Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
(Season 2) Asisten Pesulap


__ADS_3

Putri penunggu danau berteriak marah karena ia tidak berhasil menggantikan posisi Nicorazón dan pesulap. Seberkas cahaya melindungi putra Te Apoyo. Hanya para indogo yang bisa menyaksikan secara langsung saat Putri penunggu danau berusaha menukar Nicorazón dengan Pesulap. Dan mereka juga bisa melihat seberkas cahaya mengitari Nicorazón seperti sebuah perisai.


Kini Putri penunggu danau telah kehilangan seorang hamba yang akan memberikan tumbal padanya. Karena kesal ia akhirnya pergi meninggalkan teater dengan murka. Tidak perduli apa yang akan terjadi pada pertunjukan itu selanjutnya.


"Woah... apa itu tadi?" ujar seorang anak yang menyaksikan aksi sulap melalui laptopnya.


"Hahahaha akhirnya pesulap itu kehilangan nyawanya," ujarnya lagi.


"Tapi siapa anak itu? Kenapa kemampuan Putri penunggu danau tidak bisa mencelakainya? Dia itu sebaiknya kujadikan apa? Teman? Atau musuh?" gumam anak itu sambil membetulkan kaca matanya.


Dia berada di kamarnya, di kamar itu ada sebuah meja. Di atas meja ada sebuah buku yang sudah habis ia baca. Dan buku tersebut selalu ia jaga dengan baik.


"Kalian semua, bersiaplah untuk menemui orang baru itu. Nicorazón... tunggu kedatanganku!" ujarnya pada para roh yang ada di sekelilingnya sambil tersenyum.


Sementara acara sulap masih berlangsung. Seorang asisten pesulap meminta Nicorazón untuk mengambil kepala yang tergeletak di lantai dan meletakkannya kembali ke atas meja. Nicorazón tidak merasa yakin untuk mengambilnya. Ia takut menyentuh kepala itu.


Namun lagi-lagi asisten pesulap menyemangatinya agar menyelesaikan pertunjukan dengan mengembalikan kepala itu. Agar pesulap kembali utuh. Dengan berat hati, Nicorazón menyentuh kepala tersebut, dan berusaha agar tidak terkena darah pesulap itu.


Dan saat menyentuh rambut si Pesulap dan menatap mata yang tidak berkedip sejak terjatuh dari meja, tangan Nicorazón gemetaran. Bau amis begitu tajam menusuk hidungnya. Dengan cepat ia meletakkan kepala itu ke atas meja. Jantungnya berdegup dengan kencang.


Pandangannya mulai kabur dan akhirnya ia memilih duduk di lantai panggung. Asisten yang ada di panggung menanyakan kondisinya. Sambil menenangkannya dan mengatakan kalau semua akan baik-baik saja.

__ADS_1


Kain hitam yang baru diambil dan ditutupkan kembali. Lalu asisten pesulap menunggu sebuah reaksi. Saat latihan, Pesulap akan berdiri tiba-tiba setelah 5 menit kain hitam yang baru di tutupkan padanya. Tapi setelah 5 menit, pesulap belum bergerak sama sekali.


Asisten pesulap masih bisa tersenyum, karena mengira pesulap sedang kesulitan berganti posisi dengan boneka. Tapi setelah 10 menit ia mulai gusar. Asisten lain juga ikut gusar. Dan akhirnya salah satu dari mereka naik ke atas panggung. Lalu membuka kain hitam. Tapi kain itu masih menutupi bagian yang tampak dari kursi teater.


Penonton yang ada di kursi teater dan di luar teater mulai cemas. Apalagi melihat Nicorazón tidak bergeming dan tertunduk lesu. Tapi ada penonton yang berbisik pada yang lain, kalau itu adalah adegan yang sudah diatur, untuk menambah kesan horror pada pertunjukan itu.


Asisten yang membuka kain hitam menekan tombol. Lalu melihat ke dalam laci. Dan sangat terkejut saat menyadari kenyataan. Dengan segera tombol itu di tekan kembali. Kemudian ia meminta beberapa asisten lainnya untuk memindahkan meja dan alat-alat yang ada di panggung.


