Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Syarat Bantuan


__ADS_3

Te Apoyo tidak memperdulikan kata-kata tersebut. Dan dia memilih pergi menjauh. Diam-diam gadis itu mengikutinya kemana pun ia pergi.


"Berhentilah mengikutiku!" ujar Te Apoyo dengan tegas.


"Memangnya kenapa?"


Te Apoyo tidak menjawab, dan membuat gadis itu makin penasaran. Ia membuntuti saat Te Apoyo pulang. Klara memberi tahukan kalau gadis itu mengikuti Te Apoyo. Kesal melihat tingkah gadis yang mengikuti Te Apoyo, Klara mencoba melakukan sesuatu pada gadis itu. Tapi ia tidak bisa menyentuhnya.


"Coba kamu sentuh gadis itu, agar ia bisa melihatku!" ujar Klara.


Tapi Te Apoyo cuek saja. Ia hanya mempercepat jalannya dan dia mengambil jalur memutar. Di persimpangan jalan ia mempercepat langkahnya dan bersembunyi. Gadis itu gagal menemukannya dan akhirnya pulang.


Ke esokan harinya Te Apoyo tidak pergi ke sekolah. Ia mendapat panggilan dari papa Malika. Dan ia kembali ke rumah Malika. Ada banyak hal yang ingin ia bahas bersama Te Apoyo soal perusahaan.


"Para penanam modal mulai mempertanyakan lagi tentang papamu. Alasan berlibur sepertinya sudah tidak bisa digunakan." ujar papa Malika.


"Jika kamu tidak keberatan. Sebaiknya buat surat wasiat kalau perusahaan itu sudah diserahkan padamu." ujarnya lagi.


"Tapi om, bukankah om yang menjalankannya beberapa bulan ini? Dan perusahaan baik-baik saja kan?"


Papa Malika menjelaskan kalau pihak penanam modal akan lebih yakin, jika perusahaan Dion diserahkan ke putranya, maka pihak penanam modal akan lebih percaya. Dibandingkan jika dikatakan, perusahan diserahkan padanya.


"Jadi besok datanglah ke perusahaan denganku. Kita akan mengatakan kalau kamu dipercayakan memengang perusahaan."


"Tapi paman apa mereka percaya pada pelajar kelas 10?"


"Tidak ada jalan lain, kita coba saja,"


Ke esokan harinya Te Apoyo pergi ke perusahaan dengan memakai pakaian kantor. Pihak penanam modal meragukannya saat tahu kalau ia masih anak sekolah. Tapi papa Malika menyakinkan penanam modal kalau perusahaan itu akan bertahan dan mereka tidak akan rugi.


"Ini perusahaan besar, jika mau main rumah-rumahan pergilah ke Taman Kanak-Kanak!" ucap seorang penanam modal kesal.


Beberapa dari mereka segera menarik saham mereka. Sebab mereka meragukan kemampuan Te Apoyo. Tapi ada juga yang bertahan, mengingat Te Apoyo adalah putra Dion. Tidak mungkin Dion melepaskan putranya menjalankan bisnis begitu saja.


"Modal kalian sekarang berkurang. Apa yang akan kalian lakukan. Aku beri waktu tiga bulan, jika pemasukan berkurang, maka tidak segan-segan aku akan menarik modalku juga seperti yang lain." ujar penanam modal.


Setelah semua anggota rapat bubar tinggallah Te Apoyo dan papa Malika. Te Apoyo tampak cemas. Tapi papa Malika sangat tenang.

__ADS_1


"Tidak perlu kuatir. Kita masih punya beberapa penanam modal." ujar papa Malika.


Te Apoyo merasa belakangan ini pikirannya sangat tertekan. Jadi ia mau beristirahat di rumah orang tuanya beberapa hari. Dan meminta orang tuanya melaporkan ke sekolah kalau ia sedang sakit.


Mengetahui kalau Te Apoyo ada di rumah orang tuanya Nicholas pun mengunjunginya.


"Hei, aku dengar dari Te Espere, katanya kamu ada di sini. Jadi aku datang menjenguk. Apa kamu tidak ada niat berkunjung ke rumah kami? Mama rindu padamu."


"Maaf kak Nicholas, aku lagi banyak pikiran,"


"Apa itu? Coba ceritakan padaku? Apa ada yang menjahilimu di sekolah barumu?"


