
"Tidak kumohon, lepaskan dia. Sebagai imbalannya aku bahkan bersedia jadi pelayanmu!" teriak Te Epere sambil berlinang air mata.
"Benarkah?" tanya Alfredo dan berhenti melanjukan kegiatannya di leher Nicholas.
Beruntung lukanya tidak sampai pada urat nadi di leher Nicholas.
"Aku senang dengan jawabanmu, kalau begitu beritahu aku, apa yang membuatmu takut padaku saat kita pertama kali bertemu?
Alfredo membelai pipi Te Espere yang basah. Sebenarnya Te Espere tidak mau menjawabnya. Tapi melihat Alfredo yang melirik Nicholas, akhirnya ia pun menjawabnya.
"Aku bisa melihat kalau kau membunuh teman-teman satu sekolah Klara." jawab Te Espere dengan gugup.
"Hei, kenapa kamu berkata begitu, bukankah pelakunya dan aku berbeda?" ujar Alfredo membual.
"Aku bisa melihat masa lalumu, dan aku bisa tahu kalau wajahmu itu bukan wajah aslimu." jawab Te Espere.
"Wow, bagaimana caranya kamu bisa tahu? Ayo jelaskan padaku!" pinta Alfredo sambil meletakkan kedua tangannya di pipi Te Espere.
"Saat kau menyentuhku, aku bisa melihatnya,"
"Oh wow luar biasa," ujar Alfredo sambil bertepuk tangan.
"Baiklah, selain itu apa lagi yang kamu lihat?" ujar Alfredo tersenyum sambil memandangi manik mata Te Espere.
"Aku melihat kalau kau menyukaiku?" ucap Te Espere, namun lebih terdengar seperti sebuah pertanyaan.
"Kenapa kamu ragu? Benar sekali kalau aku menyukaimu. Aku suka rambutmu, manik matamu, kulit halusmu, semua aku suka. Dan aku mau melihat seperti apa jantung dan hatimu? Apakah sudah terukir namanya seperti ucapan para pujangga?"
__ADS_1
Te Espere diam saja. Ia memandang ke arah Nicholas dan lukanya yang terus mengeluarkan darah. Alfredo mendatangi Nicholas. Nicholas tampak bermain dengan cincinnya, seolah mamerkannya pada Alfredo, tapi sebenarnya ia ingin mengingatkan Te Espere tentang kekuatannya yang dibelenggu oleh cincin tersebut. Dan Te Espere menyadarinya setelah melihat Nicholas mempermainkan cincin dijarinya tersebut.
Alfredo yang salah faham, mencoba melepaskan cincin tersebut. Tapi Nicholas mengepal jari-jarinya dengan kuat. Lalu Alfredo menoleh pada Te Espere dan melihat Te Espere melakukan sesuatu pada cincinnya.
Te Espere berusaha melepaskan cincin dari jarinya. Tapi ia kesulitan melakukannya. Alfredo menjadi marah setelah melihat keduanya menggunakan cincin pasangan. Ia mengira kalau Te Espere takut kalau cincin itu lepas dari jarinya, seperti Nicholas yang mempertahankan cincin tersebut.
Alfredo beralih mendekat ke Te Espere. Kemudian ia melepaskan cincin itu dari jari Te Espere. Memperhatikan cincin tersebut lalu memanggil pengawalnya yang ada di luar. Mereka membawa Nicholas setelah Alfredo memberinya kode untuk menghabisi Nicholas dengan jarinya.
Dan hal itu membuat Te Espere murka. Dengan kemampuannya ia menghisap segala roh yang ada di situ. Alfredo akhirnya melihat wujud Te Espere yang mulai menjadi seperti zombi.
"Oh wow ini luar biasa, hahaha, oh ya ampun ini keren sekali. Aku makin suka." ujarnya sambil terbahak-bahak.
"Kau lihat itu Nicholas. Ia bahkan punya dua wajah. Yang mana yang kau suka. Kalau aku kedua-duanya. Apa kau sudah melihat wujud ini sebelumnya? Pasti tidak ya, kalau ia kau pasti menolak bertunangan dengannya. Iya kan?"
Lalu Alfredo mencoba menjamah permukaan kulit Te Espere tapi secara tiba-tiba ikatan tali Te Espere lepas. Dan jika saja ia tidak berkelit dengan cepat maka ia pasti telah terkena hantaman kursi tempat Te Espere diikat.
Mendengar suara ribut dari dalam ruangan Te Espere di sekap, para pengawal datang untuk memastikan kalau Alfredo baik-baik saja. Betapa terkejutnya mereka melihat perubahan wujud dari Te Espere. Dan kekuata Te Espere makin bertambah.
