Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Ich Liebe Dich


__ADS_3

Siang hari di kedai kecil tampak beberapa gadis berkunjung.


"Mau pesan apa nona-nona?" tanya pria tua tersebut dengan sopan.


Lalu para gadis memesan makan ke sukaan mereka masing-masing. Sebelum makanan mereka tiba, mereka saling memfoto satu sama lain. Ada kebanggaan tersendiri saat berfoto di tempat itu. Makanan pun tiba setelah beberapa menit.


"Paman, putra paman belum pulang ya?" tanya gadis berhidung paling mancung.


Pria itu terdiam saat memindahkan makanan ke atas meja mereka.


"Maaf kamu bilang apa barusan?" tanya pria itu sambil memiringkan telinganya.


"Oscuridad, putra paman, apakah belum pulang?" kata gadis itu mengulangi.


"Os cu ri? Siapa?" tanya pria itu kebingungan.


"Oscuridad paman, ya ampun. Paman mulai pikunkah?" tanya gadis itu geleng kepala.


"Tidak ada yang bernama Oscuridad di sini!" ujar pria itu jengkel lalu pergi ke belakang dengan muka kesal.


"Anak-anak jaman sekarang, sukanya menghina," ujar pria itu sambil mencuci perkakas.


"Kenapa pa?"


"Anak-anak itu, baru datang sudah buat kesal. Oscuridad, oscuridad apaan, siapa dia? Kenapa mereka mengolok keluarga kita? Apa salah kalau kita tidak punya putra? Siapa yang tidak ingin punya keturunan di dunia ini? Tapi kalau tidak punya, mau bagaimana lagi?" gumamnya sambil kini membilas perkakas.


"Sabar pa, kita harus sabar," ujar istrinya.


Lalu istrinya pergi ke depan membawa selembar kain. Dan mengelap meja yang sudah ditinggalkan pelayannya. Lalu Oscuridad tiba dan menyapanya.


"Ma biar aku yang teruskan," pinta Oscuridad.

__ADS_1


"Oh kamu sudah pulang nak?" tanya wanita itu sambil menempelkan tangan kirinya yang baru saja ia lap.


Gadis-gadis itu segera berbisik-bisik.


"Apa Oscuridad sedang bertengkar dengan papanya? Sehingga papanya tadi kesal saat kita bertanya tentang Oscuridad?" tanya mereka satu dengan yang lainnya.


Yang ditanya hanya mengangkat bahu. Lalu mereka melihat pria yang menyajikan makanan pada mereka keluar dari dapur. Betapa terkejutnya mereka melihat pria itu menyambut Oscuridad dengan hangat.


"Sudah pulang? Hari ini pengunjung sepi. Istirahat sajalah di kamarmu," ujar pria itu pada Oscuridad.


"Baiklah aku pergi ke kamar dulu," ujar Oscuridas.


"Jangan lupa makan dulu sebelum tidur," ujar wanita penjual dengan suara sedikit berteriak pada Oscuridad yang menaiki tangga.


Oscuridad hanya mengangguk. Para gadis yang menyaksikan hal tersebut saling sikut.


"Paman, apakah pemuda itu putra paman?" tanya gadis yang berhidung paling mancung.


Gadis yang bertanya merengut. Lalu geleng-geleng kepala dan berbisik-bisik pada temannya.


"Lihat, aneh ya mereka, tadi bilang tidak ada sekarang bilang Oscuridad putranya. Kemarin juga istri paman itu marah saat aku bertanya tentang putranya. Sepertinya mereka terlalu cepat pikun," bisiknya.


Wanita pemilik kedai mendekati mereka.


"Kalian berbisik apa, apa ada masalah dengan makanan kalian?" tanya wanita itu.


"Oh tidak bibi, kami hanya bilang putra bibi sangat tampan. Apa dia sudah punya pacar?" ujar salah satu gadis tersebut.


"Oh walau saya mamanya, saya juga tidak tahu, karena putraku sepertinya lebih suka belajar dan membantu pekerjaan di kedai, hehehe," ujar wanita itu tertawa kecil.


Ada fakta yang mereka tidak sadari kalau Oscuridad memantau mereka. Oscuridad bukanlah putra kandung dari pemilik kedai. Sebab keduanya mandul. Dan mereka tidak mengadopsi satu anak pun dari panti asuhan. Sebab syarat untuk mengadopsi anak sangat ketat.

