Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
(Season 2) Satu Esperanza Terbunuh


__ADS_3

Para cenayang yang berkumpul mendapat pengarahan dari Malika. Mereka dibagi dibeberapa tempat-tempat strategis. Agar bisa mengawasi para polisi yang berjaga dari para keturunan ketujuh saat memanfaatkan para roh.


Lalu Malika memberitahukan ciri-ciri pemilik kekuatan keturunan ketujuh. Yaitu rantai yang hanya bisa dilihat dengan indra keenam. Sekalipun ia berpindah tubuh. Atau memindahkan jiwa mereka sebagian.


Sementara di kubu keturunan ketujuh terjadi keributan. Sebab Dorado sudah mengetahui kalau Esperanza dan anjing yang mereka kurung berhasil meloloskan diri. Di tambah tempat tersebut kini telah diketahui oleh pihak berwajib.


"Dasar tidak berguna! Mengamati monitor selagi yang lain beraksi saja tidak becus!" bentak Dorado.


"Tidak ada cara lain. Kita harus memanfaatkan Esperanza palsu itu untuk membawa Nicorazón secepatnya!"


"Gawat apa yang harus aku lakukan sekarang!" ujar roh Riani yang mengetahui rencana jahat kelompok tersebut.


Setelah sekian lama terpaksa mengikuti kelompok itu, Riani yang semasa hidupnya pernah jadi kekasih Nicorazón, menjadi gelisah. Dan kegelisahannya dapat dilihat oleh Verde.


"Kenapa kamu gelisah? Jika ia tiada bukankah itu artinya kalian bisa bersatu lagi, hahahaha!" ejek Verde.


Riani yang menatap Verde dengan kesal ditarik oleh Verde dengan kuat.


"Jangan menatapku dengan tidak sopan! Aku memberi orang tuamu umur panjang karena aku masih berbelas kasih. Atau kamu memang berharap aku menjadikan mereka sebagai suka relawan?" ancam Verde.


Riani menunduk karena nyalinya menjadi ciut. Ia tidak sanggup jika Verde mengunakan orang tuanya sebagai sukarelawan yang mengenakan rompi penuh bahan peledak untuk mengalahkan penghalang mereka.


"Bagus, begitulah seharusnya! Menunduklah di hadapanku!" ujar Verde.


Maka sesuai dengan rencana selanjutnya, Dorado menghubungi nomor kontak Esperanza palsu. Menyuruh gadis itu untuk mengambil jantung Nicorazón. Segera gadis itu mencari kesempatan untuk melakukan tugasnya.


"Esperanza, sudah malam, kenapa belum tidur?" tanya Primavera saat melihat Esperanza berada di depan kamar putranya.


"Sebenarnya saya ingin meminjam buku pada Nicorazòn nyonya," ujar Esperanza.


"Sayang, bukankah sudah tante katakan untuk tidak perlu sungkan!" tegas Primavera tersenyum.


"Tidurlah, besok pagi saja dipinjamnya."


"Baik tante."

__ADS_1


Gadis itu kembali ke kamarnya. Lagi-lagi ia menerima panggilan.


"Jika kamu tidak bisa mengambil jantungnya, setidaknya usahakan agar ia keluar dari rumah!" perintah Dorado.


CCTV di rumah Te Apoyo tampil di layar monitor yang sedang diawasi oleh Tomi. Mellihat gerak-gerik gadis itu dengan seksama. Juga membaca raut wajah gadis tersebut.


"Sepertinya kita harus bersiap-siap meluncur ke rumah Te Apoyo," ujar Tomi pada putra ketiga Gina.


"Baik! Aku akan menyuruh anak buahku untuk berjaga-jaga di rumah itu."


Lalu pagi hari pun tiba, anak buah dari putra ketiga Gina sudah menyamar di sekitar rumah Te Apoyo. Bersiap untuk melaksanakan perintah dan menunggu aba-aba.


Di dalam rumah Te Apoyo, mereka menikmati sarapan pagi seperti biasa. Dan saat itu ada satu keranjang buah di atas meja makan. Dengan sebilah pisau di dalamnya. Dengan berpura-pura mengupas buah Apel, Esperanza palsu mengambil pisau tersebut.


"Aku sangat berterima kasih atas kebaikan kalian padaku, tapi aku harus menyakiti kalian agar tetap bisa hidup!" ujar gadis itu dalam hati.


