Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Rahasia Keluarga


__ADS_3

Te Apoyo tidak tahu harus berkata apa, tapi ia tidak ingin saudarinya kuatir, jadi dia berpura-pura tegar.


"Tentu kita pasti bisa." ujarnya sambil memeluk saudarinya.


Kini hanya tinggal mereka berdua, dan mereka harus saling menguatkan. Te Espere menyeka air matanya dan juga mencoba lebih tegar. Mereka mencoba bersama-sama menenangkan diri. Para pelayan masih sibuk dengan tugas mereka masing-masing dan belum menyadari kalau majikannya menghilang secara gaib.


Papa Malika datang berkunjung lalu menanyakan kabar terbaru tentang papa mereka. Te Apoyo mengajaknya ke ruang kerja papanya. Lalu menceritakan yang terjadi pada kedua orang tuanya. Papa Malika melongo tidak percaya. Te Espere yang ada di ruangan tersebut membantu Te Apoyo untuk meyakinkannya.


"Lalu bagaimana sekarang, akan ada rapat pemegang saham, apa yang akan aku katakan nanti?" gumam papa Malika.


Te Apoyo dan Te Espere saling pandang dan semakin cemas. Melihat keduanya menjadi sedih, papa Malika tiba-tiba mendapat ide.


"Ah begini saja, kita akan merahasiakan hal ini, om akan mengatakan kalau orang tua kalian berdua sedang ada di luar negri. Ini tujuannya agar pemegang saham tidak pada lari." usul papa Malika.


"Kalau om merasa itu lebih baik, kami menurut saja," ujar Te Espere dan Te Apoyo bersamaan.


Papa Malika menghembuskan napasnya dengan kasar, ia pun tidak nyakin dengan usulnya sendiri. Tapi tidak ada salahnya untuk mencoba. Mereka juga menghubungi detektif yang membantu pencarian Dion. Dan setelah detektif tiba, mereka juga membicarakan hal yang sama dengannya di ruang kerja Dion.


Ia merasa terkejut setelah tahu kalau Lina juga hilang secara misterius. Lalu ia menyepakati untuk menyimpan masalah ini, agar tidak diketahui oleh orang-orang.


Setelah selesai membicarakan hal yang dirasa penting. Mereka makan malam bersama dan bersikap seolah-olah tidak terjadi sesuatu.

__ADS_1


"Nyonya ada dimana ya?" tanya seorang pelayan.


Te Espere tersentak. Dan dengan cepat Te Apoyo mengatakan kalau mamanya ke rumah Ros. Dan ada hal penting yang harus mereka bicarakan.


"Mungkin mama mau membicarakan tentang kepergiannya keluar negri pada tante Ros." jawab Te Apoyo.


"Ia kan Te Espere?" lanjutnya sambil menyenggol kaki saudarinya.


"Ah i iya, sepertinya." ujar Te Espere gugup.


Setelah Detektif dan papa Malika pulang anak-anak Dion mencoba membaca buku tua yang mereka bawa dari rumah kakek Dion. Lalu mereka membolak balikannya. Tidak ada satu kalimat pun yang mereka pahami.


"Bagaimana ini?" gumam Te Apoyo.


Mereka membaca bagian itu, tertulis tentang kisah hidup si penulis. Jika dilihat ada beberapa kata yang menuliskan nama Dion papa mereka. Dan dibagian akhir ada nama mereka. Te Apoyo dan Te Espere saling pandang.


Mereka membaca buku tersebut dimulai dari tulisan yang lebih mudah untuk mereka pahami yaitu tulisan dari kakek Dion sendiri. Jelas tertulis kisah kakek yang mendapat warisan lalu adanya perebutan hak waris yang tidak adil bagi saudara dan saudari kakek.


Dan hal buruk yang menimpa keluarga kakek dan juga kedua orang tua Dion. Dibuku itu juga tertulis tentang ramalan kelahiran si kembar yang berbeda jenis kelamin yang akan mewarisi kekuatan yang menjadi anugrah sekaligus kutukan bagi keduanya.


