
Di dalam kamar Dion melamun seorang diri. Tiga hari yang lalu ia mendapat kabar kalau istrinya tenggelam di laut. Kapal yang menculik istrinya sudah di temukan. Namun tidak ada yang menemukan jasad Lina.
Dan karena empat pelaku penculikan Lina ditemukan dalam ke adaan tidak bernyawa maka tidak bisa dimintai keterangan. Dion hanya berharap agar Lina selamat. Meskipun tidak ada bukti yang bisa menandakan kalau Lina selamat.
Dari keterangan pelayan mengatakan kalau Lina pergi menggunakan transportasi online tertentu. Dengan begitu Dion melacak siapa yang mengantarkan istrinya. Dari keterangan supir ditemukan lokasi penculikan Lina.
Bercak darah dari luka goresan pisau serta potongan tali menjadi bukti kalau Lina telah diculik. Dengan bantuan anjing pelacak serta penemuan mobil di pantai menjadi bukti kalau Lina dibawa ke laut. Bercak darah juga ditemukan dibagasi mobil yang ada di tepi pantai. Namun sudah tiga hari keberadaan Lina belum di temukan.
Para penduduk di sekitar tidak menyadari keberadaan Lina. Dan juga tidak ambil pusing tentang berita orang hilang yang disiarkan di layar kaca. Oleh karena itu Dion tidak mendapatkan jejak keberadaan Lina sedikit pun.
Ponselnya berdering, pangilan dari kantor masuk berkali-kali. Namun bukan menjawabnya Dion malah mematikan ponselnya. Namun ia berubah pikiran lagi. Ia mengaktifkan ponselnya lagi. Siapa tau nanti ada yang berhasil menemukan Lina, pikirnya kemudian.
Namun tidak ada panggilan yang ia harapkan masuk. Kini ia menyesali perbuatannya. Mungkin ia sudah terlalu mengekang istrinya. Kalau saja ia tidak melarang Lina keluar rumah selama ada yang menemani, mungkin Lina tidak akan melarikan diri.
"Aku tidak pernah bermaksud menyakitimu. Aku melarangmu keluar, justru karena aku takut kamu terluka sayang..." kata Dion pada foto Lina yang sedang tersenyum ke arahnya.
Namun foto itu tidak menunjukkan reaksi apa pun, sekalipun Dion meneteskan air matanya. Meskipun orang bilang laki-laki tidak boleh menangis.
Tok tok tok
"Tuan ada tamu." kata seorang pelayan.
Dion tidak menjawab, rasanya ia tidak ada janji dengan siapa pun. Pelayan menunggu jawaban di luar kamar. Tapi setelah beberapa menit tidak ada jawaban ia pun beranjak pergi.
"Mana pak Dion?" tanya seorang wanita cantik yang baru pertama kali datang ke rumah.
"Sepertinya tuan masih tidur," jawab pelayan itu.
"Baiklah katakan padanya kalau saya datang kemari," ucap wanita itu.
__ADS_1
"Baik nona." jawab pelayan tersebut.
Wanita itu pun pergi, tapi sebelum melangkah ia menyempatkan diri melirik ke arah kamar Dion. Tapi tanpa berkata apa pun, ia meneruskan langkahnya.
Setelah sore hari, Dion akhirnya ke luar kamar. Dengan pakaian rapi ia pergi ke kantor polisi. Mencari seseorang yang ia kenal untuk menyelidiki keberadaan istrinya.
"Belum ada tanda-tanda keberadaan istrimu. Tapi kami mendapat kabar kalau beberapa hari yang lalu seorang pelayan menemukan seorang wanita terapung pingsan di laut."
Dion membelalakan matanya dan menajamkan pendengarannya.
"Tapi saat tim mendatangi tempat ia di rawat, wanita itu sudah tidak ada." kata detektif tersebut.
Dion menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. Menyapukan kedua telapak tangannya ke wajahnya.
"Apa kau makan teratur?" tanya detektif itu.
Dion diam saja seolah, dan memandang ke arah luar pintu. Seolah mengatakan ia tidak butuh basa-basi itu. Detektif itu pun paham dengan bahasa tubuh yang Dion tampilkan.
