Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Penyusup


__ADS_3

Roh itu pun pergi menuju ke kampus Te Espere. Lalu mengikuti kemana pun ia pergi, untuk mencari waktu yang tepat, guna membawanya kepada Oscuridad.


Sementara itu, kini Oscuridad telah menempati tubuh lain. Tubuh seorang mahasiswa yang terkenal paling jahat di kampus tersebut. Ia mengambil alih tubuh itu tanpa menghisap roh asli pemilik raga tersebut.


Ia hanya menidurkan roh tersebut, sehingga raganya tidak memiliki kesadaran. Tujuannya untuk menumbuhkan rasa dendam pada setiap orang yang ia temui dengan menggunakan tubuh itu. Sebab semakin banyak rasa benci dan dendam di dunia ini, maka semakin kuat pulalah ia.


Dan akibat perbuatannya dengan teman-teman pemilik tubuh tersebut, seorang mahasiswa menjadi gelap mata. Ia merencanakan suatu tindak pidana di kelasnya. Dengan mencuri uang orang tuanya, ia membeli senjata api.


Keesokan harinya ia berencana melancarkan tindak kejahatannya. Namun ia berkendara dengan terburu-buru dan menyenggol seorang nenek. Hingga membuat nenek tersebut jatuh. Karena rasa bersalah ia pun membawa nenek tersebut berobat. Saat melihat kondisi nenek tersebut sangat memprihatinkan, ia pun memilih untuk menemaninya di rumah sakit. Sambil menunggu keluarga nenek itu datang.


Ia tidak mau disebut sebagai pelaku tabrak lari. Dan ia juga siap menanggung akibatnya. Jadi ia pun duduk di samping ranjang tempat nenek itu berbaring. Nenek tersebut sudah mendapat perawatan. Luka-lukanya sudah diobati, dan tidak ada rasa emosi yang terpancar di wajahnya.


"Kamu seorang mahasiswa?" ujar si nenek memecah keheningan saat melihat tas serta beberapa buku yang dipegang pemuda yang duduk tenang di sebelahnya. Mahasiswa itu pun mengangguk.


"Terima kasih ya nak, sudah menjaga nenek, tapi nenek baik-baik saja. Pergilah ke kampusmu, semoga saja kamu belum terlambat. Aku akan baik-baik saja di sini. Dan sebentar lagi cucuku juga akan segera datang !" ujar si nenek.


Setelah nenek itu tahu, kalau pemuda tersebut adalah seorang mahasiswa. Dan ternyata ia sedang mengejar waktu. Meski ia tidak tahu apa yang membuat pemuda tersebut dikejar waktu. Sehingga tanpa sengaja menyenggolnya dan membuatnya terluka. Tapi mahasiswa itu menolak.


"Aku akan pergi jika cucu nenek sudah datang," jawab mahasiswa tersebut dengan perlahan dan sesopan mungkin.


Ia pun batal melancarkan niatnya hari ini untuk membalas dendam pada orang-orang yang telah menyakitinya di kampus. Ia tidak menyadari, kalau nasibnya sedang mencegahnya melakukan tindak kejahatan. Dengan membuatnya terlambat masuk ke kampus. Setelah cucu sang nenek datang, barulah ia berpamitan.


"Aku benar-benar minta maaf," ujar mahasiswa tersebut.


"Sudahlah, tidak apa-apa, aku tahu kamu tidak sengaja. Oh iya, saya juga minta maaf. Sepertinya karena saya datangnya lama, anda jadi terlambat," ujar cucu si nenek dengan nada sungkan.


"Tidak-tidak, saya tidak terlambat, saya bisa melakukannya kapan saja," jawab mahasiswa tersebut.


Tentunya si nenek dan cucunya tidak tahu kalau yang dimaksud pemuda itu adalah tentang aksi kejahatannya di kampusnya nanti. Sebab mereka berpikir pemuda itu berbicara tentang masalah pendidikan di kampusnya.


Karena pemuda itu akhirnya batal melakukan aksinya hari ini. Maka ia pun mencoba untuk melakukannya esok hari. Tapi keesokan harinya dia terjatuh dari sepeda motornya. Saat ia tiba di area parkiran. Karena sebuah mobil mewah milik tubuh yang ditempati Oscuridad menyenggol sepeda motornya.

__ADS_1


Tidak ada yang membantunya berdiri, sampai Te Espere yang melihat hal tersebut datang menolongnya. Dan mereka bersentuhan, sehingga membuat Te Espere terkejut.


Te Espere sempat melihat secara sekilas, rencana jahat yang ada di dalam benak mahasiswa tersebut. Lalu dengan cepat Te Espere mengubah raut wajah terkejutnya. Dan bersikap seolah ia tidak tahu apa-apa mengenai rencana pemuda itu.


Mahasiswa itu menatap wajah Te Espere cukup lama, seolah sedang bermimpi. Sebab mulanya ia mengira, kalau yang menolongnya, adalah orang yang juga sering diganggu, oleh pemilik tubuh yang ditempati Oscuridad. Tapi ia tidak menyangka, kalau ternyata yang menolongnya justru seorang gadis cantik, yang terkenal dingin satu kampus.


"Halo, apa kamu baik-baik saja?" tanya Te Espere. Sambil melambai-lambaikan tangannya tepat di depan pemuda tersebut, yang masih melongo menatap wajahnya.


Mahasiswa itu mengangguk. Te Espere tersenyum lalu membantunya mengangkat sepeda motor pemuda itu. Setelah itu Te Espere berpamitan. Pemuda tersebut memandangi kepergian Te Espere.


