Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Gunting


__ADS_3

Ia mengeluarkan gunting kecil dari kantungnya. Lalu berpikir hal apa yang akan ia lakukan. Saat melihat ada tong sampah di dekatnya ia pun menghampiri tong sampah itu. Dia ingin membuang gunting itu. Tapi saat ia hendak membuangnya, seorang wanita hamil memegang tangannya.


"Tunggu," perintah wanita itu.


Ros menoleh ke arah wanita itu. Tanpa sengaja melihat perut buncitnya.


"Ada apa bu?" tanya Ros.


"Ah, begini sebenarnya ibu lupa taruh gunting ibu di mana," katanya menjawab.


Ros menatap gunting yang ada di tangannya. "Apa ibu ini mengira kalau, gunting ini miliknya?" batin Ros.


"Tapi mungkin juga jatuh..., lalu ibu cari kemana-mana tidak ketemu. Mau beli di sana juga tidak ada." katanya kemudian.


"Lalu?"


"Sepertinya kamu mau membuang gunting itu ya? Kalau boleh berikan pada ibu saja ya. Ibu bayarin deh." kata ibu itu melakukan penawaran.


"Oh ibu mau, ambil saja," kata Ros.


Tapi saat ibu itu mengulurkan tangannya hendak mengambil guting tersebut, Ros menarik kembali tangannya. Ibu itu heran akan sikap Ros. Ros sebenarnya jadi ragu untuk memberikan gunting itu. Gara-gara gunting itu dia dipecat. Sekarang apa yang akan terjadi kalau gunting ini ia berikan pada ibu itu.


"Kenapa?" tanya ibu itu heran.


Lalu terlihat ibu itu merogoh tasnya dan mengeluarkan dompet. Menyadari sikapnya yang sudah tidak sopan pada ibu itu, dia pun langsung menyodorkan gunting itu.


"Ini buat ibu saja, tapi apa ibu yakin mau menerima gunting ini?" tanya Ros.

__ADS_1


"Iya, berapa harganya? Segini cukup?" tanya wanita itu seraya menyodorkan satu lembar uang sepuluh ribuan.


"Tidak usah bu gratis kok, saya tadi cuma segan memberikan gunting yang mau dibuang ke ibu. Tapi kalau ibu tidak keberatan ya sudah. Ini ambil saja." kata Ros kemudian dan setelah gunting itu berpindah tangan ia pun segera kembali ke tempat ia duduk tadi.


Ibu tadi ternyata mengekorinya dari belakang. Ros yang menyadari kalau dirinya di ikuti menoleh kebelakang. "Ada apa lagi bu?"


"Ah ini, ibu jadi tidak enak nerima gratisan, ayo kita minum di sana, biar ibu yang bayarin." kata ibu itu dengan ramah.


"Tidak usah bu, saya iklas kok, semoga gunting itu berguna ya. Dan anak yang ibu kandung kelak lahir dengan sehat." ucap Ros.


"Makasi ya nak kamu baik sekali, kelak keturunanmu akan mendapat balasan atas kebaikan kamu hari ini." kata ibu itu. Ros hanya tersenyum.


"Oh iya kamu mau kemana?" tanya ibu itu sambil duduk di sebelah Ros yang sudah duduk duluan.


"Oh mau pulang ke kampung bu," jawab Ros.


"Ah iya, bu." jawab Ros dengan enggan.


"Lalu kapan balik lagi?"


"Balik ke mana?"


"Ya ke sini."


"Sepertinya saya tidak akan balik lagi bu." jawab Ros. Entah kenapa tiba-tiba Ros menceritakan kalau ia sudah dipecat dari tempat kerjanya. Namun Ros tidak menceritakan alasannya.


Mendengar ucapan Ros, wanita itu pun tersentuh. "Kalau kamu masih mau kerja, ayo ikut ibu, kerja di tempat teman ibu kerja. Katanya ada lowongan bagian dapur. Kamu mau kerja bagian cuci piring?"

