Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Ada tapi Tidak Terlihat


__ADS_3

Malam harinya Te Apoyo tidak bisa tidur, sekujur tubuhnya terasa sangat panas. Ia bermimpi Te Espere berada dalam kobaran api. Jadi begitu ia bangun, ia pun segera melihat saudarinya.


Pintu kamarnya terbuka. Te Espere tidak ada di dalam. Te Apoyo segera mencarinya ke dapur. Dari pintu dapur tercium aroma gas yang bocor. Terlihat Te Espere tersenyum, lalu ia menyalakan kompor dan terjadilah ledakan api yang menyambar keduanya.


Beruntung gas tersebut tinggal sedikit sehingga kebakaran akibat ledakan gas tidak terlalu parah. Namun keduanya terluka cukup serius. Dan dilarikan ke rumah sakit terdekat.


"Bagaimana rasanya terbakar?"


Sebuah suara berbisik di telinga Te Apoyo.


Setelah siuman tampak sahabat papa mereka dan Ros berada di sisi tempat tidur mereka. Keduanya tampak cemas. Dan mereka juga di jenguk oleh keluarga Nicholas.


Sahabat Dion atau pun papa Malika membawa mereka pulang saat mereka diijinkan pulang. Mereka masing-masing menempati kamar yang berbeda. Dan ditemami oleh seorang perawat. Pada malam hari suhu tubuh mereka akan terasa sangat panas, sehingga kamar mereka menggunakan suhu ruangan yang sangat rendah.


Dua minggu kemudian Te Apoyo lebih dahulu pulih. Ia sudah bisa bergerak meski bekas lukanya belum hilang. Selama itu pula ia selalu bermimpi berada di dalam kobaran api bersama Te Espere dan kedua orang tuanya.


Pagi itu ia menanyakan letak makam kakek Dion pada papa Malika. Kebetulan papa Malika tahu tempatnya dan dia mengantar Te Apoyo ke makam keluarga. Ada banyak makam di sana. Beberapa diantaranya adalah makam yang sudah sangat tua namun terawat. Te Apoyo tidak melakukan apa pun. Lalu ia dan sahabat Dion pulang.


Ia meminta di antar pulang ke rumah orang tuanya. Sampai di rumah orang tuanya, ia langsung pergi ke gudang. Mengambil sebuah benda yang cukup berat dan terbuat dari besi. Lalu ia menyuruh supir pribadi papanya untuk mengantarkannya kembali ke makam leluher.


*BUGH!


*BUGH!


Palu besi dihantamkan ke makam tersebut, Te Apoyo melampiaskan kekesalannya.

__ADS_1


"Apa yang kalian perbuat selama ini, dan kenapa harus kami yang menanggungnya!" teriaknya penuh emosi.


Berulang-ulang palu besi itu di hantamkan hingga tangannya pun ikut terluka. Barulah ia melepaskan palu itu dan berhenti memukul.


"Apa ini yang kalian inginkan?" tanyanya saat duduk bersujud di depan makam leluhurnya.


Sosok wanita cantik tiba-tiba berdiri di belakangnya. Te Apoyo menoleh kebelakang, lalu berdiri menghadapnya. Wanita itu menatap Te Apoyo dengan tajam.


"Apa yang kamu inginkan?" tanya Te Apoyo.


"Aku ingin balas dendam!" ujar roh Cresentia.


"Bukan aku, atau pun saudariku yang melakukannya dan bukan pula kedua orang tuaku, bukankah ini sangat tidak adil." ujar Te Apoyo protes.


"Bicara keadilan? Hahaha, siapa Kamu yang berani berbicara tentang keadilan di hadapanku?!" tanya Cresentia marah.


"Aku siap melakukan apa saja, asal kamu melepaskan mereka," ujar Te Apoyo lagi. Sambil meletakkan kepalanya di atas kedua tangannya yang terletak di lantai makam.


Cresentia tersenyum dengan sinis, ingatan masa lalunya terulang, saat keluarganya memohon agar dilepaskan. Saat mereka dibakar dan jadi tontonan. Seketika ia menjadi kesal.