Alfredo makin terdesak. Hampir saja ia kena kursi yang di lemparkan padanya, jika ia tidak dengan cepat berlindung di balik meja. Para pengawalnya mencoba menangkap Te Espere beramai-ramai. Untuk sesaat mereka berhasil menangkap Te Espere.
"Wah, wah, wah, itu tadi seru sekali, belum pernah aku merasa sesenang ini." ujar Alfredo pada Te Espere yang dipegangi pengawalnya.
Alfredo menyuruh pengawalnya Nicholas kembali masuk. Nicholas yang kehilangan banyak darah sudah semakin melemah. Tubuhnya dibaringkan di atas meja tempat Alfredo tadi bermain masak-masak. Dan diikat sehingga Nicholas tidak bisa berbuat apa-apa.
Te Espere sudah tidak bisa menahan emosinya, semakin lama ia semakin menyeramkan dan roh yang berada dalam radius seratus meter terhisap olehnya. Dan ternyata roh wanita yang pernah lama bersemayam di tubuhnya ikut terhisap.
Dengan terkumpulnya kekuatan para roh di tubuh Te Espere, ia menjadi mampu melemparkan tubuh orang-orang yang memegangi tangannya. Lalu pengawal lain mencoba menangkapnya kembali. Dan mereka mengalami nasib yang sama. Mereka terlempar dengan kuat dan terbentur dinding. Sehingga mereka menyemburkan darah akibat tulang punggung mereka yang remuk.
__ADS_1
Melihat situasi makin buruk Alfredo mengancam akan memisahkan kepala Nicholas dari tubuhnya. Ia merasa kalau tidak bisa lari dari Te Espere, jadi ia memutuskan untuk melenyapkan Nicholas terlebih dahulu sebelum Te Espere menghabisinya.
Tapi siapa sangka kalau ia tiba-tiba kesulitan bernapas saat hendak mengayunkan pisau pemotong daging di tangannya. Pisau itu terlepas dari tangannya. Dan ia rubuh seketika. Separuh jiwanya terhisap ke dalam raga Te Espere.
Sebab seketika, Te Espere berpikir untuk mengisap roh Alfredo seperti roh yang sudah lepas terpisah dari raganya. Dan kekuatannya makin tidak terbendung. Ia bahkan hampir menghisap roh Nicholas jika Te Apoyo tidak datang tepat waktu.
Roh Klara tiba-tiba terhisap oleh sesuatu. Dan Te Apoyo yang menyadari hal itu mengikuti roh Klara menuju posisi Te Espere berada. Te Apoyo menyentuh Klara dan keluarlah para roh di tubuh Te Espere. Kecuali separuh roh Alfredo.
Alfredo yang kehilangan separuh rohnya kejang-kejang di lantai dan mengelepar. Detektif menangkapnya lalu mengeledah senjata tajam yang mungkin ia sembunyikan. Detektif menemukan cincin Te Espere di saku bajunya.
"Itu milik saudariku," ujar Te Apoyo.
Cincin itu lalu diserahkan pada Te Apoyo dan kemudian di sematkan pada jari manis Te Espere. Sehingga Te Espere kembali cantik perlahan-lahan. Detektif terkagum melihat hal tersebut.
Sementara polisi yang ikut ketempat itu melepas ikatan Nicholas yang sudah pingsan. Ia pun segera dibawa ke rumah sakit. Alfredo diborgol dan ia pun Dia pun dibawa ke kantor polisi. Iya terlihat mengeluarkan busa dari mulutnya.
Polisi menggeledah tempat tersebut dan mendapati puluhan video kejahatan Alfredo yang tidak memiliki belas kasih. Dan kemudian pengadilan menjatuhinya hukuman mati. Dan kedua orang tuanya dihukum berat sesuai dengan kejahatan mereka.
Banyak masyarakat menuntuk agar exekusi terpidana mati yang diterima oleh Alfredo ditayangkan secara langsung. Namun hal tersebut tidak bisa dikabulkan. Meski begitu Te Espere dan Te Apoyo bisa bernapas lebih leluasa. Sebab detektif memastikan kalau kali ini Alfredo benar-benar mendapatkan hukumannya.
Nicholas sudah sadar setelah mendapatkan perawatan dan donor darah dari saudaranya. Lalu Gina menuntut agar Te Espere berjanji akan menjadi calon istri Nicholas di masa depan.
"Lihat, dia sudah sampai terluka demi kamu, jadi kamu tidak boleh memandang laki-laki manapun lagi. Dan kalau sudah cukup umur kamu segeralah menikah dengan Nicholas." ujar Gina pada Te Espere.
"Hey apa hanya itu yang ada di dalam pikiranmu? Kamu tidak melihatkah kalau sampai sekarang, orang tua mereka belum di temukan?" ujar papa Malika dengan sengit.
Bersambung...
__ADS_1
Bersambung...