__ADS_1


Mendengar ucapan ibu itu Ros tidak langsung menjawab. Ia ingat kalau ada banyak kasus anak gadis di jual ke 'Pria Hidung Belang' tentu saja Ros jadi waspada. Ibu itu lalu mengeluarkan secarik kertas lalu menuliskan sesuatu di sana. "Ini alamatnya, ibu tidak bisa antar karena ibu mau pergi. Coba saja, siapa tau diterima. Baru buka soalnya, butuh banyak kariawan."


Saat Ros sedang menimang-nimang tawaran ibu yang menerima guntingnya. Lina mantan majikannya sedang sendirian menjerit histeris. Para pelayan tidak tau apa yang mereka lakukan selain menelepon tuannya.


Pelayan yang menelepon Dion bilang kalau Lina melukai dirinya sambil berteriak teriak. Dan saat Dion sampai di rumah Lina sudah pingsan. Lalu dibawa kerumah sakit karena ia mengalami pendarahan.


Menurut penuturan para pelayan, Lina berteriak sambil memukuli perutnya. Mendengar hal itu tentu saja Dion menjadi cemas. Ia juga marah ke pada Lina. Hanya karena ia memecat seorang pelayan, kini ia malah ingin menggugurkan kandungannya.


Saat Lina siuman dan melihat Dion ada di sampingnya ia langsung membuang muka. Melihat hal itu Dion menjadi jengkel. Dan akhirnya meninggalkan Lina sendirian. Setelah hal itu hubungan Lina dan Dion tidak seharmonis dulu.


Suatu hari Lina pergi secara diam-diam dari rumah tanpa ijin suaminya. Ia menemui temannya yang sesama anak panti asuhan untuk menemaninya ke orang pintar. Sudah berulang kali ia diganggu oleh roh halus.


Dan ketika suaminya tau akan hal tersebut Dion jadi marah. Iya pun menyuruh seorang pelayan untuk mengawasinya agar jangan pergi ke mana pun. Dion kuatir Lina akan melakukan hal buruk pada janinnya.


Saat Lina tidak bisa keluar rumah, datang sebuah paket untuknya. Betapa terkejutnya dia melihat isi paket tersebut. Beberapa lembar foto suaminya dengan wanita lain sedang bermesraan. Lalu ada alamat dan nomor telepon dilampirkan di balik foto tersebut. Dan ada sebuah surat yang mengatakan kalau suaminya sering bertemu wanita itu di alamat yang di lampirkan.


Di bakar api cemburu Lina akhirnnya pergi keluar rumah. Meski dihalangi oleh pelayannya Lina tidak perduli. Ia malah mengancam akan menyayat lehernya jika ada yang menghalangi. Emosinya yang tidak stabil membuatnya hilang kendali dan tidak bisa berpikir jernih.


Segera ia pergi ke tempat yang tertulis di balik foto itu. Tapi sesampainya di alamat itu dia justru mendapati sebuah gedung tua yang kosong.


"Apa ini?" gumam Lina. Lalu ia melihat nomor telepon yang tertera di foto itu dan meneleponnya. Saat menunggu panggilannya masuk, seseorang menyergapnya dari belakang, dan membawanya ke suatu tempat.


Lina disekap di sebuah ruangan yang gelap dan hanya di sinari oleh cahaya lampu kecil. Dengan tangan dan kaki terikat ia duduk di lantai yang dingin. Mulutnya yang ditutup perban membuatnya tidak bisa berteriak.


Terdengar seseorang di luar sedang berjaga di balik pintu. Ia seperti sedang menerima panggilan. "Ya beres, istri tuan sudah kami atasi, tepat seperti yang tuan katakan kalau ia keluar rumah dengan kakinya sendiri. Jadi meskipun ia menghilang tanpa jejak. Tidak akan ada yang tau kalau ia diculik."


Kata-kata yang keluar dari mulut penjaga itu membuat Lina heran, dia menyebut kata 'istri tuan' seolah-olah itu adalah panggilan yang berasal dari Dion. Karena Dion adalah suaminya. Tapi kenapa Dion tega melakukan semua ini kepadanya? Ataukah mungkin penculik ini salah tangkap?

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2