Lalu ia melayangkan tangannya ke arah Te Apoyo. Tubuh Te Apoyo terpental dan membentur dinding makam yang rusak. Tapi Te Apoyo tidak melawan. Seolah membiarkan Cresentia melampiaskan kekesalannya. Berkali-kali tubuh Te Apoyo di hempaskan.


Cresentia tidak menyentuh Te Apoyo sama sekali tapi dengan gerakan tangannya saja ia bisa melakukan yang ia inginkan tanpa menyentuhnya. Te Apoyo sudah terluka parah, darahnya bercucuran. Melihatnya yang demikian mengingatkan Cresentia saat mereka dilempari batu.


"Aku tidak mau Kamu mati lebih cepat," gumamnya.

__ADS_1


Lalu ia mendekati Te Apoyo yang tersengal-sengal menahan rasa sakit. Dan berkali-kali batuk dan memuntahkan darah. Tatapan kebencian pada wajah Cresentia tidak seperti sebelumnya. Kini tatapannya berubah sendu.


"Mereka membakar kami sekeluarga hidup-hidup, sebagai hukuman atas kejahatan yang tidak pernah kami lakukan. Jika kau ingin keluargamu lepas dari kutukan maka carilah, orang yang mewarisi darah keturunan keluargaku. Kau akan tahu apa yang harus kau lakukan nanti," ucap wanita cantik itu pada Te Apoyo.


"Tapi sebelum kau berhasil melakukannya, aku akan tetap menawan kedua orang tuamu, mereka akan selamanya berada di dalam ilusi kegelapan yang aku buat dan saudarimu akan selalu tertarik pada api untuk membakar dirinya sendiri. Ilusiku sangat kuat dan kau tidak akan bisa mematahkannya," ujar wanita tersebut.


"Sebenarnya di mana orang tuaku?" tanya Te Apoyo tersengal-sengal.


"Mereka di rumah besar peninggalan kakek dari papamu. Mereka sedang mencari jalan keluar. Mereka ada saat kalian memasuki rumah tersebut. Tapi dengan ilusiku, kalian tidak bisa melihat mereka dan mereka tidak bisa melihat kalian. Mereka akan terus berputar-putar di rumah itu. Dan yang mereka lihat hanyalah kegelapan." tutur Cresentia.


Cresentia perlahan menghilang dan Te Apoyo kehilangan kesadarannya. Supirnya seolah baru sadar dari hipnotis tiba-tiba teringat pada tuannya. Ia pun mencari tuannya di pemakaman keluarga tersebut.


Melihat majikannya babak belur. Ia pun memastikan kalau masih bernapas lalu meminta bantuan. Te Apoyo dibawa ke rumah sakit. Banyak tulangnya yang retak. Dan ia tidak sadarkan diri selama seminggu.


Untungnya Te Espere belum sekalipun melihat api di sekitarnya, sebab ia tidak diijinkan ke dapur untuk membantu memasak setelah ia siuman. Dan ia sedikit trauma pada api.


Namun ketika ia melihat Malika membakar sampah, tiba-tiba ia bergerak dan hendak melompat pada kobaran api. Malika yang melihatnya berhasil menangkapnya. Te Espere memberontak dan ingin memasuki api itu. Malika memanggil bantuan. Te Espere di bawa ke kamarnya. Setelah tidak melihat api ia kembali tenang.


Lalu orang tua Malika membawanya ke psikiater dikatakan kalau Te Espere terkena gangguan mental akibat trauma. Dokter menyarankan agar Te Espere dijauhkan dari benda-benda yang mengeluarkan api.


Dan pada malam hari berurutan suhu tubuhnya menjadi sangat tinggi dan ia hanya bisa tidur di atas tumpukan es. Dan saat es di sentuh oleh kulitnya, secepatnya es itu mencair. Obat penurun demam sudah tidak lagi berpengaruh sama sekali.


Kejadian yang sama juga terjadi pada Te Apoyo. Setiap malam di jam yang sama tubuhnya akan tiba-tiba mengejang. Suhu tubuhnya sangat tinggi. Sehingga ia cukup lama untuk bisa pulih.


Tapi anehnya di jam yang sama suhu tubuh mereka akan menurun dengan sendirinya. Dan sejak saat itu mereka tidur saat pagi hari dan terjaga di malam hari. Tepat di jam yang sama saat keluarga Cresentia dibakar di atas tumpukan kayu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2