__ADS_1


Mereka setidaknya memiliki ke uangan yang cukup untuk menunjang pendidikan si anak ataupun memiliki usia yang masih muda. Dan pekerjaan tetap yang bergaji memadai. Dan hal itu tidak dimiliki keluarga kecil ini saat mereka pertama kali menyadari kalau mereka keduanya mandul.


Oleh karena itu mereka tidak pernah memiliki anak di tengah keluarga mereka. Sebab sampai sekarang mereka hanya memiliki kedai kecil yang hanya cukup untuk biaya sehari-hari saja.


Oscuridad tersenyum melihat tingkah mereka yang tidak tahu apa-apa. Mereka tidak sadar menjadi boneka Oscuridad selama ini. Mereka akan menganggap Oscuridad sebagai putra mereka saat mereka melihatnya. Tapi mereka akan melupakan tentangnya saat Oscuridad jauh dari mereka.


Mereka hanyalah pria dan wanita lansia biasa. Tapi saat berada dekat dengan Oscuridad mereka akan menjadi kepribadian yang berbeda. Wanita itu bahkan tidak ingat kalau tadi pagi ia menjahit sesuatu yang tidak akan ia jahit ketika menjadi dirinya sendiri.


Setelah memantau orang tua palsunya, Oscuridad menyentuh sesuatu yang menampilkan orang tuanya. Sesuatu itu berubah menjadi kabut asap hitam besar. Lalu ia menyentuh kabut asap yang ada di kamarnya sekali lagi. Kabut asap itu berubah lagi seperti cermin. Lalu tampillah bayangan Te Espere di sana. Saat itu Te Espere sedang di kamarnya berganti pakaian.


Saat tangan Oscuridad masuk ke dalam kabut asap yang seperti cermin, lalu menyentuh pundak Te Espere yang tidak tertutup kain, Te Espere terkejut dan berpaling. Ia mengira Malika menyentuhnya. Namun tidak ada siapa pun di kamar itu dan kamarnya juga dalam keadaan terkunci.


Segera Te Espere mengenakan pakaiannya. Perasaannya tiba-tiba menjadi sangat tidak nyaman. Sebab akhir-akhir ini ia sering merasakan seperti seseorang menyentuhnya. Namun tidak ada siapapun yang ia lihat. Ia berlari keluar kamar mencari Malika.


Tingkahnya dapat disaksikan oleh Oscurido dengan jelas di dalam cermin kabut asap tersebut. Ia pun tertawa menyaksikan hal itu. Lalu ia berbaring ke tempat tidurnya sambil memandang cermin dan menyaksikan kegiatan Te Espere.


"Oscuridad, kamu belum makan siang kan, ini mama bawakan makananmu," ujar wanita tersebut.


Oscuridad memandang ke arah pintu dan segera duduk.


"Maaf ma aku tiba-tiba merasa sedikit mengantuk," ujarnya sambil mendekat ke meja tempat wanita pemilik kedai meletakkan makanannya.


Wanita pemilik kedai tidak bisa melihat kabut asap yang ada di kamar Oscuridad. Dan ia keluar tanpa merasakan hal aneh apa pun. Setelah ia keluar, Oscuridad melakukan gerakan tangan yang membuat seluruh makanan yang ada di meja menghilang.


Lalu ia keluar dari raganya. Raga yang tidak memiliki roh itu rubuh dan tergeletak begitu saja di kamar. Oscuridad pergi ke sebuah bangunan tua. Bangunan yang sudah dijadikan museum di daerah tersebut.


Ada sebuah ruangan yang tidak pernah dijamah manusia di masa kini. Terdapat banyak gadis yang sudah diawetkan di ruangan tersebut. Mereka adalah gadis-gadis yang memiliki kemampuan yang sama dengan Te Espere. Yang merupakan keturunan dari suku Cresentia dan juga keturunan sang ratu yang meminta kekuatan dari penguasa kegelapan.


"Tidak lama lagi! Wahai para selirku, kalian akan melihat sang ratu! Pasangan abadiku yang akan duduk di singgasana bersamaku! Untuk menguasai dunia! Ha ha ha ha!"


"Ich liebe dich meine Königin," ujarnya Oscuridad sambi menatap kabud asap yang menampilkan wajah Te Espere.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2