"Hei, berani sekali kamu menatap wajah kekasihku?" kata Oscuridad padanya.


Lalu ia menyakiti pemuda tersebut bersama teman-temannya. Mereka menikmati hal tersebut tanpa merasa kasihan sedikitpun. Membuat rasa dendam di hati pemuda itu makin kuat.


Te Espere kini telah sampai pada Malika. Lalu menceritaka yang ia ketahui. Malika membelalakkan matanya.


"Ayo kita lapor polisi," ujar Malika.


"Kenapa?" tanya Malika lagi.


"Usianya tidak lama lagi, dan aku ingin ia meninggal tanpa terluka maupun melukai seseorang," ujar Te Espere.


Te Espere ingin tahu kenapa pemuda itu memiliki dendam yang sangat kuat. Malika menceritakan kalau ia sering diganggu. Dari cerita Malika, Te Espere merasa kalau tidak ada alasan yang sangat kuat untuk membuatnya menjadi penjahat.


"Pasti ada yang lebih dari itu," kata Te Espere.


"Tapi hanya itu yang kuketahui, mungkin jika kita meminta bantuan Tomi, kita bisa mengetahui banyak hal tentangnya," ujar Malika.


Lalu mereka menemui Tomi yang juga sudah pindah ke negara tersebut. Sebab papanya bekerja pada papa Malika. Segera mereka menuju ruangan khusus Tomi. Ada banyak buku di ruangan tersebut.


"Duduklah," ujarnya.

__ADS_1


Setelah mereka duduk, Malika pun menceritakan mahasiswa yang berniat melakukan kejahatan di kampus. Dan Te Espere menceritakan kalau usia pemuda itu sudah tidak lama lagi.


"Aku ingin membuatnya berubah pikiran, sebelum ia menutup mata untuk selamanya," ujar Te Espere.


Tomi menghidupkan laptopnya. Memasukkan kata sandi yang terdiri dari 100 karakter. Dan dengan kemampuannya dia berhasil membuka data tentang semua mahasiswa di kampus Malika dan Te Espere.


Lalu memasukkan nama mahasiswa tersebut dalam daftar pencarian. Terdapatlah data tanggal lahir dan alamat mahasiswa tersebut. Dari situ Tomi mencoba menemukan akun media sosial mahasiswa itu. Lalu mengambil alih akun tersebut dengan mengunakan metode login satu kali dengan kata sandi baru.


Betapa terkejutnya mereka melihat isi dari akun tersebut. Banyak kiriman yang hanya dibagikan pada pemilik akun pribadi. Penuh dengan foto gambar diri yang penuh luka. Dan setiap foto diberi keterangan tanggal ketika luka itu ia dapatkan. Di mana ia disiksa dan siapa yang melakukannya. Nama-nama pelaku semuanya adalah orang yang sama.


Lalu ada status yang menuliskan tentang pembelian senjata tajam. Darimana ia mendapatkan uangnya dan darimana ia membelinya. Bahkan tertulis harga senjata api tersebut.


Lalu Tomi melihat aktifitas baru. Pemilik akun tersebut sedang mengetik sesuatu. Ia mengetik tentang pertemuannya dengan Te Espere. Ia merasa tersentuh, ada seorang gadis yang cantik mau menolongnya. Tapi ia kesal karena gadis tersebut ternyata kekasih dari pria yang sangat ia benci.


Saat ketiga orang yang sedang mencuri akun tersebut melihat status baru itu, mereka pun terkejut. Sebab tertulis niat mahasiswa itu untuk melenyapkan Te Espere terlebih dahulu sebagai balasan atas perbuatan pemilik tubuh yang ditempati Oscuridad.


Mereka bertiga saling pandang. Malika mengatakan kalau sebaiknya mereka segera menghubungi polisi. Dan menyerahkan bukti tersebut. Tapi ada hal yang membuat mereka terkejut. Ternyata akun tersebut tiba-tiba keluar dari perangkat yang sedang digunakan oleh Tomi.


Tomi membuka akun media sosialnya sendiri, untuk mencari akun mahasiswa tersebut. Dan menemukan akun lain dari mahasiswa tersebut. Lalu ia pun mencoba masuk dengan cara mengunakan kata sandi sekali pakai.


Ia berhasil masuk. Tapi mereka tidak menemukan apapun di akun itu. Hanya ada catatan tentang jadwal pelajaran. Dan beberapa status tentang beberapa benda yang ia unggah. Foto tentang hadiah yang ia terima saat masih kecil yang masih rusak.


Saat masih menyelidiki akun itu tiba-tiba ada sebuah status baru yang sedang diketik.


*Siapa kalian dan sedang apa kalian di akunku?


Tomi terkejut, sebab aksi mereka diketahui oleh pemilik akun. Pemilik akun terus saja mengirim status yang sama. Yang hanya bisa dilihat oleh pemilik akun tersebut.


Beruntung Tomi selalu menggunakan mode penyamaran, sehingga perangkat dan lokasi perangkat yang sesungguhnya tidak pernah ditampilkan. Namun karena Tomi tidak menanggapi status tersebut. Mahasiswa itu pun menghapus perangkat yang tidak dikenali dari akunnya. Tapi sebelum menghapusnya, mahasiswa itu mengetik status baru.


*Jika aku sampai tahu siapa kamu, aku akan pastikan kalau kamu akan menyesali tindakanmu hari ini!

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2