
Gina tersentak lagi. Lalu ia tersenyum mencairkan suasana.
"Oh baiklah. Kalian berdua, duluan saja. Biar nenek yang panggilkan Nicorazón untuk makan."
Dengan cepat Gina pergi meninggalkan Esperanza dan Gris. Lina yang melihat hal itu hanya menghela napas. Ia teringat sikap Gina pada Te Espere dulu. Ia tersenyum saat mengingatnya. Tapi juga sedih di saat yang sama.
"Bisakah semua kembali seperti dulu?" gumamnya sedih.
"Sudahlah, masa depan siapa yang tahu. Ayo kita ke meja makan. Kasihan yang lain pada menunggu."
Dion dan Lina pun pergi ke meja makan tempat orang-orang berkumpul untuk sarapan. Esperanza dan Gris datang setelah mama gadis itu memanggil dan mengajak mereka makan.
"Hati-hati, apa kakimu masih sakit?" tiba-tiba sebuah suara muncul dari pintu belakang.
Gina dan Primavera membantu Nicorazón berjalan menuju meja makan. Esperanza bisa melihat raut kesakitan di wajah anak itu. Pucat dan tampak kelelahan.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Te Apoyo mengelap keringat Nicorazón.
Seluruh perhatian semua orang yang ada di sana pun tertuju ke Nicorazón termasuk Esperanza. Gris mengetahui itu lalu menyenggol kaki gadis itu dengan kalinya.
"Jangan terlalu memperhatikannya," bisik Gris membuat Esperanza tersadar.
Wajah Nicorazón yang meringis sedikit membuatnya mengingat seseorang yang sering muncul di mimpinya.
"Kenapa Aku jadi membayangkan orang itu ya. Padahal mereka orang yang berbeda. Sikapnya saja beda," batin Esperanza.
"Aku baik-baik saja," jawab Nicorazón kemudian.
Entah kenapa ia jadi merasa malu diperhatikan oleh semua orang di sana. Ia merasa sangat menyedihkan. Apalagi ia merasa kalau Esperanza menatapnya dengan wajah kasihan.
"Apa-apaan sih dia," batin Nicorazón.
Siangnya Te Apoyo memeriksa kondisi Esperanza dan Nicorazón di ruang tamu. Tanda-tanda fisik gadis itu sudah normal. Berbeda dengan Nicorazón yang masih tampak lemah.
"Tuan Te Apoyo, bagaimana kondisi saya? Sebenarnya saya merasa sudah baikan."
"Ya kondisimu sudah baik," jawab Te Apoyo.
"Tapi jangan lakukan pekerjaan berat dulu," saran Te Apoyo lagi.
Setelah itu ia meninggalkan Nicorazón dan Esperanza duduk berdua di sofa yang sama. Lalu Gria muncul. Dan mengajaknya ke luar.
"Kenapa kamu suka sekali mengajaknya keluar? Papaku bilang dia tidak boleh melakukan pekerjaan berat."
"Pekerjaan berat apa? Aku hanya membawanya ke kursi taman," jawab Gris datar.
"Kamu tidak lihat cuaca di luar? Panas terik begitu kamu bawa dia keluar?" tanya Nicorazón lagi.
__ADS_1
Sadar dilihat oleh Esperanza Nicorazón mengalihkan pandangannya.
"Jangan salah paham. Aku bukan perhatian sama kamu, tapi aku perhatian karena kamu pasien papaku," ujar Nicorazón salah tingkah.
"Sepertinya yang pasien saat ini adalah kamu sendiri," ujar Gris lalu mengajak Esperanza ke luar.
Nicorazón menatapnya tajam dan Gris memperlihatkan jempol ke bawah pada Nicorazón.
"Apa-apaan dia itu? Dia pikir aku cemburu? Ke kanakan," gumam Nicorazón kesal.
Estrella datang bersama Brillo dan Lillo lalu mengajaknya untuk duduk di taman.
"Aku tidak tertarik," jawab Nicorazón.
"Tapi kalau kalian memaksa, baiklah aku ikut," lanjutnya mengubah jawaban dengan cepat.
Estrella memutar bola matanya dan Brillo hanya tersenyum. Lalu mereka membantu Nicorazón berdiri.
"Hey, aku masih bisa berjalan. Jangan memapahku seperti kakek tua," ujar Nicorazón menarik tangannya dari tangan kedua orang tersebut.
