Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Gangguan di Jalan


__ADS_3

Setelah mengucapkan kata perpisahan maka perlahan lampu di panggung dimatikan lagi lagi. Saat penonton yang tadinya berada di panggung telah kembali ke kursinya. Mengambil barang-barang yang mereka letakkan di kursi.


Penonton lainnya juga bergegas untuk pulang. Primavera dan Te Apoyo juga melakukan hal yang sama. Wanita yang duduk sejajar dengannya juga. Tapi anehnya ia masih belum sadar kalau putranya tidak ada di sana.


Parkiran kembali penuh. Semua yang baru saja keluar dari gedung harus mengantri agar bisa keluar dari parkiran. Te Apoyo dan Primavera pergi ke parkiran bersama-sama. Sambil menunggu giliran keluar dari area parkir, mereka membicarakan tentang kesan mereka pada pertunjukan sulap tersebut.


Sampai akhirnya mereka melihat mobil wanita yang bersama putranya melintas di depan mereka. Wanita itu sempat melemparkan senyuman pada mereka, yang dibalas dengan hal yang sama. Primavera merasa ada yang janggal dengan mobil yang dikendarai wanita itu, namun ia tidak mengerti kenapa.


Kini giliran mobil Te Apoyo keluar dari area parkiran. Mereka melintasi mobil pria yang bersedia jadi korban di acara sulap yang tadi mereka saksikan bersama dengan seorang gadis cantik.


Ia memperlihatkan wajah bangga karena malam ini ia memiliki teman kencan. Jika beruntung mungkin ia akan melepaskan status lajangnya setelah malam ini. Te Apoyo dengan santai mengendarai mobilnya. Dan meninggalkan area gedung teater tersebut.


Pesulap muda kini tengah dirundung duka. Ia melihat dengan jelas dan sadar akan perbuatannya. Hal yang tidak pernah ia bayangkan, kini terjadi padanya. Ia menjadi seorang pembunuh. Anak yang tidak tahu apa-apa itu tewas mengenaskan begitu saja.


Ia pergi ke sebuah ruangan, kamar papanya. Mengambil sebotol anggur yang ada di lemari lalu meneguknya segelas kecil. Merasa masih kurang, ia pun meneguknya lagi. Hingga akhirnya ia mabuk.


Menangisi kejadian hari ini. Merasa bersalah pada papanya. Karena telah menodai panggung tersebut dengan darah anak yang tidak berdosa. Hingga akhirnya tertidur.


Sementara itu Te Apoyo dan istrinya sedang menuju perjalanan pulang. Mobil mereka diikuti oleh mobil pria yang menjadi sukarelawan masuk ke dalam peti. Ia membuntuti mobil Te Apoyo sejak di parkiran. Dan sekarang ia mulai menyenggol bagian belakang mobil Te Apoyo.

__ADS_1


Tindakan itu sudah terjadi berkali-kali. Te Apoyo mulanya hanya ingin diam saja. Mengingat saat ini dia berada di negara lain. Tapi kemudian ia kesal dan menghentikan mobilnya.


Karena mobilnya berhenti tiba-tiba bagian belakang mobil mereka terkena sundulan sekali lagi dan membuat mobil mereka bergeser sejauh satu meter. Te Apoyo akhirnya melepas sabuk pengamannya dan tidak menghiraukan Primavera yang sudah terlihat pucat.


Te Apoyo keluar mobilnya dan saat itu mobil yang ada di belakangnya bergerak mundur. Lalu dengan cepat melaju melewati Te Apoyo yang berdiri di samping mobilnya. Pria itu memperlihatkan jari tengahnya. Gadis yang bersamanya tertawa senang melihat tingkah pria itu. Lalu ia ikut memperburuk suasana dengan mengacungkan jempolnya ke arah Te Apoyo dan memutarnya ke bawah.


Te Apoyo masuk kembali, kini ia melihat wajah pucat Primavera. Ia menghembuskan napasnya panjang. Menyentuh kepala Primavera dan menariknya ke padanya.


"Maaf, sudah membuatmu takut," ujar Te Apoyo lembut.


