Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
(Season 2) Semakin Terbiasa


__ADS_3

Semua orang pergi tidur kecuali Nicorazón. Ia masih duduk di dekat perapian setelah orang-orang mengucapkan selamat malam satu per satu. Brillo berhenti melangkahkan kakinya saat menyadari kalau Nicorazón belum beranjak.


"Kamu tidak tidur?" tanyanya.


"Tidak! Di sini hanya ada satu prajurit dan itu adalah aku! Jadi aku akan berjaga malam ini!"


"Sendirian?"


"Ya! Sendirian! Memangnya dengan siapa lagi?"


Brillo menghela napas lalu berbalik ke tempat duduknya semula. Ia menatap Nicorazón lekat-lekat. Ada sesuatu yang membuatnya penasaran.


"Wajah Esperanza dan Te Espere sangat berbeda meski sama-sama cantik. Wajah Nicholas dan Nicorazón juga sangat berbeda meski sama-sama tampan. Uhuk! Aku masih lebih tampan tentunya!" batin Brillo.


"*Tapi kenapa mereka seperti tetap saling memgenal satu dengan yang la*in? Dan perubahan kepribadian mereka sama."


Brillo yang terus menerus mencari jawaban di wajah Nicorazón membuat anak itu merasa risih. Lalu berdiri. Brillo ikut berdiri. Mengira Nicorazón akan pergi tidur.


"Hei, kamu mau ke mana?" tanya Brillo saat menyadari Nicorazón pergi ke arah hutan.


"Bukan urusanmu!" kata Nicorazón.


Lalu ia menyentuh sebatang pohon. Memanjatnya dengan cepat dan bertengger di atas. Brillo tertegun melihatnya. Nicorazón tidak ambil pusing.


"Nicorazón! Turun! Di atas berbahaya!" teriak Brillo.


"Jika ia ketiduran lalu terbangun menjadi monyet tidak masalah. Karena ia pasti tidak akan jatuh. Tapi jika ia bangun dan jadi diri sendiri, bisa-bisa ia jatuh dengan kepala mendarat lebih dulu. Bisa makin bodoh dia!" lanjutnya membatin.


Karena Nicorazòn tidak mau turun. Ia pun terus berteriak. Akhirnya anak itu melompat dan mendarat dengan sempurna.


"Berhenti berteriak, atau kupotong lidahmu jika sampai tuan putri terbangun, akibat suara berisikmu itu!" bisik Nicorazón dengan menempelkan sebilah pisau di leher Brillo.


"I-iya baiklah. Tapi jangan tidur di atas pohon. Berbahaya. Jika kamu jatuh dan terluka, tuan putri pasti akan sedih," kata Brillo bergidik ngeri melihat tatapan tajam Nicorazón.


Putra Te Apoyo itu akhirnya menurunkan pisau yang ia ambil dari para penjahat yang berhasil ia lumpuhkan. Menatap Brillo dengan tatapan tidak suka.


"Berhenti memandangku! Aku tidak tertarik pada laki-laki. Meski hanya kita berdua di dunia ini!" ujar Nicorazón.


Mendengar kata-kata tersebut, Brillo tiba-tiba merasa kerongkongannya kering.Tidak menyangka tindakan konyol anak Te Apoyo akibat salah paham padanya. Lalu ia pun duduk.

__ADS_1


"Aku juga tidak tertarik padamu tahu. Aku hanya penasaran. Kenapa kamu bisa bela diri dan bergerak begitu cepat jika kamu cuma prajurit biasa," kata Brillo dengan cepat mengarang cerita.


"Apa kamu bisa mengajarkanku hal itu?" tanyanya.


"Begitu ternyata. Tentu saja saya bisa! Saya ini seorang prajurit. Dan bukan prajurit biasa!" jawab Nicorazón dengan ketus lalu duduk di tempatnya semula.


"Dengar! Saya bisa mengajarkanmu ilmu bela diri rahasia kerajaan tuan putri. Tapi kamu juga harus memberitahuku cara menggunakan tongkat sihir jelek ini!" ujarnya menunjukkan senjata api yang juga ia ambil dari para penjahat.


Brillo terkejut. Ia tidak menyangka sahabatnya itu diam-diam mengambil senjata-senjata para penjahat. Lalu ia menjelaskan pada Nicorazón cara kerja senjata itu.


"Tapi jangan dicoba pada manusia. Dan jangan lakukan sekarang. Nanti tuan putrimu terbangun karena ini bisa menimbulkan suara bising."


"Tidak perlu mengatakan padaku hal itu. Aku sudah tahu benda ini bisa mengeluarkan suara berisik!"


