
Seorang polisi muda yang menyamar sebagai mahasiswa, berhasil mengenai tangan mahasiswa yang menodongkan senjata api. Dan dua rekan lainnya menangkap teman masa kecil Alicia tersebut.
Timah panas yang mengenai tangannya membuat senjata api terlepas dari tangannya. Dia pun diborgol dan dibawa ke kantor polisi. Oscuridad sangat kecewa, saat menyadari kalau pemuda itu sebenarnya sudah tidak memiliki amarah di hatinya. Ia bahkan tidak melakukan perlawanan saat dibawa. Meski banyak yang mencemoohnya ia tetap terlihat sangat tenang.
Polisi menjadi bingung saat memeriksa senjata, yang menjadi barang bukti tindak kejahatan teman masa kecil Alicia. Ternyata itu hanyalah barang tiruan dan tidak memiliki amunisi.
Pemuda itu berubah pikiran setelah menerima panggilan dari Alicia. Dan malam itu juga ia mengembalikan senjata api yang asli dan menukarnya dengan barang tiruan. Lalu menggunakan uangnya untuk membeli sebuah gelang untuk Alicia.
Orang tua angkat teman masa kecil Alicia itu pun datang. Dengan menandatangai beberapa berkas, polisi mengijinkannya membawa putranya itu pulang. Teman kecil Alicia sangat merasa malu dan menyesal, lalu mengakui perbuatannya.
"Pasti selama ini kamu sudah berusaha dengan keras," ujar papa angkat mahasiswa tersebut.
Hal itu membuat pemuda itu tidak tahu harus berbuat apa. Ia menarik napas dalam-dalam lalu melepaskannya secara perlahan.
"Pa, aku sudah mengembalikan sebagian uang yang aku curi ke rekening papa, dan sisanya akan aku ganti setelah aku mendapat gaji," ujarnya dengan suara yang sangat mirip dengan gumaman.
"Tidak masalah, anggap saja uang yang belum kamu kembalikan adalah uang sakumu. Jadi kamu tidak akan dapat uang saku selama setahun. Itu untuk membayar uang yang sudah kamu ambil sekalian dengan hukumanmu, karena sudah mencuri," ujar papa mahasiswa tersebut sambil tetap fokus mengemudi.
"Bolehkah aku turun di sini?" tanya mahasiswa itu.
"Mau kemana lagi kamu sekarang?! Kamu akan tidak boleh pergi kemana pun lagi untuk saat ini!" ujar papa mahasiswa itu.
"Aku mohon pa, ini terakhir kalinya aku meminta satu permohonan pada papa. Ada wanita yang ingin bertemu denganku," ujar pemuda itu memelas.
Pria itu memandang putra yang ia besarkan tersebut. Lalu menatapnya dalam-dalam, kemudian mengangguk.
"Bawa ia ke rumah, dan perkenalkan pada kami, agar kami bisa memastikan kapan melamarnya untukmu!" ujar si papa.
Wajah mahasiswa itu mendadak terasa panas dan ia merasa sangat malu. Tapi papanya hanya menepuk pundaknya lalu mengerakkan kepalanya untuk menyuruh putranya pergi. Dan dengan rasa haru pemuda tersebut merangkul pria yang telah membawanya dari panti asuhan.
"Terima kasih pa!" ujarnya.
Lalu dengan cepat ia turun dan menuju sebuah taman. Tempat ia berjanji bertemu dengan Alicia. Sebab Alicia mengatakan kalau ia sudah berada di taman tempat Alicia menerima gelang hadiah permen coklat. Untuk memberi kado ulang tahun teman masa kecilnya tersebut.
__ADS_1
Mereka pun akhirnya bertemu. Pemuda itu masih kesulitan mengatur napasnya karena berlari cukup jauh. Dan setelah ia bisa bernapas lebih tenang, mereka pun bersalaman sebelum akhirnya duduk bersebelahan.
"Aku tidak menyangka kamu sungguh-sungguh datang," ujar mahasiswa itu dengan napas yang masih tersengal-sengal.
"Aku ingin merayakan ulang tahunmu," ujar Alicia lalu menyerahkan kotak kado.
"Apa isinya?"
"Buka saja," jawab Alicia.
Pemuda itu membukanya dengan sangat hati-hati. Alicia tersenyum melihat tingkahnya. Dan setelah kotak kado dibuka, pemuda itu melihat sepasang sepatu baru.
"Terima kasih atas kadonya," ujarnya senang.
Lalu ia menyerahkan sebuah gelang yang sudah usang pada Alicia.