Mendengar ucapan itu Dion merasa seperti mendapat angin segar. Setidaknya ada harapan kalau istrinya masih hidup. Tapi mengingat hubungan mereka yang buruk belakangan ini, ia jadi kuatir kalau Lina tidak akan menghubunginya.
"Hei, setidaknya pikirkan pola makanmu dan jaga kesehatanmu. Hanya orang yang sehat yang dapat berpikir dengan jernih." kata detektif itu lagi.
Setelah merasa tidak ada yang perlu dibicarakan Dion pun pergi dari tempat itu. Saat hendak melewati pintu, detektif tersebut menawarkan untuk mengantarnya pulang, namun Dion menolaknya.
Di tempat lain Lina sedang duduk diam di sebuah gubuk kecil. Seorang wanita paruh baya menawarkannya semangkuk bubur.
"Nasipmu sungguh beruntung, kau tetap bisa selamat meski pun tadi malam hujan badai." katanya di sela-sela merapikan barang-barang yang ada di rumahnya.
"Siapa anda?" tanya Lina.
__ADS_1
"Kau tidak mengenalku?" tanya wanita itu sambil menunjukkan ke arah hidungnya.
Lina menggeleng lemah, lalu perlahan menyuapkan bubur hangat itu ke mulutnya.
"Apa kau ingat pernah bertemu denganku?"
Lagi-lagi lina menggeleng.
"Di pantai, di toko tas yang menjual anyaman, aku menyuruhmu untuk meninggalkan suamimu." kata wanita itu memberikan sebuah kisi-kisi dari pertanyaanya. Tapi Lina masih juga menggeleng. Ia tidak mau mengingat apa pun. Kepalanya terasa berat untuk berpikir.
"Ya baiklah, habiskan saja buburmu itu, nanti kita bicara lagi. Aku mau ke kantor dulu." katanya seraya mengangkat keranjang rotan yang bertali lalu menggendongnya di punggung. Kemudian ia mengambil sebuah penjepit yang terbuat dari bambu.
Memakai topi dan masker lalu memakai sarung tangan. "Tidak usah menungguku pulang." katanya. Setelah itu ia pun pergi.
Lina mengamati gubuk kecil itu. Banyak benda-benda memenuhi gubuk sempit itu. Kaleng bekas minuman dan botol-botol kaca serta kardus-kardus dan kertas-kertas di tempatkan secara khusus. Dan ada setumpuk barang yang masih tercampur.
Lina menghabiskan buburnya, lalu meletakkanya di kursi yang ia tempati. Setelah minum segelas air putih ia pun keluar dari gubuk itu. Di luar keadaan sangat asing baginya. Dengan pandangan sayu ia melangkahkan kaki menapaki pasir-pasir yang terhampar bagai permadani.
Ia mencoba mengingat kembali dari arah mana ia datang tadi. Baru beberapa langkah berjalan seorang anak kecil menegurnya. "Bibi dari lautkan? Apa tante melihat bolaku?" kata anak itu.
Lina diam saja, dan terus melanjutkan perjalanannya. Anak kecil itu terus mengikutinya dan long-longan anjing pun membuntuti dari belakang. "Bibi ayo kita ke laut, cari bolaku." kata anak itu menarik tangan Lina.
Lina hanya diam saja mengikuti tuntunan bocah tersebut. Tanpa pikir panjang dan tanpa menolak. Dengan kaki yang tidak beralas tampak jelas jejak-jejak kakinya terukir di pasir. Perlahan-lahan mereka berdua sudah menuju tepi laut.
Seperti dihipnotis Lina melangkahkan kakinya kelaut. Banyak orang di tempat itu, namun tidak ada satu pun yang melihat hal janggal pada Lina. Mereka semua sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
Bahkan saat air laut sudah sampai ke dadanya Lina masih belum sadar. Sementara tubuh anak kecil itu sudah tenggelam seluruhnya tapi sepertinya ia tidak apa-apa. Padahal jika ia adalah anak normal tentunya ia akan kesulitan. Tapi tidak, anak itu terlihat tenang, tidak tampak kalau ia seperti membutuhkan oksigen.
Anak kecil itu pun tersenyum saat air laut sudah mencapai leher Lina.
__ADS_1
Bersambung...