Nicorazón hanya menyaksikan hal itu tanpa bergeming. Lampu dimatikan setelah ada aba-aba dari ketua asisten. Nicorazón berdiri perlahan-lahan. Ia ingin melihat sekali lagi. Untuk memastikan kalau yang ia lihat salah. Tapi ia dilarang mendekat saat meja itu akhirnya dipindahkan, dan dipersilahkan turun.


Putra Te Apoyo turun dengan langkah gontai menuju kursinya. Penonton yang ada di bagian kursu penonton menatapnya dengan tatapan penuh tanya, tentang apa yang sebenarnya terjadi di atas panggung.


Salah satu anggota dari bagian pertunjukan memutar kaset rekaman. Dan layar lebar menampilkan saat pesulap masih hidup. Adegan yang diambil saat latihan terakhir sebelum acara dimulai, ketika pesulap sedang menghafal kalimat perpisahan untuk akhir pertunjukan. Di vidio itu Pesulap sedang mengenakan pakaian yang ia pakai pada pertunjukan kali ini.


"Boss kamu keren sekali! Semua orang mengira kalau kepala pesulap benar-benar terpenggal. Actingmu luar biasa Boss!" teriak teman-teman Nicorazón sambil menepuk pundaknya.


"Dia sungguh luar biasa. Aku sampai berpikir kalau sulapnya gagal saat melihat wajah anak itu pucat," ujar banyak penonton.


Mereka tadinya sempat panik dan kini merasa lega saat melihat Nicorazón dikelilingi oleh teman-temannya yang bersorak-sorak. Teman-teman Nicorazón masih membicarakan tentang sulap itu ketika Dion dan Lina menemui cucunya. Gina dan keluarganya juga datang untuk menyalami Nicorazón.


"Telapak tanganmu dingin sekali," ujar Gina. Dan cucu Dion hanya bisa tersenyum.

__ADS_1


"Kalian naik apa datang kemari? Ayo kita pulang bersama jika kalian butuh tumpangan," kata Dion.


"Ya, mobil kami juga masih cukup jika beberapa dari kalian mau menumpang," ujar Gina sambil menatap pada wanita di sebelahnya.


"Iya, benar. Kalian ada berapa orang?" tanya wanita itu yang merupakan menantu Gina.


"Tidak usah kek, tante, aku dan teman-teman akan pulang diantar supir," kata Nicorazón sambil mengeluarkan ponselnya.


Ada banyak pesan dan panggilan dari nomor mamanya. Ia hanya tersenyum lalu menghubungi nomor supirnya. Dan meminta untuk menjemput mereka. Ternyata supirnya tidak pulang ke rumah melainkan menunggu mereka di dalam mobil sampai ketiduran.


"B-baik tuan. Saya sudah di parkiran dan akan datang!" katanya dengan cepat.


Lalu ia melajukan kendaraannya tanpa melihat ke kiri dan ke kanan. Dan sampailah ia di depan gedung. Ternyata Nicorazón dan teman-temannya sudah menunggu di sana. Lalu mereka naik dan pulang lebih dulu dibandingkan Dion dan keluarga Gina, untuk memastikan kalau Nicorazón dan teman-temannya sudah dijemput.


Setelah mobil yang menjemput cucunya berangkat mobil Dion dan mobil rombongan Gina juga berangkat. Dan kedua keluarga itu berpisah di persimpangan jalan. Supir Dion mengarahkan mobil yang ia kendarai ke rumah Te Apoyo untuk mengantarkan pelayan yang bekerja di rumah Te Apoyo.


Primavera bernapas lega saat akhirnya Nicorazón pulang ke rumah setelah mengantarkan teman-teman dan mengambil tasnya. Istri Te Apoyo langsung memeluk putranya. Membuat anak itu merasa bersalah dan meminta maaf.


"Kenapa tidak bilang kalau kamu mau menonton pertunjukan itu? Kan, kita bisa pergi bersama-sama," kata Primavera.


Nicorazón hanya bisa tersenyum kecut. Tapi ia tersenyum senang saat melihat kakek dan neneknya masih di situ. Ternyata malam itu Dion dan Lina memilih menginap di sana. Setelah berbincang-bincang sebentar Nicorazón pamit untuk berganti pakaian.

__ADS_1


Saat ia berganti pakaian...


Bersambung..


__ADS_2