"Aku sudah mencoba menjaganya dengan baik, tapi tetap saja gelang ini rusak, secara perlahan-lahan," ujarnya.
"Dan ini hadiahku untukmu," katanya lagi sambil memperlihatkan gelang yang ia beli.
Setelah gelang tersebut melingkar di tangan Alicia, maka Alicia pun menyuruh pemuda itu memakai sepatu pemberiannya.
"Kamu suka?" tanya Alicia.
"Sangat suka," jawab teman masa kecil Alicia.
"Semoga sepatu ini, bisa membawamu ketempat yang paling indah," ujar Alicia dengan tatapan yang penuh makna.
"Sekarang pun sepatu ini sudah membawaku ke tempat yang paling indah," ujarnya.
Alicia hanya bisa tersenyum, menutupi perasaannya yang sesungguhnya.
"Alicia, bolehkah aku meminta sesuatu?"
__ADS_1
"Apa itu?"
"Aku ingin menggenggam tanganmu dan bersandar di bahumu sejenak," ujarnya.
Tapi Alicia justru merangkulnya dan membiarkan pemuda itu seolah beristirahat dalam rangkulannya. Dan beberapa detik kemudian Alicia menutup mata, saat mahluk berjubah tersebut mengayunkan sabitnya.
Dan sahabat masa kecilnya pun meninggal dengan tenang dalam pelukannya. Dari tubuh mahasiswa tersebut keluar serpihan-serpihan cahaya, yang mengelilingi tubuh Alicia. Alicia menangis. Ia bisa merasakan roh sahabatnya memeluknya sebelum akhirnya pergi dengan damai.
Oscuridad murka, dengan segera ia memerintahkan para roh jahat untuk membawa Te Espere ke hadapannya. Ia menyesali tidak mengindahkan informasi yang ia dapatkan dari roh yang meninggal karena dihukum gantung. Bahwa Te Espere dan teman-temannya ingin mengubah nasib sahabat Alicia.
Oscuridad terlalu yakin kalau kebencian pemuda itu tidak akan luntur dengan mudah, ia tidak menduga bahwa perkiraannya salah. Bukan hanya pergi tanpa kebencian. Pemuda itu juga pergi dengan damai.
Sebuah rantai muncul dan melingkar dileher Oscuridad. Rantai yang susah payah ia lepaskan dengan mengumpulkan kebencian di dunia ini. Kini kekuatannya berkurang. Dan ia ingin segera melakukan rencana keduanya.
Memberikan kekuatannya pada roh lemah agar menjadi kuat, dan kekuatan pada roh yang kuat agar bertambah kuat. Dan memerintahkan mereka untuk mencari dan membawa Te Espere padanya.
Para roh jahat pun melaksakan perintahnya. Lalu mereka merasuki raga-raga dari mahasiswa yang berjiwa lemah lalu membuat kekacauan di kampus. Mereka yang kerasukan tiba-tiba menjadi liar dan menyakiti orang yang berada di dekatnya. Mengangkat kursi lalu melemparkan ke siapa saja.
Seolah sedang menikmati rasanya bisa bersemayam di tubuh seseorang. Dan melakukan apa yang selama ini ingin mereka lakukan. Lalu mencoba menggunakan tubuh yang mereka rasuki untuk menangkap Te Espere.
Malika dan Te Espere mencoba kabur dari kampus setelah melihat tingkah para mahasiswa menjadi aneh. Te Epere ingin mengunakan kekuatannya tapi ia tidak ingin orang-orang mengetahui kekuatannya.
Mahasiswa dan dosen yang tidak berhasil dirasuki menjadi sasaran mahasiswa dan dosen yang kerasukan. Mereka tidak segan-segan melukai mereka. Membuat yang masih memiliki kesadaran memilih kabur dari kampus.
Tapi mereka tidak bisa keluar sebab gerbang dikunci. Para roh tersebut merasuki satpam dan menutup gerbang agar tidak ada yang bisa keluar termasuk Te Espere.
"Bagaimana ini?" ujar beberapa mahasiswa pada yang lainnya.
Mereka yang ketakutan dan kehilangan akal sehatnya perlahan-lahan tertawa dan bertingkah aneh setelah roh jahat berhasil merasukinya. Orang-orang yang ada di sekitarnya menjadi ketakutan dan kabur.
Malika dan Te Espere kini berada di sebuah gedung bersama beberapa mahasiswa dan beberapa mahasiswi yang belum kehilangan kesadaran mereka.
"Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?" ujar seorang mahasiswi yang gemetaran dan hampir menangis, saat pintu tempat mereka bersembunyi di pukul dengan benda keras dari luar.
__ADS_1
Bersambung...