Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Gadis yang Hilang


__ADS_3

Te Apoyo terbangun. Dan ia merasa kesulitan untuk tidur kembali. Lalu ia melihat jam menunjukkan pukul 3 saat di mana roh halus suka bergentayangan.


Te Apoyo yang tidak memiliki kemampuan melihat roh lagi, tidak menyadari kalau di kamarnya ada roh wanita yang selalu memandanginya dan membelainya saat ia sedang tidur.


Karena tidak bisa tidur lagi, Te Apoyomengambil laptop dan menghidupkannya. Serta membuka status kiriman dari teman-teman sosial medianya. Ada seorang teman yang mengirimkan foto seorang gadis yang dinyatakan hilang.


Tubuh gadis itu sekarang berada di dalam dekapan teman semasa kuliah Te Apoyo. Tapi jiwanya sekarang sedang kesal dan berada di jalanan.


Ia kesal karena, anak-anak perempuan yang menari di ruang tamunya tidak mau pergi. Meski ia telah mengusir mereka berkali-kali. Tapi kini ia merasa ketakukan saat melintasi daerah perkuburan. Karena ia melihat sosok menyeramkan keluar dari kuburan. Ia pun langsung berlari sekencang mungkin. Hingga akhirnya ia tiba di rumah Alicia.


Perlahan hujan rintik membasahi tanah, gadis itu segera mencari tempat untuk berteduh. Ia memilih memanjat pagar rumah Alicia dan berteduh di teras rumah tersebut. Hingga jarum jam yang pendek dan panjang bergeser menunjukkan pukul lima pagi.


Alicia pun bangun dari tidurnya dan memulai kegiatannya. Gadis itu mendengar tanda-tanda kalau pemilik rumah sudah bangun dan ia pun bergegas pergi dari situ. Karena ia takut kalau sampai ketahuan masuk tanpa ijin.


Tapi saat ia memanjat pagar untuk keluar, ia pun terjatuh karena pagar besi itu terasa licin, akibat basah oleh air hujan. Dan ia merasa kalau kakinya terkilir. Karena tidak bisa melompati pagar, ia pun mencoba membuka pagar tersebut dengan menarik dan mendorongnya.


Alicia yang ada di dapur pun mendengar suara pagar besi dan mengira kalau suaminya membuka gerbang. Jadi ia lanjut memasak, hingga ia terkejut saat suaminya tiba-tiba ada di belakangnya.


"Sayang kamu ada di sini ternyata!" ujarnya suami Alicia kaget.


"Loh, sayang kamu di sini?" tanya Alicia tidak kalah kaget.


"Jadi siapa yang ada di gerbang? Apa ada seseorang yang datang?" ujar Alicia.


Suaminya segera bergegas ke luar, hendak melihat siapa yang datang. Biasanya itu adalah ulah masyarakat setempat jika mereka terluka, sakit, atau justru mengantar orang sakit. Tapi bisa juga mereka adalah seseorang yang sengaja datang untuk memanggil suami Alicia. Karena mereka mengetahui kalau suami Alicia adalah seorang dokter.


"Siapa di sana?" tanya suami Alicia.

__ADS_1


Baru saja ia membuka pintu depan dan melihat tidak ada siapa-siapa. Ia pun melangkah menuju gerbang, membuat gadis itu ketakutan.


"Maaf pak saya bukan maling, saya hanya numpang berteduh," ujar gadis itu ketakutan.


"Haduh, kenapa harus menggedor-gedor gerbang?" gumamnya sambil membuka gembok dan membuka gerbang.


"Maaf pak, saya tidak akan melakukannya lagi," ujar gadis itu dan melangkah keluar dan pergi setelah gerbang dibuka.


Suami Alicia tidak melihat gadis itu hanya celingak-celinguk melihat ke jalanan. Namun tidak ada siapa-siapa. Dan ia pun mengira orang yang membuat suara bising sudah pergi. Ia menguap dan merentangkan tangannya.


"Lain kali sebaiknya hubungi dulu sebelum datang, memangnya tidak punya nomor kontakku?" gumam dokter tersebut.


Gadis itu mengernyitkan jidadnya, karena mengira kalau ucapan itu diarahkan padanya. Sesaat ia berhenti berjalan lalu berpaling. Kebetulan suami Alicia memandang ke arahnya, lalu berpaling dan masuk ke rumah.