"Tidak ada, mereka justru baik padaku tapi aku bingung."


"Bingung kenapa?"


"Aku jadi sulit untuk menjauh dari mereka, apa aku pindah sekolah saja ya?"


"Kenapa kau harus menjauh?"


Te Apoyo diam, ia kebingungan harus berkata apa. Lalu dengan ragu-ragu ia mencoba menceritakan kemampuannya. Nicholas menatapnya seakan tidak percaya. Tapi kemudian ia jadi mengerti kenapa Te Apoyo selalu berpakaian tertutup dan tidak mau bersentuhan.


Lalu ia juga menceritakan tentang kemampuannya mampu meliha saat nyawa seseorang diambil dari raganya.Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang bisa ia selamatkan.


"Hey, jangan terlalu sedih akan hal itu, aku rasa tidak selamanya itu menjadi hal buruk." ucap Nicholas.


"Bukankah setiap orang akan menghadapi ajalnya? Ada yang meninggal dalam keadaan tenang ada yang tragis dan ada yang bahkan mengalami mati suri."


"Aku berharap tidak pernah memiliki kemampuan ini." ujar Te Apoyo.


Lalu Te Apoyo menceritakan lebih gamblang tentang kemampuannya melihat hari akhir seseorang.


"Jadi kamu bisa memperkirakan kapan mereka akan menghembuskan napas terakhirnya?"


"Iya biasa, sekitar tiga hari,"


"Bukankah itu luar biasa, apa kamu juga melihat hal yang sama pada tante Emile?"

__ADS_1


Te Apoyo mengangguk.


Nicholas terdiam. Ia tidak tahu harus bilang apa lagi. Keduanya terdiam sejenak hingga Nicholas bergumam.


"Jika aku harus mendapat kemampuan sepertimu, yaitu bisa melihat hari akhir seseorang, maka aku akan bersikap baik pada orang tersebut. Setidaknya sebelum ia meninggal aku sudah berbuat baik semasa hidupnya." gumam Nicholas dengan suara datar.


Mendengar ucapan Nicholas, Te Apoyo memikirkan si nenek dan teman sebangkunya. Nenek meninggal dengan tenang. Tapi temannya meninggal dengan tragis.


"Jadikan kemampuan itu berguna. Jangan menganggapnya sebagai kutukan." kata Nicholas lagi.


Malam itu Nicholas menginap di rumah Te Apoyo. Mereka juga sempat membahas tentang masalah di perusahaan sebelum akhirnya mereka tidur di kamar terpisah.


Ke esokan harinya, Te Apoyo kembali ke kota kecil tempat tinggal barunya. Dan Nicholas bercerita tentang masalah yang dialami perusahaan orang tua Te Apoyo.


"Mama bisa membantu sedikit kalau soal modal."


"Benarkah, mama mau bantu?"


"Iya, tapi ada syaratnya."


Mama Nicholas mengatakan akan membantu modal asal Te Espere tinggal dengan mereka. Dan Nicholas tidak setuju dengan persyaratan tersebut.


"Memangnya kenapa? Nantinya dia juga akan jadi menantu mama kan?" ujar Gina senang sambil menghayal dikelilingi cucu yang imut-imut.


"Anggap saja kita tidak pernah membahas ini," ujar Nicholas dan pergi meninggalkan mamanya.


Tapi Gina serius, ke esokan harinya ia mendatangi ke diaman sahabat Dion. Tujuannya untuk menemui Te Espere dan membicarakan sebuah kesepakatan.


Sahabat Dion tidak setuju kalau Te Espere tinggal di rumah Gina. Sebab ia lebih yakin bisa menjaga Te Espere di rumahnya. Ketimbang ia tinggal di rumah Gina. Sebab Gina punya tiga orang putra. Ia kuatir kalau putra Gina akan berbuat macam-macam pada Te Espere.


"Macam-macam apanya? Te Espere sudah pernah tinggal dengan kami, dan dia baik-baik saja."


"Itu beda, itu sebelum Te Espere sembuh."


"Oh aku mengerti maksud dari ucapanmu. Jika kau takut hal buruk terjadi pada Te Espere, ya sudah kita nikahkan saja mereka!" ujar Gina tegas.


"Apa menikah, apa kamu lupa usia Te Espere? Kamu ingin dia menikah muda di usianya yang harus lebih mengutamakan pendidikan?"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2