
Beberapa hari kemudian. Setelah menggunakan energi yang sangat besar, Esperanza dan Nicorazón tertidur selama tujuh hari. Saat terbangun mereka kembali menjadi diri mereka sendiri.
Esperanza dan Nicorazón saling menatap cukup lama, sampai mereka menyadari ada banyak orang di kamar tersebut. Saat melihat ada begitu banyak orang di sekelilingnya Esperanza pun tampak bingung. Ia tidak ingat tentang kejadian yang dia alami sejak saat pribadinya berubah-ubah.
Ingatan terakhirnya adalah saat ia berhasil melarikan diri dan dibawa oleh Malika ke suatu tempat. Esperanza diam cukup lama dan membuat kewaspadaan sebelum akhirnya ia melihat kedua orang tuanya.
Sementara yang lain menebak, kali ini ia menjadi siapa. Dan di saat yang bersamaan Nicorazòn cuma bengong, dan berpikir kenapa dia bisa berada di kamar yang sama dengan Esperanza. Tidak ada yang menegurnya. Sebelum tahu pribadi mereka saat ini.
"Mama, papa, Gris, kenapa kalian bisa ada di sini?" tanya Esperanza memecah keheningan.
Semua orang tampak lega. Orang tua Esperanza memeluk putrinya dengan pelukan yang hangat.
"Mama, papa, aku rindu kalian."
Gris mendekat dan meletakkan tangannya di atas kepala Esperanza, setelah kedua orang tua Esperanza melepas pelukannya. Tapi gadis itu malah menarik tangan Gris dan memeluknya. Gris merasakan punggungnya seperti ditusuk oleh tatapan mata seseorang. Tatapan menusuk dari Nicorazón.
"Hei! Tidak bisakah kalian jangan berpelukan di sini!" bentak Nicorazón tiba-tiba.
Semua yang ada di kamar spontan menoleh pada Nicorazón. Secepatnya anak itu bangkit dan keluar dari kamar tersebut. Sengaja mereka disatukan di kamar yang sama namun tidur di ranjang yang berbeda. Tujuannya agar seandainya mereka bangun menjadi pribadi lain, keduanya masih mendapati satu orang yang dikenal.
"Nicorazón kamu tidak apa-apa?" Te Apoyo bertanya pada putranya yang tampak kebingungan.
"Kita ada di mana?" tanya Nicorazón.
"Kamu tidak ingat tempat ini?"
Nicorazón diam sejenak lalu berpikir dan mengingat-ingat. Ini adalah vila milik keluarga Malika dan Tomi. Nicorazón memijat keningnya yang terasa sakit. Ada bayangan hitam dalam benaknya. Seperti kenangan tapi sulit untuk ia ingat. Perutnya berbunyi membuatnya sadar dan berpaling pada papanya.
"Kamu lapar, ayo kita ma_," Ucapan Te Apoyo terhenti saat melihat putranya terhuyung dan segera menangkapnya.
Primavera melihat hal itu ikut membantu suaminya. Sementara Esperanza juga turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar dibantu oleh Gris. Lagi-lagi Nicorazón merasa kesal tanpa sadar alasannya apa.
"Bagaimana sekarang? Apa masih pusing?" tanya orang tua Esperanza setelah tiba di ruang tamu.
Primavera pergi mengambil makanan ke dapur untuk putranya. Dan mama Esperanza melakukan hal yang sama. Sementara Gina mendekati Esperanza dan menyingkirkan tangan Gris yang ada di pundak Esperanza.
__ADS_1
"Kenapa merangkulnya terus, ia baru sadar dan tubuhnya lemah," tegur Gina.
Semua orang yang ada di tempat itu sudah mengetahui siapa Esperanza dan Nicorazón di kehidupan sebelumnya. Tentu saja Gina tidak rela melihat Esperanza dekat dengan Gris meski tahu mereka berpacaran.
"Saya tidak apa-apa nyonya," jawab Esperanza kaku.
Gina terdiam tapi ke mudian tertawa.
"Itu karena kamu belum merasakannya. Sebaiknya jangan rangkul-rangkulan dulu," ujar Gina tanpa alasan yang jelas.
"Kasihankan yang tidak punya pasangan," kata Gina lagi.