"Apa-apaan dia itu, dia pikir aku cewek gampangan?" gumam gadis tersebut berdecak kesal.


Saat gilirannya tiba ia pun memesan makanan. Namun sang penjual tidak mengacuhkannya. Ia mencoba bersabar menunggu giliran berikutnya. Tapi tetap saja ia tidak dilayani oleh penjual tersebut.


Dengan kesal ia pun mengambil sendiri makanan yang ia ingin makan dan meletakkan uang kertas dengan kesal di atas meja. Uang itu berhambur ke lantai. Gadis itu tidak perduli, kalau penjualnya melihat atau tidak uang yang terjatuh ke lantai. Ia pun memilih kursi kosong dan mengisi perutnya.


Saat ia mengisi perutnya, beberapa gadis datang ke bangku panjang yang ia duduki. Ia pun bergeser. Tapi kemudian ada lagi pengunjung yang datang ke bangku tersebut dan kali ini dia bergeser dengan kesal.


Dan kekesalannya memuncak saat seorang wanita bertubuh bongsor duduk di bangku tersebut dan membuatnya terjepit. Karena sangat kesal, ia pun berhenti makan dan menjatuhkan mangkuknya.


Semua yang ada di situ terkejut, karena tiba-tiba ada mangkuk yang jatuh dan pecah di lantai tanpa ada yang menyentuhnya.


Dalam pandangan gadis tersebut, mangkuk yang ia jatuhkan adalah mangkuk yang ia ambil dan dia isi dengan makanan yang ia ambil sendiri. Tapi dari sudut pandang yang lain, mangkuk itu adalah mangkuk pengunjung yang sudah pergi dan belum diambil oleh pemilik kedai.

__ADS_1


Gadis itu mengeluarkan lembaran uang lalu melemparkannya ke meja, dan lagi-lagi uang itu jatuh ke lantai. Tapi dalam pandangan orang lain kalau uang tersebut adalah daun yang jatuh tertiup angin.


Dengan tenang pelayan yang ada di situ membersihkan mangkuk yang pecah. Ia merasa bersalah karena tidak langsung mengambilnya. Dan ia juga mengambil helai-helai daun yang terletak di lantai. Tapi dalam pandangan gadis tersebut si pelayan sudah mengambil uangnya.


Ia masih menunggu ucapan atau pun omelan yang mungkin akan diucapkan oleh pelayan itu. Tapi ternyata setelah selesai membersihkannya, pelayan tersebut hanya pergi begitu saja. Dan akhirnya ia pun pergi keluar meninggalkan kedai tersebut.


"Bibi, masakan bibi hari ini kenapa terasa hambar ya bi?" tanya seorang pembeli di kedai tersebut.


"Apa jangan-jangan tadi ada hantu yang jajan ya?" tanya yang lain.


"Kalian bicara apa, mungkin bibi lupa menaruh garamnya," jawab pelanggan yang lain.


Mereka mencoba maklum tapi juga merasa kecewa di saat yang sama. Makanan yang mereka pesan tidak habis mereka makan.


Bibi pemilik kedai diam saja, karena sesungguhnya ia mengetahui apa yang terjadi. Ia bisa melihat kelakuan gadis tersebut tapi ia mengacuhkannya. Lalu ia mengambil daun yang terletak di lantai mejanya. Dan membuang daun tersebut.


"Dasar hantu tidak tahu diri," gumamnya kesal.


Saat itu ban mobil yang dikendarai Te Apoyo kempes di depan kedai itu. Lalu ia berniat untuk singgah di kedai tersebut. Sambil menunggu seseorang untuk menjemputnya. Ia sempat mendengar umpatan kesal pemilik kedai, membuat ia ragu untuk masuk.


Tapi saat pemilik kedai melihatnya, langsung saja pemilik kedai dengan ramah menawarkannya untuk singgah. Te Apoyo pun masuk dan memesan makanan. Sambil menunggu makanannya datang ia pun membuka akun sosial medianya.


Saat makanannya datang dan diantar langsung oleh si pemilik kedai, tanpa sengaja pemilik kedai itu melihat foto gadis yang meninggalkan daun di kedainya, berada di layar ponsel Te Apoyo.


"Itu pacar kamu ya nak?" tanya pemilik kedai perlahan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2