Di tempat berbeda, dua polisi yang mengetahui keberadaan perhiasan di dalam peti. Diam-diam mendatangi rumah tersebut. Mengunakan senter sebegai penerangan mereka pun memasuki ruang rahasia. Lalu mereka mencoba membuka peti tersebut, dengan alat yang biasa mereka pakai jika mengeledah ruangan yang terkunci. Tapi tidak satupun alat yang berguna membuka peti tersebut.

__ADS_1


Mereka tidak putus asa, mereka mencoba mengunakan cara kasar dengan mengunakan senjata tajam untuk merusak benda itu. Bekali kali mereka mencoba merusaknya. Keringat bercucuran membasahi pakaian mereka. Dan tanpa sengaja benda tajam yang mereka pakai melukai tangan mereka.


Mereka mengelap darah itu di pakaian mereka. Tapi karena tangannya terus bergerak, lukanya terus berdarah. Dan tanpa mereka sadari setetes darah mereka mengenai permukaan peti tersebut. Peti pun terbuka dan mereka mengira itu karena mereka berhasil membukanya dengan paksa.


Dengan cepat mereka mengeluarkan kantung untuk tempat perhisan tersebut. Dan secepatnya memindahkan isinya. Segera mereka pergi dari tempat tersebut. Tapi baru saja mereka melewati pintu mereka merasakan rasa sakit. Darah mereka seperti dihisap. Warna peti berumuran darah. Kedua polisi tersebut terjatuh dan tergeletak di lantai lalu tubuh mereka mengering. Perhiasan kembali ke tempat semula, noda darah menghilang. Pintu ruang rahasia kembali tertutup.


Ke esokan harinya detektif yang menyelidiki kepergian Dion dan Lina datang lagi ke rumah kakek Dion. Mencoba mencari lagi jejak-jejak yang ia sendiri tidak yakin akan menemukannya, tapi ia terkejut.


Tampak bekas kaki yang baru menuju rumah, ia mempercepat jalannya. Mengikuti jejak kaki, ia menjadi bersemangat, saat mengira-ngira kalau itu adalah jejak kaki Dion. Meski rasanya ada yang janggal. Sebab ada dua jejak beririgan dan menuju ruang rahasia.


Betapa terkejutnya ia mendapati dua jasad yang mengering di depan pintu. Dengan cepat ia melaporkan penemuannya. Melaporkan pada polisi terdekat tentang kedua jasad tersebut. Lalu setelah jasad tersebut dibawa untuk diotopsi, ia pun memanggil nomor Te Apoyo.


Dia menyuruhnya untuk datang ke rumah kakek. Setelah tiba, detektif langsung menceritakan penemuannya. Dan menyuruh Te Apoyo memeriksa isi peti. Te Apoyo membuka peti itu dengan cara sebelumnya. Isi peti masih tersusun seperti yang lalu. Kemudian detektif menyarankan Te Apoyo untuk membawa perhiasan tersebut pulang.


Mulanya Te Apoyo menolak. Tapi setelah detektif mengatakan kalau mungkin, jika perhiasan tersebut masih dibiarkan, maka akan ada korban berikutnya. Detektif mengatakan kalau kedua jasad yang ia temukan meningal dengan keadaan yang tidak wajar. Sepertinya mereka berniat untuk mencuri. Tapi tidak tahu kenapa, mereka justru ditemukan di luar ruang rahasia, dengan tubuh yang mengering.


Akhirnya Te Apoyo membawa pulang perhiasan tersebut. Lalu ia menyimpannya di brankas orang tuanya. Ia tidak tahu, hal itu baik atau benar. Setidaknya itu adalah tempat paling aman saat ini, pikirnya.


Papa Malika menghadiri rapat mengantikan Dion. Bermodalkan pengalaman kerja bersama Dion, ia pun berhasil meyakinkan para penanam saham untuk tetap menanamkan saham di perusahaan Dion. Rencana berhasil pihak penanam saham puas dengan hasil kerja yang dibahas dalam rapat. Dan mereka percaya kalau Dion sedang berlibur dengan istrinya.


Malam itu Te Apoyo dan Te Espere memimpikan hal yang sama kembali. Di dalam mimpi mereka tampak kalau Alexander memasuki sebuah kamar. Ia membawa sebilah pedang di tangan kanannya. Lalu mengayunkan pedang tersebut.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2