
Di tempat yang berbeda Dion juga bermimpi. Di dalam mimpinya ia melihat sebuah taman yang tidak asing baginya. Taman yang sering menjadi tempat bermainnya sejak kecil.
Ada dua bocah sedang bermain di taman tersebut. Yang perempuan berambut pirang dan yang laki-laki berambut hitam. Jika dilihat dari postur tubuhnya, mereka seumuran.
Lalu Dion melihat seorang lelaki tua duduk di kursi taman. Mengawasi kedua bocah yang sedang asik. Dion memandang wajah pria tua itu. Wajahnya mirip dengan seseorang yang merawatnya dari keci. Lalu orang tua itu memanggil kedua anak kecil tersebut.
"Te Espere!"
"Te Apoyo!"
Mendengar orang tua itu memanggil seorang anak perempuan pun berpaling. Wajahnya cantik dengan mata biru kehijauan. Menampilkan deretan gigi putihnya. Mendekati pria tua tersebut. Lalu mengambil permen dari orang tua itu. Dan berterima kasih. Kemudian kembali ke tempat temannya berada.
"Te Apoyo! Kemari... ini ambil bagianmu!" pria tua itu mengulang panggilannya.
Tapi anak itu terlalu asik dengan mainannya. Sehingga tidak mendengarkan panggilan. Dion penasaran dengan wajah anak tersebut. Dan orang tua itu beranjak dari kursinya. Lalu memberikan permen pada anak itu.
Saat melihat sebuah tangan dengan permen di atasnya, anak itu berpaling. Dion tidak bisa melihat wajahnya karena tubuh orang tua tersebut menutupi pandangannya. Tapi terlihat kalau anak itu menggerakkan tangan kanannya untuk mengambil permen tersebut. Dan juga berterima kasih.
Setelah itu pria tua kembali ke kursinya, Dion gagal melihat wajah bocah itu. Sebab ia sudah membelakanginya lagi. Saat Dion melirik lagi ke arah pria tua, orang itu sudah tidak duduk di kursinya.
Dion mengedarkan pandangannya, mencari kemana si kakek tersebut. Dan saat berpaling lagi kini ia juga tidak melihat anak perempuan yang tadi bermain dengan bocah laki-laki tersebut.
Dion memberanikan diri mendekati anak itu. Ia menghampiri anak itu. Lalu memanggil dengan cara yang sama seperti yang pria tua itu lakukan. Lagi-lagi anak itu diam saja, tidak bergeming sedikit pun. Dion menjulurkan tangannya dan mencoba meraih bahu anak tersebut.
Saat bahu anak tersebut disentuh, ia pun berpaling. Tapi belum sempat wajahnya terlihat, anak itu berubah jadi asap hitam dan menghilang. Seketika taman yang indah perlahan-lahan menjadi gersang. Bunga-bunga menjadi layu dan kemudian berubah menjadi penuh semak belukar.
Dion mencoba kabur dari tempat itu. Tapi kakinya terlilit oleh semak duri. Tumbuhan berduri itu tumbuh dengan cepat dan menjalar keseluruh tubuh Dion. Tubuh Dion terasa seperti dicucuk oleh ribuan semak duri yang membelengunya. Dion mencoba melepaskan diri, namun gagal. Dan rasa takut membuatnya terbangun. Dengan peluh disekujur tubuhnya.
Dion mencoba mengatur napasnya, dan menenangkan jantungnya. Lalu ia mendengar nada dering dari kamar sebelah. Kamar yang dihuni oleh temannya.
__ADS_1
"Ya halo..." jawabnya.
Dion masih mendengar jelas suara temannya, sebab kamar mereka tidak kedap suara.
"Ok ok baik baik, aku segera kesana. Jaga dirimu baik-baik sampai aku tiba. Ok ok...!"
Teman Dion terdengar seperti seseorang yang sedang terburu-buru. Ia membuka pintu dengan cepat lalu menutupnya kembali. Terdengar dari decitan pintu. Dion diam saja. Lalu terdengar langkah kaki yang berhenti di depan pintu kamarnya beberapa saat. Dan kemudian langkah perlahan menuju pintu depan.
Suara motor dihidupkan, dilanjutkan dengan suara gerbang dibuka dan ditutup. Lalu suara motor menjauh.
Baru beberapa detik melajukan motornya, teman Dion berhenti di rumah Lina. Melompati pagarnya seperti maling. Menggedor pintunya sambil memanggil penghuninya, sampai yang punya rumah bangun. Lina membuka pintu dengan mengucek matanya.
"Lina, tolong jaga Dion. Ini kunci rumah. Tolong ya!" kata teman Dion saat Lina baru saja membuka mulut hendak bertanya.
Lina bengong saat teman Dion melompati pagar rumahnya lalu melajukan kendaraannya. Lina masih bingung. Suasana di luar tampak masih gelap. Lina menutup pintu. Diliriknya jam dinding masih menunjukkan pukul 00:35.