"Haduh anak ini makin lama makin sombong, ya," gerutu Brillo dalam hati.


Hari makin larut. Nicorazón masih tampak segar dan tidak menguap sama sekali. Sementara putra Malika sudah memiliki kunang-kunang di matanya.


"Ingat untuk masuk ke tenda. Jangan ke mana-mana!"perintah Brillo sambil berjalan ke tenda.


Pagi hari tiba, Te Apoyo bangun lebih cepat. Terkejut melihat putranya tidak ada di tenda. Tapi kemudian ia mendengar suara dari luar tenda. Seseorang tampak sedang berlatih dengan sebuah ranting kayu. Seperti memegang sebuah pedang dan melawan sebatang pohon.


"Saya tidak tidur!" jawab Nicorazón.


Estrella pun terbangun dan keluar tenda. Lalu membangunkan Esperanza.Tapi gadis itu tidak mau bangun. Putri Malika memilih keluar sendirian.


"Om sudah bangun?" tanyanya. Te Apoyo mengangguk.


"Secepatnya kita bergerak menuju kota. Siapa tahu ada seseorang yang bisa kita temui di sana!" ujar Te Apoyo.


Mesin mobil dinyalakan. Api pun di padamkan. Semua orang dibangunkan kecuali Estrella. Nicorazón melarang mereka untuk membangunkannya. Dan memilih menggendongnya ke mobil.


Estrella geleng kepala karena kesal. Tapi Brillo dan Te Apoyo cuma bisa angkat bahu. Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan. Sepanjang jalan hanya ada suara mesin mobil.


Setelah matahari terbit mereka telah tiba di kota yang penuh dengan reruntuhan. Mereka pun turun dari mobil untuk makan. Tapi ketika ingin memanggil Nicorazón untuk makan, kedua orang tersebut sudah terlelap.


"Sebaiknya tutup dan kunci pintu! Ayo kita makan lebih dahulu!" saran Te Apoyo.


Mereka mengambil makanan kaleng dan membuat api untuk memanaskan isinya. Menyantap makanan dan minuman alakadarnya. Sambil sesekali melihat ke arah mobil dan sekeliling mereka. Memastikan semuanya aman.

__ADS_1


Makan dengan cepat lalu mencoba mencari bahan makanan di tumpukan reruntuhan. Tiba-tiba terdengar suara berisik di dalam mobil dan Esperanza menangis sesenggukan. Semua orang berlari ke arah mobil.


"Esperanza? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Estrella membuka pintu.


Begitu pintu terbuka gadis itu berhambur keluar. Ia tampak ketakutan. Lalu bersembunyi dalam pelukan Estrella.


"Tolong selamatkan aku!" teriaknya dalam bahasa yang berbeda lagi.


"Sekarang dia sebagai apa?" tanya Brillo memiringkan kepalanya.


Nicorazón turun dari mobil. Lalu memandang semua orang. Melihat sekeliling dan mengernyitkan keningnya.


"Di mana ini?" tanyanya menggunakan bahasa yang sama dengan bahasa yang diucapkan oleh Esperanza dengan berkacak pinggang.


"Jangan pura-pura tidak tahu, raja jahat!" teriak Esperanza kesal.


"Astaga! Jadi sekarang anak ini seorang raja?" tanya Brillo kesal.


"Jadi prajurit saja menyebalkan, apa lagi seorang raja," gumamnya kesal.


"Mantra apa yang kamu ucapkan rakyat jelata!" bentak Nicorazón.


Ia tidak mengerti bahasa yang diucapkan oleh Brillo tapi ketiga orang yang asing baginya tahu. Te Apoyo tidak ambil pusing lalu menawarkan mereka makanan.


"Hei! Beraninya kamu menawarkan sampah padaku!" teriak Nicorazón jijik.


"Kelak sampah ini yang harus anda makan setiap hari. Lihat sekelilingmu. Kerajaanmu sudah rata dengan tanah!" ujar Te Apoyo.


Kali ini mereka bertiga semakin mahir memerankan peran baru. Dan mensejajarkan pola pikir mereka dengan kedua orang tersebut.


"Itu artinya saat ini anda hanya rakyat biasa," ujar Te Apoyo.


Nicorazón bukan kesal tapi malah tersenyum. Lalu tertawa.


"Bukankah itu bagus, aku tidak perlu menikah secara politik lagi," ujarnya.


"Kalau boleh tahu apa yang kamu lakukan di dalam sampai gadis itu menangis?" tanya Te Apoyo.


"Tidak ada, aku hanya terbangun. Dan tiba-tiba pelayan putri mahkota dari kerajaan musuh ada di sampingku," jawab Nicorazón kesal.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2