnya kenapa? Dia hanya orang asing dari negara miskin," ujar salah satu dari mereka.
Ternyata kabar tentang status kewarganegaraan Esperanza, Gris bahkan Nicorazón telah tersebar di seluruh sekolah.
"Kamu akan tanggung akibatnya, kalian pasti akan menyesal!" ancam Brillo lalu mengajak Nicorazón pergi.
__ADS_1
Dan ucapan itu ternyata tidak main-main. Dengan bukti rekaman pengakuan tersebut para gadis dipanggil ke kantor.
Esperanza baru saja turun dari mobil sudah di sambut oleh Gina dan Lina. Lalu membantu gadis itu membersihkan diri.
"Nenek, biarkan aku mandi sendiri, ya... kumohon," ujar Esperanza saat mereka ingin membantunya mandi.
"Ya ampun mereka itu. Aku bukan anak kecil lagi," gumam Esperanza dan mandi dengan air hangat yang sudah dipersiapkan.
Setelah keluar dari kamar mandi dengan menggunakan baju mandi dan melilitkan handuk di rambutnya. Lina dan Gina membantunya mengeringkan rambutnya dan mempersiapkan pakaiannya.
"Ya ampun nenek, aku bukan anak kecil lagi," ujar Esperanza tertawa kecil.
"Kamu ini, masih bisa tertawa ya!" kata Gina.
"Esperanza, kalau ada yang macam-macam denganmu. Jangan diam saja. Laporkan pada tiga pengawalmu itu!" ujar Lina.
"Pengawal? Siapa?" tanya Esperanza bingung.
"Siapalagi? Gris, Brillo dan Nicorazón tentunya. Haduh, buat apa ada tiga orang itu di sana kalau hal seperti ini saja tidak bisa diatasi!" celoteh Gina.
Melihat perhatian tersebut Esperanza bahkan tidak perduli dan memikirkan lagi masalah penyiraman di toilet. Ia merasa sangat beruntung mengenal mereka. Tapi ternyata masalah itu tidak sekecil yang dia kira.
Malam hari kedua orang tua dari setiap anak yang menyiram Esperanza datang untuk meminta maaf. Sebab perusahaan dan pekerjaan mereka sedang diujung tanduk. Begitu mendengar ada yang mengganggu Esperanza, Dion langsung turun tangan mengambil tindakan.
"Nona Esperanza, tolong maafkan kami," pinta mereka memelas.
"Ayo anak bodoh! Minta maaf juga pada nona Esperanza!" bentak mereka pada anak-anaknya masing-masing.
"Sudahlah, tuan dan nyonya jangan berlutut padaku," pinta Esperanza.
"Tidak, jika nona tidak memaafkan. Kami tidak akan berhenti berlutut. Semua salah kami tidak mendidik putri-putri sopan satun," ujar para orang tua.
Setelah Esperanza mengatakan memaafkan mereka, barulah Dion mengizinkan mereka pergi.
"Jangan pernah biarkan orang-orang menyakitimu. Karena kami tidak akan tinggal diam, mengerti?" Dengan penuh wibawa Dion menepuk meletakkan kedua tangannya di pundak Esperanza.
"Dan kamu... ada di mana saat Esperanza dikerjain. Bukankah nenek bilang kamu harus menjaga Esperanza," ujar Gina dan Lina pada Nicorazón.
"Astaga, mereka ini. Jadi hanya aku yang di marahi. Padahal bukan aku saja yang sekolah di sana," batin Nicorazòn protes.
Tapi kali ini dia tidak cemburu atas perlakuan berbeda yang dia terima dengan Esperanza terima.
"Kenapa cuma menyuruhku mengawasinya di sekolah saja? Padahal kalau menyuruhku mengawasinya 24 jam pun aku tidak keberatan," gumam Nicorazón saat kembali ke kamarnya.
"Apa seharusnya aku taruh kamera dan perekam suara saja ya kemarin di boneka itu. Jadi aku juga bisa mengawasinya saat dia sedang tidur," celotehnya lagi.
"Ya ampun, aku sudah gila...!"
__ADS_1
Bersambung...