Lalu perlahan-lahan berdiri dan berjalan pelan-pelan ke taman belakang. Di sana ada putra-putri Alicia juga cucu-cucu Gina. Mereka sedang bermain bola voli. Nicorazón yang belum bebas bergerak hanya bisa duduk berdua dengan Lillo yang ikut menyaksikan permainan.
Tapi karena merasa pusing ia pun memutuskan untuk kembali ke ruang tamu. Dan Gina yang selalu mengawasinya membantunya berjalan.
"Nenek, aku baik-baik saja. Masih bisa berjalan."
"Tidak apa-apa, kan? Kalau nenek mau gandeng kamu? Apa kamu sekarang malu ya?"
Gina senang mendengarnya. Tanpa sadar ia mengacak-acak rambut Nicorazón gemas. Dan akhirnya hanya mengiringi langkah putra Te Apoyo.
Sesampainya di sofa, Nicorazón membaringkan diri. Dan Gina mengajaknya berbincang-bincang. Tiba-tiba ia bertanya satu hal.
"Menurut kamu Esperanza itu cantik tidak?" tanya Gina.
Esperanza yang hendak masuk tiba-tiba berhenti di depan pintu lalu mundur.
"Cantik," jawab Nicorazón singkat. Esperanza terpelongo di tempatnya berdiri.
"Tapi nenek yang paling cantik," ujarnya dengan cepat.
Seketika Esperanza berjalan dengan cepat. Tidak tahu kenapa ia sedikit kecewa. Gina yang melihatnya menegur dan pura-pura tidak tahu kalau dia sempat melihat gadis itu berada di luar pintu dan diam-diam mendengarkan.
"Esperanza!"
"I-iya nyonya?"
"Panggil nenek saja, boleh minta tolong ambilkan air putih. Nicorazón haus."
__ADS_1
Nicorazón terperangah. Esperanza mengangguk lalu pergi ke dapur.
"Nenek, apa-apaan sih? Aku kan, tidak haus," ujar Nicorazón setelah Esperanza pergi.
"Sebenarnya nenek yang haus," jawab Gina.
"Eh, sebentar, nenek pergi terima panggilan dulu."
Kemudian Gina pergi ke kamar pura-pura sedang menerima panggilan. Esperanza datang dan menyerahkannya pada Nicorazón.
"Ini air minumnya," ujar Esperanza.
"Taruh saja di situ, nenek lagi menerima panggilan," jawab Nicorazón jujur.
"Memangnya kenapa kalau nenekmu menerima panggilan? Kalau haus ya minum saja, apa kamu tidak bisa minum sendiri?" tanya Esperanza.
"Hey, memangnya kamu pikir ... aku_?" ucap Nicorazón terputus saat Esperanza mengangkat gelas tersebut.
"Ayo minum!" suruh Esperanza.
"Ayo minum, tunggu apa lagi?" lanjutnya.
Ragu-ragu Nicorazón minum dari tangan Esperanza dan ia baru berhenti minum setelah air dalam gelas itu habis. Esperanza mengambil tisu untuk mengelap bibir Nicorazón dan Gina mengambil rekaman gambar saat itu.
"Aku bisa melakukannya sendiri," ujar Nicorazón kemudian.
Degup jantungnya seakan mau keluar. Malu tapi juga senang. Dan akal sehatnya mengutuk pikirannya.
"Apa yang aku pikirkan, dia kekasih orang lain. Tidak-tidak, ini tidak benar," batin Nicorazón.
"Jangan sungkan minta bantuan. Aku ini bercita-cita jadi dokter. Merawat orang sakit itu biasa buatku."
"Hey, aku bukan orang sakit," Nicorazón menyela kalimat Esperanza.
"Kalau bukan sakit, lalu apa?" tantang Esperanza.
Nicorazón mati kutu karena kesal ia dengan cepat berdiri dan melangkah kan kakinya ke kamar. Ingin membuktikan kalau dia sehat dan tidak selemah yang Esperanza kira.
"Ada apa denganku? Aku tidak perlu perduli dengannya, ka**n?" Esperanza bertanya dalam hati.
"Hei, kamu sedang apa?" tanya Gris yang baru saja datang.
Esperanza terkejut seolah ketahuan selingkuh.
"Ti-tidak apa-apa," jawabnya terbata-bata. Lalu memindahkan rambutnya yang jatuh ke belakang.
"Esperanza, ayo kita kembali ke negara kita." Kembali Gris mengucapkan kalimat yang sama.
__ADS_1
"Aku tidak ingin di kehidupan ini kamu menderita nantinya," batin Gris.
Bersambung...