
Sementara OB memperhatikan Dion dengan geram. Rasa cemburu menghantuinya. Racun yang ia taruh di dalam kopi Dion tidak berhasil, karena Dion membuangnya. Melihat Dion yang terus memandang Shasa ia berpikir untuk melenyapkan Dion secepatnya.
Saat jam pulang, Dion menawarkan tumpangan pada Shasa. Dan tentu saja hal itu di terima dengan senang hati oleh Shasa. Tanpa ia sadari OB membuntuti mereka berdua.
Shasa yang menumpang di temapat kenalannya mengajak Dion masuk. Ia berpikir untuk memamerkan Dion pada kenalannya. Tentu hal itu membuat kenalannya menjadi iri. Betapa senang hati Shasa dan merasa sangat bangga.
Setelah mengantar Shasa dan berkenalan dengan kenalan Shasa, Dion pun pulang ke apartemennya. Si OB membuntutinya dari belakang. Setelah mendapatkan alamat Dion, maka ia pergi dari situ.
Ke esokan paginya Dion menemukan bangkai kucing yang berlumuran darah di depan pintunya. Dan sebuah surat ancaman. Setelah membaca surat itu dengan cepat Dion pergi ke tempat ia mengantarkan Shasa. Dan ternyata Shasa sudah pergi lebih dulu.
Di ruangannya, Shasa mendapati seikat bunga mawar lagi. Kali ini dia berpikir kalau bunga itu dari Dion. Bunga mawarnya lebih banyak dan lebih bagus dari yang biasa ia terima. Sambil membawa buket bunga tersebut, Shasa pergi ke ruangan Dion.
Lagi-lagi dia bertabrakan dengan wanita yang sama. Tapi kali ini Shasa tersenyum penuh kemenangan sambil memamerkan bunga yang ia bawa. Saat melihat Dion datang ia pun segera menyambutnya.
"Makasi bunganya ya sayang," kata Shasa.
Dion heran dan kebingungan, tapi karena melihat wanita yang bertubrukan dengan Shasa, Dion pun membalas pelukan Shasa. Ia pikir Shasa sedang membantunya.
Si OB menjadi murka dan dengan sebilah senjata tajam ia hendak menikam Dion. Tapi di halangi oleh wanita yang bertubrukan dengan Shasa. Dia terluka. Dion melepas pelukannya pada Shasa. Dan memanggil bagian keamanan. OB tersebut berhasil diringkus dan di laporkan ke kantor polisi.
Shasa yang melihat kejadian itu merasa sangat senang. Dua pengganggu tersingkir sekaligus tanpa harus bersusah payah. Dan wanita itu di bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.
__ADS_1
Dion menungguinya selama wanita itu mendapatkan perawatan. Shasa yang ikut ke rumah sakit jadi kesal. Apa lagi saat Dion memegang tangan wanita itu, karena wanita itu merengek. Wanita itu berkata kalau ia takut di tinggal sendirian.
Shasa yang tidak bisa berbuat apa-apa akhirnya pergi dengan wajah kesal. Dion yang juga cemas pada Shasa mengejar Shasa. Dia kuatir Shasa akan mendapat celaka.
"Jika ada apa-apa jangan lupa meneleponku," kata Dion. Dan kalimat itu disalah artikan oleh Shasa.
Dion meminta supirnya untuk mengantarkan Shasa kembali ke kantor. Orang-orang yang melihat kejadian yang terjadi di ruangan Dion bertanya-tanya pada Shasa keadaan wanita yang melindungi Dion. Shasa kesal dan tidak memperdulikan mereka.
Pulang kerja Shasa menelepon Dion. Dan meminta Dion menjemputnya lalu mengantarkannya pulang ke rumahnya. Shasa pikir sudah aman pulang ke rumahnya setelah si OB diringkus polisi.
Tapi ternyata Dion hanya meminta supirnya untuk mengantarkan Shasa pulang. Dion sebenarnya heran dengan tingkah Shasa, tapi ia mencoba memakluminya. Sementara wanita yang menolongnya dari percobaan pembunuhan masih merengek minta di temani.