Membuat Estrella dan Brillo saling pandang. Dan Gris dengan sangat terpaksa bergeser dari tempat duduknya, namun ditahan oleh Esperanza. Sebab saat ini Gris adalah orang terdekatnya. Dan yang lain adalah orang asing.
Esperanza menatap dingin pada Gina yang membuat wanita itu tersenyum kecut. Dan sadar akan situasi saat ini. Tapi ia jadi kesal saat melihat Gris tersenyum dan sengaja memamerkan kemesraan mereka dengan membelai rambut Esperanza.
Pandangan kesal Nicorazón teralihkan saat mamanya datang. Dan mamanya pun menyuapinya. Mulanya ia tidak masalah saat di suapan awal, sampai melihat Esperanza disuapi oleh Gris.
"Aku bisa makan sendiri, aku tidak lemah!" ujar Nicorazón.
Sayangnya Nicorazón mempercepat makannya lalu memutuskan beranjak pergi dari sana. Tapi tubuhnya terasa kaku. Sulit menggerakkannya dan terasa lemah. Akhirnya ia hanya diam saja. Dan menjawab beberapa pertanyaan sederhana.
"Ya sudah kalau tidak perlu apa-apa lagi. Istirahatlah," ujar Te Apoyo lalu menyarankan yang lainnya untuk pergi.
Semua orang pergi tapi Esperanza masih di sana begitu juga dengan Gris. Gris dan Esperanza duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan sofa tempat Nicorazón duduk.
"Gris, bagaimana kamu bisa tiba di sini?" tanya Esperanza penasaran.
"Mereka mengajakku," jawab Gris yang tidak menjawab dengan tepat.
"Apa kamu datang bersama orang tuaku? Apa orang tuaku yang mengajakmu?"
"Pertanyaanmu banyak sekali, apa tidak pusing? Apa kamu tidak suka aku ada di sini?"
Esperanza tersenyum lalu menggeleng.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita ke taman. Udara di ruangan ini rasanya sangat gerah!" ajak Gris.
Ia tidak nyaman dengan tatapan Nicorazón yang seakan ingin menelannya bulat-bulat. Meski saat ini dia tahu pribadi yang ada adalah pribadi anak cengeng dan lemah juga bodoh. Tapi ia tidak bisa lupa pribadi lain, pribadi yang menyimpan kekuatan dari pangeran kematian.
"Ayo," jawab Esperanza membuat Gris merasa lega. Lalu membantu Esperanza berdiri.
"Dia masih lemah, makan saja disuapi kamu mau bawa ke mana? Dia masih kesulitan berjalan," ujar Nicorazón yang terdengar kekanakan.
"Tenang saja, aku akan menggendongnya, aku tidak akan biarkan dia berjalan."
Keberanian Gris seketika muncul akibat sikap kekanakan Nicorazón. Tidak perduli seperti apa tampang anak itu, ia menggendong Esperanza keluar.
"Memangnya kenapa? Dia hanya bocah manja, aku tidak perlu takut," batin Gris.
Setelah mereka pergi, Nicorazón menepuk jidadnya sendiri.
"Apa yang aku lakukan, buat apa aku ikut campur? Bisa-bisa mereka menyangka kalau aku cemburu. Padahal aku hanya khawatir. Aku juga bisa punya pacar. Lihat saja nanti!" gumam Nicorazón kesal.
"Kelihatannya kamu sangat kesal, sayang. Apa anak itu membuatmu marah?"
"Siapa?"
"Siapa lagi kalau bukan Gris?"
"Nenek... memangnya hal apa yang bisa mereka lakukan hingga membuatku marah?"
Gina yang tadinya ingin memprovokasi putra Te Apoyo jadi diam saja. Tapi kemudian ia memeluknya. Tanpa sadar air matanya mengalir.
"Nenek, aku masih hidup. Kenapa nenek menangis?" tanya Nicorazón saat merasakan tetesan hangat air mata Gina.
"Mama kangen...," ujar Gina.
"Nenek kangen putra nenek ya? Tenang saja, kan ada aku. Aku akan menjaga nenek seperti nenek dan mamaku sendiri."
"Oh, sayang... kamu manis sekali," jawab Gina terharu.
__ADS_1
Bersambung...