Lalu ia mencium kening Primavera. Membuat istrinya merasa nyaman. Sambil menunggu mobil pria itu menjauh dari mereka hingga menghilang di jalanan. Setelah itu barulah mereka melanjutkan perjalanan.


Namun siapa sangka, mobil itu menunggu di persimpangangan jalan. Menghalangi jalan yang dilalui mobil Te Apoyo. Dan terkadang mobil Te Apoyo hampir menabrak bagian belakang mobil pria itu.


Mobil bus terus melaju hingga akhirnya menabrak pembatas jalan. Te Apoyo turun dari mobilnya melihat keadaan pria yang tadi mengganggunya. Dengan mata mendelik pria itu tidak bisa lagi tertawa, tidak bisa lagi mengacungkan jari tengahnya.


Demikian juga dengan wanita yang bersamanya. Dengan mata terbuka dan mulut yang menganga, ia tidak bisa lagi mengangkat jempolnya. Mereka tewas di saat itu juga. Bersamaan dengan supir bus.


Beberapa orang yang ada di sana memanggil polisi dan mobil Ambulance. Te Apoyo yang merasa tidak bisa melakukan apa-apa, akhirnya kembali ke dalam mobil. Lalu melajukan kendaraannya menuju tempat tinggal mereka di negara itu.

__ADS_1


Putri penunggu danau menyaksikan kejadian itu dengan tersenyum penuh arti. Ia gagal menjadikan Te Apoyo sebagai tumbal. Dan kali ini juga masih gagal.


Akibat kejahilan pria itu mobil yang di kendarai Te Apoyo selamat dari peristiwa kecelakaan yang diatur oleh putri penunggu danau. Ia mengunakan ke kuatannya menakuti supir bus dan membuat penyakit jatung pria yang sudah berumur itu kambuh.


Ia ingin menghentikan mobil bus yang dikendarainya namun yang terpijak olehnya justru untuk mempercepat laju roda kendaraannya. Hingga ia tutup usia, mobil itu terus melaju sampai pada kecepatan maksimal. Dan terjadilah kecelakaan maut tersebut. Di persimpangan tempat Nicorazón mengalami kecelakaan.


Primavera baru bernapas lega setelah kendaraan mereka parkir di halaman rumah. Meski wajahnya masih pucat dan lemas. Te Apoyo membukakan pintu untuknya dan mengulurkan tangannya. Priamavera menyambut uluran tangan itu dan Te Apoyo segera menariknya ke dalam pelukannya.


Menggendong istrinya seperti pengantin baru masuk ke kamar pengantin. Primavera menolak dan minta turun karena merasa malu. Akan tetapi Te Apoyo tidak memperdulikannya. Ia terus menggendong istrinya sampai ke dalam rumah.


Sampai-sampai orang-orang yang berada di dalam rumah merasa heran. Mengira kalau telah terjadi sesuatu pada Primavera yang membuatnya tidak bisa berjalan. Mereka mengerubungi Primavera dan Te Apoyo secepatnya. Nicorazón ikut cemas dan berjalan terpincang-pincang.


"Aku tidak apa-apa, sayang ayo turunkan aku!" kata Primavera sebelum mereka bertanya-tanya.


Primavera mengerakkan kakinya dengan lincah di lengan Te Apoyo. Te Apoyo hanya tersenyum melihat tingkahnya lalu perlahan-lahan menurunkan istrinya. Kini wajah Primavera terasa panas karena malu. Menggantikan wajah pucatnya karena ketakutan. Melihat perubahan pada istrinya Te Apoyo merasa lega.


Dion dan Lina juga merasa lega lalu bertanya tentang pertunjukannya. Primavera tidak segera menjawab. Te Apoyo mengambil langkah awal dan bercerita tentang pertunjukan yang mereka lihat.


Tidak ada yang bertanya tentang kecelakaan dan juga tentang mobil, yang di kendarai oleh Te Apoyo dan Primavera. Sebab mereka yang di rumah mengira kalau semua baik-baik saja. Sampai ke esokan harinya tiba.

__ADS_1


Dua orang polisi mendatangi kediaman Te Apoyo di pagi hari.


Bersambung...


__ADS_2