Shasa yang kesal, menelepon paranormal kenalannya. Meminta bantuan untuk menyingkirkan wanita itu. Shasa mengira kalau wanita itu juga telah melakukan sesuatu pada Dion, sehingga Dion tidak bisa lepas darinya.
Sepanjang jalan menuju rumahnya ia merasakan udara dingin di sekitarnya. Namun ia mengira kalau itu adalah pengaruh dari udara pada malam hari, serta AC mobil yang ia tumpangi.
Setelah selesai makan malam Shasa merasa kegerahan. Ia pun pergi mandi. Saat menyabuni wajahnya dan menutup mata, ia merasa kalau sebuah tangan memegang kakinya. Shasa pun terkejut.
Dengan cepat ia membuka mata, lalu membilas tubuhnya. Saat ia bisa melihat dengan jelas ia tidak melihat siapapun di kamar mandinya. Shasa melanjutkan mandinya. Setelah membilas tubuhnya ia melanjutkan mandi kembang. Karena kata paranormal ia juga harus memikat lawan jenis yang menjadi incarannya dengan bunga tujuh rupa.
Saat asik mengguyur tubuhnya dengan rendaman air bunga tujuh rupa, lagi-lagi ia merasa kalau kakinya di pegang. Merasakan firasat buruk, dengan cepat Shasa menyelesaikan mandinya dan berpakaian.
__ADS_1
Setelah memakai pakaian Shasa pun mengeringkan rambutnya. Saat asik mengerikkan rambut sekelebat bayangan muncul di cerminnya. Shasa terkejut dan menoleh ke belakang.
Tapi tidak ada siapa-siapa selain dia di kamar. Shasa pun melanjutkan kegiatanya. Kali ini dia memakai krim malam pada wajahnya. Dan saat menutup mata ia merasakan seseorang membelai rambutnya. Dengan cepat Shasa membuka matanya.
Shasa mulai merasa tidak nyaman. Perlahan ia membuka laci meja riasnya. Mengeluarkan sebuah gunting. Berkali-kali ia melihat sekelilingnya. Melihat kolong tempar tidur dengan senjata tajam di tangan kanan. Tapi tidak ada siapa pun di sana.
Shasa menggelengkan kepala. Ia merasa kalau dia terlalu lelah dan berhalusinasi. Tapi kemudian ia melihat bayangan seseorang di belakangnya melalui pantulan cermin. Dengan cepat Shasa menoleh kebelakang. Lagi-lagi tidak ada siapa pun. Tapi saat ia melihat ke cermin bayangan yang terpantul di sana membalikkan tubuhnya dan menatap Shasa.
Shasa bergidik ngeri, apa lagi saat melihat bayangan di cermin itu tersenyum padanya. Shasa gemetaran, gunting di tangannya terlepas. Lalu ia pun mundur perlahan. Saat mundur dia merasa menubruk sesuatu di belakang. Dan saat berpaling, bayangan yang terpantul di cermin ada di belakangnya.
"AAARRRGGKKHH!"
Teriak Shasa ketakutan, kakinya lemas seketika. Dengan merangkak mundur Shasa menjauh. Dan sosok bayangan yang tadinya hanya ada di dalam pantulan cermin, kini dapat ia lihat dengan jelas.
Wajah yang menyeramkan dengan mata yang melotot, serta tubuh penuh belatung. Datang mendekatinya dengan langkah yang tidak stabil. Layaknya seperti bayi yang baru berjalan.
Dengan tangan yang menjulur ke depan mencoba meraih Shasa. Dengan sekuat tenaga Shasa mencoba berdiri dengan kaki yang gemetaran. Dengan bantuan dinding kamar yang ia capai saat merangkak mundur. Setwlah berhasil berdiri Shasa mencoba melarikan diri.
Saat hendak berlari keluar kamar ponselnya berdering. Shasa kebingungan, karena ponsel itu berasa di atas tempat tidur. Dan jika ingin mengambilnya maka ia harus melewati mahluk mengerikan di hadapannya.
Dan Shasa memilih lari dari kamar tersebut, dan saat ia berhasil keluar...
__ADS_1
Bersambung...