Lalu dengan cepat ia menghujamkan pisau itu ke arah Nicorazón. Te Apoyo sempat melihat gadis itu mengangkat pisau kemudian mengarahkannya pada Nicorazón.


"Awas!" teriak Te Apoyo.


"Kejar gadis itu!" teriak Te Apoyo marah.


"Nicorazón! Bertahanlah nak!" ujar Te apoyo pada putra tunggalnya.


Esperanza palsu yang berlari keluar dihadang para polisi yang menyamar setelah mendapat perintah. Gadis itu meronta-ronta dan mencoba melukai polisi-polisi itu dan saat itu Gris melihat Esperanza sedang dipegangi banyak pria.


"Waktunya pertunjukan!" ujar Dorado yang melihat kejadian itu.


Menggunakan kekuatannya dari jarak jauh merasuki satu polisi yang memiliki batin paling lemah dan menembak kepala Esperanza palsu. Dan secepat kilat kembali ke raganya sendiri.


Gris yang tidak mengetahui kalau polisi yang menembak Esperanza sempat di rasuki menjadi kesal. Karena ia melihat dengan mata kepalanya sendiri Esperanza dibunuh. Dan dengan penuh amarah ia menarik para roh yang terikat padanya. Memerintahkan para roh tersebut untuk merasuki para polisi dan membuat mereka saling mencekik satu dengan yang lain.


Te Apoyo yang sudah membalut luka putranya dan keluar melihat Esperanza sudah terkapar tidak berdaya. Ia terkejut bukan main. Dan mencoba menghubungi Malika. Saat melakukan panggilan, tiba-tiba tubuh Esperanza palsu meledak.


Ledakan itu juga melukai para polisi yang berada di sekitarnya. Te Apoyo sempat berlindung dan tidak terluka sedikitpun tapi ketika ia lengah Gris memukulnya dari belakang dan pingsan.

__ADS_1


Dion yang memanggil ambulance melihat seorang pria berotot membawa putranya. Dan para polisi serta cenayang yang terluka tidak bisa menghentikan pria yang dirasuki setengah jiwa Gris.


"Aku tidak menyakiti kalian, karena kupikir kalian baik pada kekasihku, tapi kalian menyakitinya. Sampai-sampai ia ingin kabur!" gumam Gris di sebuah ruangan.


Lalu ia menyiram seember penuh air ke wajah Te Apoyo membuat pria itu sadar.


Di tempat lain Estrella justru sedang bertarung dengan para keturunan ketujuh lainnya. Tapi tiba-tiba para keturunan ketujuh mundur ditengah perkelahian.


"Apa-apaan ini?" tanya Estrella tidak mengerti kenapa para keturunan ketujuh tiba-tiba muncul di hadapannya.


Saat mendapat kabar Te Apoyo diculik barulah ia menyadari, kemunculan para keturunan ketujuh ternyata sengaja memancingnya untuk meninggalkan pengawasan di rumah Te Apoyo.


"Lillo ayo keluar, om Te Apoyo dalam bahaya!" teriak Brillo memanggil anjing yang sedang bersama Esperanza asli sejak semalam.


"Apa yang terjadi pada tuan Te Apoyo?" tanya Esperanza tiba-tiba.


"Aku tidak bisa cerita sekarang. Yang terpenting tetaplah di sini, mamaku akan menjagamu!" ujar Brillo.


Secepatnya ia dan putra ketiga Gina meluncur. Dan menghubungi pihak lain yang dekat dengan lokasi penculikan terjadi.


"Kami kehilangan jejaknya," ucap mereka.


"Tidak mungkin ia langsung menghilang tanpa jejak," kata putra ketiga Gina geram.


Ia tidak tahu kalau saat ini para polisi kebingungan sebab para cenayang yang bersama mereka tidak bisa mengendalikan diri mereka. Dan masing-masing dari mereka justru tampak seperti orang kesurupan.


"Hahaha, mereka jauh lebih hebat dari pada topeng monyet!" ujar Dorado yang tiba-tiba muncul.


Menggunakan kekuatan dengan tubuh aslinya dan tanpa menyembunyikan identitasnya lagi, Dorado dengan mudah mengalahkan para cenayang yang mendampingi para polisi.


"Angkat tangan!" teriak para polisi tersebut pada Dorado.


Dorado menjawab mereka dengan senyuman mengejek.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2