Lalu secepatnya ia kembali ke kamarnya dan mengambil mantel. Lalu pergi keluar rumah. Membuka dan menutup gerbang. Dan segera menuju rumah Dion. Pagarnya tidak dikunci. Lina segera masuk dan menuju pintu depan rumah Dion.
Pikirannya melayang kemana-mana, kuatir Dion mengalami hal serius. Sementara Dion yang sedang berganti pakaian terkejut. Mendengar suara orang masuk. Dengan terburu-buru ia keluar. Tanpa sempat memakai baju. Lina yang masuk terkejut melihat Dion tanpa baju. Segera ia memalingkan mukanya.
"Lina? Ada apa kamu datang kemari?"
"Apa yang terjadi padamu? Temanmu menyuruhku datang. Aku pikir terjadi sesuatu padamu, makanya aku datang."
Dion diam sejenak. Lalu ia perlahan-lahan kembali ke dalam kamarnya. Meraih baju yang belum sempat dipakainya.
"Apa kamu baik-baik saja? Apa yang terjadi? Kenapa temanmu pergi dengan terburu-buru sekali?"
"Aku juga tidak tau," jawab Dion dari dalam kamarnya.
__ADS_1
Lina penasaran. Apakah Dion menyembunyikan sesuatu, jadi ia menghampiri kamar Dion.
"Jangan menyembunyikan apa pun dariku, jika butuh bantuan katakan saja?"
"Aku kesulitan mengganti celanaku, apa kamu akan membantuku?" tanya Dion sambil mengingat reaksi Lina yang memalingkan mukanya saat melihat Dion tanpa baju.
Lina diam sejenak. Dadanya berdetak kencang. Bukan tidak pernah melihat Dion tanpa sehelai benang. Tapi ini sudah sangat lama. Sampai Lina merasa risih, atau pun kurang nyaman, melihat tubuh suaminya sahnya, tanpa balutan apa pun.
Dengan mencoba mengatur napas Lina meraih gagang pintu. Dia membuka pintu dan mendapati Dion sedang duduk di ranjangnya. Sebagian celananya sudah turun dari pangkal paha. Lina menarik napas dalam-dalam. Lagi-lagi rasa canggung menguasainya. Dion menutupi bagian bawahnya dengan selimut.
Rasanya memalukan melihat reaksi Lina yang memandangnya seperti itu. Tapi kemudian dengan gugup Lina mencoba menenangkan diri. Menanyakan dimana Dion menyimpan celana gantinya. Padahal tampak jelas ada satu lemari yang terbuka menampilkan deretan celana pria. Dan kemudian dengan cepat Lina memilih salah satunya.
"Ayo lepaskan celanamu, biar aku bantu!" ujar Lina.
Dion menyingkirkan selimut yang menutupi bagian bawahnya. Darahnya berdesir. Dan naluri prianya bangkit saat Lina menarik celana yang ia kenaka. Lina merasakan kalau celana itu basah atau pun lembab. Sempat terpikir olehnya kalau Dion ngompol di celana. Tapi indra penciumannya tidak menangkap aroma pesing sedikit pun.
Tanpa sadar Lina melirik ke arah tanda bukti jenis kelamin di KTP Dion. Benda itu tampak mengalami kesulitan. Dion menyadari hal itu menarik kembali selimutnya. Rasanya malu sekali. Ia seperti pencuri ketangkap basah.
"Apa kamu mau ke kamar kecil?" tanya Lina berpura-pura polos.
Dion cuma bisa mengangguk. Lina mencoba menjadi perawat yang profesional. Dipanggulnya tubuh Dion yang hanya mengunakan baju dan celana pendek, menuju kamar mandi. Dion pun masuk ke kamar mandi sendirian. Mengeluarkan isi yang menumpuk di bagian tubuhnya yang tampak kecil diantara kedua pangkal pahanya.
Setelah selesai membersihkan bagian tersebut barulah ia keluar. Diluar Lina menunggu dan membantunya kembali ke kasur. Dion tidak menduga kini Lina lebih berani. Ia juga menarik turun pelindung terakhir milik Dion. Lina tidak memandang wajah suaminya. Benar dugaannya celana pendek itu juga basah atau pun lembab.
Ia menggantikannya dengan yang baru. Dion menahan tangan Lina agar tidak melakukan hal yang membuatnya bangkit lagi. Tapi gagal bagian itu bergerak lagi. Rasanya sangat canggung. Tapi keduanya kini menyadari ada kerinduan akan pelukan hangat yang pernah mereka lakukan saat masih bersama dulu.
Perlahan keduanya saling pandang. Seperti magnet mereka saling mendekat satu sama lain. Lina tidak lagi mencoba memakaikan celana pendek pada bagian bawah Dion sampai akhirnya bibir keduanya bertemu. Dan kemudian melakukan adegan yang harus diskip.
Bersambung...
__ADS_1